First Love (8)

first-love-ghina1Poster: HRa @ PosterChannel

Previous: Bagian 7

(Eunhee’s side)

.

Eunhee menutup buku tebal yang ada di hadapannya lalu melakukan sedikit pergerakan ringan untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku akibat duduk selama hampir tiga jam. Setelah dirasa cukup, Eunhee merapikan alat-alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Gadis itu berjalan ke kamar mandi dengan mata setengah terpejam. Dia mulai melakukan ritual malamnya; mencuci muka dan menggosok gigi.

Tak butuh waktu lama, Eunhee sudah siap untuk tidur. Dengan kaos kebesaran dan celana pendek selutut, Eunhee menaiki ranjang dan menarik selimut. Dia mematikan lampu kamar menggunakan remote control yang ada di meja nakas, menyisakan penerangan remang dari sebuah lampu tidur di sebelah kanannya.

Eunhee memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Namun, hingga setengah jam kemudian, kantuk itu tak juga datang berkunjung. Terpaksa Eunhee kembali menghidupkan lampu sehingga kamarnya terang benderang. Lalu bangkit dan bergerak menuju lemari buku yang ada di dekat jendela besar.

Dia menyusuri tiap barisannya, menyeleksi satu per satu puluhan buku yang ada di sana, memilih yang mana yang akan ia baca malam ini sebagai pengantar tidurnya. Pilihannya pun jatuh pada salah satu novel bergenre fantasi romantis yang sudah seringkali ia baca. Diambilnya novel tersebut dengan hati-hati, agar tidak merusak tatanan buku di lemari, lalu duduk di atas kursi goyang yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi.

Eunhee mulai membaca dan terlena pada cerita. Tapi itu hanya berlaku dua puluh menit pertama. Karena di menit selanjutnya, bayangan akan pembicaraannya dengan sang Ibu tiga hari lalu hinggap di benaknya.

“Eunhee-ya,” panggil ibunya suatu waktu, saat Eunhee sedang menyeduh coklat panas untuk menemaninya menonton drama kesukaannya.

Eunhee menoleh sekilas sambil terus mengaduk. “Ada apa, Mom?”

“Apa tidak ada yang ingin kaubicarakan denganku?” tanya ibunya, selembut mungkin.

Kening Eunhee berkerut. Dia nampak berpikir sejenak. Lalu menggeleng pelan.

“Nothing,” jawabnya singkat sambil mulai mencicipi minuman buatannya.

Ibunya menghela napas panjang. “Hari ini aku bertemu Kyuhyun.”

Gerakan Eunhee yang sedang mengaduk terhenti. Tubuhnya kaku, nampak terkejut. Sepenuhnya, perhatian Eunhee teralih ke ibunya.

“Apa?” tanyanya lemah.

“Aku bertemu Kyuhyun. Dia menceritakan segalanya.”

Perasaan Eunhee tidak enak. Eunhee menelan ludah susah payah.

“Ap―apa mak―sud, Mom?”

“Semuanya. Kejadian enam belas tahun lalu hingga pertengkaran kalian hari ini.”

Jantung Eunhee seakan berhenti berdetak mendengar kalimat terakhir ibunya. Matanya terbelalak lebar, sedangkan tangannya mulai gemetaran. Eunhee luar biasa syok. Pasalnya, Eunhee tidak menyangka kalau rahasianya harus terbongkar. Dan parahnya, bukan dari mulutnya sendiri, tapi dari seseorang yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Suara ibunya terdengar seperti biasa, tapi Eunhee tahu ada nada sedih dan kecewa yang terselip di dalam sana, membuat hati Eunhee seolah tersayat. Eunhee menatap ibunya dengan ekspresi menyesal. Air mata mulai menuruni pipinya seiring kenangan buruk yang berputaran di kepalanya seperti kaset rusak.

MianhaeyoEomma.

Ada dua kondisi di mana Eunhee memanggil orangtuanya menggunakan bahasa Korea. Pertama, saat dia sedang marah besar; dan kedua, saat dia benar-benar merasa bersalah. Itu sudah menjadi kebiasaan Eunhee sejak lama dan sang Ibu sangat memahaminya. Makanya, beliau langsung bergerak maju dan memeluk Eunhee erat.

Eomma, aku―” Eunhee terisak. “bukan aku tidak ingin memberitahu, tapi―” Ucapan Eunhee tidak begitu jelas. “aku ingin melupakannya. Itu menyebalkan untuk diingat. Aku benci.” Lalu Eunhee menangis lebih keras.

Sang Ibu melepaskan pelukannya dan meneteskan air mata melihat Eunhee. Gadis itu nampak begitu terluka sehingga mendadak ibunya menyesal mengungkit masalah itu. Namun, tidak ada pilihan lain. Sudah cukup enam belas tahun Eunhee menyembunyikan hal ini, Eunhee tidak boleh menahannya lebih lama lagi. Ibunya tidak mau sakit hati itu nantinya berkembang menjadi dendam―beliau tidak ingin itu terjadi.

Ibunya menghapus air mata Eunhee, membuat Eunhee mendongak menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Sang Ibu pun tersenyum menenangkan. “Menyimpan semuanya tidak akan menyelesaikan apa-apa, Eunhee-ya. Kau hanya akan mendapat rasa sakit yang tak terkira,” ujar ibunya lembut sambil memberi tatapan penuh perhatian.

“Eunhee-ya, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tapi mereka juga berhak mendapat kesempatan kedua,” kata ibunya lalu mengelus kepala Eunhee. “Anakku sudah dewasa, aku yakin kau bisa mengambil keputusan yang tepat. Jadi, tolong pikirkan baik-baik. Ingat bahwa yang sedang kau perjuangkan adalah kebahagianmu. Kau mengerti?”

