SungHye Facts


photography-tumblr-couples

Real Name: Lee Sungmin

Western Name: Vincent Lee

Date of Birth: 1st January 1986

Blood Type: A

Real Name: Han Jinhye

Western Name: Caroline Han

Date of Birth: 16 September 1989

Blood Type: O

Some facts you need to know about SungHye couple:

1. Pertama kali bertemu tepat pada tanggal 26 Maret 2010 ketika Sungmin sedang menghadiri pesta ulang tahun sahabat terdekatnya. Ia bertemu dengan Jinhye, yang nampak paling anggun dan berkilau dalam pesta waktu itu. Jinhye terlalu memukau, membuat beberapa pria muda di sana tidak bisa mengalihkan pandangan mereka barang sedetik pun, termasuk dirinya. Kata memesona yang sempat terpikir di otaknya terhapus begitu saja begitu ia melihat dengan jelas bagaimana Jinhye mempermalukan dirinya sendiri dengan jatuh dan menumpahkan jus pada seseorang yang lewat di sebelahnya.

2. Bertemu kembali tepat dua bulan setelah kejadian memalukan itu. Pertemuan kedua untuk Sungmin tapi yang pertama bagi Jinhye. Berawal Jinhye hendak mengambil buku yang sama dengannya di sebuah toko buku terkenal di Seoul. Dan, untuk pertama kalinya, Sungmin merusak imej idola yang melekat pada dirinya karena terlibat adu mulut dengan Jinhye. Beruntung toko buku tersebut adalah milik salah satu temannya, jadi ia aman dari gosip buruk yang mungkin akan menerpanya. Memilih berbaikan pada saat itu juga hanya karena ia ingin menujukkan sikap sebagai seorang pria yang baik dengan memberikan buku yang mereka perebutkan pada Jinhye dan mengambil buku lain untuk dirinya. Sejak saat itu, hubungan pertemanan terjalin. Ditambah dengan kenyataan bahwa Jinhye adalah anak dari salah satu rekan kerja sekaligus sahabat baik ayahnya, membuat kedua orang tersebut menjadi lebih dekat.

3. Sebulan setelahnya, Sungmin menyatakan cintanya yang dijawab dengan anggukan semangat dan mata yang berbinar-binar oleh Jinhye, membuat usaha romantis yang dirancangnya bersama Donghae terasa percuma karena tanggapan singkat dari Jinhye.

4. Setengah tahun berpacaran, tanpa diduga Sungmin melamar Jinhye secara tiba-tiba. Sungmin beserta keluarganya mendatangi rumah Jinhye pagi-pagi sekali. Membuat calon mertua Jinhye melihat penampilannya yang berantakan karena baru saja terbangun dari tidur malamnya. Mereka menikah sebulan setelahnya, tepat pada tanggal 17 Mei 2011.

5. Setelah menikah, Sungmin berusaha mengubah kebiasaan tidur Jinhye yang seperti beruang hibernasi dengan cara membangunkannya menggunakan ciuman. Tapi tetap saja, sampai Sungmin merasa tidak tahan untuk menyerangnya, Jinhye bahkan tidak merasa terganggu sedikit pun. Membuat Sungmin harus menahan emosi dan nafsunya lalu memilih meneriakkan nama Jinhye tepat di telinganya sehingga Jinhye terkejut dan terbangun.

6. Sungmin selalu melepas cincin pernikahan mereka—ketika ia akan tampil—lalu menyimpannya di sebuah kotak merah berbentuk persegi dan menaruhnya di laci meja kecil di sebelah ranjangnya yang ada di dorm. Ia mengunci laci itu dan menyelipkan kuncinya di tumpukan pakaiannya yang berwarna merah muda, mengingat Kyuhyun yang sekamar dengannya itu memiliki sifat yang sangat jahil. Sedangkan Jinhye, setelah Sungmin menyelipkan cincin itu pada jarinya sewaktu pernikahan mereka, tak pernah sedetik pun cincin itu lepas dari jari manis tangan kanannya.

