Honey for Hani

url

Untukmu

Dan untuk dia yang  memujamu…

.

.

.

His POV

Namanya Hani—begitulah kami memanggilnya. Seorang gadis berumur 18 tahun yang sudah menjadi teman sekelasku selama dua tahun. Tidak ada yang istimewa di awal pertemuan kami. Aku tidak mengenalnya dan mungkin begitu pula dengan dirinya. Letak kelas yang lumayan jauh menjadi alasan mengapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Ditambah dengan fakta bahwa aku bukanlah tipe siswa yang suka menyusuri setiap koridor sekolah demi menemui teman-temannya—aku tidak seterkenal itu sampai memiliki banyak kenalan—menyebabkan peluang kami untuk bertemu menjadi lebih sedikit.

Aku baru bertemu dengannya ketika memasuki kelas baru di hari pertama sekolah setelah menjalani libur kenaikan. Waktu itu jam masih menunjukkan pukul 7:02 AM sehingga kelas masih lenggang. Aku memilih tempat dudukku, menaruh tas dan mulai memerhatikan sekeliling ruangan. Pada saat itulah kedua indera penglihatanku mendapati dirinya tengah duduk di salah satu bangku, sibuk bermain dengan ponsel yang berada di tangannya. Kepalanya yang menunduk membuatku tak mampu melihat keseluruhan wajahnya kecuali gerak mulut mungilnya yang sedang menggumamkan sesuatu.

Gadis itu terlihat serius sekali sampai-sampai aku tidak berani melangkahkan kakiku untuk bergerak kearahnya dan mengajaknya berkenalan—aku memang tidak seberani itu. Akhirnya aku hanya diam di tempat sembari menopangkan dagu pada kedua punggung tangan yang kuletakkan diatas meja, menajamkan penglihatan pada sosoknya. Benar-benar mencoba mengamati setiap detail gerak tubuh yang ia lakukan, sekecil apapun.

Dia masih tetap pada posisi itu sampai seorang gadis—dengan tas mungil berwarna hijau yang sesuai dengan ukuran tubuh kurang tingginya—masuk ke dalam kelas dan menggebrak meja yang diduduki oleh gadis itu, membuat gadis tersebut mendongakkan kepalanya dan menatap gadis yang baru datang dengan wajah sumringah. Mereka saling melempar senyum kecil sebelum Gadis Pendek Bertas Hijau mengambil tempat tepat dibelakang gadis tersebut. Sepersekian detik kemudian, gadis itu sudah memutar tubuhnya sehingga ia jadi berhadapan dengan gadis yang kuanggap sebagai temannya. Dan sikapnya barusan secara tidak langsung sudah memberiku kesempatan untuk fokus pada wajahnya.

Gadis itu manis. Matanya besar, hidungnya mancung, bulu matanya lebat dan lentik. Wajah ovalnya yang dilapisi kulit kecoklatan itu nampak menggemaskan dengan kedua pipi chubby. Aku suka caranya tersenyum saat temannya mengucapkan lelucon dan caranya menutup mulut dengan salah satu tangan ketika ia tertawa terbahak-bahak. Semua hal itu nampak menggemaskan di kedua bola mataku.

Sejak saat itu, setiap harinya kuhabiskan dengan mencuri pandang kearahnya. Setiap jam istirahat tiba aku akan berlama-lama merapikan bukuku yang berserakan diatas meja, mencari alasan supaya aku tak perlu ikut turun bersama temanku ke kantin. Aku hanya tidak ingin menghilangkan satu kesempatan untuk memandanginya—gadis itu jarang sekali ke kantin dan lebih memilih menghabiskan waktu senggang di dalam kelas, bercengkerama dengan teman-temannya.

Hanya saat istirahatlah aku memberanikan diri untuk maju beberapa meter lebih dekat dengannya. Entah itu berjalan di lorong barisannya atau malah duduk dibangkunya. Aku ingin dia menyadari kehadiranku. Menyadari bahwa ada seorang pria yang mengaguminya dan menjadikannya alasan untuk datang ke sekolah setiap harinya.

