First Love (7)

first-love-ghina1

Poster: HRa @ PosterChannel

Previous: Bagian 6

I rather hear “I don’t like you”

instead of being ignored.

(Kyuhyun’s side)

.

Hingar bingar suasana malam diskotek sama sekali tidak membuat Kyuhyun terganggu. Kyuhyun menenggak wine-nya dalam satu tegukan panjang dan berteriak meminta bertender membawakan sebotol lagi. Ini sudah lebih dari yang biasanya Kyuhyun minum, tapi anehnya dia tidak juga merasa mabuk. Kesadaran justru semakin menyentaknya dan hal tersebut cukup membuat perasaannya semakin berantakan.

Geumanhae,” tegur Lee Jonghyun, salah seorang sahabat dekatnya, sembari menarik gelas Kyuhyun menjauh yang secepat kilat dirampas Kyuhyun kembali. Kyuhyun pun meminumnya hingga tandas. Dia mendesah keras dan untuk kesekian kalinya menuangkannya ke gelas.

Jonghyun yang duduk di sebelah Kyuhyun mendecak pelan, nampak kesal dengan kelakuan Kyuhyun hari ini. Tapi Jonghyun tidak bisa berbuat apa-apa, paham benar kalau membujuk Kyuhyun yang sedang kacau begini adalah pilihan buruk. Salah-salah, Jonghyun yang terkena tinju maut lelaki itu jika ia tetap memaksakan diri. Lebih baik Jonghyun cari aman saja.

“Jonghyun-ah,” panggil Kyuhyun tiba-tiba.

Jonghyun menoleh sembari menjawab, “Kenapa?” lalu meminum wine-nya.

“Aku ini berengsek,” aku Kyuhyun sembari memainkan telunjuknya di atas bibir gelas. “Setelah menyakitinya, aku masih berharap ia mau menerimaku lagi. Bertingkah seolah kami baik-baik saja, padahal aku tahu ia membenciku. Bodoh, kan?” Kyuhyun tertawa sinis; menertawakan dirinya sendiri yang dulu begitu jahat.

Sewaktu Kyuhyun menelepon Jonghyun untuk menemaninya minum tadi, Jonghyun kira Kyuhyun hanya butuh refreshing dari dunia kerjanya yang melelahkan, seperti yang biasa mereka lakukan. Lalu, saat menemukan Kyuhyun yang nampak awut-awutan, Jonghyun tahu ada yang salah. Tapi pikiran Jonghyun tidak sampai ke masalah asmara.

Kyuhyun itu jarang berdekatan dengan wanita. Ketika hangout di tempat hiburan malam seperti ini pun, Kyuhyun selalu menjaga dirinya agar tak asal sentuh dan disentuh; dia begitu pemilih. Makanya, Jonghyun terkejut saat tahu kalau Kyuhyun sudah menemukan gadis yang dicintainya, malah sampai menyakitinya pula. Seperti bukan Kyuhyun yang Jonghyun kenal saja.

“Apa yang sudah kaulakukan hingga ia membencimu?”

“Menghinanya di depan teman-temanku. Menjadikannya bahan tertawaan,” jawab Kyuhyun miris sembari memutar ulang kejadian tersebut di kepalanya. Kyuhyun tidak pernah lupa dengan apa yang sudah ia perbuat pada Eunhee. Dia masih mengingatnya dengan jelas seolah-olah hal tersebut baru terjadi kemarin siang.

Kata-kata Kyuhyun tadi membuat Jonghyun geram dan nyaris lepas kendali. “Pantaslah gadis itu membencimu. Kau keterlaluan,” kata Jonghyun dengan nada sinis yang tidak ditutup-tutupi.

“Kau benar,” balas Kyuhyun, mengiyakan ucapan Jonghyun, tahu betul kalau dia salah.

Jonghyun menghela napas pelan, mengontrol amarahnya. Dia memang ingin membenturkan kepala Kyuhyun ke meja supaya Kyuhyun sadar kalau harapannya agar dapat bersama gadis itu terlalu tinggi; tidak ada yang mau menghabiskan sisa hidup dengan orang yang dibencinya kecuali dalam keadaan terdesak. Tapi melihat wajah sendu Kyuhyun, Jonghyun jadi tidak tega.

“Sudah minta maaf?” tanya Jonghyun dengan suara yang lebih ramah, setelah emosinya stabil.

Kyuhyun menggeleng lesu. “Aku dan dia perlu berpikir jernih terlebih dahulu.”

“Jadi, apa rencanamu selanjutnya?”

“Mengajaknya bertemu dan mendiskusikan masalah ini.”

