M.D

34448091896

Semua berawal ketika salah seorang temanku yang tengik dan mengaku istri dari banyak idol Korea menunjukkan fanfiction buatan penulis favoritnya, memaksaku membaca karya-karya penulis itu yang menurutnya jauh dari kata buruk. Dan setelah ikut-ikutan menghabiskan waktu menyendiri di sudut kelas, mencuri-curi jam pelajaran dengan handphone tetap diatas tangan, mendadak saja aku menyukai semua tulisannya. Tidak hanya itu, bahkan aku mencoba merealisasikan segala sesuatu yang ia tuangkan di setiap karyanya. Aku mulai menganggap angka 9 sebagai angka keberuntunganku dan mencari lelaki berjari tangan indah.

Dan saat itulah aku menemukannya. Duduk dihadapanku, mengerjakan tugas kelompok yang diserahkan Guru Ekonomi, memberikan fokus penuh pada jari-jari tangannya yang cantik. Jari-jari itu kecil, panjang dan lentik sekali. Terlihat halus dan lembut seperti kulit bayi. Itu tangan paling luar biasa yang pernah aku lihat sepanjang hidupku. Detik itu juga, aku mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Dia hanya teman sekelasku yang kebetulan mahir dalam hal dance. Fisiknya juga biasa saja—tidak semenawan Cho Kyuhyun idolaku yang memiliki wajah tampan atau Choi Siwon yang memiliki badan proporsional. Kemampuan otaknya juga berada dalam posisi standar. Atau kalau boleh aku katakan, kepintarannya bernilai 7 dari 10 poin. Itu artinya dia tidak termasuk dalam golongan orang jenius dan tidak pula masuk dalam golongan orang tak cerdas (aku tidak suka menyebutnya bodoh karena menurutku kata itu terlalu kasar). Intinya, dia hanya lelaki biasa seperti para lelaki lainnya diluar sana.

Sebelumnya, sudah ada seseorang yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya padaku. Memberitahukan kepada teman-temannya sehingga mereka menggodaku habis-habisan, memberiku hadiah berupa boneka teddy bear besar di perayaan hari ulang tahunku yang ke 15, dan terus-terusan mengirimi pesan singkat—yang menurutku menggelikan—hanya untuk mendapatkan respon dariku. Semakin sering ia menghubungiku, semakin rajin pula aku menghindarinya.

Tapi dengan dia, aku tidak pernah merasa muak apalagi jenuh. Yang kurasa malah sebaliknya. Aku ingin dia menghubungiku setiap hari, menyapaku dikelas, mendiskusikan masalah-masalah umum, mengerjakan tugas bersama, dan sebagainya. Apapun itu, asalkan melakukan segala sesuatunya bersama dengannya, aku merasa bahwa aku akan bahagia. Perasaan nyaman itu selalu hinggap tiap kali ia berada didekatku. Dan aku dengan segala upaya berusaha agar dia tetap berada dalam jarak pandangku.

Mungkinkah ada yang salah denganku? Aku menolak lelaki pertama dan malah menaruh perhatian pada teman sekelasku yang jelas-jelas tidak terlalu menonjol. Entah karena kulitnya yang lebih cerah dari lelaki pertama, atau rambutnya yang nampak lucu seperti duri-duri landak, atau karena kacamata berbingkai hitam yang bertengger manis dihidungnya, aku tidak tahu. Tapi yang pasti, dia sudah membuatku jatuh dalam pesona yang tidak ia sadari.

Lelaki itu, teman sekelasku. Aku menyukainya.

***

Liburan sekolah memang menyenangkan, apalagi jika dihabiskan bersama teman-teman seperti ini. Kami pergi ke pantai dan menginap disalah satu hotel selama dua hari satu malam. Pesta barbeque, bernyanyi bersama, melepas tawa dan bermain seharian menjadi aktivitas kami. Tidak ada buku, tidak ada belajar. Hapuskan sejenak pikiran tentang masa depan dan nikmati hari ini. Bukankah masa-masa sekolah memang selalu terasa menyenangkan untuk dikenang nantinya?

“Ayo kita kesana.”

Seorang temanku mengulurkan tangan kanannya yang kubalas dengan tatapan bingung. Aku sedang dalam posisi enak—berada dibawah rindangnya pohon sembari menggerakkan telapak kaki demi merasakan beribu-ribu pasir pantai yang terasa menggelitik. Tapi, temanku ini dengan tidak sopannya malah menarik paksa lengan atasku sehingga aku berdiri dengan tubuh yang limbung.

