24 Hours [4/5]

24hourseun

EUN

Jumat, malam.

Aku sampai di rumah ketika matahari telah beristirahat di singgasananya. Bibi Nam yang menyambutku di depan. Wanita yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri itu terlihat cemas. Tapi Bibi Nam dengan cepat mengubah raut wajahnya dan memberikan senyum terbaiknya yang menenangkan. Kubalas senyuman itu sekilas sebelum aku naik menuju kamar untuk membersihkan diri. Setelah itu, aku mulai menyiapkan makan malam.

Selama membantuku berkutat di dapur, tidak sekalipun Bibi Nam menyinggung tentang diriku yang menghilang sejak pagi tadi. Bibi Nam mencari topik lain yang sekiranya nyaman bagi kami berdua, mengajakku mengobrol seperti biasa, mengerti bahwa aku perlu pengalihan agar tidak memikirkan masalah itu terus-menerus.

Suara lembut Bibi Nam menjadi teman kami saat menyusun masakan ke atas meja makan. Bibi Nam menceritakan tentang keluarganya; dimulai dari kisah cucunya yang suka sekali memasukkan apapun ke dalam mulutnya dan berakhir dengan keluhannya akan anak bungsunya yang selalu nyasar tiap kali menjemputnya ke rumah ini.

Mendengar kehangatan dan keharmonisan keluarga Bibi Nam membuatku tersenyum. Diam-diam, aku berharap bisa memberikan keluarga seperti itu kepada Kyuhyun. Sebuah keluarga yang saling mengasihi dan mendukung satu sama lain. Sebuah keluarga kecil dengan kebahagian tak terhingga. Tapi aku tahu itu hanya anganku saja. Karena bahkan setelah lima tahun berlalu, aku belum juga mampu memberi Kyuhyun seorang anak.

Tepukan pelan di pundakku membuyarkan lamunanku. Aku mendongak dan menemukan Bibi Nam berdiri di depanku, sudah rapi dengan jaket coklat dan tas kecil di tangan kanannya. Mengerti bahwa Bibi Nam hendak pulang, aku segera mengantarnya ke pintu utama. Kuucapkan terima kasih atas kinerja dan segala hal yang ia lakukan hari ini, lalu memberinya sebuah pelukan hangat seperti yang biasa kami lakukan sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini.

“Hati-hati, Bi,” kataku, yang dibalas Bibi Nam dengan tersenyum lembut.

Aku hendak kembali ke dalam saat suara Bibi Nam kembali terdengar.

“Nyonya,” panggilnya.

Aku menatap Bibi Nam. “Ya?”

“Percayalah bahwa Tuan sangat mencintai Nyonya.”

Aku tidak tahu kenapa Bibi Nam tiba-tiba berkata seperti itu. Tapi kalimat yang diucapkan Bibi Nam berhasil membuat mataku terbelalak kaget. Jantungku seakan diremas dan mataku memanas. Aku merasakan dorongan kuat untuk menangis. Maka dari itu, aku menolehkan kepalaku ke arah lain, berusaha menutupi air mataku dari pandangan Bibi Nam.

“Aku tahu,” balasku, berusaha terdengar biasa saja walaupun terasa sia-sia karena suaraku yang bergetar tidak mampu kuhindari.

Bibi Nam terdiam di tempatnya, mungkin merasa bersalah karena melihatku menjadi seperti ini. Bibi Nam tidak berkata apa-apa dan hanya berpamitan sekali lagi dengan suara lemah, lalu pulang bersama anak bungsunya yang sudah menunggu di luar pagar. Dan, di sinilah aku, di teras depan rumahku; menangis dalam diam dengan air mata yang mengucur deras.

Seharian ini, aku sudah memikirkan semuanya dan berakhir pada keputusan yang kuharap dapat menjadi solusi terbaik bagi kami berdua. Aku sedang menyiapkan diri. Tapi kenapa Bibi Nam malah memberitahuku sesuatu yang membuatku goyah?

Kenapa Bibi Nam membuat keegoisanku untuk memiliki Kyuhyun itu kembali?

Tahu bahwa aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Kutarik napasku dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan, berusaha menahan diri agar tidak memuntahkan tangisku lebih banyak lagi. Beruntung aku masih dapat mengendalikannya dengan baik. Air mataku pun mulai mengering.