Jonghyun mendengus geli. “Kau terlalu optimis, Kyu. Aku jamin, gadis itu pasti menolak.”

Kyuhyun tersentak. Dia tidak berpikir sampai ke sana. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Berusaha lebih keras—tentu saja,” kata Jonghyun sembari melayangkan sebuah tinju di lengan kanan Kyuhyun. Biarlah itu menjadi ganti dari seluruh tindak kekerasan yang ingin Jonghyun lakukan pada Kyuhyun. Toh, Jonghyun sudah cukup puas.

Kyuhyun mengerutkan keningnya, nampak menimbang-nimbang sebelum bertanya dengan suara tak yakin. ”Apa aku menghamilinya saja, ya?”

What?!” Jonghyun luar biasa kaget. Dia bahkan nyaris menyemburkan wine-nya.

“Sebenci-bencinya dia padaku, jika ia hamil anakku—bagaimana pun juga—kami pasti akan menikah. Meskipun licik, tapi aku mendapatkannya.” Kyuhyun tersenyum lebar lalu sedetik kemudian wajahnya menunjukkan ekspresi jijik. Dia menggeleng keras. “Tidak, tidak. Itu sangat rendahan. Cukup sekali aku menyakitinya, sekarang aku hanya ingin menjaganya. Astaga, wine membuatku tidak bisa berpikir jernih. Sialan.”

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya sembari terus-terusan mengoceh. Lalu, setengah menggumam, Kyuhyun menjatuhkan kepalanya di atas meja dan tertidur; menyisakan Jonghyun yang mendesis pelan dan tersenyum kecil.

Jonghyun senang mengetahui Kyuhyun menemukan seorang gadis yang dicintainya. Meskipun itu berarti Kyuhyun harus melewati fase layaknya remaja labil yang bertingkah uring-uringan seperti ini, pada akhirnya Kyuhyun memiliki seseorang yang akan ia perjuangkan.

“Ah, kapan aku menemukan pasanganku?” gerutu Jonghyun iri lalu menenggak habis wine di gelasnya sebelum membopong Kyuhyun dan mengantarkannya selamat sampai di rumah.

***

Pagi ini, Kyuhyun terbangun dengan kodisi sedikit tidak sehat; tubuhnya terasa pegal di mana-mana, sedangkan kepalanya pusing luar biasa. Kyuhyun bisa saja bergelung di bawah selimutnya yang hangat dan mengistirahatkan dirinya seharian ini hingga staminanya kembali. Namun, bayangan akan wajah terluka Eunhee menghantamnya, membuatnya memaksakan diri untuk segera bersiap-siap dan bergerak ke rumah gadis itu. Dan, di sinilah Kyuhyun sekarang; duduk di salah satu sofa ruang tamu milik keluarga Eunhee, menunggu Mistress Ale—yang sedang memanggil suaminya—dengan gelisah.

Kyuhyun mengembuskan napas dengan keras sembari mengepalkan kedua tangannya, menyemangati dirinya sendiri, sekaligus mempersiapkan hatinya dari segala bentuk penolakan Eunhee nanti. Untunglah perasaan Kyuhyun sudah sedikit membaik ketika si Tuan Rumah menyambutnya. Mereka pun berbincang dengan santai.

Sampai kemudian, Eunji tiba-tiba saja muncul, menyapanya sejenak, lalu membuat keributan karena tingkah cerobohnya. Teriakan Eunji begitu memekakkan sehingga Kyuhyun berpikir kalau itu bukan hanya tersandung biasa.

Kyuhyun bersama Mister dan Mistress Ale mencoba membantu Eunji, tetapi Eunji menolak dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Maka, tak ada lagi yang bisa dilakukan Mistress Ale selain menuntun Eunji ke kamarnya.

Beberapa saat kemudian, Mistress Ale kembali dengan tergopoh-gopoh. “Yeobo!

What’s wrong?” tanya Mister Ale sembari menghampiri Mistress Ale. Beliau nampak cemas.

“Eunhee,” kata Mistress Ale susah payah. “tidak ada di kamarnya.”

Mendengar hal itu, jantung Kyuhyun terasa mencelos. Kyuhyun mengabaikan pekikan tidak percaya dari Mister Ale lalu segera berlari ke luar rumah dan mulai mencari Eunhee di sekitaran. Tetapi, hingga Kyuhyun sampai di gerbang utama, Kyuhyun tidak juga mendapatkan sosok Eunhee. Kyuhyun terdiam di tempatnya dengan napas yang tidak beraturan, meringis pelan, lalu kembali memasuki pekarangan rumah.