Eunhee memejamkan mata lalu menarik dan menghela napas panjang. Dia paham maksud ibunya dan merasa berat melakukannya. Bukan berarti Eunhee menolak untuk memaafkan Kyuhyun, hanya saja tiap kali melihat Kyuhyun, Eunhee langsung teringat akan bullying yang pernah ia terima dan merasa sesak kemudian. Hal tersebut memang membawa trauma tersendiri bagi Eunhee. Bahkan setelah belasan tahun berlalu.

Sejujurnya, Eunhee ingin sekali membangun hubungan yang baik dengan Kyuhyun, seperti saat mereka masih teman kecil. Apalagi sekarang, Eunhee mulai diguncangkan dengan perasaan lain yang tidak begitu ia pahami. Eunhee tidak tahu pasti apakah ini merupakan lanjutan dari rasa sukanya pada Kyuhyun sewaktu kecil dulu, tapi satu yang Eunhee yakini; Eunhee bahagia bisa bertemu dengan Kyuhyun lagi.

Tapi sialnya, rasa bahagia itu tidak sebanding dengan ketakutan Eunhee. Ada satu sisi dalam diri Eunhee yang meragukan sikap Kyuhyun padanya dan membuatnya antisipasi. Itulah mengapa pada awal pertemuan mereka, Eunhee sengaja berpura-pura melupakan Kyuhyun. Eunhee butuh menguatkan diri dan tanpa sadar sudah membentuk tembok tinggi tak kasat mata yang tak bisa ditembus oleh Kyuhyun. Sayangnya, seiring dengan hatinya yang perlahan-lahan luluh akan kebaikan Kyuhyun, tembok tersebut juga mulai mengalami keretakan di mana-mana. Tinggal menunggu waktu saja sampai tembok tersebut roboh.

Maka dari itu, Eunhee sengaja menghindari Kyuhyun. Eunhee ingin memikirkan masalah ini baik-baik lalu memutuskan harus menguatkan benteng tersebut atau malah membiarkannya hancur. Tapi Kyuhyun bersikeras menemuinya sehingga pecahlah pertengkaran tersebut.

Eunhee paling tidak bisa didesak. Saat pikirannya sedang kacau dan perasaannya tidak keruan, Eunhee paling mudah meledak. Apalagi waktu itu, Eunhee masih dalam kondisi terguncang karena Kyuhyun berhasil mempermainkannya lagi dengan berpura-pura melamarnya. Terang saja Eunhee langsung murka dan mengucapkan kata-kata buruk pada Kyuhyun.

Meski sudah tiga hari berlalu, Eunhee masih memikirkannya. Eunhee merasa bersalah karena menyakiti Kyuhyun. Seharusnya Eunhee bisa menahan diri dan tidak terpancing emosi. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Eunhee hanya bisa menyesali perbuatannya.

Eunhee menutup novel di pangkuannya, yang mendadak tidak lagi menarik perhatiannya, dan meletakkan di tempat semula. Dia bergeser dan berdiri di depan kaca besar, yang menghadap ke arah jalan depan rumahnya, sambil melipat kedua tangan di depan dada. Kepalanya mendongak, menatap langit malam yang disinari rembulan dan ditaburi banyak bintang. Lalu, Eunhee tersenyum kecil.

Lama Eunhee di sana, menenangkan pikiran sembari menikmati suasana malam. Sampai kemudian, tiba-tiba ia menguap dengan lebar. Kantuk sudah menyerangnya rupanya.

Eunhee hendak berbalik ke tempat tidurnya yang nyaman saat kedua indera penglihatannya mendapati sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Dia mendekati jendela, mencoba mengamati lebih detail. Namun, Eunhee tidak bisa melihat lebih daripada itu.

Pada akhirnya, Eunhee berusaha berpikir positif dan beranjak dari sana. Eunhee menaiki ranjang dan memakai selimut. Lalu, Eunhee tidur lelap, membawa ketidaktahuannya mengenai pengendara mobil yang masih tetap di sana hingga beberapa jam kemudian.

***

“Mau pergi sekarang?”

Mendengar pertanyaan ayahnya, cepat-cepat Eunhee menandaskan isi gelas susunya. Gadis itu mengangguk sembari mengelap bibirnya dengan serbet yang sudah disediakan. Lalu hendak bangkit dari kursinya saat ibunya tiba-tiba muncul dari dapur dengan membawa dua buah piring masing-masing berisi dua lembar roti bakar. Beliau meletakkan piring-piring tersebut di hadapan Eunhee dan ayahnya, sebelum duduk di kursinya, membuat Eunhee merasa tidak enak mengabaikan sarapan yang sudah dibuat susah payah oleh ibunya.

Dengan kilat, Eunhee meraih selembar roti bakar dari atas piringnya dan mengoleskan selai kacang. Lantas segera memakannya dalam satu gigitan besar, membuat mulutnya terasa penuh dan sedikit kram. Eunhee mengunyah dengan susah payah.

“Pelan-pelan sedikit, Sayang,” tegur ibunya lalu menyodorkan segelas air pada Eunhee.

Eunhee langsung menerimanya dan meminum setengahnya.

“Kau sedang terburu-buru, ya?” tanya ayahnya sembari mengunyah makanannya perlahan.

Gadis itu mengangguk. “Aku tidak mau ketinggalan bus.”

“Memangnya kenapa dengan mobilmu?” Kali ini, ibunya yang penasaran.

“Bannya bocor,” jawab Eunhee singkat, sibuk dengan roti bakarnya.

Ayahnya berkata tiba-tiba, “Kalau begitu, biar aku yang antar.”

Hari ini, Goo Ahjussi memang tidak datang karena diare yang sudah ia rasakan sejak dua hari lalu. Beliau mengaku bolak-balik ke kamar mandi dan mengeluhkan perutnya yang terasa seperti dililit. Mungkin karena ia salah makan atau mungkin karena faktor organ pencernaannya yang memang fungsinya mulai menurun termakan usia, Eunhee tidak bisa memastikan.