Dia langsung menyeretku pergi. Membuatku melontarkan umpatan-umpatan kecil yang kuyakini tak sampai masuk ke dalam indera pendengarannya. Hanya bisa pasrah ketika rasa perih mulai terasa pada pergelangan tangan kananku. Sial. Dia mencengkramku terlalu kuat.

“Aku tidak akan kabur. Lepaskan tanganku.”

Dia berhenti berjalan, otomatis membuatku menghentikan langkahku pula. Kepalanya menoleh kearahku dengan senyum tipis yang nampak licik.

“Aku tidak mau mengambil risiko,” ujarnya dengan nada yang dimanis-maniskan lalu menarikku lagi. Kali ini membawaku berlari sehingga mau-tidak-mau aku harus mengikutinya. Seandainya tidak ada larangan untuk melakukan kekerasan pada manusia, aku ingin sekali mencekiknya sekarang.

Apa dia pikir ini adalah film India dimana pemeran utamanya melakukan adegan kejar mengejar? Jangan katakan setelah ini dia akan mengalungkan selendang dileherku dan benar-benar mempraktekkan adegan menjijikkan itu.

“Nah, setelah ini kau pasti akan berterimakasih padaku.”

Aku mengabaikan ucapannya tapi masih setia mengikutinya dengan tampang kesal luar biasa. Memilih mengedarkan pandangan kearah pantai yang berada beberapa puluh meter di depanku.

Disana teman-temanku saling berpegangan tangan, membentuk pola lingkaran yang sangat besar. Seseorang yang tidak aku kenali berada ditengah-tengahnya. Wajahnya tertutupi karena ia sedang berjongkok, sibuk menulis sesuatu diatas pasir. Tapi ditilik dari segi rambut dan penampilannya, aku merasa sangat familiar. Postur tubuhnya juga mengingatkanku pada seseorang yang—ya ampun!

“Dia sudah menunggu. Lelaki pujaanmu.”

Ucapan temanku yang suka seenaknya ini, membuat keterkejutanku semakin menjadi. Sialan. Aku berharap kalau ini hanya khayalan aku saja. Oh, ayolah. Untuk apa dia menarikku kesini dan demi apapun yang ada didunia ini, aku benci jika ia sudah mulai memaksaku berdekatan dengan pria itu.

Si Gadis Pemaksa yang berstatus sebagai teman baikku itu mendorong tubuhku hingga masuk ke dalam lingkaran yang diciptakan teman-teman sekelasku. Aku menunduk, tidak berani menatapnya yang kini sedang berada pada radius kurang dari satu meter denganku. Hanya ada kami berdua ditengah-tengah lingkaran tersebut, membuatku semakin gugup saja.

“Hei…”

Dia memanggilku yang kurespon dengan memainkan kuku-kuku jemariku. Rasanya tubuhku panas dingin. Aku jadi ingin memiliki kantong ajaib Doraemon agar bisa menghilang kemana saja. Terutama jika aku sudah terjebak di situasi yang membuatku bingung seperti ini.

“Aku tidak tahu sejak kapan tapi aku… menyukaimu.”

Selanjutnya yang kurasakan adalah jantungku seolah berhenti bekerja sebagaimana mestinya. Napasku mendadak tertahan, membuat kedua paru-paruku berteriak memintaku untuk segera memberinya oksigen. Dia tidak sedang bercanda, kan? Dia bukannya ingin mempermalukan diriku dihadapan seluruh teman sekelasku, kan? Rasanya seperti mimpi. Apa dia benar-benar mengucapkannya?

“Jadi, bagaimana? Kau mau mencobanya denganku?”

“Mencoba apa?”

Bodoh kau, umpatku pada diri sendiri. Kenapa malah membalas suatu pertanyaan dengan pertanyaan pula? Dan kenapa harus pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulutmu? Bagus. Entah apa yang dipikirkan pria itu nantinya setelah melihat betapa idiotnya dirimu. Tinggal menunggu saja sampai ia mengatakan kalau ia hanya bercanda. Dasar payah.

Aku masih memaki diriku dalam hati sebelum sebuah tangan menggenggam kedua tanganku. Aku memberanikan diri untuk mendongak. Dan hal pertama yang aku dapati adalah wajahnya yang berada tidak jauh dariku.

Wajah tampan itu memerah, entah karena sinar matahari yang menyirami mukanya habis-habisan atau karena ia sama gugupnya denganku. Apapun alasannya, aku sama sekali tidak peduli. Yang aku pedulikan sekarang, kenapa ia memegang tanganku dan menatapku dengan wajah penuh harap?

“Aku yakin kau mengerti hubungan apa yang kumaksud.”

