First Love (6)

first-love-ghina1

Poster: HRa @ PosterChannel

Previous: Bagian 5

You broke my heart,

but yet I still love you

(Eunhee’s side)

.

Kabar mengejutkan yang diucapkan ayahnya lima hari lalu membuat Eunhee murung. Eunhee mengurung diri di kamar dan tidak akan keluar kecuali untuk makan-minum.

Hal ini jelas mengundang kekhawatiran orangtuanya. Baik ayah dan ibunya berusaha membujuk Eunhee agar mau mendengarkan penjelasan mereka. Namun, Eunhee dan kekeraskepalaannya membuat segalanya menjadi lebih sulit. Terpaksa orangtuanya membiarkan Eunhee menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mereka memberitahu keadaan yang sebenarnya.

Eunhee memeluk boneka pandanya erat-erat. Dia membenamkan wajahnya di sana lalu mulai menangis. Pertemuannya dengan Kyuhyun sebulan lalu berhasil membuat mereka menjadi begitu dekat. Tiap kali ada waktu luang, Kyuhyun akan mengunjungi rumahnya dan menemaninya bermain, menggantikan Eunji yang sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Kyuhyun bahkan tidak keberatan membawanya ke taman dan mengajarinya mengendarai sepeda. Semua kebaikan hati Kyuhyun, perhatian, dan sikap manisnya begitu membekas di hati Eunhee.

Eunhee mengusap-usap matanya yang basah menggunakan ujung lengan bajunya. Membayangkan kalau dia harus berjauhan dengan sosok sesempurna Kyuhyun membuat Eunhee sedih. Eunhee sudah menganggap Kyuhyun sebagai bagian dari keluarganya; sebagai sosok seorang kakak pria yang tidak pernah didapatkan Eunhee, sekaligus sosok seorang pria yang Eunhee idam-idamkan.

Eunhee menyukai Kyuhyun. Dan, dia tidak ingin berpisah dengan pria itu.

Eunhee masih menangis ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia berniat mengabaikannya saja, namun suara Eunji terdengar. Cepat-cepat Eunhee menghapus air matanya dan turun dari ranjang. Eunhee membuka pintunya yang terkunci dan membiarkan Eunji masuk.

Eunji mendapat perintah khusus dari kedua orangtuanya untuk membujuk Eunhee. Mengingat betapa dekatnya mereka, Eunji pun menyanggupi. Toh, Eunji tidak tega melihat Eunhee terus-terusan bersedih. Mereka akan pergi besok, jadi Eunhee harus bahagia setidaknya di saat-saat terakhir mereka berada di Seoul.

Eunji melirik Eunhee yang sudah kembali merenung. Sengaja dia menyenggol pelan lengan Eunhee sekadar menarik perhatiannya lalu tersenyum kecil. “Kesedihanmu itu pasti tidak jauh-jauh dari Cho Kyuhyun dan kepindahan kita.”

“Tidak!” jawab Eunhee keras, membuahkan kekehan dari mulut Eunji.

“Eunhee-ya, Miss Marina pernah mengatakan padaku bahwa akan selalu ada perpisahan di setiap pertemuan. Itu sama seperti sebuah siklus yang tak bisa dielakkan. Kau harus menghadapinya, bisa ataupun tidak, menerima ataupun menolak.” Eunji menoleh sehingga ia bersitatap dengan Eunhee. Raut wajahnya melembut. “Jadi, berhenti menangis. Manfaatkan waktu singkat ini untuk membuatmu bahagia. Mom dan Dad mengambil keputusan pindah bukan untuk menyulitkan kita, tapi untuk memberikan kita sebuah pengalaman yang lebih baik.”

Dan, didorong oleh ucapan Eunji, Eunhee kembali bersemangat. Eunhee membuat banyak memori dengan keluarga kecilnya. Eunhee juga membeli beberapa souvenir yang akan ia berikan pada teman-teman sepermainannya di lingkungan sekitar rumah, termasuk pula Cho Kyuhyun. Diantar oleh sopir keluarganya, Eunhee mendatangi sekolah Kyuhyun.

Jam menunjukkan pukul dua belas siang ketika Eunhee sampai di sana. Sebenarnya Eunhee tidak begitu percaya diri untuk menemui Kyuhyun di tempat ramai yang penuh oleh teman-teman Kyuhyun begini. Namun, mengingat bahwa tiga jam lagi pesawat mereka akan berangkat sedangkan Kyuhyun tengah bersekolah, Eunhee tidak punya pilihan lain.

Eunhee memasuki area sekolah dan langsung disambut oleh puluhan anak-anak yang bermain di lapangan. Waktu istirahat seperti ini membuat semuanya nampak padat. Cepat-cepat Eunhee berjalan menuju loker sepatu dan mulai mencari-cari milik Kyuhyun.