Tapi yang pasti, setelah mendengar kabar tersebut, orangtuanya langsung meminta Goo Ahjussi melakukan pengecekan di rumah sakit dan mengambil waktu istirahat beberapa hari. Ayahnya melarang sopir kesayangan keluarga tersebut datang bekerja dan memutuskan untuk mengambil alih tugas Goo Ahjussi, seperti yang tadi beliau usulkan pada Eunhee.

Eunhee langsung menggeleng dengan tegas. “Tidak perlu, Dad. Aku bisa naik bus.”

“Kenapa? Kau tidak suka kalau Dad yang mengantar?” tanya ayahnya, nampak kaget. Pasalnya, ini pertama kalinya setelah sekian tahun terlewat hingga sang Ayah dapat mengantar Eunhee lagi. Tapi Eunhee malah menolak dan membuat ayahnya sedikit sedih.

Melihat raut wajah ayahnya, Eunhee jadi merasa bersalah. “Bukan begitu, Dad,” ujar Eunhee, hendak menjawab bahwa alasan ia tak mau diantar oleh sang Ayah adalah karena Eunhee tidak ingin merepotkan. Namun, belum sempat Eunhee melanjutkan, ayahnya sudah menyela.

“Lalu kenapa?” rajuk ayahnya lagi, terlihat seperti anak berumur lima tahun.

Ibunya yang kemudian membujuk sang Ayah. “Sudahlah, Ale. Mungkin Eunhee memang sedang ingin naik bus. Jadi, berhenti berpikir macam-macam tentang anakmu. Dia sudah dewasa,” kata ibunya sembari menangkup salah satu tangan ayahnya yang ada di meja dan mengelusnya pelan.

Meskipun nampak tidak rela, ayahnya menurut. “Baiklah, kalau itu maumu.”

Eunhee bersitatap dengan sang Ibu lalu memberikan kedipan tanda terima kasih yang dibalas ibunya dengan satu senyum lembut. Segera dia meraih mantel dan tasnya lalu mencium pipi ibu dan ayahnya secara bergantian.

“Aku pergi,” pamit Eunhee dengan suara keras.

“Hati-hati, Sayang,” seru ibunya.

“Song Eunhee, jaga diri. Jangan sampai kecerobohanmu membuatmu terluka. Kau dengar?”

Eunhee mendengus geli mendengar perkataan ayahnya. Dia menjawab, “Yes, Sir.” sembari melambaikan tangannya lalu berjalan menuju halte yang membutuhkan waktu dua puluh menit, jika berjalan kaki, dari rumahnya.

Saat melawati pekarangan, Eunhee masih bisa membalas setiap sapaan dari pekerja rumahnya dengan anggukan singkat nan santai. Barulah setelah ia berada di luar pagar, Eunhee mengecek jam tangan coklatnya dan tersentak mengetahui hanya tersisa lima belas menit sebelum bus pertama datang.

Diiringi desisan kesal, Eunhee berlari kencang. Dia membiarkan angin musim gugur menyapu wajahnya dan menerbangkan rambutnya yang tergerai, membuat dandanannya menjadi berantakan. Tapi Eunhee tidak peduli. Waktunya sudah sangat mepet. Hanya satu yang ada di pikirannya sekarang, bus pertama. Beruntung Eunhee dapat mengejar sehingga ia bisa sampai di halte sesuai dengan perkiraan.

Eunhee menaiki bus dengan napas tidak beraturan. Dia duduk di tempat favoritnya, barisan paling belakang tepat di samping jendela, lalu menarik selembar tisu dan sebuah cermin dari dalam tasnya. Tisu untuk menyeka keringat yang ada di kening dan lehernya, sedangkan cermin untuk mengecek penampilannya. Eunhee nyaris memekik melihat betapa acak-acakan rambutnya. Dia meringis malu lalu menyisirnya dengan jari.

Setelah merapikan di sana-sini dan merasa yakin dengan keadaannya, Eunhee memasukkan kembali tisu bekas dan cermin tersebut ke dalam tas. Dia merogoh iPhone beserta earphone dari saku mantelnya dan mulai mendengarkan lagu. Dialihkan pandangannya ke arah jendela, memerhatikan daun-daun berguguran yang ada di sepanjang jalan. Lalu tersenyum kemudian, merasa senang untuk hal yang tidak ia mengerti. Sepertinya, mood-nya sedang baik hari ini.

Butuh waktu 25 menit hingga Eunhee sampai di halte di kedua. Eunhee turun dari bus diikuti beberapa orang yang langsung pergi ke tempat tujuannya masing-masing. Lalu ia duduk di sebelah wanita yang sedang hamil besar, menunggu bus lain yang akan membawanya ke Seoul National University datang. Hanya ada mereka berdua di sini; wanita hamil sibuk makan sedangkan Eunhee bingung antara harus mengajaknya mengobrol atau membiarkan kesunyian menguasai. Eunhee memilih yang kedua; diam saja sambil mendengarkan lagu dari ponselnya.

Hanya setengah lagu yang bisa ia dengarkan sebelum rintihan wanita hamil tersebut menusuk indera pendengarannya. Eunhee melepaskan salah satu earphone dari telinganya lalu menoleh. Seketika matanya melebar, terkejut melihat wanita itu kesakitan sembari memegangi perutnya yang buncit. Insting Eunhee mengatakan bahwa wanita ini akan melahirkan. Dan, benar saja, sedetik kemudian air bening mengalir di kaki wanita tersebut; air ketuban.

Spontan Eunhee mencabut earphone dari telinga dan ponselnya, lalu menghubungi ambulans. Dia berbicara dengan tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdetak keras karena rasa takut, dan meminta ambulans datang secepat mungkin. Sambil menunggu ambulans, Eunhee mendekati wanita tersebut dan memintanya untuk menarik serta membuang napas dengan perlahan yang dibalas wanita tersebut dengan menggenggam tangan Eunhee erat-erat, melampiaskan rasa sakitnya.