Oh, sialan. Rasanya-rasanya aku ingin mengiyakannya dengan suara keras. Tapi, terkutuklah jiwa pemalu yang mengisi tubuhku lebih daripada seharusnya. Pada akhirnya aku hanya menggangguk dengan amat pelan, menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku yang dengan kurangajarnya berani merona.

Aku menggigit bibir, benar-benar merasa malu dan senang. Namun kemudian, dia meremas tanganku yang berada digenggamannya sehingga aku mendongak dan mendapati wajah berbinarnya di depanku. Raut lega dan kebahagiaan tercetak jelas disana, seolah ia baru saja mendapatkan setumpuk hadiah yang ia inginkan selama ini.

Aku masih memuaskan diriku dengan ketampananannya yang terlihat menyilaukan dimaku saat tiba-tiba ia menarik bibirnya keatas, membuatku terdiam seketika, terpesona untuk beberapa detik yang terasa begitu lama. Lututku lemas, kepalaku berkunang-kunang dan aku yakin itu semua disebabkan oleh senyuman manis yang ia tunjukkan padaku barusan.

Seharusnya ada seseorang yang melarangnya untuk tersenyum begitu mengangumkan. Seharusnya dia tidak berada begitu dekat denganku. Seharusnya lelaki ini tidak menggenggam erat tanganku seperti sekarang. Seharusnya—

“Terima kasih.”

Oh, jantungku. Kumohon tetaplah berdetak dan tidak membuatku malu! Sangat tidak lucu jika aku mendadak pingsan disini hanya karena sebuah senyuman. Catat, HANYA SENYUMAN. Astaga, mau ditaruh dimana wajahku jika semuanya benar-benar terjadi?

Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya lambat-lambat. Merasa ingin membalas senyumannya tapi bibirku terasa kaku. Seluruh organ tubuhku mendadak disfungsional. Saat itulah aku mendengar suara teriakan dan sorakan yang melengking menyakitkan telinga. Dilanjutkan dengan meraka—teman-teman sekelasku—berhambur ke arahku, memberiku sebuah pelukan dan ucapan selamat. Begitu pula dengan teman-temannya. Mereka semua menyambut momen manis ini dengan kehebohan dan kemeriahan.

Diam-diam aku melirik kearahnya yang tengah tersenyum lebar di kerumunan teman dekatnya. Aku tersenyum sembari berulangkali mengucap syukur dalam hati. Sekarang, aku memiliki satu orang lagi yang bisa menjadi penyemangatku. Dan kau tidak akan tahu bagaimana hal sesederhana itu bisa menjadi salah satu dari sekian banyak faktor kebahagiaanku.

9 Mei 2013, akan kuingat tanggal itu selalu.

This fanfiction is dedicated to my best friend, Mayang. Happy birthday Mayang. Semoga apa yang diinginkan di tahun ini bisa tercapai. Amin.

Sori buat keterlambatan ff-nya, ya May. Padahal aku udah berencana buat ngepost ini pas di ulang tahun Mayang tanggal 16 November lalu. Endingnya gajadi karena moodku yang jelek.

FF-nya juga hancur sekali, ya. Adegannya maksa semua dan lari dari kenyataan *gubrak* Konfliknya juga gaada. Soriiiii lagi (>_<) Aku sengaja ga ngelanjutin sampai akhir karena itu bakal menyakitkan buat Mayang *ngeles* Jadi, yang aku tuangkan disini cuma momen bahagianya aja, yang sedih udah harusnya dilupakan, oke? Sip! Move on, move on! HAHAHAHA~

p.s: Itu tanggal jadiannya bener ga, May? Koreksi kalo aku salah. Biar diganti (=.=)v

Advertisements

18 comments

  1. Aku yg pertamaaa (>̯͡.̮<̯͡) baru baca awalannya aja itu udah seneng nya mintaa ampuuun!! Apa lagi kalo udah baca keseluruhannya. Hahahhaa " duri2 landak?!" Demi apa ini perumpamaan bikin ngekeh =)) duuh itu hahahhaa nggak tau deh mau koment apaan. Ini masih comment pertama tunggu setelah aku selesai baca yak 😉

