A ‘Good’ Bye

tumblr_kykvby9fWs1qb955ro1_500

Perpisahan tidak selamanya menyakitkan

Setidaknya bagi pria itu…

Aku tidak tahu mengapa kami bisa terjebak di situasi yang penuh akan keheningan seperti ini. Jinhye tadi meneleponku dan memintaku untuk datang menemuinya; membuatku terkejut mengingat ini adalah pertemuan pertama kami setelah tiga bulan tak saling bertatap mata.

Jinhye bilang, ada sesuatu yang harus dibicarakan; mungkin seputar berita asmaraku yang sudah diketahui publik. Dan aku, yang kebetulan sedang berada dalam masa liburan dari pekerjaan melelahkan sebagi seorang public figure, pun memenuhi permintaannya.

Dan, di sinilah kami sekarang, duduk bersebelahan di salah satu bangku taman dekat apartemen Jinhye; dengan diriku yang berulangkali meliriknya.

Kami sudah berada dalam posisi ini selama kurang dari empat puluh menit dan Jinhye belum juga membuka mulutnya. Jinhye hanya diam, menundukkan kepalanya, memainkan puluhan daun kering di bawah kakinya, menciptakan bunyi pelan yang menyenangkan. Terlalu sibuk pada kegiatannya sampai-sampai melupakan tujuan awalnya mengajakku untuk bertemu.

Jinhye mendongak, menatap lurus ke depan sembari menyingkirkan helaian rambutnya ke belakang telinga, memberiku peluang penuh pada sisi kiri wajahnya. Pipi itu sedikit tirus dari terakhir kali aku melihatnya dan tubuhnya nampak kurus. Matanya juga sedikit sayu, seolah ia memendam banyak kesakitan.

Kesakitan?

Aku menelan ludah dengan susah payah. Samar-samar, kejadian tiga bulan lalu melintas di benakku. Kejadian saat rasa sakit Jinhye bermula.

Waktu itu, Seoul sedang diguyur hujan deras ketika aku menjelaskan alasan mengapa aku ingin mengakhiri hubungan kami. Awal pertemuanku dengan gadis lain sebagai pasangan di drama musikal, hubungan pertemanan kami sampai saat-saat aku terjatuh oleh pesona dan keagresifannya yang menggoda.

Aku menceritakan semuanya tanpa ada yang tersisa. Membuat Jinhye duduk dengan kaku di atas kursi ruang makan kami. Jinhye terdiam, mendengarkanku dengan saksama. Tidak berontak, tidak memukuliku, dan tidak juga menangis. Bahkan ketika aku berlutut di hadapannya, memohon kesediannya untuk bercerai dariku, Jinhye tidak memberikan reaksi apapun.

Jinhye hanya menatapku dengan pandangan kosong yang terpantul dari mata coklatnya yang meneduhkan. Membuatku frustasi dan meraung-raung; melampiaskan rasa bersalah yang perlahan menyusup masuk. Sampai akhirnya, Jinhye bangkit dan menghilang di balik pintu kamar kami.

Jinhye kembali ke hadapanku lima belas menit setelahnya, dengan koper dan barang-barang di tangan kanannya. Sedangkan satu tangannya yang bebas menyerahkan sebuah map berwarna biru yang sudah sejak lama kuberikan padanya untuk ditandatangani. Aku membuka map tersebut dan menemukan secoret tanda tangannya di sana. Dan, dasar pria brengsek, aku malah merasa lega.

Aku sempat menggumamkan terimakasih, yang dibalas Jinhye dengan satu senyum getir, sebelum Jinhye menyeret kopernya menjauh, pergi dari rumah yang sudah ia tinggali selama tiga tahun ini. Meninggalkanku sendiri dengan perasaan aneh yang menggerogoti.

Cukup lama aku bernostalgia, menerawang, dan mengingat-ingat sampai akhirnya dering ponsel membuyarkan segala lamunanku. Kurogoh saku mantelku, meraih sebuah benda putih dari dalam sana. Lantas segera menggeser layarnya dan menempelkannya pada telinga kananku.