Eunhee nyaris memanggil taksi. Namun, ambulans tiba-tiba datang. Tiga orang petugas kesehatan turun dan langsung membawa wanita tersebut naik. Eunhee juga ikut; selain karena wanita tersebut tidak mau melepaskan tangannya, ia juga merasa sangat khawatir.

Di dalam ambulans, para petugas kesehatan melakukan pertolongan semaksimal mungkin. Eunhee sendiri menyemangati dan memberikan kata-kata positif yang diharapkan bisa membuat wanita itu sedikit tenang. Tapi semakin dekat mereka ke rumah sakit, semakin keras rintihannya. Eunhee bahkan tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan tangannya diremas hingga kram. Untung saja rumah sakit tujuan mereka tidak terlalu jauh dari halte sehingga mereka sampai tidak lama kemudian.

Begitu turun, wanita tersebut langsung dibawa dalam keadaan berbaring oleh beberapa perawat. Eunhee berjalan dengan tertatih-tatih di sebelahnya, setengah terseret karena wanita tersebut masih saja melampiaskan rasa sakitnya ke tangan Eunhee. Tepat ketika mereka akan memasuki ruang bersalin, wanita itu akhirnya melepaskan Eunhee dan berteriak kencang, membuat Eunhee semakin berdebar.

Eunhee duduk di kursi tunggu sambil melemaskan tangannya yang memerah dan seakan mati rasa. Dia bisa saja pergi meninggalkan wanita tersebut dan mengejar kuliah pertamanya yang baru dimulai sepuluh menit lagi, namun Eunhee tidak setega itu. Eunhee merasa bertanggungjawab dan harus tetap berada di sini, setidaknya sampai anggota keluarga wanita tersebut datang.

Di situasi seperti ini, seorang perawat tiba-tiba muncul. Buru-buru Eunhee berdiri dan membungkuk. Perawat tersebut memberikan secarik kertas pada Eunhee yang diterima Eunhee dengan kening berkerut bingung.

“Apa ini?” tanya Eunhee, merujuk pada angka-angka yang tertulis di sana.

“Nyonya Yoo Yura meminta anda untuk menghubungi nomor tersebut. Itu adalah adiknya.”

Eunhee mengangguk, sedangkan sang Perawat pamit dan masuk ke ruang bersalin. Eunhee duduk kembali, merogoh ponselnya, dan menghubungi nomor itu. Dia menunggu hingga dering ketiga sebelum seseorang di seberang sana mengangkatnya.

Yoboseo.

“Oh, annyeonghaseyo. Apakah saya bisa berbicara dengan adik dari Yoo Yura ssi?”

“Ya, saya sendiri.”

Eunhee menghela napas sebelum menjelaskan semuanya. Dia juga memberitahukan keadaan Yura sekarang yang tengah ditangai dan meminta pria tersebut untuk datang secepat mungkin. Setelah menyebutkan nama dan alamat rumah sakit ini, pria itu langsung mematikan telepon tanpa sempat Eunhee bersuara lebih lanjut.

Eunhee sampai mengedipkan matanya berulangkali, heran dengan tingkah pria tersebut yang kurang sopan. Padahal kalau didengar dari suaranya, sepertinya pria tersebut sudah cukup dewasa untuk memahami tata krama. Tapi kemudian, Eunhee mencoba berpikir positif. Dia berpikir bahwa pria itu sedang panik sehingga tidak bisa berbasi-basi. Dan, Eunhee tidak bisa menyalahkannya. Eunhee harus mengerti.

Beberapa menit ke depan, Eunhee habiskan dengan menunggu sembari membalas pesan singkat yang diberikan oleh teman-temannya. Mereka menanyakan keberadaan Eunhee dan alasan Eunhee belum juga datang di kuliah pertama yang sudah berlangsung selama dua puluh menit. Semua itu Eunhee balas dengan cepat.

Setelah yakin semua pesan sudah ia balas, Eunhee memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia menangkup kedua tangannya, memainkan jemarinya, berusaha menghalau kekhawatiran yang perlahan-lahan mulai merasukinya lagi. Rasanya sudah lama sekali Eunhee menunggu, tapi belum juga ada kabar dari dokter yang menangani wanita tersebut. Eunhee jadi takut kalau-kalau di dalam sana terjadi suatu hal yang buruk.

Ternyata pikirannya salah. Dua menit kemudian, dokter keluar dari ruang bersalin dan mendekati Eunhee yang kini sudah membungkuk sopan.

“Apakah anda yang membawa Nyonya Yoo ke sini?”

Eunhee mengiyakan. “Saya yang pertama kali melihatnya kesakitan di halte.”

Dokter tersebut tersenyum. “Syukurlah, anda bergerak cepat. Semuanya berjalan lancar. Anaknya perempuan dan sehat-sehat aja. Begitu juga dengan ibunya. Sekarang sedang dipersiapkan agar dapat dipindahkan ke ruang rawat.”

Eunhee menghela napas panjang. Tanpa sadar, ternyata ia sudah menahan napas sedari tadi. Eunhee membungkuk berulangkali sambil mengucapkan terima kasih. Dokter tersebut tertawa kecil lalu menepuk pundak Eunhee seolah meminta Eunhee untuk berhenti melakukan itu.

“Di mana keluarga Nyonya Yoo?”

Eunhee menyampirkan rambutnya yang menganggu pandangan ke belakang telinga.

“Sepertinya sedang dalam perjalanan.”

Dokter tersebut mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Saat keluarganya datang, tolong minta untuk datang menemui saya. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan.”

“Ya, saya mengerti. Terima kasih, Dokter,” kata Eunhee sebelum dokter tersebut pergi.

Eunhee menghela napas sekali lagi. Dia memegangi dadanya yang terasa membuncah, penuh akan kebahagiaan. Rasanya senang sekali dapat membantu orang seperti ini. Meskipun tidak banyak yang Eunhee lakukan, tapi Eunhee bersyukur wanita itu beserta anaknya tidak apa-apa.