Eunhee hendak memasukkan sesuatu yang ia bawa-bawa sedari tadi ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Eunhee tersentak kaget.

“Cho Kyuhyun,” teriaknya sembari mengelus dadanya.

Kyuhyun tersenyum geli. “Apa yang kau lakukan di sekolahku?”

Eunhee mengerjap-kerjapkan matanya. Lalu, dengan perlahan mengulurkan sebuah gantungan kunci pada Kyuhyun. “Untukmu,” katanya malu-malu.

Meskipun bingung, Kyuhyun menerimanya juga. “Apa ini?”

“Kenang-kenangan.”

“Memangnya kau mau ke―”

“Kyuhyun-ah, ayo kita bermain bola.”

Baik Kyuhyun maupun Eunhee sama-sama menoleh ke arah suara. Eunhee cukup terkejut menemukan ada sekitar sebelas sampai tiga belas anak-anak berada tidak jauh dari posisinya sekarang. Apalagi kini mereka mendekat, benar-benar mengelilingi Eunhee dan membuatnya merasa tidak nyaman. Untung Kyuhyun cepat tanggap dan mengambil alih keadaan sehingga teman-temannya perlahan-lahan menjaga jarak dengan Eunhee.

“Apa yang ada di tanganmu itu, Kyu?” tanya salah seorang teman Kyuhyun.

“Hah?” ujar Kyuhyun tidak mengerti. Namun, tiba-tiba temannya yang lain menariknya dan membuatnya terlepas dari genggaman Kyuhyun. Temannya tersebut mulai memamerkannya sehingga gantungan kunci itupun di oper secara bergantian.

“Oh, bukankah ini berpasangan? Noona-ku pernah membelinya dan ada pasangannya.”

“Benarkah? Cho Kyuhyun, apa benda ini dari kekasihmu ini?”

“Wah, jadi benar kalau dia ini adalah kekasihmu?”

“Apa? Sekecil ini?”

“Berapa umurnya, Kyu? Empat tahun?”

“Cukup,” kata Kyuhyun keras, nampak kesal. Kyuhyun menatap teman-temannya dengan wajah masam. “Dia bukan kekasihku. Mana mungkin aku menyukainya. Dia masih kecil dan sangat manja. Apalagi dia juga sering kali meneriakiku dengan lengkingan suara cemprengnya, membuatku muak saja. Dan, ini,” Kyuhyun mengambil gantungan kuncinya dari tangan temannya lalu menatap Eunhee dingin. “sungguh sangat kekanakkan.”

Kyuhyun mencampakkannya begitu saja, membuahkan gelak tawa teman-temannya, menambah riuh suasana. Tapi,itu tidak Eunhee hiraukan. Eunhee malah mendongak dan menatap Kyuhyun dengan rasa nyeri di dada. Dia tidak menyangka bahwa itulah yang Kyuhyun pikirkan tentangnya, bahwa semua kedekatan mereka ternyata membuat Kyuhyun tidak suka.

“Kyu, ayo pergi sekarang. Setengah jam lagi masuk.”

“Oke.”

Dengan begitu, Kyuhyun berbalik meninggalkan Eunhee yang sudah mulai terisak. Kyuhyun tidak sadar, bahwa itu adalah hari terakhirnya ia bertemu Eunhee. Dia tidak sadar, bahwa kata-kata yang ia ucapkan itu kelak membawanya pada sebuah penyesalan.

***

Eunhee turun dari taksi dan langsung masuk ke kamar. Dia bahkan tidak menyapa kedua orangtuanya yang sedang asyik berbincang di ruang televisi; hal yang jarang sekali terjadi sehingga membuat ayah dan ibunya bingung. Eunhee membanting pintu kamar lalu melemparkan diri ke ranjang. Dia meraih bantal dan mulai menangis.

Setelah belasan tahun terlewat, ternyata Eunhee belum juga berhasil melupakan sakit hatinya. Perasaan polos berumur enam tahun yang ternodai jelas masih membekas begitu dalam. Bukan berarti Eunhee pendendam, bukan. Ini lebih kepada kekecewaannya karena ketulusannya menyayangi Kyuhyun malah dijadikan bahan olok-olokkan.

Kyuhyun berlaku baik selama sebulan mereka berteman, lalu dalam sekejap ia berubah menjadi makhluk menakutkan yang membuat kepercayaan diri Eunhee turun drastis. Kyuhyun lah alasan Eunhee tumbuh menjadi gadis pemalu yang selalu menjaga sikap di depan orang lain dan hanya menunjukkan kepribadian aslinya pada kerabat terdekatnya. Kyuhyun membuat Eunhee tidak dapat menjadi dirinya sendiri.