7. Jinhye tidak terlalu pandai memasak sehingga Sungmin seringkali membuatkan makan malam. Jika tidak, maka Jinhye memilih datang ke dorm dan meminta Ryeowook memasakkan makanan untuknya atau ia akan membeli fast food secara diam-diam. Ia sengaja melakukan hal itu tanpa diketahui oleh Sungmin mengingat temperamen pria itu yang dengan cepat akan berubah—jika tahu bahwa istrinya melanggar perintahnya—dan akan menceramahi Jinhye habis-habisan mengenai betapa tidak baiknya makanan cepat saji bagi kesehatan.

8. Entah apa alasannya, tapi Jinhye selalu saja merusak momen manis yang sudah susah payah diciptakan oleh Sungmin. Jinhye akan memberi respon menyebalkan—seperti tertawa atau mencibir—yang membuat Sungmin harus memejamkan matanya rapat-rapat dan terpaksa menahan rasa kesalnya ke titik minimum.

9. Jinhye sangat membenci buncis, kacang panjang, tomat, paprika, bawang bombay, sayuran pahit, dan binatang menjijikkan seperti kecoa, tikus, dan lalat. Semua hal ini telah Sungmin hapal di luar kepalanya—bahkan ketika mereka masih menjalin hubungan pertemanan—dan meminta seluruh member mengingatnya sehingga Jinhye tidak menemukan hal-hal yang dibencinya ketika berada di sekeliling mereka.

10. Perbedaan umur yang terpaut tiga tahun membuat Sungmin meminta Jinhye memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ yang selalu ditolak Jinhye mentah-mentah. Alasannya karena panggilan oppa sudah sering digunakan fans Sungmin untuk memanggilnya dan Jinhye selalu menolak hal-hal yang sudah sering dilakukan gadis-gadis lain di luar sana kepada Sungmin. Jinhye hanya ingin mengistimewakan Sungmin dalam segala hal, termasuk juga nama panggilan. Prinsip ini menurutnya sangat memalukan, maka dari itu tiap kali Sungmin menanyakan alasannya, Jinhye hanya menggeleng tegas dan menolak berkomentar.

11. Jinhye sangat menyukai segala hal yang berbau pohon dan bagian-bagiannya sehingga Sungmin membelikannya gelang dengan mainan berbentuk daun yang dikelilingi butiran-butiran permata. Tapi, masih belum Sungmin berikan mengingat sifat ceroboh Jinhye dalam meletakkan benda. Sungmin berniat memberikan kalung itu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kedua nantinya.

12. Apartemen yang sekarang ditempati oleh Sungmin dan Jinhye berada pada satu bangunan dengan dorm Super Junior, hanya berbeda lantai. Sungmin sudah membangun sebuah rumah untuk mereka berdua sebagai hadiah, tetapi dia tidak berencana memberikannya dalam waktu dekat ini. Selain karena apartemen yang mereka tempati sudah cukup nyaman, kekhawatiran Sungmin terhadap istrinya menjadi alasannya menunda hal tersebut.

***

Sungmin dan Jinhye duduk bersebelahan di sofa berukuran sedang di ruang tamu. Di hadapan mereka terdapat sepasang manusia, wanita dan pria. Sang wanita, Kim Minyoung, membawa dua buah microfon dan sebuah notes kecil beserta bolpoin, sedangkan sang pria, Jung Dong Seok, membawa dua buah recorder dan sebuah kamera. Mereka berdua adalah teman-teman Jinhye yang datang untuk mewawancarai sepasang suami istri itu.

Hari ini memang waktu SungHye couple untuk melakukan wawancara mengingat janji wanita itu untuk membantu kedua orang temannya yang berada di jurusan seni dan drama dalam pembuatan film mereka yang bertemakan cinta. Maka dari itu, kedua orang teman Jinhye datang dan mewawancarai mereka berdua, berharap mereka bisa menyelesaikan tugas itu setelah ini.

Sungmin dan Jinhye sengaja dipisahkan di tempat yang berbeda ketika akan diwawancarai. Jadi, mereka tidak mengetahui jawaban dari pasangan mereka. Berikut liputan wawancaranya:

Kapan sebenarnya kalian menikah?

JH: Di awal musim panas tahun 2011. 17 Mei? Ah, aku lupa tepatnya kapan. Maafkan aku.