Hani, seorang gadis yang menjadi korban dari keegoisan hatiku. Love at first sight.

***

“Kalau kau suka padanya, kau harus mengatakannya. Kau tidak boleh memendamnya seperti ini. Apa kau tidak ingin mengetahui perasaan gadis itu padamu? Cobalah menjadi pria pemberani yang kuat menerima segala risiko. Kau bukan seorang pengecut, kan?”

Kata-kata seorang temanku yang terkenal sebagai playboy kelas kakap kembali terngiang di kepalaku. Aku memang sudah menceritakannya kepada seluruh teman baikku—yang berada di kelompok bernama KRC—sejak sebulan lalu. Menceritakan awal mula aku jatuh hati padanya, mencuri pandang sampai-sampai ketahuan oleh salah seorang temannya, mencari perhatiannya dengan bersikap sok akrab meskipun selalu diakhiri tingkah konyolku karena gugup, semuanya. Mereka sudah mengetahui segalanya dan merasa iba denganku. Maka dari itu, mereka memberikanku solusi yang membuatku sedikit merasa terbebani.

Aku bukan Tom Si Bule Belanda yang mudah sekali mengumbarkan kata-kata manis kepada semua wanita  pujaannya. Aku juga bukan Ki yang rajin memberikan kode untuk orang yang ia sayang. Apalagi Si Bad Boy Xing yang terkenal seantoro sekolah karena keberaniannya mencium gadis yang ia sukai di depan ruang guru. Aku bukan salah satu dari mereka yang memiliki kemampuan sebaik itu dalam menangani seorang gadis. Bahkan memiliki 30 puluh persennya saja tidak. Aku memang pecundang yang hanya berani bertindak di belakang saja tanpa merasa harus diketahui oleh gadis itu. Aku memang orang yang seperti ini, penakut dan ‘kerdil’.

“Melamun lagi?”

Tubuhku tersentak ke belakang saat mendengar suara lembut dan hembusan napas yang menghampiri indera pendengaranku. Refleks salah satu tanganku bergerak untuk mengelus dadaku, berharap hal itu dapat meredakan suara detak jantungku yang mendadak menjadi dua tingkat lebih cepat.

Kutolehkan kepalaku kepada sumber suara dan segera menatap garang seorang lelaki berambut rapi yang berdiri tidak jauh dariku, sedang menunjukkan barisan gigi putihnya, nyengir tidak bersalah. “Kenapa kau berbisik di telingaku, hah?” Kalau saja dia bukan temanku, aku pasti sudah menendang tubuh kurusnya itu sejauh mungkin.

Aku mengumpat kesal lalu mengggerakkan kepalaku ke arah lain—menolak menatap wajah-polos-tapi-menyebalkan miliknya—masih dengan napas yang belum beraturan, benar-benar syok atas leluconnya yang menjijikkan barusan. Bisakah kau bayangkan jika salah seorang temanmu membisikkan sesuatu padamu menggunakan suara pelan yang terdengar seperti desahan? Aku berani menjamin kau pasti akan sama merindingnya denganku! Dia laki-laki dan aku pun begitu. Tidakkah dia berpikir kalau perbuatannya sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman?

Baru saja aku memikirkan peluang gadis itu melihat hal ini dan sedetik kemudian semua itu bener-benar terjadi. Gadis itu tiba-tiba saja sudah berdiri di depan kelas, menatap kearahku dan temanku secara bergantian. Keningnya berkerut dan raut wajahnya nampak bingung. Ditangannya masih ada bungkus Chitato yang sudah kosong dan remuk. Sepertinya dia berniat membuang sampah saat temanku itu melakukan hal konyol—yang membuat bulu kudukku merinding—dan memilih mengamati kelakuan yang kami lakukan. Ya Tuhan, mengapa timing kami tidak pernah tepat?

Jantungku mencelos saat mendapati pandangan matanya yang penuh rasa penasaran seolah bertanya pada diri sendiri apakah-mereka-sering-melakukannya. Dia berjalan kearahku dan membuang sampahnya dengan santai. Lalu menoleh sebentar ke arah kami, menunjukkan ujung bibirnya yang berkedut geli dan masuk kembali ke kelas.

