First Love (3)

first-love-2-ghina-21

Poster: HRa @ PosterChannel

Previous: Bagian 2

.

I fell for you unexpectedly,

and now I plan to be with you forever

(Kyuhyun’s side)

.

Di mana-mana, jika orang baru pulang dari kegiatan yang dihabiskan seharian, mereka akan langsung mencari tempat tidur untuk beristirahat. Tapi, malam ini Kyuhyun justru berlaku sebaliknya. Bukannya masuk ke kamar dan membersihkan tubuhnya seperti yang biasa Kyuhyun lakukan, ia malah menghampiri sang Ibu yang kebetulan sedang menikmati tayangan televisi bersama ayahnya di bangunan utama.

Kyuhyun beringsut duduk di sebelah ibunya lalu memeluknya dari samping.

“Astaga, Cho Kyuhyun. Kau membuatku kaget,” pekik ibunya tak habis pikir.

Ibunya mengelus rambut Kyuhyun, membiarkan anaknya bermanja-manja seperti itu. Sedangkan sang Ayah, yang memerhatikan tingkah aneh Kyuhyun, hanya menggeleng geli.

“Tumben,” ujar ayahnya sembari melirik Kyuhyun sekilas, bermaksud menggodanya.

Kyuhyun mendengus pelan lalu mengetatkan pelukannya di sekeliling bahu ibunya.

Di dekap seperti ini membuat ibunya curiga. Jadi, alih-alih membiarkan Kyuhyun tetap berada pada posisi nyamannya, beliau memilih mendorong Kyuhyun menjauh sehingga pelukannya terlepas. Setelah itu, beliau menatap Kyuhyun penasaran.

“Beritahu aku,” tegas ibunya, nampak tak bisa dibantah.

Beliau seakan-akan tahu bahwa ada yang salah dengan Kyuhyun dan memaksa Kyuhyun untuk mengaku. Namun, bukannya menjawab, Kyuhyun malah meletakkan kedua tangannya di atas pundak sang Ibu lalu mengunci tatapan ibunya sehingga hanya terfokus padanya saja. Dan tiba-tiba, senyum sumringah tercipta di bibir penuh Kyuhyun.

“Aku sudah menemukannya!” ujar Kyuhyun keras, penuh suka cita.

Ibunya menatap Kyuhyun bingung. “Apa maksudmu, Kyu?”

“Gadis yang akan jadi menantumu, aku sudah menemukannya,” jelas Kyuhyun lagi, dengan wajah cerah dan kedua mata berbinar terang.

Kyuhyun tertawa bahagia lalu mengecup pipi ibunya. Dia bergerak ke ayahnya dan memeluk beliau hangat. Lantas setengah berlari kembali ke bangunan miliknya, masih dengan sisa tawa yang terdengar begitu menyenangkan.

Sepeninggalan Kyuhyun, ayah dan ibunya saling berpandangan. Lalu, ketika sebuah kesimpulan terlintas di kepala mereka, kedua orang tersebut tertawa, merasa sama gembiranya.

Kyuhyun jatuh cinta.

Anak lelakinya itu, akhirnya bertekuk lutut pada seorang gadis.

***

Tepat ketika jam menunjukkan pukul enam pagi, Kyuhyun sudah bangun. Kyuhyun langsung menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dia selesai lima belas menit kemudian.

Kyuhyun sengaja berlama-lama dalam menyiapkan penampilannya. Dia memilah-milah pakaian yang akan dikenakannya, sengaja menjatuhkan pilihan pada kemeja lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jeans biru tua agar terlihat lebih kasual; merapikan rambutnya agar nampak tidak terlalu berantakan, mencukur bulu-bulu halus di sekitar dagunya; dan menyemprotkan parfum lebih banyak dari biasanya.

Khusus hari ini, Kyuhyun ingin terlihat fresh dan tampan.

Kyuhyun sedang mengancingkan jam tangannya ketika pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok Ahra yang masih mengenakan piyama tidurnya. Wajah Ahra sembab, membuktikan kalau kakaknya itu baru saja bangun.

Kyuhyun melirik jamnya sekilas. “Kau bangun lebih cepat, Nuna.”

Ahra melenggang masuk dan menjatuhkan dirinya di ranjang Kyuhyun. “Ya, kau juga.”

Hanya kekehan halus yang keluar dari mulut Kyuhyun sebagai tanggapan. Lelaki itu kini sudah sibuk mematut diri di depan cermin, melakukan beberapa gaya yang menurutnya keren, lalu tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Hal ini tentu tak luput dari perhatian Ahra. Kakak perempuannya itu melongo, menatap Kyuhyun dengan raut tak percaya.