“Apakah Anda mencari Nona Eunhee?” Salah seorang pekerja taman menghampiri Kyuhyun.

Meskipun bingung, Kyuhyun mengiyakan. “Ya.

Pekerja taman tersebut tersenyum kecil. “Sayang sekali. Nona sudah berangkat, Tuan.”

“Apa? Bagaimana? Kapan? Ke mana?” tanya Kyuhyun beruntun.

“Saya juga kurang tahu. Tapi, Nona pergi sekitar dua puluh menit lalu.”

Kyuhyun mendesah lemah. “Terima kasih kalau begitu.”

Pekerja taman tersebut membungkuk singkat lalu menghilang dari hadapan Kyuhyun, digantikan dengan kemunculan Mister dan Mistress Ale yang bersahut-sahutan menanyai Kyuhyun. Namun, kenyataan bahwa Eunhee menghindarinya, membuat pikirannya kosong dan tidak dapat mencerna ucapan kedua orang tersebut dengan baik.

Kyuhyun tertohok. Dia nampak syok.

***

Kyuhyun masih di rumah Eunhee dan menikmati sepiring cheesecake buatan Mistress Ale ketika ia tanpa sengaja mendengar percakapan Eunji dengan Eunhee via telepon. Cepat-cepat Kyuhyun berpamitan dan bergegas ke rumah sakit untuk menemui Eunhee. Namun, melihat gelagat Eunhee yang mencoba kabur darinya membuat Kyuhyun marah. Tanpa sadar, Kyuhyun sudah menyeret Eunhee ikut bersamanya dan memaksa gadis itu masuk ke mobil.

Kyuhyun mengendarainya dengan gila-gilaan, sama sekali tidak menyadari raut ketakutan di wajah Eunhee. Pikiran dan perasaannya yang berkecamuk membuatnya tidak dapat menentukan arah tujuan yang jelas sehingga tiba-tiba saja mereka sudah berada di jalanan lenggang yang dikelilingi ilalang. Kyuhyun pun menghentikan mobil di pinggir jalan.

“Kenapa kau menghindariku?” tanya Kyuhyun gusar, penuh rasa frustasi.

Eunhee di sebelahnya terkejut. Gadis itu memilih diam, tak mau berkomentar.

“Kau marah, aku tahu. Kau membenciku, aku pun tahu. Tapi bisakah kau tidak menghindariku seolah-olah aku memiliki penyakit menular?” Kali ini Kyuhyun menoleh, menatap Eunhee sedih.

“Kau memang bukan virus ganas, tapi kau orang jahat. Dan, orang jahat pantas untuk dijauhi,” balas Eunhee kejam lalu berbalik keluar dari mobil.

Kyuhyun, yang sempat syok akan ucapan Eunhee, langsung tersadar dan mengejar gadis itu. Lalu Kyuhyun menahan pergelangan tangan Eunhee sehingga gadis itu, mau-tidak mau, menghentikan langkahnya.

Mianhae,” kata Kyuhyun tulus. “Mianhaeyo, Eunhee-ya. Naega jalmothaesseo.”

“Maaf?” Eunhee berbalik menghadap Kyuhyun lalu mendengus sinis. “Kalau saja semua masalah bisa selesai dengan kata maaf, hukum tidak akan berlaku.”

Eunhee melepaskan cengkeraman Kyuhyun dan hendak pergi. Namun, Kyuhyun tidak membiarkan Eunhee menjauh satu langkah pun. Kyuhyun memblokir jalan Eunhee; berdiri di depan Eunhee sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Saat Eunhee bergeser ke kanan untuk kabur, Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Begitu pula ketika Eunhee berusaha melewati Kyuhyun dari sisi kiri. Kyuhyun benar-benar tidak memberi Eunhee celah; dia menahan Eunhee.

Diperlakukan seperti itu membuat Eunhee kesal. Eunhee manatap Kyuhyun dengan sorot membunuh. “Minggir,” ujar Eunhee dingin—sedingin es di kutub utara.

Kyuhyun menggeleng kuat-kuat. “Kita belum selesai.”

“Kalau ini masih seputar masalah tadi, aku tidak mau mendengarkan.”

“Song Eunhee!” bentak Kyuhyun tanpa sadar.

Emosi Eunhee ikut tersulut. “Apa? Kau ingin mengatakan kalau kau tidak sengaja? Kalau yang kau lakukan itu hanya sebuah masalah sederhana saja, begitu?” teriak Eunhee akhirnya, nampak benar-benar ingin menumpahkan semua perasaannya.