Pada detik itu juga, aku berharap Tuhan menghentikan waktu sehingga aku bisa mengambilnya sebagai kesempatan untuk lari. Aku merasa harus menyembunyikan wajahku yang tidak tahu dirinya malah memerah. Malu yang kurasa memenuhi sekujur tubuhku, membuatku hanya bisa berdiam diri di tempat tanpa sanggup melakukan apapun. Apa gadis itu baru saja mengolokku secara gamblang? Seseorang, tolong tenggelamkan aku sekarang juga!

“Tidak usah stres begitu.”

Aku menoleh kearahnya dengan wajah suram yang dibalas temanku itu dengan satu senyum polos, seolah sesuatu yang terjadi beberapa saat lalu tidak mampu merusak citraku sebagai lelaki sejati. Mendadak rasa kesal yang sempat teredam kembali memuncak. Aku mendekatinya lalu menarik kerah seragam yang ia kenakan. Sengaja mengatupkan rahang erat-erat, sebisa mungkin menahan emosi agar tak mencuat keluar. Dadaku terasa panas dan aku butuh pelampiasan.

Baru saja aku melayangkan tanganku hendak meninjunya, wajahnya langsung pucat nampak tak bernyawa, sedangkan matanya membesar, menatapku waspada. Jadi, alih-alih menampar pipinya dengan kepalan tanganku yang mengeras, aku malah mengalihkannya ke kepala dan menarik rambutnya kuat-kuat. Semakin kuat tarikanku di helain rambutnya, semakin keras pula rintihan yang ia keluarkan. Dia bahkan sampai terbungkuk-bungkuk menahannya.

Kuakhiri siksaan itu setelah merasa cukup puas. Lantas mengusap kedua tanganku demi membersihkan minyak rambutnya yang menempel di telapakku lalu terdiam sejenak, terkejut mendapati beberapa helai rambut berawarna hitam pekat berguguran jatuh dengan lemasnya ke atas lantai putih di bawahku. Kualihkan mataku kerahnya dan tersenyum canggung. Tanganku menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku, menunjukkan secara jelas bahwa aku merasa tidak nyaman dengannya sekarang. Pantas saja tadi dia berteriak sekencang itu, ternyata aku memang sedikit berlebihan.

“Kau ingin membunuhku?” bentaknya dengan mata berkilat-kilat marah—setelah pulih dari syok—yang kubalas dengan cengiran penuh rasa bersalah. “Sialan.” Dia menundukkan kepala, menatap sedih pada rambutnya yang tergeletak tak berdaya di ubin itu. “Oh, rambutku yang malang.”

Baiklah, sepertinya sifat mendramatisirnya kembali lagi.

***

Her POV

Eunhee berlari menghampiriku sekembalinya aku dari tempat fotokopi di lantai tiga. Dalam dua puluh detik, gadis itu sudah berdiri dihadapanku dengan napas yang tidak teratur dan segara menyambar tangan kananku yang bebas dari lembaran soal fisika. Kontan saja aku merasa terkejut dan mencoba menarik tanganku kembali. Tapi, gadis berambut sebahu itu menahannya sekuat tenaga sampai-sampai aku merasa kesakitan dan menyerah seketika. Tubuhnya yang tidak seberapa itu ternyata memiliki banyak kekuatan terpendam.

“Kau harus ikut denganku.”

“Kemana?”

“Kelas. Ada seseorang yang ingin memberikan penampilan terbaik—“

“Song Eunhee, cepat bawa dia kesini.”