“Kau… tidak apa-apa, Kyu?”

Ada kekhawatiran yang terselip di suara Ahra, membuat Kyuhyun menoleh dan meringis menyadari tindakan konyolnya tadi. Kyuhyun menunjukkan cengiran canggung lalu pura-pura sibuk merapikan kemejanya, tidak sanggup jika harus bertatapan lama-lama dengan sang Kakak yang terang-terangan menampilkan keingintahuannya.

“Ada sesuatu yang kulewatkan, ya?” tanya Ahra hati-hati tapi tetap tak mampu menutupi rasa penasarannya. Ahra bahkan bangkit dari ranjang dan berdiri tepat di sebelah Kyuhyun, melihat-lihat raut wajah Kyuhyun dari dekat.

Kyuhyun memundurkan kepalanya. “Nuna, apa yang kau lakukan?”

Looking for something,” jawab Ahra polos.

Ahra melipat kedua tangannya di depan dada. Dia memiringkan kepalanya ke salah satu sisi.

“Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Kyu?”

Kyuhyun berjengit kaget. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada Eunhee. Tanpa sadar, wajah Kyuhyun memerah. Segera Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain, menutupi wajahnya dari penglihatan Ahra, meraih barang-barangnya—kunci mobil, dompet, dan ponsel—di atas meja nakas, lalu berjalan ke arah pintu kamarnya.

Kyuhyun mengatakan, “Aku pergi dulu, Nuna,” sebelum keluar dari kamar, meninggalkan Ahra dengan kecurigaan yang masih menjadi tanda tanya.

***

Sewaktu keluar dari rumah tadi, Kyuhyun memang berencana mengganti tujuannya. Tapi, Kyuhyun tidak menyangka bahwa ia datang sepagi ini. Bahkan rumah megah di hadapannya masih terlihat sunyi. Hanya pekerja taman dan satpam yang sudah terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Kyuhyun memakirkan mobilnya tepat di belakang Porsche Boxster berwarna lime gold metallic. Lantas segera turun dan langsung merasa lega ketika mendapati sang Pemilik Rumah tengah menyiram bunga di teras depan. Itu artinya, Kyuhyun cukup tahu waktu untuk berkunjung.

Kyuhyun melangkah mendekati orang tersebut.

Good morning, Mistress Ale,” sapanya hangat sembari membungkuk sopan.

Mistress Ale mendongak, terkejut melihat Kyuhyun di hadapannya. Wanita tersebut meletakkan selang airnya.

Morning, Kyu,” sapa Mistress Ale dengan suara luar biasa gembira.

Beliau menarik tangan Kyuhyun, mengajak Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya, lalu meminta Kyuhyun menunggu sebentar di ruang tamu sementara Mistress Ale beranjak naik ke lantai dua. Tidak berapa lama, suami istri yang menjadi sahabat ayahnya itu datang dengan posisi saling berdekatan; Mister Ale merangkul bahu sang Istri yang menggelayut di lengannya.

Kyuhyun bangkit dari duduknya dan membungkukkan tubuh, menyapa Mister Ale, yang disambut lelaki paruh baya itu dengan tawa kecil yang bersahabat.

Mister Ale mengibaskan tangannya di udara.

“Tidak usah kaku begitu denganku, Kyu. I’m Italian.”

Mister Ale mengedipkan kedua matanya lalu tertawa renyah. Jenis tawa menyenangkan yang langsung menular pada Kyuhyun, yang membuat kecanggungan Kyuhyun menghilang dan tergantikan dengan keakraban.

Kyuhyun membicarakan banyak hal dengan pasangan suami istri itu; basa-basi menanyakan kabar orangtua Kyuhyun dan cerita-cerita konyol seputar kisah percintaan Mister Ale bersama istrinya. Sesekali Mistress Ale akan menimpali dan membantah kebenarannya sehingga Mister Ale semakin gencar menggoda istrinya. Jika sudah begitu, Kyuhyun hanya dapat tertawa sembari mengagumi kedua orang tersebut dalam hati, berharap kalau-kalau kehidupan rumah tangganya juga akan seperti ini.