Eunhee juga sudah berusaha selama ini; hanya mengingat kebaikan-kebaikan Kyuhyun dan menyugesti diri bahwa yang dilakukan Kyuhyun waktu itu hanyalah bentuk dari pertahanan ego. Tapi, seberapa keras pun Eunhee mencoba, kata-kata kasar dan wajah kejam Kyuhyun itu selalu terbayang-bayang di kepalanya. Menghantuinya dan membuatnya sesak.

Eunhee menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak terdengar. Perasaannya campur aduk dan Eunhee tidak tahu mana yang lebih mendominasi. Eunhee marah pada Kyuhyun karena kembali mempermainkannya seperti dulu; melamarnya lalu berlaku seperti biasa seolah-olah ucapannya tidak membawa efek pada psikis Eunhee. Tapi, jauh di dalam lubuk hati, Eunhee merasa bersalah karena mengucapkan kata-kata tidak pantas di depan Kyuhyun.

Meskipun langsung berbalik dan meninggalkan Kyuhyun, Eunhee sempat melihat raut syok bercampur sendu di wajah pria itu. Ekspresi paling menyedihkan yang pernah Eunhee lihat sampai-sampai ia harus berusaha sekuat tenaga agar tetap melangkahkan kakinya menjauh.

Honey,” panggil ibunya diiringi ketukan dari luar, membuat Eunhee terlonjak. “Are you okay?

Eunhee bangkit duduk sembari mengelap air matanya asal-asalan. Dia membalas ringan, “Fine.

May I come in?” tanya ibunya lagi dengan suara penuh pengharapan.

Eunhee menimbang-nimbang sejenak sebelum mengiyakan dengan suara serak. Lalu, Eunhee meraih selembar tisu dan menyapukannya di seluruh wajahnya. Hal itu tak luput dari perhatian sang Ibu, yang kini sudah duduk di sisi ranjang, sehingga semakin meyakinkan beliau kalau Eunhee sedang ada masalah.

Did you cry?” Ibunya bertanya pelan dan sarat akan kekhawatiran.

Eunhee menggeleng. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. “Nope.

Don’t lie to me, please,” kata ibunya sembari menangkup kedua pipi Eunhee. Diam-diam mengamati mata bengkak dan hidung memerah Eunhee lalu meringis dalam hati. “What happened to you, Darla?

Tangan ibunya bergerak menghapus sisa air mata di pipi Eunhee. Beliau juga mengelus kelopak mata Eunhee yang sembab dan memerah. Wajah ibunya muram, seolah-olah beliau juga dapat merasakan apa yang Eunhee rasakan. Ibunya tidak tahu kalau sentuhan hangatnya itu membuat kesedihan Eunhee muncul kembali ke permukaan.

Eunhee menurunkan tangan ibunya dari pipinya dan menatap beliau sendu. “Mommy,” panggil Eunhee lirih, membuahkan tatapan tanya yang dalam sekejap berubah menjadi keterkejutan dari sang Ibu saat melihat pelupuk mata Eunhee berair. Eunhee merengsek mendekati ibunya. “May I hug you?” pinta Eunhee dengan suara bergetar.

Lalu, tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Eunhee langsung mendekap beliau. Air mata yang ditahan-tahannya kini tumpah sudah. Semakin deras ketika ibunya balas menepuk-nepuk lembut pundaknya. Di dalam pelukan ibunya, Eunhee menangis sampai puas.

***

Jam weker yang berbunyi nyaring membangunkan Eunhee dari tidurnya yang tak seberapa.

Semalam, setelah mendapat kenyamanan dari sang Ibu, Eunhee langsung terlelap. Tapi, tidak lama karena beberapa jam kemudian, Eunhee terbangun. Eunhee pun membersihkan diri dan ingin meneruskan istirahatnya. Namun, perasaan tidak keruan yang diiringi emosi meluap-luap membuat Eunhee terjaga hingga dini hari. Alhasil, Eunhee baru tidur jam tiga pagi.

Eunhee meraih jam weker dari atas meja nakas. Setelah memeriksa waktu, Eunhee segera bangkit dan masuk ke kamar mandi. Dia berdiri di depan wastafel, mengamati penampilannya yang luar biasa berantakan. Lantas menghela napas ketika melihat wajah pucat dan mata bengkaknya. Dengan langkah lunglai, Eunhee berjalan menuju shower lalu mulai mandi.

Eunhee selesai tiga puluh menit kemudian. Dia hendak mengunci pintu agar dapat memilih pakaian dengan leluasa saat Eunji menerobos masuk ke kamarnya dan setengah berlari menghampirinya.

“Apa yang kau lak—“

“Cho Kyuhyun di bawah,” potong Eunji cepat sembari mengedipkan mata, menggoda Eunhee.

Ucapan Eunji yang terlalu terburu-buru tidak dapat ditangkap Eunhee dengan baik. Eunhee termenung sebentar lalu mengangguk-anggukkan kepala dan ber-oh ria. Gadis itu membalikkan tubuh membelakangi Eunji, berniat melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi sebelum ia tiba-tiba berhenti di tempat dan menjerit keras.