“Apa kau tahu seberapa besar dampak hinaanmu padaku? Betapa kata-katamu berpengaruh pada kehidupanku? Kau tidak tahu kan, bagaimana rasanya harus berpura-pura mandiri dalam segala hal demi menghilangkan kesan manja pada diriku? Rasanya di bully oleh teman-teman karena bersikap sok kuat? Kau membuat masa sekolahku menjadi masa-masa yang tidak ingin kuingat. Kau mengubahku menjadi seperti itu!”

Eunhee mengakhirinya dengan sebuah tangisan keras yang terdengar memilukan, sampai-sampai sekujur tubuh Kyuhyun bergetar karena rasa bersalah. Kyuhyun mendekati Eunhee lalu menarik gadis itu masuk ke dalam dekapannya.

Tidak seperti beberapa menit sebelumnya, kali ini Eunhee sama sekali tidak menolak. Eunhee hanya diam; tidak berontak dan tidak pula membalas pelukan Kyuhyun, membuat Kyuhyun merasakan sakit yang bertambah berkali-kali lipat. Kyuhyun mengetatkan pelukannya sembari membenamkan wajahnya di rambut Eunhee.

Mianhae. Mianhae. Mianhae, Eunhee-ya. Jeongmal mianhae,” ucap Kyuhyun pilu, berulangkali, sarat akan penyesalan—ekspresi kesakitan di wajahnya seolah membenarkan.

Kyuhyun tersentak ketika menyadari air mata Eunhee merembes mengenai bahunya. Suara tangis Eunhee memang sudah tidak terdengar lagi, tapi Kyuhyun tahu kalau gadis itu sedang menahannya. Entah karena malu atau karena merasa sok tegar, yang mana pun itu, Eunhee berhasil memupuk tinggi sesak di dada Kyuhyun hingga rasanya sulit sekali bagi Kyuhyun mengambil napas dengan benar.

Meskipun begitu, tidak sedetik pun Kyuhyun menghentikan permintaan maafnya. Itu masih Kyuhyun lakukan sampai beberapa menit kemudian sampai Eunhee tiba-tiba menyentak bahunya menjauh sehingga pelukannya terlepas.

Eunhee berkata, “Jangan pernah temui aku lagi,” lalu melangkah pergi.

Jika tadi Kyuhyun masih bersikeras ingin menyelesaikan masalah mereka, sekarang Kyuhyun benar-benar pasrah. Kyuhyun tidak lagi berusaha menghentikan Eunhee dan hanya menatap punggung Eunhee yang semakin menjauh. Ada perasaan hampa yang sulit didefinisikan menyusup hingga ke tulang-tulangnya, membuat tubuhnya kaku tak bergerak, dan kelenjar air matanya menjadi disfungsi.

Kyuhyun berdiri dengan pandangan kosong, persis seperti orang linglung.

Setelah sosok Eunhee hanya berupa titik kecil, barulah Kyuhyun sadar. Sekuat tenaga Kyuhyun menyusul Eunhee. Dan, ketika berhasil, Kyuhyun mengikuti Eunhee diam-diam, tepat beberapa meter di belakang gadis itu. Lalu, Kyuhyun beralih merogoh ponselnya dan menghubungi sebuah layanan taksi.

Selama menunggu taksi pesanannya datang, Kyuhyun kembali melakukan aksinya yang seperti penguntit; mengikuti Eunhee. Selain bisa menjaga Eunhee, dengan melakukan hal ini, Kyuhyun juga bisa berlama-lama menatap Eunhee meskipun hanya berupa bagian belakang tubuhnya saja. Sekadar memuaskan diri dengan sosok gadis yang dicintainya sekaligus berjaga-jaga jikalau gadis itu menyembunyikan diri dari jarak pandangnya.

Jangan pergi. Maafkan aku, gumam Kyuhyun dalam hati, sampai ratusan kali.

***

Begitu selesai memarkirkan mobilnya, Kyuhyun berjalan menuju lift khusus yang langsung sampai di ruangannya sedang tidak berada dalam situasi ingin bertemu atau malah beramah-tamah dengan karyawannya—pikirannya sedang menumpuk dan Kyuhyun butuh sendiri. Maka dari itu, Kyuhyun berpesan pada Yoonmi untuk membatasi tamunya, hanya yang berkepentingan mendesak saja yang boleh menemuinya, sehingga waktunya menyendiri tidak terganggu.

Tapi baru tujuh menit Kyuhyun merasa tenang, ketukan di pintu sudah terdengar. Kyuhyun menggeram kesal dan memijat kepalanya. Dia mendesah keras. “Masuk.”