Obrolan hangat itu sedikit terinterupsi ketika Mistress Ale permisi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, meninggalkan Kyuhyun dan Mister Ale berdua, lengkap dengan dua cangkir matcha di atas meja. Kali ini, perbincangan mereka sudah menjurus ke hal yang lebih serius, yaitu bisnis dan berita nasional. Selama berdiskusi, tidak sekali pun Mister Ale menyinggung alasan Kyuhyun datang ke sini. Sepertinya beliau sudah tahu dan merasa tidak berhak mencampurinya—suatu hal yang Kyuhyun syukuri.

Breakfast is ready,” teriak Mistress Ale tiba-tiba dari ruang makan, menghentikan kegiatan tukar pendapat antara Kyuhyun dengan suaminya.

Mister Ale tersenyum ramah pada Kyuhyun. “Mari, Kyu. Aku yakin kau belum sarapan,” ajaknya sembari bangkit dari duduknya. “Dan jangan coba-coba menolak,” tambahnya saat melihat Kyuhyun membuka mulut hendak bersuara.

Kyuhyun menyengir salah tingkah lalu mengekori Mister Ale yang sudah berjalan duluan. Dia tidak memiliki pilihan lain. Selain karena Mister Ale memberikan ultimatum padanya, perut Kyuhyun juga mulai mengajukan protes. Oleh karena itu, Kyuhyun mengindahkan rasa segannya dan duduk di salah satu kursi dekat Mister Ale.

Seorang pekerja rumah menaruh piring berisi farfalle al salmone di depan Kyuhyun yang dibalas Kyuhyun dengan ucapan terima kasih, berikut senyum manis di bibir sehingga sang Pekerja yang memang masih muda itu terdiam seperti patung, nampak terpesona. Setelah Mistress Ale menegurnya, barulah pekerja tersebut berpindah tempat. Wajahnya memerah menahan malu.

“Silakan. Aku harap kau menyukainya,” ujar Mistress Ale lembut, membuat Kyuhyun mendadak teringat dengan ibunya yang penyayang.

Kyuhyun tersenyum sopan lalu membiarkan pasangan suami istri itu mencicipinya terlebih dahulu. Saat dilihatnya sang Tuan Rumah sudah akan memasuki suapan kedua, Kyuhyun menggulung spaghetti-nya dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia mengunyah pelan-pelan.

“Bagaimana?” tanya Mistress Ale dengan perasaan cemas.

Kyuhyun mengacungkan kedua ibu jari tangannya. “Fantastic!

Wajah cantik Mistress Ale berubah cerah. Beliau terkekeh senang. “Terima kasih, Kyu.”

“Kau hebat, Sayang,” puji Mister Ale pada sang Istri sembari mencium punggung tangannya mesra, membuat senyum lebar terbit di bibir Mistress Ale, sekaligus membuat Kyuhyun merasa sedikit tidak nyaman.

Di saat seperti itulah, tiba-tiba suara nyaring seorang gadis terdengar.

Mom, Dad, please, stop it.

Baik Kyuhyun maupun pasangan suami istri itu menoleh ke asal suara. Dan, Kyuhyun terkejut mendapati Eunhee berdiri tidak jauh dari ruang makan, dengan kedua tangan bersedekap di depan dada dan sepasang mata yang menatap orangtuanya kesal. Di sebelah Eunhee, Song Eunji memutar bola mata bosan, hendak berjalan ke meja saat menyadari Kyuhyun duduk di salah satu kursi. Pekikan Eunji lah yang membuat Eunhee akhirnya melihatnya.

Berbeda dengan Eunhee yang menatap Kyuhyun horror, Kyuhyun justru terpesona.

Gadis itu baru bangun. Masih dengan rambut tergerai acak-acakkan dan piyama kebesaran yang nampak kusut. Wajah sembab dan bibir pucatnya juga seolah menunjukkan kalau gadis itu belum menyentuh kamar mandi pagi ini. Jadi, bagaimana bisa penampilan kusut Song Eunhee malah terlihat menarik di mata Kyuhyun?

Kyuhyun bahkan tak berminat lagi untuk mengisi perutnya. Sekarang, yang berputar-putar di pikirannya hanya betapa inginnya ia merengkuh gadis itu dan mendekapnya erat-erat tanpa berniat melepaskannya lagi. Sementara Kyuhyun mengontrol perasaannya yang menggebu-gebu, Mistress Ale menghampiri Eunhee dan menutupi gadis itu dari pandangannya.

Mistress Ale tersenyum kaku pada Kyuhyun. “Maafkan aku, Kyu. Aku tidak tahu kalau Eunhee belum siap. Silahkan lanjutkan makanmu. Aku akan mengurus anak satu ini.”