Ucapan Eunhee terpotong oleh suara nyaring temanku yang bertubuh tinggi. Dia berada di depan kelas dan sedang melambai ke arah kami. Raut wajahnya cemas, membuat wajahnya terlihat aneh. Kedua buah kepala yang sempat menoleh ke belakang demi mendengarkan teriakan seorang gadis di dekat tangga tadi, segera membalik dengan cepat sehingga kami berdua saling bertatapan. Eunhee menggigit bibir bawahnya lalu mencengkeram pergelangan tanganku lebih erat lagi. Sepasang bola matanya fokus padaku, membuatku takut. Selama tiga tahun kami sekelas, tidak sekalipun aku pernah melihatnya seperti ini. Song Eunhee tidak pernah terlihat seserius ini.

“Ada apa—sebenarnya?” Mendadak aku tergagap, memvisualisasikan rasa penasaran dan gugup yang mulai menjalar. Aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu, tapi wajah Eunhee benar-benar mengerikan. Eunhee menganggukkan kepalanya sekali seolah memberi tanda padaku untuk mengikutinya. Dan aku tidak sanggup menolak. Sekedar menanyakan untuk yang kedua kalinya pun aku tak berani. Nyaliku menciut dan aku tak mengerti penyebabnya.

Kami berjalan diatas koridor kecil yang terasa panjang. Padahal jarak antara tangga di ujung dengan kelas kami tidaklah begitu jauh. Tapi, mengapa semua terasa begitu lambat? Seperti di film horor yang aku tonton semalam, semua berjalan pelan, hati-hati, dan mencekam. Astaga, aku merinding. Bulu kudukku pasti sudah naik.

“Berhenti memikirkan yang tidak-tidak, Hani.”

Aku tersadar dari lamunanku dan menatapnya bingung. Dia sudah melepaskan pegangan tangannya di pergelanganku. Dan hal itu membuatku sadar bahwa kami sudah sampai di depan kelas. Pintu bertuliskan 12-3 itu tertutup sangat rapat, membuatku mengerutkan kening bingung. Apalagi semua anak di kelas kami berada di luar dan menatapku aneh sambil berbisik-bisik seru. Ini kejadian yang langka sekali mengingat lima belas menit lagi pelajaran ke-4 akan segera dimulai. Dan kelas kami dipenuhi dengan anak-anak pintar yang memiliki hobi berkutat dengan soal-soal. Jadi, ada apa dengan mereka hari ini?

“Hani-ya,” ujar Eunhee setelah menepuk pundakku dengan lembut. Aku menoleh dan melihat ke arahnya meskipun otakku masih menerka-nerka. Gadis itu tersenyum penuh makna lalu melanjutkan ucapannya “buka pintunya dan masuklah. Kami akan mengikutimu dari belakang.” Setelah itu dia mendorongku maju selangkah sehingga aku berada tepat di depan kelas. Kubulatkan tekadku untuk membuka pintu yang ada di depanku. Tanganku berada di ganggang dan dalam sekali sentakan, benda berbahan kayu itu sudah terbuka dengan lebar. Dan sambutan yang aku terima benar-benar membuatku membulatkan mata. Syok!

Beautiful girl nae gyeoteseo

(Gadis cantik disebelahku)

Utgo inneun niga neomu joha nuni busin geol

(Aku menyukaimu yang sedang tersenyum) 

Areumdaun neol

(Kau cantik memesona)

Humchil su itge neoreul wonhae

(Aku bisa menculikmu, aku menginginkanmu)

‘Coz you are

(Karena kau adalah) 

Special you~ My special girl…

Tepat di depanku berdiri seorang pria berkacamata. Pria itu. Pria yang kata teman-temanku selalu memandangku penuh akan rasa cinta. Dia disana, dengan gitar klasik ditangan dan baru saja menyanyikan sebuah lagu dari penyanyi kesukaanku. Kalian dengar? Dia bernyanyi. Iya, bernyanyi. Melantunkan nada-nada dan lirik puitis itu dengan suaranya yang khas. Aku menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Benar-benar tidak mengerti akan apa yang terjadi barusan. Dia menatapku kikuk lalu mengulurkan tangannya ke belakang, mengambil sebuket bunga mawar merah segar dari meja yang berada di belakangnya dan memberikannya kepadaku.

“Aku tahu ini terburu-buru, tapi aku… suka. Aku menyukaimu.”