Ketika perasaanku agak membaik, aku memutuskan masuk ke dalam. Namun, baru saja aku hendak berbalik, suara mobil Kyuhyun terdengar. Ada decitan keras yang terdengar saat ban mobil Kyuhyun bergesekan dengan lantai garasi kami, sebelum Kyuhyun keluar dari dalam mobilnya dan dengan langkah lebar―serta sedikit tergesa―menghampiriku lalu menarikku masuk ke dalam pelukannya.

Pelukan Kyuhyun terasa kuat hingga membuatku sedikit sesak. Tapi bukan itu yang membuatku tidak berkutik, melainkan dua buah kata yang Kyuhyun ucapkan setelahnya, tepat di telingaku.

“Kau pulang,” bisik Kyuhyun lirih.

Ada getaran dalam suaranya; getaran sarat akan kelegaan yang tertangkap jelas olehku.

Sungguh, jika saja aku tidak sedang dalam posisi berpegang teguh pada keputusanku, aku pasti sudah membalas pelukan Kyuhyun tak kalah kuatnya. Aku ingin menenangkan Kyuhyun dan mengatakan bahwa aku tidak akan ke mana-mana. Tapi aku tahu itu hanya sebuah kebohongan saja karena tinggal menunggu waktu sampai aku benar-benar pergi dari kehidupan Kyuhyun.

Maka, dengan perasaan yang kutahan sebisa mungkin, aku berkata pelan. “Makanan… sudah siap.”

Kyuhyun melepas pelukannya lalu menatapku. Ada senyum tipis di bibirnya dan matanya… itu sarat akan rasa sayang yang begitu besar. Tidak mau sampai terlena oleh tatapan Kyuhyun, aku segera berbalik dan berjalan terlebih dahulu, membiarkan Kyuhyun mengekoriku.

Aku mengambil dua mangkok nasi dari penanak dan membawanya ke ruang makan. Kyuhyun dengan sigap meletakkan ke atas meja lalu menarikkan kursi untukku. Dengan pandangan bingung, aku duduk di tempatku. Sementara itu, Kyuhyun duduk pada kursi di seberangku sembari sibuk menatapku. Bukannya makan, Kyuhyun malah asyik memerhatikanku. Tidak sekalipun matanya beralih ke arah lain dan itu membuatku sedikit malu.

 “Makanlah,” ujarku agak gugup.

Untung saja Kyuhyun mau menurutiku. Kyuhyun langsung mengangguk penuh semangat lalu memakan makanannya dengan lahap. Sesekali Kyuhyun melirikku dan ketika tatapan kami bertemu, ia akan menampilkan senyum lembutnya yang menawan. Sebuah senyum yang membuatku gelisah. Akan tetapi, kuputuskan untuk tetap kuat hingga akhir. Oleh karena itu, saat kulihat Kyuhyun telah menyelesaikan suapan terakhinya, aku berucap pelan.

“Nenek benar, Kyu.”

Kyuhyun yang baru saja menandaskan isi gelasnya, menatapku dengan kening berkerut.

“Apa maksudmu?” tanyanya bingung.

Kugigit bibir bawahku sejenak, menguatkan hati, lalu memberanikan diri membalas tatapannya.

“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Nenek tadi pagi,” akuku.

Tidak ada ekspresi terkejut di sana sehingga aku menebak-nebak kalau Kyuhyun sudah tahu.

“Apa ini masih tentang anak?” tanya Kyuhyun to the point.

Aku hanya diam dengan kepala menunduk, sama sekali tak tahu harus menjawab apa.

Terdengar helaan napas berat Kyuhyun sebelum ia berkata lembut, “Kandunganmu sempurna, Eunhee-ya. Dokter berkata begitu. Kita hanya perlu bersabar sedikit lagi. Tidak usah dengarkan kata Nenek, beliau sedang melantur sewaktu menyarankan hal itu.”

Dengan cepat aku mendongak, menatap Kyuhyun dengan wajah tidak percaya. Bagaimana bisa Kyuhyun bersikap sesantai itu? Tidakkah dia mengerti keresahanku?

Respon Kyuhyun yang begitu tenang, perasaan bersalah yang bersarang, dan tekanan dari berbagai pihak yang terus-menerus menerjang; tertumpuk menjadi satu, membuatku frustasi, dan tanpa sadar memuntahkannya.