SM: Dua tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Mei 2011.

Jadi, kalian sudah menjalin hubungan pernikahan ini selama setahun?

SM: Ya, begitulah.

JH: Benar. Benar sekali!

Apakah publik mengetahui hubungan pernikahan kalian?

JH: Tidak.

SM: Belum saatnya publik mengetahui hubungan kami.

Mengapa?

JH: Aku hanya tidak mau karir suamiku yang sudah dibangunnya mulai dari nol itu hancur sia-sia hanya karena berita pernikahan kami. Lagi pula, akan sama saja jika publik mengetahui hubungan kami yang sebenarnya. Jadi, kurasa aku hanya perlu bersabar sedikit saja.

SM: Simpel saja. Jika publik sudah mengetahui pernikahan kami, maka wanita itu akan selalu berada dalam bahaya. Aku yakin para penggemarku pasti ada yang menerima, tapi tak sedikit pula yang menolak. Aku hanya ingin meminimalisir kajadian buruk yang akan menimpanya mengingat ia adalah wanita yang ceroboh sedangkan aku terlalu sibuk bekerja sehingga tidak terlalu sering mengawasinya. Aku merasa seperti suami yang buruk sekarang.

Apa tidak ada keinginan dari kalian untuk mengumumkan penikahan ini?

JH: Ada. Tapi aku tidak ingin terburu-buru mengambil langkah dan menyesal pada akhirnya.

SM: Tentu saja. Bagaimana pun juga, aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa Han Jinhye sudah menjadi milik Lee Sungmin. Bersembunyi seperti ini tidak enak. Tapi kurasa beberapa tahun ke depan bukan waktu yang tepat untuk mengumumkan pernikahan kami pada publik.

Selama hampir dua tahun menikah, adakah hal-hal yang kalian tidak sukai dari pasangan?

SM: Tidak ada. Aku menyukai segala hal yang ada pada dirinya, baik maupun buruk.

JH: Aku terkadang kesal dengan wajah aegyo-nya. Dengan umur yang hampir berkepala tiga itu, dia bahkan masih terlihat muda dan seperti anak-anak, membuat wanita manapun akan terlena melihatnya. Jangan katakan padanya kalau ini semua dikarenakan faktor cemburu, ya.

Kebiasaan apa yang kalian ubah sesudah menikah?

SM: Biasanya ketika akan tidur, aku akan mendengarkan lagu terlebih dahulu sehingga bisa tidur dengan tenang. Tapi sekarang, aku hanya bisa tertidur dengan nyenyak ketika aku memeluk wanita itu. Dan, rasanya jauh lebih nyaman.

JH: Tidak ada. Aku masih menjadi seorang wanita yang tidak pernah memakai make-up, selalu bangun siang, kurang pandai memasak, sedikit malas, tidak terlalu suka memakai rok, membenci high heels, dan sangat suka tidur. Hanya saja sekarang, aku sudah terbiasa dengan dekapan hangatnya sebelum dan ketika bangun tidur.

Adakah larangan yang kalian berikan pada pasangan?

SM: Tentu saja. Aku selalu melarangnya memakan makanan cepat saji. Aku juga melarangnya berdandan berlebihan ketika ia akan pergi sendirian atau ketika ia akan pergi dengan teman prianya. Tapi sialnya, wanita itu selalu terlihat cantik dan menawan meskipun baru bangun tidur. Memiliki istri yang memukau itu menyusahkan.

JH: Eumm, aku hanya melarangnya untuk tidak memamerkan perut sixpacks-nya dan menggoda gadis-gadis remaja di luar sana. Untunglah ia sudah sedikit berisi sekarang. Setidaknya, hal ini bisa membuat sainganku berkurang hohoho~

Siapa orang yang akhir-akhir ini paling dekat dengan pasanganmu dan kau mencumburuinya?

SM: Eunhyuk. Ia memang sudah sangat dekat dengan istriku dan asal kau tahu saja, wanita itu adalah penggemarnya Eunhyuk. Dia selalu saja memuji Eunhyuk secara terang-terangan di hadapanku. Seolah memperjelas bahwa aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan si Ikan Teri itu. Menyebalkan sekali, bukan?