Eunhee mencoba menghubungi adik wanita itu lagi. Dia sudah menempelkan ponselnya di telinga dan langsung berbicara panjang lebar begitu panggilannya diangkat. Tapi bukannya membalas perkataan Eunhee, lelaki di seberang sana malah diam. Eunhee hendak mematikan sambungan ketika suara lelaki tersebut terdengar dari speaker ponselnya. Anehnya, suara itu juga terasa begitu dekat dengan Eunhee.

Refleks kepala Eunhee menoleh, mencoba mencari tahu. Dan, matanya terbelalak lebar begitu melihat seseorang yang ia kenal tengah berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang dengan napas yang tidak beraturan. Ponsel hitam masih menempel di telinga kanan pria itu. Saat akhirnya mata mereka bersitatap, Eunhee tahu kalau lelaki itu juga sama kagetnya dengannya.

Lelaki itu, Yoo Seung-Ho―adik dari Yoo Yura, wanita yang Eunhee tolong.

***

Sehabis menjumpai dokter, Seung-Ho mengajak Eunhee ikut dengannya untuk menemui kakaknya. Awalnya Eunhee menolak karena merasa tidak enak, namun seluruh alasan yang ia sebutkan berhasil dibantah mentah-mentah oleh Seung-Ho. Dengan terpaksa, Eunhee menuruti Seung-Ho.

Saat akhirnya mereka sampai di depan kamar rawat, Eunhee menarik napas panjang. Seung-Ho langsung membukakan pintu dan meminta Eunhee masuk. Dengan sedikit keraguan, Eunhee memasuki kamar itu, diikuti Seung-Ho yang berjalan di belakangnya.

Hal pertama yang ia dapat adalah pemandangan seorang ibu yang tengah menggendong anaknya sambil tersenyum manis. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang sedikit pucat, membuat Eunhee yang melihatnya jadi merasa terharu.

Nuna,” panggil Seung-Ho pada kakaknya.

Kakak Seung-Ho mengalihkan perhatiannya ke arah mereka lalu tersenyum cerah saat ia melihat sosok gadis yang menolongnya. Eunhee langsung membungkuk sopan.

Annyeonghaseyo,” sapa Eunhee ramah.

“Tidak usah kaku begitu. Kemarilah,” pinta kakak Seung-Ho sumringah.

Baik Eunhee dan Seung-Ho terlebih dahulu membersihkan tangan menggunakan antiseptik yang memang sudah disediakan di tiap-tiap kamar. Lalu mereka berjalan mendekat. Eunhee berhenti tepat di sebelah kanan ranjang, sedangkan Seung-Ho di sisi sebaliknya. Kakak Seung-Ho lantas mempersilakan Eunhee duduk di kursi yang ada di sana.

“Namaku Yoo Yura, kau bisa memanggilku Yura,” ujar kakak Seung-Ho tiba-tiba, membuat Eunhee tersentak dan mengangguk sekali.

“Eunhee imnida. Bangapseumnida, Yura Eonni,” balas Eunhee, cangggung.

Yura tersenyum lebar lalu menatap bayinya. “Kau mau mencobanya?”

Ne?” Eunhee bingung. Tapi Yura tiba-tiba menyodorkan bayinya ke depan Eunhee. Awalnya Eunhee terkejut dan berniat menolak. Namun, melihat wajah damai bayi tersebut, Eunhee jadi tergiur untuk menyentuhnya. Makanya, pada akhirnya Eunhee menopangnya di tangan kirinya.

Bayi itu mungil. Kulitnya putih pucat, rambutnya lebat, dan matanya sipit. Pipinya memerah dan menggembung lucu, membuat Eunhee ingin menciumnya. Tapi alih-alih menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya di pipi yang menggoda itu, Eunhee hanya menyentuhnya menggunakan ujung jarinya; menusuknya lembut. Bayi itu menggeliat dalam pelukannya. Keningnya berkerut, merasa terganggu dengan tingkah usil Eunhee, membuat Eunhee terkikik geli melihatnya.

“Siapa namanya?” tanya Eunhee, masih dengan kedua mata terpaku pada bayi tersebut.

“Sora. Baek Sora.”

Sora begitu menggemaskan. Eunhee sampai tidak rela melepasnya. Bahkan ketika perawat datang, hendak membawa Sora ke ruangan bayi, Eunhee merasa berat. Dia menatap kepergian Sora dengan wajah tidak rela.

“Kau bisa menemuinya lagi nanti.”

Suara Yura menyentak lamunan Eunhee. Sontak, pipi Eunhee memerah malu. “N―ne.”

Yura tersenyum lalu menangkup salah satu tangannya. “Terima kasih ya, sudah membawaku ke sini. Bahkan kau merelakan dirimu menjadi korban dari rasa sakitku. Maaf, ya,” kata Yura dengan wajah bersalah.

Eunhee baru mau membalas saat Seung-Ho terlebih dahulu bersuara.

“Memangnya apa yang Nuna lakukan pada gadis ini?” tanya Seung-Ho ingin tahu.

“Nyaris mematahkan tangannya, kurasa…” jawab Yura takut-takut.

“Apa? Bagaimana bisa―Astaga, Nuna.” Seung-Ho memejamkan mata lalu mendesah kasar.

Yak, kau pikir tidak sakit? Aku butuh pelampiasan.”

“Dan, kau melampiaskannya pada gadis ini?” tanya Seung-Ho tak percaya.

Yura tampak menyesal. “Aku juga tidak ingin tapi hanya ada Eunhee waktu itu. Lagi pula, aku tidak bermaksud buruk. Itu refleks.”

“Tapi tetap saja. Dia itu orang asing. Bagaimana bisa Nuna semudah itu melakukannya? Kalau terjadi apa-apa padanya dan dia menuntut ganti rugi, apa Nuna bisa menanggungnya?”

Seung-Ho terdengar seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya karena bermain kotor di taman belakang sekolah. Ini sisi lain dari Seung-Ho yang baru pertama kali Eunhee lihat setelah tiga kali mereka bertemu. Dan, Eunhee merasa sedikit takjub.