“Sampai kapan, Kyu? Sampai kapan?” jeritanku mengambil alih. Dapat kulihat Kyuhyun menatapku kaget sekaligus khawatir. “Lima tahun. Lima tahun sudah kita menunggu. Dan, meskipun kau menerimaku yang seperti ini, aku tahu kau menginginkan anak. Kau pasti ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia. Iya, ‘kan, Kyu? Aku benar, ‘kan?”

Tepat ketika aku selesai mengeluarkan seluruh perasaanku yang tertahan, terdengar bunyi kursi terjatuh yang disusul dengan berputarnya posisi kursiku dan berlanjut pada dekapan hangat Kyuhyun di tubuhku. Kyuhyun mengelus rambutku dan membisiku permintaan maaf.

Mianhae. Aku tidak tahu kalau kau berpikir seperti itu. Aku tidak tahu kalau kau sudah menahan perasaanmu selama itu. Maafkan aku, Eun. Maafkan aku yang masih tidak dapat memahamimu sebaik kau memahamiku.”

Berulangkali Kyuhyun memohon maaf untuk sesuatu yang bukan menjadi salahnya. Dan, tiap kali kata maaf itu terucap dari bibir Kyuhyun, tiap itu pula aku merasa bahwa aku sudah benar-benar gagal menjadi seorang istri. Lelaki sebaik Kyuhyun, bagaimana bisa aku sejahat ini padanya? Cukup sudah waktu lima tahun kuhabiskan dengan memberi perasaan kecewa itu pada Kyuhyun. Aku tidak ingin Kyuhyun mendapatkannya lagi, aku tidak mau.

Maka, dengan air mata yang menetes deras, aku berucap lemah.

“Mungkin memang sebaiknya kita akhiri saja sampai di sini.”

Dapat kurasakan tubuh Kyuhyun menegang kaget mendengar perkataanku.

Kyuhyun mengurai pelukannya. “A―apa maksud―mu?” tanyanya terputus-putus.

Aku menggigit bibir bawahku sebelum melanjutkan, “Ceraikan aku, Kyu.”

Ada jeda yang terasa begitu lama. Kami saling bersitatap, Kyuhyun dengan tatapan kosongnya dan aku dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.

“Song Eunhee, kau bercanda, ‘kan?” tanya Kyuhyun hampa.

Aku menggeleng kuat-kuat. Sebisa mungkin kutahan isakanku meskipun pandanganku tetap saja mengabur karena air mata yang kunjung reda. Namun, aku berusaha kuat. Kuraih tangan Kyuhyun lalu kugenggam erat. Dadaku sesak saat mengatakan, “Ini yang terbaik untuk kita.”

Namun, Kyuhyun dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Kyuhyun nampak murka; rahangnya mengetat dan tatapannya menajam.

“Tahu apa kau tentang yang terbaik untukku, hah?” bentak Kyuhyun emosi. “Anak, anak, anak; persetan dengan anak! Aku tidak peduli. Aku mencintaimu, Eun. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Bagaimana bisa aku melepaskanmu? Berpikir untuk menduakanmu saja tidak pernah. Dan, kau malah memintaku melakukan sesuatu yang jelas-jelas akan menyakiti kita berdua? Apa kau sanggup? Apa kau tidak mencintaiku lagi?”

Suara Kyuhyun yang keras dan ketus itu berganti menjadi suara lirih tak bertenaga ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Aku yang semula ketakutan mendapati kemarahan Kyuhyun, seketika merasa sedih saat melihat genangan air bening di bola mata Kyuhyun yang diselimuti raut terluka di wajahnya. Sontak kuraih Kyuhyun dan kupeluk ia erat-erat.

Kyuhyun menyandarkan keningnya di bahuku. Tubuhnya bergetar hebat. Sedetik kemudian, kurasakan dua tetes air mata membasahi bahuku yang terbuka. Semakin lama semakin banyak.

Selama tujuh tahun aku mengenal Kyuhyun, tidak sekalipun aku pernah melihat Kyuhyun menangis semengerikan ini. Hanya sekali Kyuhyun menitikkan air matanya di depanku, yaitu ketika sang Nenek―yang menjadi satu-satunya keluarganya itu―masuk rumah sakit karena darah tingginya kumat. Ketika itu pun, Kyuhyun masih menahannya dan berusaha terlihat tegar.