JH: Sebenarnya, aku tidak suka ketika ia berdekatan dengan wanita lain selain diriku dan keluarga wanitanya. Tapi pada akhirnya, aku selalu berpikir bahwa mereka tidak pernah lebih dari rekan kerja. Jadi, ya sudahlah. Aku berpikir positif saja.

Adakah panggilan khusus untuk pasangan?

JH: Tidak ada. Aku lebih suka memanggil namanya, Lee Sungmin.

SM: Lee Jinhye. Namanya yang dipadukan dengan margaku benar-benar terdengar sangat pas. Bukankah begitu?

Kalian sudah menikah selama dua tahun, tidakkah kalian ingin memiliki anak?

SM: Tentu saja, meskipun itu bukan menjadi prioritas utamaku dalam hubungan pernikahan ini. Tapi sekali lagi, ini bukan waktu yang tepat. Wanita itu masih mengambil S2-nya. Jika kami memiliki anak, tentu ia akan repot. Aku tidak ingin wanita itu kesusahan dan pada akhirnya jatuh sakit hanya karena ia kelelahan mengurusi aku dan anak-anak. Lagi pula, aku masih menikmati saat-saat berdua seperti ini.

JH: Menjadi seorang ibu adalah impianku sejak dulu, tapi tidak untuk beberapa tahun ke depan. Aku masih sibuk dengan kuliahku dan pria itu sedang berada dalam puncak karirnya. Aku tidak ingin ketika aku punya anak nanti, anak-anakku akan kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Aku ingin kami sendiri yang akan mengurus anak kami kelak, bukan orangtua kami ataupun orang lain. Itu juga yang menjadi pemikiranku sehingga kami memutuskan untuk tidak memiliki anak dalam waktu dekat.

Kalian ingin punya berapa anak?

JH: Cukup dua orang dan itu kembar sepasang. Sepertinya keren. Tapi aku tetap mensyukuri berapa pun yang Tuhan berikan pada kami.

SM: Sepertinya keinginanku untuk memiliki banyak anak sudah menjadi rahasia umum. Jadi, jangan kaget jika aku memiliki anak lebih dari empat nantinya. Tapi ya tetap saja, jika wanita itu mau dan menyetujuinya. Jika tidak, kurasa dua orang sepasang juga sudah cukup.

Impian kalian dalam pernikahan ini?

JH: Menjadi istri satu-satunya dan yang terbaik bagi Lee Sungmin.

SM: Sebagai seorang suami dan calon ayah di masa depan, aku hanya ingin menjaga dan membahagiakan wanita serta anak-anakku kelak hingga aku meninggalkan dunia ini. Bagaimana pun juga, mereka termasuk dalam orang-orang paling berharga dalam hidupku. Wanita itu dan anak-anak lucu kami nantinya.

***

Lee Sungmin’s video, special for Han Jinhye

Sungmin menggosok-gosokkan tengkuknya sedangkan bibir bawahnya ia gigit dengan barisan giginya yang rapi, berusaha mengurangi kegugupan dalam dirinya. Kedua orang gila yang menjadi teman istrinya itu meminta mereka berdua—Sungmin dan Jinhye—untuk merekam diri masing-masing yang nantinya berisi ungkapan kata romantis dan Sungmin mendadak merasa gugup setengah mati saat ini. Jantungnya terasa berdebar kencang sedangkan keringat dingin mulai mengalir turun di pelipisnya.

Pria itu menarik napas perlahan dan mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah kamera.

“Hei, Wanita Bodoh. Apa yang kau katakan mengenai diriku di ruang sebelah, hmm? Apa kau akan mengumbar semua aibku dan bersikeras mempertahankan egomu untuk tidak menyatakan bahwa kita memiliki perasaan yang sama?”

Pria itu mencibir pelan sembari mengacak rambutnya hingga berantakan.

Aish, ini benar-benar menyebalkan. Aku tidak pernah diminta melakukan hal sekonyol ini untuk seorang wanita. Dan, parahnya, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku ucapkan,” ujarnya lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan duduk bersandar pada sofa, mencoba untuk bersikap rileks.