Yura mendecak kesal. “Kau berlebihan sekali.”

“Apa?” Seung-Ho nampak terpancing emosi.

Cepat-cepat Eunhee menyela sebelum terjadi pertengkaran di sini.

Eunhee berkata, “Aku tidak apa-apa, sungguh. Kalau pun efeknya baru nanti terasa, aku akan menanggungnya sendiri. Jadi, tidak usah khawatir.” lalu tersenyum menenangkan.

Entah mengapa, Seung-Ho tidak puas akan kata-kata Eunhee. Pria itu menatap Eunhee dan Yura bergantian lalu mendengus pelan dan keluar dari kamar. Yura geleng-geleng kepala melihat kelakuan Seung-Ho. Wanita itu memilih mengabaikannya dan mengobrol dengan Eunhee.

Banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk sedikit informasi pribadi Yura; bahwa ini anak keduanya setelah ia kehilangan anak pertamanya karena pneumonia tiga tahun lalu dan suaminya yang meninggal lima bulan lalu akibat kecelakaan di tempat kerja.

Yura mengucapkannya dengan nada biasa, tapi Eunhee tahu kalau wanita itu mati-matian menahan air matanya. Sesudah menceritakannya, Yura mengganti ke topik yang lebih ringan. Mereka mengobrol begitu lamanya, begitu asyik berdua.

Ketika ponsel Eunhee berbunyi, yang ternyata dari salah seorang temannya yang mengingatkannya untuk datang ke rumah sakit, barulah Eunhee menyudahi pembicaraan mereka. Yura merasa sedikit sedih harus berpisah dengan Eunhee. Melihat hal itu, Eunhee berjanji akan datang lagi berkunjung ketika ia ada waktu. Mereka pun bertukar nomor ponsel.

Yura memeluk Eunhee erat sebelum Eunhee keluar dari kamar tersebut. Dia langsung berhadapan dengan Seung-Ho yang ternyata tengah duduk di salah satu kursi tunggu.

Seung-Ho menghampiri Eunhee. “Kau mau pulang?”

Eunhee mengangguk. “Ada urusan penting. Aku pergi dulu.”

“Bawa kendaraan?” tanya Seung-Ho tiba-tiba sehingga Eunhee menghentikan langkahnya.

Eunhee menoleh lalu meggeleng dengan muka bingung.

Seung-Ho melangkah mendekati Eunhee dan berdiri tepat di sebelahnya.

“Biar kupanggilkan taksi. Ayo, kuantar kau ke depan,” kata Seung-Ho datar lalu berjalan mendahului Eunhee yang terdiam di tempatnya, nampak sedikit kaget.

Ini memang bukan pertama kalinya Seung-Ho menawarkan diri untuk membantunya, tapi tetap saja Eunhee merasa tidak nyaman. Hubungan mereka kan tidak sedekat itu, seharusnya Seung-Ho tidak perlu repot-repot melakukannya.

“Sedang apa?”

Eunhee terkejut mendengar suara Seung-Ho. Ternyata Seung-Ho sudah jauh berada di depannya. Sepertinya, Eunhee terlalu asyik melamun. Gadis itu mendongak dan menatap Seung-Ho kikuk.

“Ti―tidak ada,” jawab Eunhee terbata-bata karena gugup.

Seung-Ho memerhatikan Eunhee sejenak sebelum berucap pelan. “Ayo.”

E―eo.

***

Eunhee melepaskan jas putih yang ia kenakan dan meletakkannya di tiang gantungan yang ada di ruangannya. Gadis itu meraih tasnya lalu pamit pada asistennya yang langsung membungkuk dengan sopan. Eunhee balas menganggukkan kepalanya singkat dan berjalan keluar dari gedung.

Belum sampai Eunhee di luar, Eunhee sudah dihampiri oleh seseorang yang ternyata adalah Cho Ahra, kakak perempuan Cho Kyuhyun. Eunhee langsung memeluk Ahra dengan hangat.

Eonni, sedang apa di sini?” tanya Eunhee antusias.

Ahra tersenyum lebar. “Aku baru saja selesai cek kesehatan tahunan. Dan, kau?”

“Aku bekerja di sini, Eonni.”

Ahra terkejut. “Jangan-jangan… dokter?” tanyanya hati-hati.

Eunhee membalasnya dengan satu cengiran lebar. Melihat hal itu, Ahra langsung mengacak-acak rambut Eunhee lalu mengucapkan selamat dengan suara yang terdengar satu oktaf lebih keras. Ahra pun mengajak Eunhee makan siang bersama. Kebetulan, Eunhee juga tidak ada acara setelah ini, jadi ia mengiyakannya. Mereka pergi ke salah satu restoran dekat rumah sakit.

“Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu,” ujar Ahra, sesudah mereka memesan makanan masing-masing. Ahra menatap Eunhee dengan mata berbinar, menunjukkan kalau dia benar-benar bahagia bertemu dengan adik kesayangannya ini.

Eunhee mengangguk sekali. “Berapa hari, ya? Seminggu?” kata Eunhee, nampak berpikir.

“Itu sudah terhitung lama. Dulu, hampir setiap hari kita bermain.”

Lalu, mereka tertawa lepas. Terlihat nyaman satu sama lain. Sembari menunggu makanan datang, Eunhee dan Ahra berbincang-bincang ringan. Lebih banyak mengulas balik kenangan semasa kecil dan sedikit membahas kehidupan mereka selama enam belas tahun ini. Sesekali Ahra tertawa mendengar cerita Eunhee lalu mulai melancarkan godaannya yang membuat Eunhee cemberut. Mereka nampak begitu akrab.

Obrolan mereka terhenti sejenak saat pelayan datang membawakan pesanan. Setelah itu, mereka menikmati makanan sambil mengobrol ringan. Tiba-tiba, Ahra menanyakan sesuatu yang membuat Eunhee nyaris tersedak.