“Siapa kau bilang?” pekik Eunhee, memutar badan menghadap Eunji dan menatap kakak perempuannya itu dengan mata yang membelalak lebar.

Eunji, yang terkejut mendapati respon berlebihan Eunhee, menjawabnya dengan suara terputus-putus. “Cho—Cho Kyuhyun.”

Eunhee menunduk. Dia memainkan tangannya dan meremasnya lembut. Jantungnya berdegup kencang, sedangkan keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Seseorang yang ia hindari mendatanginya di tempat yang ia kira aman membuatnya mengalami serangan panik. Gadis itu berdiri kaku, nampak gemetaran.

“Song—Eun—Hee?” Eunji yang menyadari tingkah aneh Eunhee, perlahan-lahan mendekatinya. Dia nyaris melompat ketika Eunhee tiba-tiba saja sudah berada di depan wajahnya.

Help me, please,” mohon Eunhee tepat sebelum Eunji bersuara. Eunhee menarik salah satu tangan Eunji lalu menangkupkannya di depan dada. Wajahnya memelas, membuat Eunji mengedipkan mata berulangkali, nampak bingung melihat Eunhee. Tapi, toh Eunji memilih mengenyampingkan rasa bingungnya dan mengabulkan permintaan Eunhee. Eunji mengangguk.

“Terima kasih. Tolong tunggu sebentar. Aku akan berpakaian.”

Eunhee meninggalkan Eunji selama beberapa belas menit dan kembali dengan wajah berpoles make up tipis dan tubuh berbalut kemeja putih polkadot lengan panjang beserta skinny jeans coklat. Dia berjalan mondar-mandir di sekitar Eunji, meraih dan memakai barang-barang yang ia perlukan. Eunhee sepenuhnya siap sekarang.

“Katakan, apa yang harus kulakukan?”

Eunhee menatap Eunji serius. “Bantu aku keluar rumah tanpa ketahuan oleh pria itu.”

“Maksudmu Kyuhyun?” Melihat Eunhee mengangguk, Eunji melanjutkan dengan suara misterius penuh penekanan. “Kenapa kau tiba-tiba menghindarinya? Bukankah kemarin kalian baru saja kencan? Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku, Eunhee?”

Eunhee mengumpat dalam hati, tahu kalau Eunji akan terus menerornya sampai rasa penasaran kakaknya itu terjawab. Bahasa tubuh Eunji berkata begitu. Dan, hal tersebut membuat Eunhee berhati-hati dalam memilih kalimat yang akan diucapkannya. “Aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang. Ada pasien gawat darurat di rumah sakit, aku harus segera ke sana.”

Eunhee menjelaskan dengan suara tegas. Dia juga melirik jam tangannya lalu berlaku gelisah setelahnya seolah-olah ini memang keperluan yang mendesak. Eunhee yakin sekali kalau alibinya terdengar begitu sempurna, jadi dia tidak heran ketika Eunji melepaskannya dengan mudah. Eunji mengembuskan napas keras.

“Oke, aku akan membantumu.”

Dengan itu, maka perjanjian telah dibuat. Eunhee mengekori Eunji sementara kakaknya itu mengamati sekitar dan memberi aba-aba kalau-kalau ada seseorang yang melihat mereka keluar bersama. Mereka sudah seperti detektif yang berusaha menangkap buronannya, kucing-kucingan dan perlahan-lahan.

“Kau tunggu di sini. Aku akan mengalihkan perhatian mereka,” kata Eunji merujuk pada ketiga orang—ayah, ibu, dan Kyuhyun—yang sedang asyik berbincang di ruang tamu. Eunji menuruni anak tangga satu per satu dan berhenti saat ia teringat sesuatu. “Saat keadaan aman, aku akan memberimu kode sehingga kau bisa kabur.”

Mendengar kata kabur membuat Eunhee meringis. Itu semakin menjelaskan bahwa tindakan Eunhee sekarang adalah tindakan seorang pengecut yang hanya bisa lari dari masalah. Tapi, mau bagaimana lagi, Eunhee belum siap jika harus bertemu Kyuhyun. Dia belum siap bertatap muka dengan Kyuhyun setelah pertengkaran mereka kemarin.

Dari balik tiang penyangga tangga, Eunhee mengamati Eunji. Kini Eunji tengah memberikan kecupan hangat pada orangtua mereka lalu berbincang-bincang sebentar dengan Kyuhyun. Eunhee sempat melihat sang Ayah yang menahan-nahan Eunji agar tetap di sana. Namun, Eunji berhasil lepas dan hendak undur diri melanjutkan pekerjaannya ketika ia tiba-tiba terjatuh dalam posisi duduk. Ruang tamu gaduh seketika.