Lalu, diiringi decakan gemas Mistress Ale dan raut merengut Eunhee, beliau membawa anak bungsunya itu kembali ke atas. Kyuhyun mengikuti melalui tatapan matanya sampai ibu dan anak itu menghilang di balik tangga. Dia mendesah kecewa.

“Aku tahu kalau anakku begitu cantik, Kyu, tapi spaghetti-mu sudah menunggu.”

Dan Kyuhyun hanya dapat meringis malu.

***

Jam menunjukkan pukul setengah delapan ketika untuk yang kedua kalinya dalam pagi ini, Song Eunhee kembali membuat Kyuhyun terpana. Kyuhyun yang sedang berbincang dengan Mister Ale di ruang keluarga pun langsung memutuskan obrolan mereka secara sepihak. Kedua indera penglihatannya tertuju pada Eunhee yang berdiri canggung di anak tangga terakhir.

“Maaf membuatmu menunggu lama, Kyu,” ujar Mistress Ale sopan.

“Tidak apa, Mistress” jawab Kyuhyun pelan, terlalu sibuk mengamati Eunhee.

Eunhee nampak luar biasa indah. Cotton long dress tanpa lengan berwarna dark sea green yang dikenakan Eunhee begitu pas membalut tubuhnya meski masih dapat menutupi lekuk-lekuknya yang menggoda. Ditambah dengan leher jenjang yang terekspos sempurna—karena Eunhee mengikat rambutnya secara ponytail—dan wajah tersapui make up tipis, Eunhee berhasil membuat Kyuhyun speechless.

Saat seruan keras Mistress Ale menggema, barulah kesadaran Kyuhyun sepenuhnya pulih. Kyuhyun mengerjapkan matanya berulangkali lalu menunduk, mendadak paham kalau kedua orangtua ini mengetahui sikapnya barusan. Rasa malu itu menjalari tubuhnya sampai-sampai ia merasa kepanasan. Kyuhyun menelan ludahnya dengan gugup lalu menghampiri Eunhee.

“Ayo,” ajak Kyuhyun lembut.

Eunhee mendongak, menatap Kyuhyun sejenak. “Terima kasih, tapi aku akan berangkat sendiri.”

“What?” seru orangtua gadis itu secara bersamaan, nampak luar biasa kaget.

Kyuhyun juga terlihat terkejut, jauh melebihi Mister dan Mistress Ale. Dia bahkan hanya mengamati Eunhee yang berpamitan dengan kedua orangtuanya dan Kyuhyun, dan membiarkan gadis itu melenggang pergi melewatinya. Beruntung, Kyuhyun dapat menguasai diri dengan cepat sehingga ia segera mengejar Eunhee dan menahannya.

“Kenapa kau tidak ingin pergi denganku?” tanya Kyuhyun to the point, sama sekali tak menutupi nada gusarnya yang kentara sekali.

Perlahan, Eunhee melepaskan cengkeraman Kyuhyun di pundaknya. Gadis itu menatap Kyuhyun datar. “Kenapa pula aku harus pergi denganmu?” tanyanya balik, menantang Kyuhyun.

“Karena aku ingin menghabiskan waktuku denganmu.”

Jelas, singkat, dan terdengar tegas, membuat Eunhee mendadak gugup.

Kyuhyun menyadari perubahan raut wajah Eunhee. Lelaki itu tersenyum kecil.

“Jadi, bagaimana?”

Eunhee merengut, mengerutkan keningnya. “Tetap pada keputusanku.”

Eunhee dan kekeraskepalaannya, tidak ada yang bisa mengalahkan hal itu. Kyuhyun paham, maka dia menghela napas pelan, hendak membujuk Eunhee ketika suara dua orang terdengar.

“Song Eunhee.”

“Kau tidak bisa menggunakan mobilmu.”

Suara yang Kyuhyun kenali sebagai milik Mistress dan Mister Ale itu terdengar saling bersahut-sahutan. Kyuhyun memalingkan wajahnya, sedikit tersentak mendapati kerlingan sarat akan tipu daya dari Mistress Ale. Kedua orangtua Eunhee lantas menghampiri anak gadisnya.

“Aku baru menyervisnya, Mom.”

Kali ini Mister Ale yang menyela. “Tetap tidak bisa, Honey.

Why, Dad?” tanya Eunhee, mulai merasa kesal.