“Apa kau sudah punya pacar?”

Eunhee menelan makanannya lalu menggeleng. “Tidak ada.”

Ahra terbelalak kaget. “Serius?” tanyanya tak yakin.

“Untuk apa aku membohongimu, Eonni?”

“Bagaimana bisa?”

Eunhee terkekeh mendengar pertanyaan Ahra. “Apanya yang bagaimana, Eonni? Tentu saja karena belum ada yang menarik perhatianku,” jawab Eunhee dengan nada geli.

“Astaga, adikku yang cantik masih single juga rupanya,” goda Ahra sembari menyeringai kecil. Seringaian sama yang juga dimiliki Kyuhyun.

Eunhee mendelik menatap Ahra lalu merajuk manja. “Eonni~

Ahra tertawa, senang bisa mengganggu Eunhee.

“Apa kabar Eunji?” tanya Ahra penasaran, mengganti topik pembicaraan. “Kudengar, ia akan menikah dua bulan lagi.”

“Baik. Dia sedang sibuk mengumpulkan uang,” ujar Eunhee semangat seolah-olah kakaknya memang gadis penggila duit.

Ahra mendengus mendengarnya. “Tentu saja untuk modal pernikahan, Eunhee Sayang.”

Eunhee meraih gelasnya lalu meneguknya hingga tersisa setengahnya. “Tapi Eunji terlalu memforsir tubuhnya. Dia sampai jarang berada di rumah,” ujar Eunhee dengan suara menggebu-gebu karena kesal. Namun, Ahra bisa mendengar kesedihan yang terselip di sana.

“Kau merindukannya, ya?” tanya Ahra to the point.

Eunhee meringis pelan. “Sepertinya,” jawab Eunhee malu-malu.

Ahra tersenyum. Dia memasukkan sesendok sup ke dalam mulutnya, mulai menikmati makanannya lagi. Tiba-tiba, ponsel Ahra berbunyi. Cepat-cepat Ahra mengambilnya dari dalam tasnya. Ahra melihat nama Kyuhyun berkedip-kedip di layar.

Eo, Kyuhyun-ah,” kata Ahra begitu ia menerima telepon Kyuhyun.

Mendengar nama Kyuhyun disebut-sebut, tubuh Eunhee mendadak kaku.

“Ya, aku yang membawakannya atas perintah Eomma. Beliau khawatir kau akan melewatkan makan siangmu lagi karena ada rapat di kantor siang ini.”

Entah apa jawaban Kyuhyun di seberang sana, tapi Eunhee mendengar Ahra berdecak.

“Jangan begitu, kau sedang sakit, Kyu. Kesehatan tetap nomor satu.”

Ahra terdiam lama, sementara Eunhee mulai khawatir.

“Bagus, kalau begitu―halo, halo.”

Ahra menjauhkan ponselnya dari telinga dan menghela napas melihat Kyuhyun sudah memutuskan sambungan. Gadis itu meletakkan ponselnya di atas meja lalu meminum jus jeruknya. Raut wajahnya terlihat tidak tenang.

“Ada apa, Eonni?” tanya Eunhee lembut, mati-matian menahan rasa penasarannya.

Kyuhyunnie.” Ahra mendesah pelan. “Sejak tiga hari lalu, Kyuhyun jadi suka sekali menyibukkan diri. Berangkat pagi-pagi sekali dan baru pulang lewat dini hari sampai-sampai terkena demam karena kelelahan. Sepertinya, ada yang Kyuhyun tutup-tutupi.”

Gadis itu meletakkan sendok makannya dan meremas kedua tangannya di atas pangkuannya. Perasaan bersalah dan khawatir itu bergabung menjadi satu, membuat Eunhee tidak nyaman.

“Ini kedua kalinya Kyuhyun bertingkah aneh. Yang pertama, saat kau pindah ke Milan.”

Eunhee nampak terkejut. “Apa? Kau yakin, Eonni?”

Ahra mengangguk keras. “Kyuhyun bahkan mengurung diri di kamar dan menolak untuk bertanding game denganku―hal yang paling ia sukai. Aku tidak tahu dimana salahnya, tapi Kyuhyun jadi terus-terusan memanggil namamu dalam tidurnya dan menggumamkan kata maaf,” jelas Ahra dengan pandangan menerawang. Setelah itu, Ahra menatap Eunhee tepat di manik matanya. “Apa waktu itu, sebelum kau pergi, kalian sedang bertengkar?”

Eunhee tidak lagi mendengar kata-kata Ahra dengan baik. Dia termenung, mencerna penjelasan Ahra lalu merasa sesak setelahnya akibat penyesalan yang menghantamnya tanpa ampun. Tembok tak kasat mata itupun runtuh seketika, bersamaan dengan setetes air mata yang tanpa tahu malu jatuh menetes di pipinya.

Melihat Eunhee yang tiba-tiba menangis membuat Ahra panik.

Ahra sedikit mencodongkan tubuhnya ke arah Eunhee. “Eunhee-ya, kau tidak apa-apa?”

Dengan kasar, Eunhee menghapus air matanya. Eunhee meraih mantel dan tasnya lalu segera bangkit dari posisi duduknya. Eunhee berkata, “Eonni, maaf aku harus pergi,” dan segera berlari meninggalkan Ahra yang memanggil-manggi nama Eunhee cemas.

Sesampainya Eunhee di pinggir jalanan besar, Eunhee menyetop taksi dan duduk di bangku penumpang. Air matanya menetes deras, sedangkan jemari tangannya gemetaran. Eunhee menangis begitu hebat sampai-sampai ia harus mengatupkan bibirnya sekuat tenaga agar isakannya tidak terdengar. Eunhee tahu sang Sopir meliriknya heran sedari tadi melalui spion depan, tapi Eunhee tidak sedang dalam kondisi ingin peduli pada orang-orang di sekitarnya.