Selanjutnya aku mendengar sembilan orang teman baiknya bersorak-sorai sedangkan hampir seluruh teman sekelasku cekikikan, kecuali sahabat-sahabatku tentu saja. Mereka menatapku cemas. Kutundukkan kepalaku sebentar, sekedar mengumpukan kesadaranku yang sudah berceceran kemana-mana, lalu kembali menatap ke arahnya. Fokus, tajam, dan mengunci.

Aku bisa melihat keringat sebiji jagung mulai membasahi wajahnya. Tangannya yang terulur ke arahku juga bergetar. Ditambah dengan wajahnya yang memerah, aku yakin dia pasti malu setengah mati. Tapi, bukan itu yang menarik perhatianku. Raut mukanya. Nampak cerah seolah-olah beban yang ia tahan selama ini terlepas sudah. Dan itu membuatku geram. Entah kenapa emosi mulai menguasaiku. Aku merasa dipermainkan. Dipermalukan di depan banyak orang, di depan semua teman-temanku.

“Kau ingin tahu jawabanku?” tanyaku pelan sembari berusaha menahan kemarahanku.

Pria itu diam mematung dan kuanggap sebagai jawaban iya. Aku pun maju selangkah, mengambil bunga mawar yang ia berikan padaku lalu memberikan senyum kakuku padanya. Kubiarkan hal itu selama beberapa detik, membiarkannya mencerna baik-baik. Ketika otaknya berhasil menyimpulkan sesuatu, wajahnya langsung berubah sumringah. Dia mulai berteriak-teriak, menumpahkan rasa bahagianya sendiri. Sembilan temannya segera menghampirinya dan memeluknya bergantian, mengucapkan selamat kepadanya.

Pada saat itulah kulemparkan buket bunga itu ke atas lantai. Berdiri diatasnya dan menginjak-injaknya sampai layu. Seketika keriuhan yang sempat terjadi menghilang, tergantikan dengan kesunyian yang mencekam. Puas menghancurkan bunga itu, aku mendongak ke arahnya, menatap dirinya  yang ternganga karena belum bisa menguasai diri. Kulipatkan kedua tanganku di depan dada, memberikan kesan dingin pada diriku sendiri dan mengucapkan kata-kata bernada sinis.

“Apa sempat terpikir dibenakmu kalau aku juga menyukaimu? Kenapa kau naif sekali?” ucapku dingin, membuat mulutnya terbuka semakin lebar. Kuberikan senyum separuhku kepadanya, sekedar mencoba mengintimidasinya. Dan berhasil. Dia mengkerut di tempat dan hal itu membuatku merasa setingkat lebih baik.

Setelahnya, aku mundur perlahan dan membalikkan badanku, berniat pergi dari tempat ini saat sesuatu terlintas di benakku. Kuhentikan langkahku dan tanpa melihat ke belakang, aku mengucakan sebuah kalimat yang mungkin membuatnya semakin sakit hati, “Aku cukup terhibur. Terima kasih.”

Lalu aku menerobos kerumunan yang mulai sibuk menceritakan reaksiku tadi dan berjalan keluar dengan cepat. Sengaja menundukkan kepala karena aku tidak akan sanggup melihat tatapan semua orang yang tertuju kearahku. Tepat saat aku sampai di ujung koridor, kudengar teriakan para sahabatku memanggilku. Aku sempat berhenti sejenak, tapi kemudian memilih melanjutkan langkahku kembali. Aku terlalu malu dan merasa tidak sanggup jika harus bertemu dengan mereka sekarang. Rasa itu sudah menguasai diriku dan membuatku ingin bersembunyi. Dimana saja, asalkan aku bisa menghilang untuk sejenak.

Ya Tuhan, mengapa malah jadi begini?

END

Eng ing enggg ini dia ff sebagai birthday gift yang mau aku kasih ke temen aku, hanjeyoo. Padahal doi ulangtahunnya bulan Maret lalu tapi aku malah ngasihnya 3 bulan kemudian. Hiks, maafkan temanmu ini yang terlalu malas untuk sekedar membuka laptop.