Mister Ale tersenyum lebar sebelum membalikkan tubuh Eunhee. “Look. Kau tentu tidak akan bisa menggunakannya jika sudah seperti itu, kan, Sayang?”

Eunhee memejamkan mata, menahan emosinya. Mobilnya tidak bisa keluar karena ada sebuah mobil berwarna metallic yang seenaknya parkir di belakang mobil Eunhee.

“Mobil siapa itu, Dad?” tanya Eunhee geram.

Dan, tanpa diduga-duga, Kyuhyun menjawab lantang. “Aku.”

Eunhee menoleh pada Kyuhyun. “Tolong pinggirkan.”

“Maaf sekali, Miss Song, tapi aku tidak mau melakukannya.”

“Aku harus pergi, Mister Cho.”

“Maka, pergilah denganku. Aku akan mengantarmu.”

Kyuhyun memberikan senyum manis yang mampu melelehkan hati para gadis. Tapi, targetnya ini malah tidak terpengaruh sama sekali. Eunhee tidak mengacuhkannya dan mulai merengek pada ayah dan ibunya. Suatu hal yang membuat Kyuhyun tersenyum karena merasa gemas dengan tingkah gadis itu.

“Tidak, Sayang, kau harus membiarkan Kyuhyun menemanimu,” tolak Mister Ale.

“Benar kata Dad, Darla. Lagi pula, tidak sopan jika membiarkan tamu menunggu tapi kau malah menolak ajakannya, Eunhee.”

Entah karena merasa bersalah atau karena penjelasan Mistress Ale yang ada benarnya, Eunhee akhirnya menurut. Gadis itu mengangguk pasrah. Bersamaan dengan Kyuhyun, mereka berpamitan sekali lagi.

Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Eunhee. Lalu, setelah memastikan Eunhee aman dan nyaman di tempat duduknya, Kyuhyun memutari kap mobil dan masuk ke kursi pengemudi. Dia memakai seatbelt-nya, menekan klakson sekali yang dibalas kedua orangtua Eunhee dengan lambaian tangan, lalu menjalankan mobil. Kyuhyun menekan tombol radio, membiarkan lagu meramaikan suasana sementara ia memikirkan kalimat yang pantas untuk memulai perbincangan.

Kyuhyun tidak pernah berada di posisi canggung dan bingung seperti ini. Biasanya dia hanya perlu tersenyum, maka para gadis akan melupakan segalanya dan memujanya. Tapi, ini Song Eunhee; gadis yang sudah merebut hatinya dan juga gadis paling keras kepala yang pernah Kyuhyun kenal. Tidak ada orang lain yang dapat membujuk gadis itu, selain ayah dan ibunya.

Melirik Eunhee sejenak, Kyuhyun memberanikan diri untuk bertanya.

“Masih kesal?”

Tidak ada jawaban dari Eunhee sehingga Kyuhyun menebaknya sendiri; gadis itu masih kesal.

Kyuhyun memutar setir mobil ketika melewati tikungan. Pandangannya jatuh pada pedagang es krim di pinggir jalan. Lalu tiba-tiba, sekelebat memori tentang waktu itu berputar di kepalanya, menghasilkan sebuah ide brilian yang mungkin dapat meningkatkan mood Eunhee.

“Es krim?”

Belum ada reaksi, gadis itu masih tetap diam pada posisinya. Tapi, Kyuhyun belum menyerah.

“Seporsi es krim sundae?”

“Seporsi besar,” koreksi Eunhee tiba-tiba.

Kyuhyun menolehkan kepalanya. “Kau yakin?” tanyanya tak percaya.

Eunhee mengangguk keras, membuat Kyuhyun tertawa kecil.

“Baiklah, baiklah. Seporsi besar es krim sundae.”

Yeah, let’s go!

Mendengar sorakan Eunhee, Kyuhyun kembali tertawa, kali ini lebih keras, lebih lepas. Jenis tawa renyah yang terdengar menyenangkan dan tidak pernah Kyuhyun perlihatkan pada gadis lain selain anggota keluarganya. Dan Kyuhyun baru menyadari, bahwa kebahagiaannya memang sesederhana ini.

***

Kyuhyun membawa Eunhee ke salah satu kafe yang menjual es krim terbaik di Seoul. Seperti janji Kyuhyun, dia memesankan seporsi besar es krim sundae untuk Eunhee dan dua potong sandwich sebagai tambahan saat teringat kalau Eunhee belum sarapan. Kyuhyun sendiri hanya memesan secangkir cappuccino, sekadar memenuhi kebutuhan kopinya di pagi hari yang tidak ia dapatkan di rumah Eunhee tadi.