Eunhee meminta sopir untuk mengebut yang langsung dituruti oleh lelaki berumur tiga puluhan itu dengan menekan pedal gas dalam-dalam. Beruntung, jalanan tidak terlalu macet sehingga Eunhee sampai tidak lama kemudian.

Eunhee membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih. Lalu Eunhee berlari menuju bagian resepsionis, menanyakan keberadaan Kyuhyun. Sesudah menghubungi sekretaris Kyuhyun, resepsionis tersebut berkata bahwa Kyuhyun sedang rapat di lantai lima belas dan tidak dapat diganggu.

Tapi Eunhee yang tidak sabar langsung meleset ke arah lift, melarikan diri dari dua orang penjaga yang mengejarnya karena menerobos tanpa kartu tanda pengenal. Cepat-cepat Eunhee menekan tombol lift agar pintunya tertutup lalu memencet angka lima belas. Eunhee menunggu dalam diam sambil mengusap air matanya yang terus-terusan jatuh.

Begitu pintu lift terbuka di lantai yang Eunhee tuju, Eunhee langsung turun dan menyusuri lorong panjang itu. Hanya ada satu ruangan yang nampaknya berpenghuni, maka ke sanalah kaki Eunhee bergerak.

Eunhee sempat dicegat oleh seorang wanita bernama Yoonmi―Eunhee melihatnya dari kartu tanda pengenal yang menggantung di lehernya―yang duduk tenang di depan meja yang tak jauh dari ruang rapat, namun Eunhee berhasil mengelak.

Eunhee mendekati ruang rapat lalu membuka pintunya dengan kasar. Matanya bergerak liar, mencari-cari sosok Kyuhyun. Begitu indera penglihatannya terkunci pada seorang lelaki di depan sana, Eunhee langsung tergesa-gesa berjalan ke arah Kyuhyun dan memeluk Kyuhyun seerat mungkin. Eunhee membenamkan wajahnya di dada bidang Kyuhyun. Lalu, sembari terisak pelan, Eunhee berbisik halus.

Mianhae. Saranghae.

TBC

Exhale, inhale. Oke, cerita ini makin lama makin aneh kayaknya. Dan, masih ada dua part lagi sebelum mencapai ending. Hffth, semoga bisa diselesaikan sebelum perkuliahan dimulai. Ditunggu deh ya, kritik dan sarannya yang membangun 🙂

Advertisements

100 comments

  1. Yaak… Eunhee main nyosor aja. Itu di ruang rapaaat !!! Banyak oraaang !!! Kekeke tapi suka deh akhirnya Eunhee bisa maafkan Kyuhyun

  2. Kyaaa mereka baikan yeayy !!!! Eh eh itu eunhee nggak sadar ya kalau banyak orang hihihihi. Kalau sadar pasti malu nanti. Hihihi. Pengen lihat mereka nikah. Romantis banget nanti pastinya. Nggak sabarrr.

  3. pantesan komen aku ga ada. trnyt aku blm baca. jd ga nyambung pas baca part 9 😅
    itu eun hee msh sadar kan ya kalau dia peluk si kyuhyun didepan org rame. dia lupa atau urat malunya udh putus ? hahahaha
    mungkin itu efek dr ga ketemu sma kyu berhari2. apa lg skrg dia udh tau ttg kyu yg merasa bersalah bgt dgn apa yg dia lakuin ke eunhee dulu

  4. Ciyee yang udah mulai sadar .. klo gk bisa jauh dari kyuhyun , yg langsung sedih dengar kyuhyun sakit ..
    Ngaku jg kan klo cinta ama kyuhyun .. so sweet

  5. ah gila gila yaampun gila keren banget si eunhee dengan berani nya dia nyamperin kyu. kyu waktu itu juga masih kecil ternyata dia juga ngalamin rasa bersalah yg sangat besar

  6. Jiaaahh eunhee tanpa pikir 2x langsung samperin kyuhyun… Daebak! Lol kayanya next part hubungan mrk bakal baik bgt nih. 😀

  7. Rasa cinta Eunhee buat Kyuhyun lebih besar dibandingkan rasa bencinya, mungkun, karna baru aja denger Kyuhyun sakit langsung shock gitu.
    Pasti malu tuh Eunhee, lagi rapat main nyelonong masuk aja, langsung meluk pula. Aigoo.

  8. Tsahhh pdhl awalnya mikir bakal lebih deket antara eunhee dan seungho, krn diawal part ini ada bagian eunhee nolongin org lahiran yg ternyata kakaknya seungho klo org blg mah kya takdir wkwk

    Eh tapiii mas ktm sama ahra eonni akhirnya runtuh sudah pertahan eunhee hehe… Sampe gak sadar kyanya eunhee meluk kyuhyun msh diruang rapat begitu

  9. hmm aku masih ga nemu penyakir psikis eunhee apa…… apa sih? hahahaha hah kan eunhee sendiri ga imun sama kyuhyun ya gimana emg dasarnya masih suka masih sayang jadilah begituuu. kan seneng karena kyuhyun ga maksain diri buat muncul di depan eunhee walaupun jdnya sakit hahah lanjuuttt

  10. akhirnya seunghoo cair jg sama eunhee, tapi jangan ampe suka bangetlah kasihan entar kyuhyun. jadi malu pas baca bagian dimana eunhee ngungkain perasaannya hhi, aku yang berdebar debar. yaampuuun. untung aja eunhyee ga sengaja ketemu ahraa eunnie nya, kalo ngaa pasti eunhee ga bakalan secepat itu ngalahin perasaan sakit masalalunyaa. ada untungnya kyuhyun sakit, walaupun cuma flu hha

  11. akhirnya eunhee maapin kyuhyun juga. eunhee main nubruk aja gak tau apa itu ruang rapat. tp pas baca bawaanya senyam senyum sendiri.

  12. “Eunhee-ya, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tapi mereka juga berhak mendapat kesempatan kedua,” setuju banget sama kata2 itu 👍
    Dan di akhir apakah eunhee mulai menyerah dengan ego dan perasaan nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s