Dari gadis itu, gadis yang sekarang berstatus sebagai kekasihku. Dia memintaku untuk menjemputnya dan menemaninya makan malam bersama. Langsung saja kupenuhi dengan mudah. Dia kekasihku, orang kedua yang berhak mendapatkan waktuku—setelah keluargaku tentunya. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk menolak.

Kumasukkan kembali ponsel tersebut ke tempatnya lalu menoleh menatap Jinhye.

Jinhye masih asyik mengamati sepasang ayah-anak yang tengah bermain layangan, membuatku tidak tega untuk segera mengakhiri pertemuan pertama kami. Tapi mengingat kekasihku bukanlah orang yang sabaran, aku menjadi yakin kalau mengunjungi gadis yang suka merajuk itu adalah pilihan tepat.

Jadi, aku menegakkan dudukku, memerbaiki letak syalku—agar bisa menutupi wajahku—dan kembali menggunakan kaca mata hitamku. Lalu bangkit berdiri, menatap ke arah mata coklat yang sudah memberanikan diri untuk balik menatapku.

“Maaf, aku harus pergi. Sampai berjumpa lagi.”

Kusunggingkan sebuah senyum miring meskipun aku tahu bahwa hal itu sia-sia saja—aku memakai masker. Memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana dan berbalik, berniat  melangkah menuju mobilku saat suara lirih Jinhye yang memanggilku terdengar, menghentikan langkahku sehingga aku berdiam di tempat. Terdengar tapak sepatunya yang berjalan dengan tergesa-gesa ke arahku sebelum digantikan oleh wujudnya yang berada tepat di hadapanku.

Jinhye menggigit bibir bawahnya sembari memegangi tali tas tangannya erat-erat, nampak menimbang-nimbang sejenak sebelum ia merogoh sesuatu dari dalam tas coklat tuanya dan mengeluarkan secarik kertas usang dari dalam sana.

Jinhye mendongak menatapku, memberikan senyumnya yang terlihat dipaksakan lalu dengan perlahan mengulurkan tangannya, menyerahkan kertas tersebut padaku

Pandanganku beralih dari kertas itu dan matanya yang menatapku sedih. Berulangkali. Sebelum akhirnya kuputuskan untuk menerimanya dengan satu tarikan lambat.

Kutatap wajah Jinhye lagi dan merasa sedikit berdebar saat menemukan senyum itu masih berada disana. Aku tidak tahu debaran itu diakibatkan oleh rasa bersalah atau malah sebaliknya. Tapi apapun alasannya, aku tidak suka raut wajah yang ia tunjukkan sekarang ini. Bibir itu tersenyum, tapi bola mata yang menahan air mata itu tidak mampu membohongiku.

Aku ingin bertanya saat Jinhye sudah terlebih dahulu bersuara.

“Itulah yang aku rasakan, sampai detik ini. Terima kasih, Lee Sungmin. Selamat tinggal.”

Lalu Jinhye berjalan pergi meninggalkanku dengan tubuh yang terasa kaku, masih syok akan ucapannya. Bahkan di malam kelam itu, Jinhye tidak mengucapkan salam perpisahan sama sekali. Apakah ini artinya kami memang tidak akan bertemu lagi?

Aku menatap punggung rapuhnya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pepohonan hijau yang menyegarkan. Lalu menghela napas, berniat menuntuskan tujuan awalku ketika kedua indera penglihatanku menyadari adanya secarik kertas usang di tangan.

Ah, ya, memo dari Jinhye.

Aku membuka lipatannya dan membaca isinya dengan saksama. Hanya dua baris kalimat, tetapi mampu membuat lututku lemas. Sekelebat bayangan akan malam pengakuan itu kembali menyeruak. Sehingga  tanpa sadar aku sudah jatuh terduduk, menatap kosong sekitarku dengan wajah yang mulai dibanjiri oleh air mata, manifestasi dari rasa sesak di hatiku yang terasa menghujam.

Wanita itu, Han Jinhye… Ya Tuhan, bagaimana bisa?

.

.