Mata Eunhee berbinar-binar ketika pesanan mereka datang. Gadis itu menunggu pelayan selesai meletakkan piring-piring tersebut sebelum mengucapkan terima kasih. Dia meraih es krimnya dan langsung menyuapkannya. Wajah puas dan bahagia Eunhee terlihat setelahnya, membuat Kyuhyun tersenyum.

Kyuhyun mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya sedikit, masih dengan pandangan yang terfokus pada Eunhee. Gadis itu terlalu bersemangat sepertinya, sampai-sampai tidak menyadari segores es krim mengotori sudut bibirnya.

Kyuhyun meletakkan cangkirnya lalu mengulurkan tangan. Dia menghapus sisa es krim itu.

“Ini, di sini,” ucap Kyuhyun, saat Eunhee memandangnya dengan kening berkerut bingung, sembari bergantian menunjukkan ibu jarinya yang terdapat noda es krim dan sudut bibirnya. Kyuhyun tersenyum sekilas sebelum meraih tisu dan mengelap tangannya di sana.

“Te—terima kasih.”

Kyuhyun mendongak dan sedikit terkejut mendapati wajah Eunhee yang memerah. Apalagi ketika gadis itu menggigit bibir bawahnya lalu memasukkan sesendok besar es krim ke dalam mulutnya, nampak salah tingkah. Melihat tingkah Eunhee itu, Kyuhyun jadi terkekeh samar.

“Pelan-pelan,” ujar Kyuhyun lembut, memberi peringatan pada gadis itu.

Eunhee hanya melirik Kyuhyun dan menghabiskan es krimnya. Gadis itu meraih segelas air putih yang memang disediakan dan meminumnya hingga tandas. Mata Eunhee beralih pada dua potong sandwich yang ada di meja, melihatnya seolah-olah itu adalah hal terbaik yang pernah dilihatnya. Kyuhyun menyadari hal itu—tentu saja, Kyuhyun tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Eunhee—lalu menggeser piring tersebut ke depan Eunhee.

“Makanlah.”

Eunhee mendongak menatap Kyuhyun. “Untukku?”

Kyuhyun mengangguk santai. “Hmm. Aku tahu kau belum sarapan.”

Segera, Eunhee mengambil sepotong sandwich dan memakannya dalam satu gigitan besar, mengabaikan Kyuhyun yang menatapnya dengan mata berkilat-kilat geli.

***

“Ke mana kita akan pergi?” tanya Kyuhyun sembari memerbaiki posisi duduknya.

Eunhee berpikir sejenak. “Aku hanya perlu membeli beberapa buku untuk kuliahku.”

“Aku mengerti. Kyobo saja, bagaimana?”

Gadis itu mengangguk ringan. “Oke.”

Kyuhyun menekan persneling lalu melajukan mobilnya, membelah jalanan kota Seoul yang sedikit padat. Keadaan sudah tidak terlalu canggung lagi; mereka mengobrol banyak sewaktu di restoran. Meski tidak dapat dikatakan benar-benar nyaman, setidaknya Kyuhyun berhasil membuat Eunhee mengomentari ucapannya. Mood gadis itu sepertinya sudah jauh membaik.

Kyuhyun menghentikan mobilnya di belakang garis saat lampu jalan berubah merah.

Dia menoleh ke arah Eunhee.

So, kuliah, huh?”

Eunhee mengalihkan pandangannya dari jendela dan balik menatap Kyuhyun.

“Ya, begitulah.”

“Menamatkan sarjanamu?”

Eunhee cepat-cepat menggeleng. “Bukan, bukan. Aku mengambil spesialis.”

Tubuh Kyuhyun berjengit. “Are you a doctor?” pekiknya kaget.

Well, yeah,” jawab Eunhee malu-malu.

Kyuhyun sendiri menatap Eunhee dengan raut wajah bangga. Kyuhyun bukannya tidak mengakui kemampuan Eunhee, hanya saja Kyuhyun tidak percaya bahwa Eunhee yang manja berhasil menjadi dokter.

“What kind of specialist doctor is you take?” tanya Kyuhyun dengan nada kagum.

Dermatology,” jawabnya mantap tak berapa lama kemudian.

Kyuhyun tidak sebodoh itu sampai tidak paham perkataan Eunhee. Dermatologi. Kulit. Gadis itu mengambil spesialis tersebut; sebuah cita-cita yang sudah diinginkannya bahkan sejak berumur enam tahun. And she did it well.