Ibunya memekik kaget, ayahnya dan Kyuhyun berlari menghampiri Eunji, dan Eunji mengaduh kesakitan. Eunji memijat pergelangan kakinya. Saat semua orang sibuk memeriksa kaki Eunji, Eunhee melihat tanda itu. Cepat-cepat Eunhee menuruni tangga tanpa memedulikan sedikit keriuhan yang ia ciptakan. Dibantu dengan teriakan Eunji yang mengaburkan suara tapak heels-nya, ia berhasil sampai di teras belakang tanpa dilihat oleh siapapun.

Eunhee menghela napas lega. Dia merogoh-rogoh saku jaketnya, mencari kunci mobil. Lalu, beralih mengaduk-aduk isi tasnya. Namun, sesuatu yang ia cari tak kunjung ia temukan.

Eunhee pun menepuk jidat karena keteledorannya. Dia menggigit bibir, gemas pada dirinya sendiri yang begitu ceroboh. Dengan langkah yang dihentakkan karena kesal, Eunhee melangkah menuju halte. Hari ini, Eunhee terpaksa naik bus.

***

Jam menunjukkan pukul dua siang ketika Eunhee sedang bersiap-siap untuk pulang. Eunhee meletakkan jas putihnya di tempat yang sudah disediakan dan meraih jaketnya. Setelah berpamitan pada asistennya dan membalas sapaan dari beberapa penghuni rumah sakit, Eunhee sampai di luar gedung.

Embusan angin musim gugur langsung menyapanya, membuat rasa lelahnya menguap, tergantikan oleh sebuah senyum lembut di bibir. Lantas, Eunhee melangkahkan kaki dengan riang. Sengaja dia berjalan di tempat yang banyak daun keringnya agar dapat mendengarkan gesekan antara dedaunan tersebut dengan sepatunya.

Eunhee begitu terlena dengan suasana menyenangkan yang diberikan oleh alam ini sampai-sampai tidak menyadari bahwa iPhone-nya berbunyi. Saat seorang ibu yang berdiri di sebelahnya memberitahu, barulah Eunhee tersadar dan mengangkatnya.

“Hal—“

“Song Eunhee, di mana kau?”

Eunhee nyaris menjatuhkan ponselnya mendengar suara keras Eunhee dari ujung sana. Dia mendesis kesal lalu kembali menempelkan benda putih itu ke telinganya. “Rumah sakit,” jawab Eunhee singkat tanpa merasa perlu bertanya lebih lanjut.

Ada hening selama beberapa menit yang membuat Eunhee mengira Eunji sudah mematikan sambungan. Ketika Eunhee ingin mengecek, Eunji kembali berbicara. Kali ini dengan suara berbisik seolah-olah Eunji menelepon Eunhee dalam keadaan sembunyi-sembunyi.

“Cho Kyuhyun datang lagi.”

Apa?!” Eunhee melompat berdiri, membuat ibu di sebelahnya terlatah-latah karena kaget. Dia membungkuk dan meminta maaf dengan sopan. Lantas bergerak menjauh, mencari tempat yang menurutnya aman dan jauh dari pendengaran orang lain. Eunhee pun melanjutkan, “Apa maksudmu?”

“Cho Kyuhyun di rumah. Dia mencarimu.”

“Apa menurutmu dia akan berada di sana dalam waktu lama?” tanya Eunhee was-was.

Eunji diam sejenak, mungkin berpikir dan menimbang-nimbang. “Entahlah. Dia baru saja datang dan kini sedang dijamu Mommy dengan tiramisu buatannya.”

“Baiklah,” kata Eunhee lemas, mendadak merasa tak bertenaga. “Terima kasih untuk informasimu. Aku akan tetap di sini sampai dia pulang. Kabari aku lagi nanti.”

Dan, dengan begitu, telepon mereka terputus, menyisakan Eunhee yang berdiri kaku di tempatnya. Eunhee berusaha menetralkan perasaannya dengan melakukan olah pernapasan. Setelah dirasa cukup, Eunhee langsung berjalan dengan langkah pelan.

Tidak ada pilihan lagi bagi Eunhee selain menghabiskan waktu di sini. Selain karena jarak yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, di sekitaran rumah sakit juga banyak sekali tempat makan enak. Eunhee yang kelaparan tentu tergiur untuk mencicipi salah satunya. Pilihannya pun jatuh pada sebuah kafe sederhana bergaya minimalis yang memberi kesan cozy sehingga begitu pas untuk anak-anak muda zaman sekarang.

Eunhee membayar dan membawa nampan berisi pesanannya menyusuri tiap celah mencari sebuah meja kosong. Namun, nampaknya Eunhee datang di waktu yang kurang tepat karena semua sudah terisi. Dia nyaris menyerah kalau saja indera penglihatannya tidak mendapati seseorang yang tengah menyantap makan siangnya sendiri. Dengan wajah berbinar, Eunhee menghampiri pria yang duduk di dekat jendela tersebut.