“Kita mulai darimana? Pertemuan pertama sepertinya ide yang bagus. Ah, apa kau tahu bahwa aku menganggapmu bodoh saat pertama kali kita bertemu di pesta ulang tahun Yoon Jihoon? Kau mungkin tidak menyadari kehadiranku, mengingat dirimu yang terlalu sibuk dengan ponselmu pada waktu itu dan mengacuhkan keadaan di sekitarmu.

“Sebenarnya ini bukan cerita dimana seorang pria jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita yang ia temui. Itu sama sekali bukan gayaku. Kau tahu sendiri kalau aku menganut paham ‘segala sesuatunya membutuhkan proses’. Dan, mengenai peristiwa memalukan itu, aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Beruntung sekali hanya aku yang melihatnya. Tapi sungguh, kau terlihat sangat lucu dengan wajah memerah menahan malu,” ungkap pria itu secara jujur dengan bibir yang menahan senyum dan mata berkilat-kilat geli.

“Pertemuan kedua, aku mulai menganggapmu sebagai wanita yang memiliki daya tarik. Sikapmu yang terkesan dingin dan acuh terhadap orang lain membuatku ingin mengenalmu lebih jauh. Maka dari itu, aku memberanikan diri meminta nomor ponselmu dan berusaha sesering mungkin berbasa-basi denganmu. Sejak saat itu pula, aku mulai menyadari bahwa rasa tertarik yang begitu besar itu berubah menjadi cinta sehingga aku memintamu menjadi kekasihku dan kau menerimanya. Jujur saja, itu adalah hal yang membahagiakan bagiku,” katanya sembari tersenyum tipis.

“Hanya setengah tahun lebih menjalin hubungan, aku sudah melamarmu. Sebelumnya aku tidak pernah memutuskan sesuatu secepat ini, bahkan ketika pihak SM memberikan surat perpanjangan kontrak kerja. Padahal keduanya menjadi awal dari masa depanku. Tapi denganmu semuanya terasa begitu tepat, jadi aku tidak perlu berpikir berulangkali untuk mengiyakannya.

“Aku masih ingat wajah bangun tidurmu ketika kami sekeluarga datang mengunjungi rumah orangtuamu. Dan, sialnya yang berkeliaran di otakku pada saat itu adalah, bagaimana bisa seorang wanita dengan rambut kusut, tanpa make-up, dan belum mencuci mukanya sudah tampak sememesona itu? Kau bisa menganggapku pria bermulut manis setelah ini, tapi itulah kenyataannya,” ucapnya lalu terkekeh pelan.

“Kau tahu, seorang pria dimuka bumi ini selalu menyiapkan dan merancang yang terbaik untuk masa depan mereka, begitu pula denganku. Aku ingin menikah dengan wanita yang kucintai, memiliki anak dengannya, merawat anak-anak kami hingga tumbuh dewasa dan menemukan pasangan masing-masing, lalu menikmati waktu berdua di rumah penuh kenangan, mengenang masa-masa indah sembari menunggu sampai salah satu dari kami tiada, menghabiskan sisa hidup bersama. Dan, itulah yang aku lakukan.

“Menikah dengan seorang wanita ceroboh yang memiliki sejuta daya tarik untuk membuatku bertekuk lutut padanya. Dan, aku sedang berusaha mewujudkan satu-persatu masa depanku denganmu.”

Dia memangku sikunya di atas kedua pahanya sedangkan tatapan matanya mendadak terlihat sendu dan lembut. “Soal perasaanmu, bisakah kau mengatakan padaku jika kau tidak nyaman dengan peran yang kuambil dalam pekerjaanku? Aku tidak akan memintamu berhenti untuk cemburu, Jinhye-ya. Hanya saja, sikap diammu ketika merasa sakit hati membuatku benar-benar mengutuk diriku sendiri. Kau tahu betapa bersalahnya aku melihatmu terpuruk seperti itu? Mungkin ini terlihat konyol, tapi aku benar-benar takut kau berpikir untuk meninggalkanku dan menjauh dari hidupku.