Astaga, Song Eunhee-nya memang mengagumkan.

***

Kyobo Book Centre, Seoul

10:15 AM

Ketika Kyuhyun selesai memarkirkan mobilnya, Eunhee langsung melompat turun. Lalu, tanpa menunggu Kyuhyun keluar, Eunhee sudah berlari-lari kecil memasuki kawasan toko buku yang sangat besar ini. Kyuhyun yang tertinggal beberapa langkah di belakang gadis itu hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum geli. Kyuhyun pun berusaha menyusul Eunhee dan berjalan bersisian dengan gadis itu. Mereka berhenti di depan pintu masuk yang memajang besar-besar tulisan Kyobo Book Centre.

“Rasanya sudah lama sekali aku tidak ke toko buku.”

Kyuhyun melirik Eunhee. “Benarkah?”

“Ya. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki lagi di toko buku sejak kepindahanku dari Milan.”

“Kau senang?” tanya Kyuhyun lembut.

Eunhee menggangguk antusias. “Of course!

Dan, dengan begitu, Eunhee menerobos masuk, lagi-lagi seolah tidak menghiraukan kehadiran Kyuhyun. Eunhee berjalan ke area novel dan mulai sibuk memilih-milih. Gadis itu sepertinya melupakan tujuan awalnya untuk membeli buku kuliah karena yang dilakukannya hanya membolak-balik novel dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Kyuhyun hendak mengingatkan saat dia melihat Eunhee berdiri di depan rak buku kosong sembari mengomel dan menghentakkan kaki kesal. Melihat hal itu, Kyuhyun tak bisa tak tertawa.

“Ada yang lucu?” tanya Eunhee penasaran.

Kyuhyun mengedikkan dagunya. “Kau.”

“Aku?” tanya Eunhee bingung sembari menunjuk dirinya sendiri.

Satu anggukan dari Kyuhyun menjawab pertanyaan Eunhee. Setelah itu, Kyuhyun kembali terkikik. Mengetahui Eunhee masih menyimpan jiwa kekanakkan di dalam dirinya membuat Kyuhyun merasa lucu. Rupanya, gadis itu tetap menjadi Song Eunhee yang Kyuhyun kenal tujuh belas tahun silam.

Sorry,” ucap Kyuhyun geli saat tawanya usai. Dia memegangi perutnya.

Eunhee mengedikkan bahu tak acuh. “No problem,” katanya datar. Lalu Eunhee menatap Kyuhyun kaget. “Bagaimana bisa kau ada di sini?”

“Mengikutimu.”

“Kenapa kau mengikutiku?”

“Karena kau tidak berkata kalau aku tidak boleh mengikutimu,” jawab Kyuhyun sok polos.

“Tidak perlu mengikutiku, Mister Cho. Aku yakin kau pasti juga ingin membeli sesuatu. Jadi, kenapa kau tidak mulai melihat-lihat?” usir Eunhee dengan halus.

“Terima kasih untuk tawarannya, Miss Song. Tapi, tidak. Aku sedang tidak ingin membeli buku atau apapun. Satu-satunya hal yang kuinginkan adalah bersamamu.”

Kyuhyun tidak tahu kenapa dia malah berucap seperti itu. Namun, mendengar Eunhee mengusirnya membuat Kyuhyun merasa kalau Eunhee akan baik-baik saja tanpa dirinya. Sesuatu yang Kyuhyun benci karena berbanding terbalik dengan dirinya yang tidak akan baik-baik saja tanpa gadis itu, sekaligus sesuatu yang membangkitkan sisi posesif dalam diri Kyuhyun.

Eunhee terdiam sejenak sebelum berucap gugup. “Ter—terserahmu sa—saja—lah.”

Lalu Eunhee berjalan mendahului Kyuhyun.

Kyuhyun mengatur pernapasannya hingga perasaannya membaik. Dia mengekori Eunhee.

Untuk beberapa saat, keadaan di antara mereka kembali seperti saat pagi tadi. Tidak ada yang mulai berbicara; Eunhee sibuk dengan bukunya dan Kyuhyun sibuk dengan perhatiannya pada gadis itu. Suasana mulai mencair ketika Kyuhyun memutuskan untuk bertanya.

“Novel seperti apa yang kau suka?”

Eunhee sedikit bingung melihat perubahan suasana hati Kyuhyun, tapi Eunhee tetap menjawabnya. “Komedi romantis, thriller, horor, misteri, apa saja yang menurutku lumayan.”