Hani happy birthday. Maaf kadonya telaaaat banget. Semoga lebih dewasa dan jadi anak sholehah yang bisa membanggakan dan membahagiakan orang-orang disekitarnya terutama orangtua dan keluarga aamiin. Sukses selalu ya~

Serius ini ff nya jelek sekali. Ceritanya abal-abal ya. Posternya juga ga sesuai sama kemauan Hani, maaf ya. Gaada foto Baekhyun yang pas soalnya. Aku udah buat ini dari kapan tahu tapi selalu oh selalu mood jadi masalah. Baru hari ini aku selesain, jam 1:29AM. Mata berat, kepala pusing, ngantuuuuk. Oya, sebagai balasan cowok itu atas sikap Hani yang rada-rada di ending, dia update di ask.fm dengan foto seperti ini:

vanvan

NYAHAHAHA jangan timpuk aku, Han, please. Hahaha *kemudian saya dibuang jauh-jauh*

Advertisements

9 comments

  1. *SENSOR* *SENSOR *SENSOR* SPEECHLESS AKU BACANYAAAA HAHAHAHAHAHA (bayangin aku ketawa sambil mukul-mukul meja)

    sumpah ya mau pengsan aku kebanyaan ketawa sama mukul-mukul tangan gak jelas. gak kebayang kalo dia betulan kayak gini. astaghfirullah =))

    overall udah bagus. penggambaran perasaan si kawan itu jelas kali, bahasanya, udah gak diragukanlah kalo Mbak satu ini, rapi dimana-mana. posternya juga okelah, masih nyambung kalo ff-nya tenyang cinta bertepuk sebelah tangan wkwkwk.

    untung aja gak betulan ceritanya ya. tapi endingnya woy, endingnya. aku juga sempat shock kukira si Hani mau nerima dia eh taunya malah dipijak-pijak bunganya. betul-betul ngayal kau buatnya ya. emang sih kalo itu betulan kejadian aku bakal nolak tapi aku kan nggak bakal setega itu cintaaaaa T_______T pasti bagus-bagus aku bilangnya aku kan gak mau menyakiti perasaan orang eaaaaaa berenang aja aku di aer-aer ngomong kekgini =))

    kalo masalah ask.fm itu aku udah liat kok. tapi aku gak mau ge-er ya. manatau itu untuk orang lain 🙂

    BARU KALI INI ULTAH DIBUATIN KARYA TULIS. MAKASIH YA SAAAY UNTUK FF-NYA. GAPAPA TELAT YANG PENTING ADA HAHAHA THANKS GOMAWO ARIGATOU XIEXIE! SALAM NAVY!

      1. Ya Allah han cepet juga ya bacanya hahaha. aku juga ga kebayang loh. tau sendiri kan dia itu orangnya grogi an. ketauan ngelirik aja langsung malu terus marah, apalagi kalo buat gituan hahaha.

        aduh dipuji-puji sama cast ff aku. istilahnya aku sang penulis skenario, terus kau aktrisnya nyahahahaha.

        emang ngayal kali aku han. gatau kenapa jadinya malah kayak gitu. salahin otak sama tangan aku yang semangat kali ngerjainya. sekali-kali garang perlu han. itu artinya menunjukkan sisi lain dari seorang Hani yang selalu lemah lembut eseeeh hahaha. lagian kalo ngomong baik-baik ga nyess jadinya di doi kkkk. jad kalo mau nolak sekalian bikin remuk biar makyuss.

        iyasih gatau juga buat siapa. tapi karena ff nya juga kayak gitu, jadi aku buat aja. kan pas tuh sama momennya hihihi.

        IYA SAMASAMA HAN SAMASAMA. GA NYANTE NIH CAPSLOCK SEMUA. SALAM VANVAN. HORMAT GRAK! EAAAAA

    1. anu… itu mbak… si hani ada di komen paling atas, jadi silakan ditanya langsung kenapa responnya begitu. btw, semua adegan di cerita ini murni khayalan saya doang HAHAHA. makasih mbaaak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s