Kepala Yoonmi muncul dari celah pintu yang sedikit terbuka. Wanita itu nampak segan. “Maaf, menganggu waktu Anda, Direktur. Ada seseorang yang ingin menemui Anda.”

Kyuhyun menatap Yoonmi datar “Siapa?” tanyanya ketus.

“Nyonya Alessandro Song,” jawab Yoonmi takut-takut.

Seketika Kyuhyun bangkit berdiri. Wajah Kyuhyun nampak terkejut.

“Panggil beliau,” ujar Kyuhyun tegas diiringi dengan pintu yang tertutup pelan. Lalu, Kyuhyun sedikit merapikan pakaiannya yang agak kusut; Kyuhyun ingin terlihat rapi.

Selang lima menit, Mistress Ale masuk. Ibunda Eunhee itu memberikan senyum lembut saat Kyuhyun menyapanya dan mempersilakannya duduk. Lantas Kyuhyun berjalan ke arah kulkas kecil yang berada di ujung ruangan dan bertanya sopan, “Minuman apa yang Anda inginkan, Mistress Ale?”

Mistress Ale menjawab kalem. “Air mineral saja.”

Segera Kyuhyun meraih sebotol air mineral, sebuah gelas, dan sekaleng kopi untuk dirinya. Kyuhyun meletakkan gelas di depan Mistress Ale lalu menuangkan air mineral ke dalamnya.

Kyuhyun mengambil tempat duduk tepat di seberang beliau. “Silakan, Mistress Ale.”

“Terima kasih, Kyu,” kata Mistress Ale lengkap dengan senyum hangatnya. Mistress Ale mulai sibuk melarikan matanya menelusuri seluruh sisi ruangan Kyuhyun, lalu mengangguk-angguk dan berkomentar pelan, “Aku suka ruanganmu. Menyenangkan dan menenangkan.”

Kyuhyun tersenyum tipis lalu mengucapkan terima kasih. Dia menyesap kopinya sementara Mistress Ale mengagumi hiasan yang ada di sebelah meja kerja Kyuhyun. Sampai kemudian, tiba-tiba saja Mistress Ale berseru kecil. Beliau meraih tas karton yang dibawanya dan memberikannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun menerimanya dengan kening berkerut bingung. “Apa ini, Mistress Ale?”

Mistress Ale tersenyum kecil. “Bukalah.”

Kyuhyun mulai mengeluarkan isi tas tersebut satu per satu. Ada tiga kotak tempat makan dan sebuah termos berukuran sedang. Kyuhyun membuka tutupnya dan menemukan kimbab dan sushi; telur gulung, strawberry tomatoes, dan brokoli; serta dua potong cheesecake di masing-masing tempat. Termosnya sendiri berisi kale smoothies—minuman sehat yang berbahan sayuran hijau dan buah-buahan segar.

“Ini….” Kyuhyun kaget.

“Kau tiba-tiba pergi sekembalinya dari dapur. Kupikir itu disebabkan oleh suatu hal yang bersifat emergency. Maka dari itu, aku sengaja datang dan membawakan semua ini,” jelas Mistress Ale sembari mengambil sumpit, menjepit sepotong kimbab, lalu menyodorkannya tepat ke depan mulut Kyuhyun.

Wajah Kyuhyun merona karena malu. “Mistress Ale, Anda tidak perlu melaku—“

Beliau menggeleng tegas. “Tidak usah sungkan, Kyu. Buka mulutmu.”

Mau tidak mau, Kyuhyun pun menuruti permintaan Mistress Ale dan mengunyah kimbab tersebut. Wajah Mistress Ale nampak puas seolah beliau berhasil membuat anak berusia lima tahun mau memakan sayur.

Beliau hendak menyuapi Kyuhyun lagi, namun Kyuhyun langsung mencegahnya.

“Terima kasih, Mistress Ale, tapi aku bisa melakukannya sendiri,” tolak Kyuhyun sopan.

Kyuhyun membuktikan ucapannya dengan mengambil kimbab dan mengunyahnya. Rasanya benar-benar lezat sampai-sampai Kyuhyun ingin menghabiskan semuanya. Kyuhyun makan dengan lahap. Dia tidak menyadari kalau Mistress Ale sedari tadi memerhatikannya.

Is it delicious?” tanya Mistress Ale lembut, sedikit terkesima melihat cara Kyuhyun makan.

Kyuhyun mengangguk lalu tersenyum lebar hingga menampakkan mulutnya yang masih penuh.

Mistress Ale tertawa renyah. “Kau mirip seperti Eunhee.”