“Permisi, apa aku boleh—”

Ucapan Eunhee tertahan tepat ketika pria itu menoleh menatapnya. Raut muka mereka berdua sama-sama menunjukkan keterkejutan, tetapi pria tersebut dengan cepat menggantikannya dengan wajah tanpa ekspresi yang membuat Eunhee merasa kalau pria—yang pernah membantu dan dibantunya—itu tak suka dengan kehadirannya.

Eunhee menelan ludah lalu tersenyum canggung. “Sepertinya aku pergi saja. Maaf sudah mengganggu waktumu,” kata Eunhee sembari membungkuk singkat. Eunhee baru menjauh sebanyak dua langkah ketika suara berat pria itu terdengar, membuatnya berhenti dan membalikkan tubuhnya.

“Apa?” tanya Eunhee tak yakin.

“Kubilang, kau boleh makan di meja ini.”

Eunhee nampak terkejut, tidak menyangka kalau pria yang menawarinya adalah pria yang sama yang memberinya tatapan datar tadi. Padahal Eunhee sudah berpikir kalau dia akan berakhir makan di taman. Tapi, syukurlah pria itu memiliki sedikit belas kasihan dan membiarkan Eunhee berbagi meja dengannya.

Eunhee duduk di hadapan pria itu dan berucap gugup. “Te—terima kasih.”

Pria itu hanya menggumam pelan tanpa sedikit pun melihat ke arah Eunhee. Eunhee yang direspon sedemikian dinginnya menjadi tidak nyaman. Eunhee berdehem pelan lalu mengunyah dengan pandangan menunduk. Sesekali melirik pria itu, menebak-nebak isi kepalanya tentang keberadaan Eunhee di mejanya. Eunhee terlalu serius melakukannya sehingga tak menyadari kalau mata hitam pria itu kini mengarah kepadanya. Sontak, Eunhee pun tersedak.

Eunhee berusaha menggapai coklat panasnya. Namun, posisinya yang terlalu jauh membuatnya kesulitan. Tanpa Eunhee sangka, pria itu membantunya dengan mendorong gelas tersebut ke depannya. Cepat-cepat Eunhee meminumnya hingga tersisa setengahnya.

“Terima kasih,” ucap Eunhee untuk yang kedua kalinya pada pria itu. Wajah Eunhee memerah.

Pria itu mengangkat kedua bahunya tak acuh lalu melanjutkan kembali makannya, membuat perasaan tidak enak itu lagi-lagi menguasai Eunhee. Lalu, didorong oleh rasa lapar yang lebih mendominasi, Eunhee memilih mengabaikannya.

“Kau sering ke sini?”

Eunhee, yang tidak mengira pria itu mau memulai obrolan dengannya, membalas dengan suara keras akibat rasa kaget. “Ne?” Pria itu mendengus pelan, tapi tetap mengulangi pertanyaannya. Eunhee pun menjawab dengan nada biasa. “Tidak, ini pertama kalinya.”

Pria itu menggangguk-anggukkan kepalanya. “Pantas saja aku tidak pernah melihatmu.”

“Bagaimana denganmu? Sering ke tempat ini?”

“Lumayan,” jawab pria itu malas-malasan. Dia mengamati Eunhee sebentar sebelum mengulurkan salah satu tangannya. “Yoo Seung-Ho,” kata pria itu tiba-tiba, membuat Eunhee menatapnya bingung.

Eunhee mengerjapkan matanya berulangkali, nampak mencerna ucapan pria tersebut. Lalu ketika mengerti, Eunhee menjadi salah tingkah. “Ak—aku Song Eunhee. Sa—salam kenal.”

Dan, dari perkenalan singkat itulah, mereka menjadi tidak sekaku tadi. Meskipun lebih banyak Eunhee yang mengambil alih, tapi toh kelihatannya Seung-Ho tidak keberatan. Seung-Ho bahkan tertawa kecil ketika Eunhee tanpa sadar menggumamkan kesialannya hari ini, membuat Eunhee sedikit terpana dengan apa yang ia lihat. Tapi, itu tidak berlangsung lama karena Eunhee langsung mengajukan pertanyaan lain. Suasana kembali cair dan menyenangkan.

Tiba-tiba, iPhone Eunhee berbunyi. Obrolan mereka pun terputus. Eunhee merogohnya dari saku celana lalu memeriksa pesan singkat dari Eunji yang berbunyi: Mommy memberitahuku kalau Cho Kyuhyun menyusulmu ke rumah sakit. Kalau kau masih tidak ingin menemuinya, kusarankan kau pergi dari sana. Sekarang.