Tapi coba lihat sekarang. Kyuhyun bahkan tidak mau repot-repot menutupinya dan membiarkanku melihat sisi lemahnya. Dia menangis begitu derasnya. Menanggalkan semua kehebatannya dan menunjukkan kerapuhannya di depanku, hanya padaku. Dan, karenaku.

Kyuhyun benar. Tidak seharusnya aku memikirkan soal anak terus-menerus. Sepertinya aku lupa bahwa menikah bukan hanya tentang memiliki keturunan saja, tapi juga tentang komitmen menjaga cinta kedua belah pihak. Kalau Kyuhyun saja bersedia berjuang bersamaku, kenapa aku malah mendorongnya menjauh? Bukankah hakikatnya aku juga ikut berjuang bersamanya?

Ya, aku tidak akan terpuruk lagi. Aku akan bangkit dan membuktikan pada Nenek Shin kalau aku adalah satu-satunya wanita yang pantas bersanding dengan Kyuhyun. Aku akan fokus pada kehidupan pernikahanku dan mengabaikan mulut-mulut liar orang-orang di luar sana. Karena ini tentang kami berdua; aku dan Kyuhyun.

“Jangan pernah memintaku untuk meninggalkanmu, Eunhee-ya,” pinta Kyuhyun sembari balas memelukku.

Tangisan kami malam itu berakhir dengan beberapa kali sesi panas di kamar. Aku mengizinkan Kyuhyun melakukannya karena aku ingin Kyuhyun tahu bahwa aku juga mencintainya; bahwa aku tidak mau kehilangannya; dan bahwa aku begitu ingin hidup bersamanya, selamanya.

Tengah malam, aku terbangun dengan posisi masih berada dalam dekapan Kyuhyun. Lengan Kyuhyun yang kokoh melingkari pinggangku, menolak untuk membiarkanku menjauh, membuat tubuh kami yang tanpa penghalang seakan menempel.

Dalam tidurnya, Kyuhyun menggumam. “Jangan pergi, Eun. Jangan tinggalkan aku.”

Dan, sekali lagi, Kyuhyun berhasil membuatku menangis. Kuraih wajahnya lalu kukecup bibirnya lembut. Setelah itu, aku balas memeluknya tak kalah kuat.

Aku sangat mencintaimu, Kyu.

TBC

So sorry untuk keterlambatan update selama dua minggu ini. Yah, you know lah, tugas anak semester akhir. Next part a.k.a ending akan di update kalau sudah ada 30 komentar dari kalian. Sooo, ditunggu komentarnya ya, karena seperti biasa, the last part will be password-protected *smirk*

P.S. Please tell me if there’s any typo(s). Don’t forget to like and share if you like this story. Thank you.

Advertisements

26 comments

  1. yeayy,,akhirnya keluar juga part 4 nya,,aku kira gak berniat dilanjut lagi,,, aku penasaran banget sama kisah mereka, ternyata kyu tetap mempertahankan hubungannya sama eun,dan eun pun sebaliknya,walaupun tadi sedikit bimbang. btw,setelah nanti part 5 selesai,bakalan ada sequel atau epilog gak? karna menurutku ceritanya bagus kok,gak terlalu berlebihan,mungkin banyak ff dengan tema kayak gini,tapi pas aku baca ff ini,kayak lebih nyata aja,,

  2. Untunglah eunhae segera pulang, kasihan si kuhyun. Dia juga tertekan eunhae, semoga neneknya enggak ikut campur lagi urusan mereka berdua.
    Semangat last part nya kak.

  3. Plise jngn brpsah ya eunhee ksian kyu dia ksn kmri nyri km jngn brpsah ya,duh mrka brdua sm2 sdh it sm krna nnek shin,untng aj eunhee plng,

  4. Huwaaaaahh aku nunggu-nunggu ih. Kereeeeen. Meweeeeeek. Sediiiiihh.. masih pagi lho ini! 😂 gilak, mendalami banget peran Eunhee lho saya. Rasanya tuh kayak ada yg remes-remes ulu hati gitu. Apalagi ditambah fakta gimana sikap Kyuhyun tadi. Yailaaa siapa yg gak meleleh cobaaakk??
    Tinggal satu part lagi ya? Duuuhh bisa gak dibikin lebih long gitu *gataudiri* 😂😂😂
    Dan, makasih, ini lebih panjang dibanding yg sebelumnya ^^ nice!