Mendengar nama Eunhee disebut-sebut, membuat makanan yang Kyuhyun kunyah mendadak terasa hambar. Dengan susah payah Kyuhyun menelan bolus tersebut. Kyuhyun pun berusaha bersikap biasa. “Mirip bagaimana maksud Anda, Mistress Ale?”

“Iya, mirip.” Suara Mistress Ale terdengar geli. “Eunhee itu hobi sekali makan. Kalau sudah ada menu kesukaannya, bagaimana pun juga dia harus mencicipinya. Hanya dua kali Eunhee tidak nafsu makan; saat sakit dan saat ia menjadi bahan bully-an teman-temannya.”

Jantung Kyuhyun seolah berhenti berdetak selama sedetik. “Bu—bully?

Mistress Ale mengangguk lesu. Beliau nampak menerawang dan mulai menceritakan perubahan-perubahan yang terjadi pada Eunhee semenjak kedatangan mereka di Roma. Awalnya, Mistress Ale mengira kalau sikap aneh Eunhee itu diakibatkan dari kepindahan mereka yang mendadak. Tapi hal tersebut justru berlangsung sampai beberapa bulan. Tentu saja Mister maupun Mistress Ale menjadi khawatir.

“Puncaknya ketika Eunhee pulang sekolah dalam keadaan basah kuyup. Aku dan Ale, yang sudah lama merasa ada yang tidak benar dari Eunhee, mendadak emosi. Apalagi, bukannya menjawab pertanyaanku, Eunhee malah menangis sesenggukan. Aku jadi sedih. Untunglah setelah dibujuk dengan berbagai cara, Eunhee mengaku kalau sebulan setelah ia berada di sekolah itu, dia selalu dikerjai oleh teman-temannya.

“Awalnya hanya berupa hinaan yang masih bisa Eunhee tahan. Lalu, lama-lama, hinaan tersebut berubah menjadi gangguan fisik yang begitu menyakitkan. Eunhee dijauhi, ditakut-takuti, dan dikerjai. Hingga yang terakhir, Eunhee dikurung di kamar mandi lalu disiram habis-habisan.”

Mistress Ale menarik napas sejenak sebelum melanjutkan dengan suara serak. “Setelah mengetahui semua itu, keesokan harinya, aku dan Ale langsung ke sekolah Eunhee untuk mengajukan protes. Tapi ternyata para guru juga tidak mengetahui tindakan buruk murid-muridnya.

“Ale yang sangat marah mengancam akan melaporkan dan menyebarkannya ke media massa jika kasus ini tidak diusut tuntas. Barulah pihak sekolah menyelidiki dan mengumpulkan anak-anak yang bersalah.

“Ketika teman-teman yang mem-bully Eunhee itu ditanyai, mereka menjawab kalau Eunhee selalu bertingkah sok hebat—Eunhee tidak pernah mau menerima bantuan dari teman-temannya meskipun dia berada dalam posisi sulit. Hal itu membuat mereka merasa kalau Eunhee adalah orang yang sombong. Mereka membenci Eunhee.

“Padahal aku tahu, Eunhee bukanlah anak yang seperti itu. Tapi Eunhee tetap bungkam mengenai alasan ia berubah. Pada akhirnya, aku dan Ale memutuskan untuk memindahkan Eunhee ke sekolah lain dan membawanya berobat ke psikiater. Syukurlah, dalam waktu setahun, Eunhee sudah kembali menjadi Song Eunhee yang kukenal, anakku yang cantik dan periang.”

Mistress Ale menutup ceritanya dengan satu usapan lembut di sudut matanya yang basah. Senyum lega terukir di bibirnya yang tipis. Mistress Ale terlihat bahagia.

Berbanding terbalik dengan Mistress Ale, Kyuhyun malah terdiam kaku di tempat. Tubuhnya bergidik selama mendengarkan cerita Mistress Ale. Wajahnya pias dan dadanya penuh dengan rasa bersalah yang meletup-letup. Mendadak, Kyuhyun merasakan sebuah dorongan kuat untuk menjelaskan semuanya pada Mistress Ale.

Kyuhyun memejamkan matanya. “Mistress Ale,” panggil Kyuhyun lirih sehingga perhatian Mistress Ale beralih padanya. “ada sesuatu yang ingin kuberitahukan.”

Mistress Ale mengerjapkan matanya beberapa kali, heran melihat keseriusan di wajah Kyuhyun. Ibunda Eunhee itu mengiyakan dengan ragu. “Apa itu, Kyu?”

Kyuhyun diam sebentar, menundukkan pandangannya, dan meremas jemari tangannya dengan gugup. Dia mengambil napas banyak-banyak lalu berkata pelan, “Sebenarnya, hubunganku dan Eunhee tidak pernah baik-baik saja, Mistress Ale.”