Fantasy? Action?

I prefer science fiction,” balas Eunhee sembari mengembalikkan sebuah buku ke raknya.

Kyuhyun mencatat baik-baik ucapan Eunhee di dalam ingatannya.

“Ngomong-ngomong, boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Eunhee tiba-tiba.

Tanpa berpikir dua kali, Kyuhyun mengiyakan. “Silakan.”

Sebelum Kyuhyun sempat menghindar, Eunhee sudah terlebih dahulu memajukan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga Kyuhyun. “Gadis ber-tank top merah di ujung sana menatapmu lapar sedari tadi. Kurasa, dia tertarik padamu.”

Embusan napas hangat Eunhee yang menerpa kulit membuat Kyuhyun tidak dapat mendengar ucapan gadis itu dengan baik. Pikirannya mendadak blank dan dia tidak bisa bergerak. Tapi, Kyuhyun masih dapat melakukan gerak refleks ketika gadis itu hendak menjauhkan tubuh mereka. Dia menahan pinggang gadis itu sehingga jarak mereka tidak berubah.

Kyuhyun seolah melupakan tempatnya berada sekarang dan malah mengeratkan pelukannya. Eunhee juga tidak protes dan balas menatap mata Kyuhyun. Untuk beberapa menit ke depan, yang mereka lakukan hanya saling menatap. Sampai kemudian, dengan suara lemah yang terdengar begitu memilukan, Kyuhyun bertanya pelan.

“Apakah kau benar-benar tidak mengingatku?”

TBC

Udah telat belum kalo aku ngasih ini sebagai THR kedua? Hahaha gapapa ya telat-telat dikit kok *ngeles* HAPPY IED MUBARAK! Mohon dimaafkan segala kesalahan saya, baik itu dalam proses pembuatan ff yang luar biasa lama maupun komen-komen yang kadang saya bales ketus atau malah nggak dibalas sama sekali. Percayalah, mood seorang wanita itu tidak bisa ditebak HAHAHA. Pokoknya mohon maaf lahir dan bathin semua.

Btw, untuk ff ini, seperti yang pernah saya bilang, sulit rasanya bikin adegan manis antara Kyuhyun dan Eunhee. Jadi, mohon dimaklumi kalo nggak sesuai ekspektasi. Ditunggu komennya ya, yang banyak, kalo bisa sampe melimpah ruah. See ya~

Advertisements

103 comments

  1. Beneran eunhee gx ingat sama kyuhyun?. Semoga eunhee ingat sama kyuhyun dengan cepat. Semangat ya thor, walaupun aku comennya telat, telat banget malah

  2. Sebenernya sih, penasaran akut, alasan kenapa Eunhee bisa lupa sama Kyuhyun. Dia ga kecelakaan kan, yg mengakibatkan dia amnesia gitu?

  3. Ciyeee kyu yg lg falling in love sampe manja2an sama emaknya wkwk

    Duhhh org tua nya eunhee ud setuju bgt kyanya sama kyu ya sampe2 mrk dukung kyu buat lebih deket sama anaknya, disuruh kencan pula, ehhh tp ke toko buku aja kencannya haha

  4. hohhhhhh pendekatan dimulaiii hahahah gemes yah kyuhuun gercep abisssss hahah asli yahhhhh kenapa segala ga inget sih eunhee sama kyuhyunnn yaudajlah gapapa kan kyuhyun harus usaha yah hahah lanjutttt

  5. “Gadis yang akan jadi menantumu, aku sudah menemukannya” si kyuhyun yakin nya over hha. pasti eomma nya kyuhyun girang bgt soalnya kyuhyun kan susah yak deket sama cewek semenjak ditinggalin eunhee

  6. How u described Kyu’s feeling, a man who’s in love, Itu bnr2 pas bgt ya…
    Jadi senyum2 sendiri ngebayanginnya 😊

    When a man Remember u’re dream… He’s really into you then. Come on, Eunhee!

  7. Karakter Eunhee lucu banget.. jd gemes bacanya

    Dan kyuhyun oppa yg semangat yyaaa untuk mendpt kan cinta pertama nya lagi

  8. Baru sempet baca lagiiiiii!!!! Aaaaaahhh Kyuhyun ih bikin gemes ajaa bisanya uuuunchh uuunch uuunch… suka suka! Manisnya dapet kok hehe :3 blm ada konflik yaa disini. Lanjuuuutttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s