  5. Ternyata problem mrk ttg anak,untung kyu sgt cinta ama eunhee,jd kyu g bkln nurutin kt2 nenek shin.
    Semoga eunhee bisa cpt hamil ya biar mrk tmbh bahagia

  6. ooh,akhirnya eunhee balik lagi yee,dan point pentingnya mereka akhirnya gak jadi cetai,moga hasil dari sesi panas malamnya bener2 bawa berkah ya ,ditunggu part selanjutnya thor,semangggat

  7. Semoga aja mereka bisa hidup tenang tanpa ada tekanan dari pihak lain apalgi tentang permasalahan anak yg belum bisa mereka dapatkan..kangen sweet momen nya

  8. deg deg an sumpah, kirain beneran minggat si eunhee nya 😥😥 ., semoga itu si nenek kyuhyun cepet insaf kek yaa jadi gak bisik bisikin kyuhyun buat nikah lagi. Ayook kalian berjuang, tiap hari kalo perlu*smirk* 😅😅😅

  9. Untung suaminya masa bodoh n ga terengaruh sama.org lain, jd bisa salling memguatkan..

    Jgn di lepas abg kyu eunhee, nemu dimana g yg kayak gt????

    Jehhehhehhr

  10. Nggreget bgt sumpah part ini.. .
    Saat kyuhyun nangis hebat dan ahirnya eunhee juga mau merjuangin kisah mereka…

    Toh nenek nya kyu bukan tuhan

  11. Berharap sangat akhir ceritanya bakal Happy Ending, Karena di part ini udah mulai so sweeeeet banget.

  12. Untung Kyuhyunnya cinta banget sama Eunhee dan sabodo teuing sama si nenek… The point is kalo nikah itu bukan cuman tentang anak tapi juga tentang kasih sayang dan perjuangan buat menghadapi cobaan dalam pernikahan aseek

  13. Hemm aq ngalamin ini d dunia nyata. Mirip bgt kaya gini. Author na pinter milih kata2 n fell na jg dpat 😄😄smangat trus nulis na ya thor. Oya aq paling sk ma kalimat ini” menikah bukan hanya tentang keturunan tp jg tentang menjaga komitmen”

  14. haaai author-nim, ceritanya bikin panas mata. bisa ikutan pengen nangis sama mereka huhu T.T
    semangat nulisnya, tulisannya bagus-bagus dan kusuka alurnya yang pas gak cepet dan gak makan waktu juga. lagi pengen baca ff kyu, ini efek uring2an gara2 kyu mau wamil. udah sebulan tapi masih belum rela liat kyu wamil hiks hiks 😦

    oh ya, aku juga udah baca first love nya author, mian aku tipe yang jarang kasih comment. tapi aku mentok dan masih gak bisa nebak password buat last chapter, mohon petunjuknya ya author-nim. gomawooo 😀

  15. oh myyyy.. ini so sweet bgt.. adududuh.. melting seketika hbs mewek.. andai bneran ada ya laki2 kek kyuhyun di ff ini.. psti angka prrceraian menurun.. wkwkwkkw ngmg apaan gua..
    tp sumpah ini so sweet bgt cintanya kyuhyun ke eunhee..
    keep writing ^^

  16. Yeay, akhirnya muncul juga part ini .
    Eun-Hee semangat! Kamu harus bisa buktiin kalo kamu lah yang pantas bersanding dgn Kyu, *ASEK*😂😂
    Ohys kak, aku mau koreksi nih. Kata2 “nyasar” lebih baik diganti “tersesat” deh. Soalnya “nyasar” itu kesannya nggak baku, hehe.
    Trus tadi aku juga liat ada yang typo, di bagian Kyu minta maaf ke Eun-Hee karena belum bisa memahami Eun-Hee sebaik wanita itu memahaminya. “Membisiku” tadi tu aku bacanya. Harusnya “membisikkan” kali ya? Coba dicek lagi kak😂😂
    Next chapter ditunggu ya kak. Semoga aja ad kabar bahagia di last chapter nanti😁😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s