Kalimat umpatan keras meluncur bebas dari bibir Eunhee. Gadis itu meraih tas dan mantelnya lalu bangkit berdiri. “Maaf, aku pergi dulu. Terima kasih untuk tumpangannya. Sampai jumpa,” pamit Eunhee buru-buru dan langsung keluar dari kafe tanpa menunggu jawaban dari Seung-Ho.

Sesampainya di luar, Eunhee melongo melihat hujan turun dengan derasnya. Angin juga bertiup lumayan kencang sehingga tidak memungkinkan baginya berjalan ke halte yang sejatinya hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Mendadak Eunhee jadi dilema.

Eunhee tidak mau bertemu Kyuhyun, itu jelas. Dia belum siap mendengar penjelasan pria itu; Eunhee masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Akan tetapi, menerobos hujan di saat cuaca tengah ekstrem begini tentu bukan keputusan yang tepat. Bisa-bisa Eunhee jatuh sakit dan merepotkan orang lain karena hanya terbaring lemas di ranjangnya.

Kalau begitu, Eunhee harus bagaimana?

Di saat seperti itu, Seung-Ho tiba-tiba muncul. “Tidak jadi pulang?” tanyanya polos.

Eunhee meringis pelan. “Hujan. Aku tidak bisa ke halte.”

“Mau ikut denganku?”

“Apa?” Eunhee menoleh dengan cepat.

Seung-Ho berdehem pelan, nampak salah tingkah. “Kebetulan aku membawa sepeda motor.”

Eunhee terkejut, namun dia mampu menguasai diri dengan baik. Segera Eunhee tertawa hambar dan mengibaskan tangan di udara. “Terima kasih, tapi tidak usah. Aku akan menunggu sampai hujan berhenti saja,” tolak Eunhee sopan.

“Baiklah kalau begitu, aku duluan,” ucap Seung-Ho lalu berjalan meninggalkan Eunhee.

Eunhee berdiri gelisah di tempatnya. Dia menggigit bibir dan menatap punggung Seung-Ho yang mulai menjauh. Tangannya meremas tasnya dengan erat seolah menyemangati diri. Panggil, tidak, panggil, tidak, panggil… “Seung-Ho ssi.”

Seung-Ho berbalik, menatap Eunhee bingung. “Ada apa?”

“Maaf, tapi apakah aku boleh ikut denganmu?” tanya Eunhee dengan suara pelan. Wajahnya bahkan sudah memerah sepenuhnya.

Ada jeda sejenak sebelum Seung-Ho berkata, “Ayo,” lalu berjalan mendahuluinya.

Eunhee mengekor di belakang Seung-Ho. Kepalanya menunduk sedangkan mulutnya berkomat-kamit menghibur diri, berkata kalau ini adalah pilihan terbaik baginya jika masih ingin selamat dari buruan Cho Kyuhyun. Eunhee begitu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak tahu kalau Seung-Ho berhenti di depannya.

“Hei,” tegur Seung-Ho sehingga Eunhee mendongak dan mengerem mendadak.

Eunhee memerhatikan jaraknya yang begitu dekat dengan Seung-Ho dan merasa malu kemudian. Dia nyaris menabrak dada Seung-Ho! “Maaf, aku—“

Decakan Seung-Ho menghentikan kalimat Eunhee. Seung-Ho menatap Eunhee dingin. “Berhenti berkata maaf. Itu menjengkelkan,” ketus Seung-Ho, membuat Eunhee langsung mengatupkan mulutnya. “Tunggu di sini, aku mencari pinjaman helm dan mantel hujan dulu,” lanjut Seung-Ho lalu pergi begitu saja memasuki gedung kampus.

Eunhee beringsut duduk di salah satu kursi panjang yang disediakan tepat mengarah ke pintu masuk kampus. Gadis itu mengerutkan kening, tidak habis pikir dengan sikap Seung-Ho yang dapat berubah dalam waktu sepersekian detik saja. Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar dingin. Untung saja pria itu tidak mendorongnya pergi setelah menerima permintaannya. Yoo Seung-Ho yang Eunhee temui ini ternyata memiliki kepribadian yang cukup membingungkan.

Eunhee mengembuskan napas keras lalu mengalihkan perhatiannya pada rintik-rintik hujan yang membasahi bumi. Aroma tanah basah bercampur dedaunan kering menusuk indera penciuman Eunhee, membuatnya tenang dan rileks seketika. Perlahan-lahan, Eunhee mulai melupakan ketakutannya tentang Cho Kyuhyun dan menikmati suasana yang sangat jarang ini; hujan di musim gugur lumayan jarang terjadi di Seoul.

Kenikmatan itu buyar ketika Eunhee mendengar tapak sepatu yang mendekat. Lantas Eunhee membuka pejaman matanya dan menoleh ke asal suara. “Oh, kau sudah kem—ba—li.”