Kening Mistress Ale berkerut dalam. “Apa maksudmu, Kyu?”

Lalu, terkuaklah kisah antara Kyuhyun dan Eunhee. Dimulai dari kebodohannya saat berumur sebelas tahun hingga kejadian siang tadi. Selama bercerita, tidak sekalipun Mistress Ale menyela. Beliau hanya diam, mendengarkan dengan saksama. Namun, Kyuhyun tahu kalau Mistress Ale begitu kecewa—eskpresi beliau menunjukkan segalanya.

“Aku minta maaf untuk semua hal yang sudah kulakukan pada Eunhee, Mistress Ale,” ujar Kyuhyun lemah, seusai ia menjelaskan seluruhnya. Raut wajah Kyuhyun berubah muram.

Mistress Ale tidak langsung menyahut. Beliau menatap Kyuhyun dengan wajah tidak percaya. “Berarti… Eunhee… kau…?” Mistress Ale bahkan tidak bisa berkata-kata.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. “Aku bersalah, Mistress Ale. Anda boleh menghukumku.”

Kyuhyun yakin Mistress Ale benar-benar syok mendengar pengakuannya. Mistress Ale pasti akan membencinya. Dan, yang lebih parah, mungkin Mistress Ale akan melarangnya bertemu Eunhee. Kalau sudah begitu, hancur sudah dunia Kyuhyun.

Saat otak Kyuhyun sibuk memikirkan kemungkinan terburuk, Mistress Ale berbicara. Suara beliau terdengar lembut dan geram secara bersamaan. “Bagaimana caraku menghukummu, Kyu? Bagaimana? Bagaimana caranya supaya kau juga merasakan apa yang dirasakan Eunhee?”

Mistress Ale menggigit bibir bawahnya, menahan emosi. “Sebaiknya kalian tidak saling bertemu dulu. Ambil waktu sebanyak-banyaknya untuk menenangkan diri. Lalu, ketika tidak ada lagi dendam dan ambisi, bicarakanlah secara baik-baik.

“Aku menyayangimu, Kyu—sayang sekali. Tapi tetap tidak ada yang bisa menyaingi rasa sayang seorang ibu kepada anaknya. Untuk kali ini, aku berada di pihak Eunhee. Aku akan mendukung keputusan Eunhee sekalipun mungkin itu tidak membahagiakanmu. Namun, percayalah, apapun hasilnya nanti, aku yakin itulah yang terbaik untuk kalian berdua. Karena aku tahu, Eunhee juga begitu menyayangimu.”

***

Keadaan kantor sudah sepi saat Kyuhyun beranjak pulang.

Kyuhyun menghidupkan mobilnya dan mulai menjalankannya perlahan. Terlalu pelan sampai-sampai pengendara lain memberikan protes akan tindakannya yang membuat lalu lintas berjalan lambat. Tapi Kyuhyun tidak terlalu peduli. Toh, tubuhnya terasa lelah luar biasa sekarang; membalas makian mereka hanya akan membuatnya semakin kehabisan tenaga.

Mobil Kyuhyun berhenti ketika lampu merah. Kyuhyun menghidupkan lampu sen ke kanan, menyandarkan keningnya pada setir, dan menunggu dengan sabar. Matanya terpejam, berusaha mengistirahatkan pikirannya. Akan tetapi, bukannya tenang, suara Mistress Ale malah menggema di telinganya.

“Aku tidak tahu kenapa, tapi semenjak kami menginjakkan kaki di Roma, Eunhee menjadi pendiam. Dia tidak lagi merengek-rengek untuk dibuatkan sesuatu, tidak lagi menganggu Daddy-nya agar mau bermain dengannya, dan tidak saling terbuka dengan Eunji. Eunhee jadi lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dan hanya akan keluar untuk makan atau minum, itupun dengan wajah yang sembab khas habis menangis. Nampaknya, ada sesuatu yang mengganggu Eunhee dan tidak ingin diceritakannya pada siapapun.”

Kyuhyun tersentak diiringi dengan bunyi klakson panjang dari mobil di belakangnya. Rupanya, Kyuhyun membuat kemacetan. Cepat-cepat Kyuhyun menarik persneling dan membelokkan mobilnya ke kiri, menuju rumah Eunhee.

Begitu sampai, yang Kyuhyun lakukan hanya memandangi kamar Eunhee dari kejauhan. Entah apa gunanya, tapi dengan begini Kyuhyun dapat memenuhi pasokan energinya. Tidak masalah Kyuhyun tidak dapat bertemu Eunhee, asalkan Eunhee berada di sekitarnya dan bisa Kyuhyun lihat dalam keadaan baik-baik saja, itu sudah cukup.