“Aku menyadari dengan sangat jelas bahwa aku belum bisa menjadi suami yang patut kau banggakan. Seringkali aku membuatmu menangis dan terluka. Kata maaf ribuan kali dan perban beratu-ratus banyaknya mungkin tidak sanggup menghilangkan bekas luka itu, tapi satu hal yang perlu kau tanamkan baik-baik di kepalamu; bahwa aku mencintaimu, bahwa wanita yang akan mendampingiku untuk menghabiskan sisa hidupku adalah kau. Hanya dirimu. Tidak pernah terbesit sedikit pun di pikiranku untuk menomorduakanmu apalagi meninggalkanmu. Jadi, berhentilah berpikiran yang tidak-tidak mengenai pernikahan kita.

“Kau juga terlalu sering memikirkan perkataan orang lain yang jelas-jelas menghina dirimu. Aku tahu Eommoni seringkali mengeluh soal kepayahan anaknya dalam hal dapur dan mengatakan bahwa kau adalah istri yang gagal untukku. Semua itu tidak benar. Aku bahkan tidak keberatan sama sekali dengan kelemahanmu itu, sungguh. Aku bahkan bersyukur kau tidak terlalu pandai memasak karena hal itu bisa mengurangi sedikit rasa khawatirku padamu. Ceroboh itu salah satu sifatmu yang sudah mendarah daging, kau tahu?

“Jadi, berhentilah menganggap dirimu buruk. Diamkan saja dan anggap mereka tidak ada. Semua komentar itu salah jika tidak keluar dari mulutku sendiri. Aku suamimu, pria yang menjalani kehidupan pernikahan denganmu dan mengetahui dirimu luar-dalam. Hanya aku saja yang boleh mengomentari segala sesuatu tentangmu, tentang istriku, wanitaku.”

Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap kamera dengan raut wajah serius seolah sesuatu yang akan diucapkannya merupakan hal terpenting dalam kelangsungan hidupnya. “Orang sering mengatakan bahwa sesuatu yang kita inginkan belum tentu dibutuhkan. Tetapi tidak denganku. Aku menginginkanmu karena aku membutuhkanmu. Layaknya makhluk hidup yang membutuhkan oksigen, bangunan yang membutuhkan pondasi, dan penulis yang membutuhkan pembaca, seperti itu pula aku membutuhkan dirimu.

“Maka dari itu, Han Jinhye, aku tidak akan pernah melepasmu. Sekeras apapun kau berusaha untuk terlepas dari genggamanku, bahkan jika kau berlutut dan memohon padaku sembari menangis, aku tidak akan mengabulkannya. Itu konsekuensi yang harus kau hadapi karena menerimaku sebagai suamimu. Bukankah sudah seringkali kukatakan bahwa kau terikat kontrak seumur hidup denganku?

“Jadi, cobalah bertahan disisiku meskipun itu terasa menyakitkan. Maafkan aku jika ini sangat keterlaluan, tetapi sebagai makhluk hidup yang memiliki sifat egois, aku juga ingin bahagia. Dan, kebahagiaan itu hanya akan terwujud bila aku menjalaninya bersamamu, Jinhye-ya.”

Sungmin menarik napas sebentar sebelum mengeluarkan senyum manisnya dan berkata dengan wajah berbinar terang seolah ia baru saja diberikan setumpuk kebahagiaan. “Aku mencintaimu, Han Jinhye. Dan, selamanya akan terus begitu.”

***

Han Jinhye’s video, special for Lee Sungmin

Jinhye membenarkan letak kamera di hadapannya lalu berjalan mundur dan duduk di sofa yang berjarak beberapa meter dari alat perekam itu. Wanita itu membenarkan posisi duduknya dan menggaruk pipinya yang tidak terasa gatal sama sekali. Kegugupan mendadak mengaliri seluruh urat sarafnya, membuat otaknya tidak bisa berpikir dengan benar mengenai semua ini.

Dia tipe wanita yang lebih memilih menyimpan segala sesuatunya sendiri, bukannya wanita romantis yang bisa mengumbar perasaannya secara terang-terangan, apalagi jika sudah menyangkut seorang pria bernama Lee Sungmin. Satu nama itu selalu berhasil membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat, menghantam tulang dadanya berulangkali sehingga wanita itu merasa sedikit nyeri dan bahagia di waktu yang bersamaan.

Wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan sebelum membuka mulut mungilnya dan berkata dengan suara lirih, “Aku… hanya ingin kau sehat. Jadwalmu semakin padat sejak kau bergabung dengan Super Junior M, membuatku khawatir. Jadi, kuharap kau tidak lupa makan dan menjaga kesehatan dirimu. Tidak peduli seberapa sulitnya mendapatkan waktu tidur, kau harus bisa memanfaatkannya sebaik mungkin untuk beristirahat. Aku benar-benar merasa tertekan tiap kali melihat dirimu tampil dengan mata memerah dan wajah yang kentara sekali menahan kantuk. Kesehatan itu bagian nomor satu dan yang terpenting dari segalanya.

“Kau sering mengeluh karena aku jarang sekali mengatakan kalimat cinta padamu. Bahkan aku selalu merusak momen romantis yang kau ciptakan dengan susah payah, benar ‘kan? Aku minta maaf soal itu. Bukan maksudku untuk membuatmu kesal. Hanya saja, saat melihatmu melakukannya, jantungku tidak bisa diajak bekerjasama. Kau tahu dengan sangat baik kepribadianku, kuharap kau mengerti.

“Kelak di masa depan, aku akan mengucapkan banyak kata cinta dan mengenyahkan rasa takutku tentang melahirkan sehingga bisa memberikan anak-anak lucu untukmu. Aku juga akan mencoba untuk tidak mengganggu kegiatan manis yang kau lakukan khusus untukku, maka dari itu jangan pernah meninggalkanku, bisakah?” tanya wanita itu dengan was-was.

Dia lantas menutupi wajahnya dengan telapak tangan lalu melepaskannya beberapa detik kemudian, menunjukkan muka memerahnya yang terlihat sangat jelas. Jinhye menghela napas dengan keras dan mengusahakan sebuah suara keluar dari mulutnya.

Sial! Jantungnya benar-benar berdetak di luar kendali.

“Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi sekarang adalah mimpi. Aku tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menjalin hubungan dengan seorang publik figur, apalagi sampai menikah dengannya. Aku hanya wanita berumur 24 tahun yang bahkan tidak pandai memasak, ceroboh, tidak cantik, dan suka sekali menghabiskan waktu luang dengan membaca setumpuk novel fiksi daripada berkeliaran bersama teman-temannya.

Eomma juga sering mengomeliku karena malas sekali bangun di pagi hari dan melakukan pekerjaan wanita, seperti menyiram tanaman maupun olahraga. Aku wanita cerewet yang beruntung mendapatkan kedua orangtua sehebat mereka. Apa kau menyesal sekarang? Kuharap tidak, karena aku juga tidak pernah menyesal telah memilihmu sebagai pendamping hidupku,” ujar wanita itu dengan raut wajah serius yang tidak dibuat-buat.

“Sewaktu kau datang melamarku, aku benar-benar tidak menyangka. Kita bahkan baru menjalin hubungan selama kurang dari setahun. Hubungan kekasih yang kita jalani juga tidak senormal yang dilakukan pasangan lainnya di luar sana. Bertengkar karena hal sepele, saling meneriaki dan memaki satu sama lain; sesuatu yang konyol seperti itu masih sering kita lakukan. Hal itu pula yang membuat keraguan sempat melingkupi diriku.

“Tapi ketika kau dengan tegasnya meminta izin pada kedua orangtuaku, lalu bertanya padaku dan memintaku menjadi pengantin wanitamu, menatapku dengan mata teduh milikmu yang sangat kusukai, akhirnya aku tahu bahwa kau serius. Kau benar-benar menginginkanku. Lalu kita menikah, saling mengucap janji di hadapan Tuhan untuk saling mengisi kekosongan dan menerima kekurangan satu sama lain. Itu hal yang paling kusyukuri hingga sekarang.”

Wanita itu tersenyum kecil sembari menyampirkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga lalu mulai melanjutkan ucapannya dengan sorot mata yang berubah serius.