Mulut Eunhee terbuka, matanya membelalak, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Sosok lelaki yang ada di depannya sekarang bukanlah Yoo Seung-Ho seperti yang Eunhee perkirakan, melainkan lelaki yang ia hindari sejak kemarin, Cho Kyuhyun.

Eunhee menelan ludah dengan gugup lalu menatap sekitarnya dengan liar, mencari celah baginya untuk kabur. Tapi, belum sempat hal itu terealisasikan, Kyuhyun sudah terlebih dahulu mencengkeram pergelangan tangannya.

Kyuhyun menatap Eunhee dingin. “Ikut denganku,” katanya tegas, tak bisa dibantah.

Dan, Eunhee pun hanya bisa pasrah.

TBC

Garing! Ngebosenin! Saya tau, saya tau. Nulisnya males-malesan sih; lanjut, berhenti, lanjut, berhenti, gitu mulu sampe bosen. Sori ya. Kritik dan saran saya terima asal dengan cara yang baik, bisa kan? Oke, ditunggu deh.

Advertisements

114 comments

  1. duh itu mau dibawa kemana eunhee nya?? kyu kan lagi marah banget gegara eunhee selalu ngehindar tiap kyu mau ketemu.,

  2. kasiannn kyu :(, tapi disisi lain sebel juga sih sama dia, kenapa coba dia ngomongnya tajem banget kayak gitu, kalo misalkan mau nolak sih ga gitu caranya kyu, nyeselkan akhirnya

  3. Kyuhyun kayanya marah banget deh sama eunhee soalnya eunhee udah ngindarin kyuhyun terus…
    Yak kyu mau di bawa kemana itu si eunhee ??

  4. yg bikin bingung, kan awalnya Eunhee di rumah sakit trus dia ke kafe
    nah di situ dia ketemu Seung Ho, pas keluarnya Seung Ho minjem Helm kok masuk ke kampus?
    Kyuhyun tiba-tiba muncul disitu juga
    bukannya Kyuhyun nyusul Eunhee ke Rumah sakit??
    duh, bingung. apa akunya yg ga paham ya?

    1. EH SERIUS KAMU TELITI BANGET DEKKUUUU. Aku baru sadar pas baca komen kamu ini HAHAHA. Kamu bener kok, aku yang salah. Nulisnya nahan ngantuk jadinya mah begini. Nanti kalo sempet aku perbaiki deh ya. Terima kasih sudah memberitahuuu hihihi

  5. Gemes yah, liat mereka. Yoo seung ho itu, dia nanti ga akan jatuh cinta sama Eunhee kan? Tapi kalo iya juga gpp, biar lebih seru ceritanya wkwk
    Nih, Kyuhyun,pasti dia marah besar sama Eunhee karna terus menghindar.
    Dan, Kyuhyun, tau darimana Eunhee ada di caffe? Bukannya dia nyamperin Eunhee ke kampus ya? Apa Kyuhyun nyariin Eunhee, terus ga sengaja liat Eunhee ada di luar caffe?

  6. Duhhhh wajar sih klo smp skrg si eunhee msh ada rasa benci ke kyu, itu cukup ngena bgt sakit hatinya kejadian masa lalu mrk…

    Nah lhooo si eunhee ud gak bisa menghindar lg dia dari kyu, tp mending emg dibicarakan kan lah masalah mrk ttg kejadian masa lalu itu biar ada titik terangnya buat hubungan mrk kedepannya jg kan

  7. wah… kaya yg eunhee juga ga yakin yah mau benci apa ga sama kyuhyun soalnya ya gitu dia ga yg benci benci bgt gitu kan dia ngindar karena gamau denger penjelasan kyuhyun masih mau sendiri huhu kyuhyun balal gimanaaaaa coba ah lanjuuuttt

  8. Kayaknya seung hoo itu cuma keliatannya aja yang cuek tapi sebenernya suka sama eunhee, entah atau cuma perasaan aku aja yaa. tapi kalo eunhee deket sama seunghoo dulu biar kyuhyun cemburu gapapa kali yaa hhe. maaf yaa kalo aku komentarnya random per part nya

  9. Mmmm.. part ini agk ganjil krn ada salah tempat (Dan ternyata udh ada yg bahas)

    Gk boring, justru bag akhir bikin makin penasaran.
    Keliatannya effort Kyu buat hub Eunhee gk ada ya? Cm lsg dateng2 doang… Jd kyk krg gereget

  10. Ohh kyu kenapa kau sungguh tega melakukan hal seperti itu kepada eunhee di waktu kecil lagi 😢 sampe2 di kehidupan 16tahun setelahnya eunhee bisa tiba2 cemas dan ngga terkontrol klo ngomongin soal permasalahan nya sama kyu dulu. Semoga permasalahan mereka cepat selesai~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s