.

broken-heart-hurt-love-tears-Favim.com-230027

THE END

Advertisements

52 comments

    1. tanyakanlah pada lelaki tampan yang sekarang sudah berpaling HAHAHA. gatau sih ya, tapi kalo pun emang yang terakhir, aku harap ini cukup menghibur sebagai ending *asek* udah ah gausah sedih gitu. setiap awal kan pasti ada akhir hehehe. makasih ya 🙂

    1. EMANG SEMUA KARENA SUNGMIN! *capslock jebol* tapi mau gimana lagi, sungmin juga manusia biasa dan dia berhak bahagia HAHAHA. wah terimakasih ya ^^

      1. Hahaha iya sih tapi gak mo munafik kalo bikin hati kemretek yah :’D

        Sejujurnya gak suka sama tingkah ceweknya, masa iya seenak jidat ngekonfirmasi duluan hahahaha :’D

      2. kretek awalnya sih kalo aku. semakin kesini makin biasa aja. malah cenderung nganggep kalo sungmin masih single *plakk* SO DO I! gaada angin, gaada hujan, eh tiba-tiba ngabarin pacaran. skandal juga gaada, dulu digosipin pacaran cuma karena ada beberapa barang couple which is mean nothing–orang lain juga bisa lagi beli barang yang sama kayak sungmin yeee emang dia doang HAHAHA. kesannya posesif gitulah ceweknya he he he *senyum lima jari*

  1. ghin ini bukan akhir cerita mu kan sayg
    beneran lah eonni udh ngerasa gk enak neh bacanya, mana feelnya kenak banget

    ghina, eonni bner” udh jatuh cinta ma SungHye jebbal jangan berhenti nulis ne
    😥 😥 😥 😥 😥

    1. bukan, bukan akhir dari karya aku dalam dunia tulis menulis kok eon. nulis kan hobi aku, masa iya bisa hilangin gitu aja. tapi kalo akhir cerita sunghye… well, mungkin hahaha. tapi itu belum pasti kok. aku masih labil eon, ingat? kkkk~ semoga aja aku bisa menerima sungmin lagi seperti sediakala *loh* HAHAHA

      1. mungkin banyak yang buat ff castnya Sungmin, tapi sulit crik yg ngenak di hati. tapi SungHye udh benar” ngenak ghin. Klo dirimu akhiri ff mereka bedua, eonni galau.

        😥 😥 😥

  2. Akhirnya nemu juga isi suratnya Jinhye.
    Eeee, gimana ya nyimpulinnya? I mean, ff ini tuh deket-deket tren ff yang mulai booming saat ini ‘putus’. Tapi ff kakak keren soalnya ada alasan dibalik pembuatan bukan sekedar ikut tren aja. Yah apalagi kalo gak si Sungmin nikah… kkk~
    Semangat buat nulis lagi!

  3. Pliiisss kenapa akhir SungHye giniiiiㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ sedih gaketulungan ini….ngikutin mereka dari awal eh akhirnya ko gini<///////3. Lanjutin dong thor sesedih apapun itu:(((ㅋㅋㅋ

    1. sesuai dengan sifat manusia yang nggak pernah puas mba jadinya gitu deh hahaha. yup setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tinggal masalah waktu doang 🙂 salam kenal juga ya. silahkan~^^ terima kasih buat kunjungan dan komennya 🙂

  4. Jinhye hebat bgt ;)… Gadis tegar..

    Bagusnya ada sekuelnya ghina, buat pria tak berperasaan ini menyesal sedalm2 nya..cwo kayk dia di hajar aja…
    #kesel

  5. sumoah rasanya q pengin mbunuh sungminnnnnnnn
    nyekek dia…nendang dia…
    dan lelaki bejad kaya dia masih daoet cinta murni dari gadis sebaik itu???

  6. Kasihan Jinhye, knp Sungminnie oppa tega menyakiti istrinya sendiri dan dia berselingkuh dan meminta cerai, JinHye yg tersakiti justru msh tetap mencintai Sungmin oppa yg pernah 3 tahun mengisi hidupnya, sedih bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s