Kyuhyun baru melajukan mobilnya pulang ke rumah ketika jam menunjukkan pukul dua pagi. Lalu, Kyuhyun bertekad, bahwa ia akan melakukan hal ini lagi besok. Begitu pula dengan lusa, besok setelah lusa, dan besoknya lagi. Kyuhyun akan terus melakukannya, sampai ia merasa bosan, sampai ia lelah, sampai ia cukup kuat untuk melepas Eunhee pergi.

TBC

Our Wedding Story bakal ganti judul menjadi First Love. Jadi, ff ini (First Love) akan tamat di saat HyunHee memutuskan untuk menikah, sedangkan kehidupan pernikahan mereka akan dibuat dalam cerita lepas (per oneshot/twoshot) atau ff chapter berbeda, tergantung pada waktu luang saya *sok sibuk*

Btw, gimana part ini? Pasti mengecewakan. Ngebosenin sih soalnya, iya kan? Hihihi, sorry. Yang mau nanya-nanya, kasih protes, kritik, atau saran bisa langsung meluncur ke kolom komentar, ya. Thankyou~

Advertisements

104 comments

  1. Inisih kyu yg salah. Masa permaluin eunhee dpn tmn2nya. Aku stuju sm eunheeee, spy kyu kapok dikit hehe. Btw feelnya dapet banget thorr 😊

  2. Apa yang dilakukan kyuhyun di masa lalu bener-bener buat eunhee trauma. Kyuhyun kejam banget, ish ish ish. Part ini dibikin galau lagi. Hiks.

  3. Akhirnya kyu menceritakan semua yg terjadi pada masa lampau antra dirinya dgn EunHee. Gw suka sikap lo kyu gentleman ga takut klo dimarahin atau ga

  4. Wah Kyuhyun kok jahat ya, kenapa dia malah gitu sama Eunhee, kenapa di depan teman temannya dia gamau ngakuin Eunhee. Kamu kejam. Pantes aja Eunhee jadi benci sama Kyuhyun.
    Tapi semoga mereka bisa baikan ya,

  5. Ya ampun efek ledekan temen2nya kyu dahsyat ya buat kehidupan eunhee setelahnya, klo aku jd eunhee sih ud pst ud gak mau lg berurusan sama kyu, meskipun mungkin kyu dulu gak niat bersikap begitu mungkin cm krn malu sm tmn2nya

    Seriusan itu eunhee smp harus ke psikiater? Duhhh kyanya emg cm permintaan maaf aja gak bisa dgn mudahnya balikin hubungan baik mrk deh, tiba2 jd pengen liat eunhee tambah deket sama seungho wkwk

  6. yah no wonder sih ternyata yg dialami eunhee sebegitu parahnya… yah sedih huhuhuhu kyuhyun jg yah mau gamau harus nurut lah yaaaa

  7. Selain fakta masa lalu eunhee yg menyakitkan,aku justru kagum eunhee bisa sangat tenang menyembunyikan lukanya di depan kyuhyun meskipun akhirnya bobol juga…
    Next thor

  8. seorang eunhee cepet bng ngebolak balikin perasaan kyuhyun. yah walaupun itu salah kyuhyun waktu masih kecil, tapi dampaknya sampe dibully habis habisan waktu kecil. kasihan eunhee. semoga kyuhyun dewasa ga kaya begitu lg, cuma gara gara tengsin dikatain temen. aku izin lanjut baca part 9 yaaa

  9. Mmmm… Agk bingung jg di part ini, karena :
    – part sblmnya Eunji nelp Eunhee utk ksh tau kl Info Dr Ibu mrk, Kyu nyusul ke RS.
    – tapi di part ini Kyu malah ke RS krn nguping pembicaraan Eunji – Eunhee

    However, ff ini technically rapih Dan detail cm 2 part ini rada bikin reader (aku) keder sih 😁

  10. Seperti kata jonghyun kyu emang keterlaluan, dan pantas saja dia membencimu. iyasih kyuuu aku juga pasti bakalan ngerasa kaya dia hahaha tpi psti dibalik semua itu kyuu pasti punya alasan tersendiri kan??? ayolaaaaa eunhee tolong respon sebelum kyu akhirnya nya menyerah

  11. Jdi kasian jg liat kyuhyun kayak giru😢😢😢😢😢.. Tp salah kyuhyun juga sii,, kok jahat banget ama Eunhee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s