“Soal adegan ciuman yang kau ambil di beberapa drama maupun musikal, aku tidak akan mengomentarinya lagi. Meskipun aku memiliki hak sebagai istrimu untuk mengajukan penolakan, tapi itu pilihanmu, sesuatu yang kau ambil setelah berpikir selama berhari-hari. Bukankah kewajiban seorang istri adalah menuruti semua perkatan suaminya dan selalu mendukungnya? Maka dari itu, tidak usah memikirkan perasaanku dan lakukan saja dengan baik.

“Cemburu dan sakit hati pasti akan menghampiriku, mengingat bagaimana pun juga, aku adalah seorang wanita yang memiliki perasaan dan menjalin komitmen serius denganmu. Lagi pula, tidak akan ada seorang istri yang rela melihat suaminya mencium dan dicium wanita lain. Tapi sekali lagi, aku tidak apa-apa dan akan baik-baik saja. Jadi, berhentilah mengkhawatirkan diriku, Lee Sungmin-ssi.

“Semua orang tahu bahwa satu-satunya keadaan yang membuat seorang istri cemburu adalah ketika ia menemukan suaminya bermesraan dengan wanita lain. Tapi saat aku melihatmu melakukan hal itu di depan kamera, aku selalu berpikir positif dan memberikan sugesti pada diriku kalau semua itu hanya tuntutan pekerjaan yang mengharuskanmu bersikap profesional sebagai seorang aktor.

“Aku selalu berusaha memikirkan bahwa akulah istrimu, wanita yang kau cintai itu aku, dan ibu dari anak-anakmu kelak itu juga hanya aku. Hal-hal seperti itu saja, sudah cukup membuatku tenang.”

Jinhye merapikan poni depannya yang sedikit mengganggu penglihatannya ke arah kamera lalu memasang wajah yang membuat siapa saja merasa kasihan terhadapnya. “Maaf jika selama setahun ini aku belum bisa menjadi istri yang kau harapkan. Aku menyadari sifat-sifatku yang kekanakkan, manja, dan tak tahu diri itu seringkali membuatmu kecewa. Tapi kau selalu menutupinya, menahannya sendirian dan bersikap kalau segalanya tidak masalah.

“Padahal aku tahu kau merasa malu setengah mati ketika aku tidak sengaja melayangkan pukulan pada Tiffany SNSD, merasa kesal saat aku menjambak rambutmu yang sudah ditata sangat baik—hanya karena kau menggodaku tepat di hadapan para personil SHINee, dan sangat marah ketika aku dengan bodohnya tidur di ranjang Donghae. Aku benar-benar minta maaf untuk semua kelakuanku yang membuatmu merasakan berbagai macam emosi.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu jika bukan kau sendiri yang memintanya, Sungmin-ah. Selama kau masih menginginkan diriku berada di sampingmu, menemanimu melewati pahit-manis kehidupan, maka selama itu pula aku akan berada di tempat yang sama. Tidak menjauh dari pandanganmu, tidak ke mana-mana, tetap di sana. Jadi, kau tenang saja.”

Wanita itu menyilangkan kedua kakinya, mengambil posisi duduk layaknya wanita anggun.

“Aku penasaran apa yang kau ucapkan di sana. Apa kau kembali mengumpankan kalimat-kalimat manis yang membuatku meleleh di tempat? Oh, jangan katakan kau membuka semua kebiasaan burukku,” ujar wanita itu dengan mata yang disipitkan, merasa curiga.

Sedetik kemudian, dia sudah menunjukkan cengiran lebarnya dengan salah satu tangan, telunjuk dan jari tengahnya yang lentik, terancung membentuk angka dua. “Aku hanya bercanda. Sudahlah. Apapun yang kau ucapkan mengenai diriku, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Anggap saja ini salah satu hadiah dariku karena kau masih bertahan menghadapiku.

“Terima kasih untuk semuanya Lee Sungmin. Je t’aime, tellement!

Advertisements

3 comments

  1. Aigoooo terharu saya membaca video sungmin untuk jinhye..jgn dengarkan orang lain, kalimat itu berarti bgt….

    Pasangan ini bener2…bikin yg baca deg degan juga…

  2. Dari sekian panjang kalimat,cuma yg bisa aku tangkep adalah..napa umin so sweet bgt??????
    Sayang ff dia diaini udah off,,huhuhu ayo semngat gpp,,,lanjut aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s