  2. giiin huaa aku kira tadi yg pas saat ” tiba-tiba ia menarik bibirnya ke atas …” aku kira itu tadi mau dicium ;;) hahahhaa =)) ini aja aku baca nya udah ketawa2 sampe dikira mama aku didalam kamar aku udah gilak karna ketawa terus hahhaa.. makasiih kalli kadonyaa!!! gapapa deh telat yg penting puas dapet kado ginian tapi kependekan huaaa tapi bagus deng nggak sad ending hahaha nggak udah bener kok itu tanggal nya hehhe banyak yg menyimpang dr yg asli siih tapi overall bagus deng hehehe.. gimana kalo si doi baca ini yaa?? respons dia kayak gimana ya haha itu yg pertama kali ada di pikiran aku abis baca ini ff

    oh iya jangan bosen2 yak buat ff ntar kalo ada something lagi aku mau minta buatin ff ugak hahah sumpah itu keren loh kata2 nya yg pas di ” Diam-diam aku melirik kearahnya yang tengah tersenyum lebar di kerumunan teman dekatnya” kok rasanya disitu aku jadi cewek yg paling beruntung di dunia gitu ya 🙂 *ngefly* terus abis itu yg “Aku mulai menganggap angka 9 sebagai angka keberuntunganku dan mencari lelaki berjari tangan indah” tapi ini itu kok bisa beneran terjadi sama aku yaa?? semuanya selalu berhubungan sama 9 loh bahkan ultah mama dia sama mama aku itu sama persis tanggal sama bulannya. huaaah gatau lagi mau bilang apaan MAKASIIIH GINAAA :p

    1. aku baca komen mayang senyum-senyum geje masa hahaha. eh alhamdulillah ding kalo suka. nanti aku tambahin lagi ya buat sampe happy ending. soalnya emang udah kepikiran buat sekitar 2 atau 3 scenes lagi cuma malas nulisnya *ditendang* (-_-)v ciee cieee yang keingat masa-masa pacaran. palingan doi menganga ga jelas. atau malah merona sambil ngebayangin hari itu? MUAHAHAHAHA. tunjukkan saja ff ini ke dia biar ramai *loh* kkkkkk~

  3. sepanjang cerita aku banyak ngekeh HAHAHAHAHAHA.
    ghina! kau jahat kali sama si lek yang satu lagi. kok kayak menderita gitu kau buat dia disini. nanti dibaca dia kekmana ya? hahaha nangis langsung.
    yakin la aku seneng kali si mayang kau buatin ff ini. ntar buat sequelnya ya ghin. SAD ENDING. hahaha gak lah, happy ending aja. kasian si mayang ntar.
    aku juga kayak mayang, yang bagian bibir dinaikkan kukira mau di kisseu-nya. beda sama yang asli ntar.
    udah ya komennya. mau ketawa lagi. HAHAHAHAHAHAHA

    1. itulah akibatnya kalo cerita nyata dijadiin sebuah cerita, jatuhnya malah aneh. ih aku kan hanya berusaha menceritakan dari sisi mayang dan mengingat mayang emang udah ilfeel sama yang satu lagi jadi yaaaaa begitulah hahaha. sequelnya kapan-kapan ajalah, kalo mood ada kkk~ hayooo pasti gara-gara ff nc makanya sensitif sama kata bibir ya ckckckck. iya han, ketawa aja terus XD

      1. Kalo kata aswin, gile lu ndro… gak lah. Kau itu kebanyakan baca novel aliazalea sama kyuna yg NC HAHAHAHAHA!!!!!

  4. eh?ini pengalaman pribadi seseorang yah thor?kok romantis banget yah jadi envy akunya thor hiks TT tapi sayang cerita ini gk seperti pengalamnku *mendadak curhat* but overall aku suka kata2 yang ada di cerita ^^ hehe

    1. tepatnya pengalaman pribadi temen aku. kamu bilang romantis?! ya ampub aku jadi ngebayangin tuh anak satuㅡpemeran utama di ff iniㅡkalo baca komen kamu pasti nyengir aneh. well mungkin kamu bakal dapet pengalaman yang jauh lebih sweet dan romantis daripada ini. makasih udah suka sama ceritanya. padahal abal-abal loh HAHAHAHA

      1. gapapa thor membahagiakan orang ada pahalanya yah walaupun rada gk ikhlas HAHAHAHA boleh kali yah thor kapan-kapan cerita aku author buatin cerita?hmm gak maksa sih hehe yeah yeah sama-sama thor kan aku suka sama tulisan author as always ^^

  5. kya… ada ff baru nieh… oh ya, MD itu apaan yya saeng? *PLAKK lola mode on*
    nah, lain kali buat ff angst tapi happy ending yya, kebanyakan nyesek semua ffmu… #cuma opini…
    kkekeke, tapi 4 jempol buat authornya… yang 2 minjem pnya Kyuhyun.. hehehe
    Keep Writting!!!

    1. MD itu singkatan nama pemeran utama wanita dan ex nya hahaha. bukannya rata-rata ff aku gitu ya? sedih gajelas dulu dan berakhir happy ending. sad ending aku bisa dibilang 1 : 10 hahaha. tapi makasih buat komentarnya ya~^^

      waaah dapet tambahan 4 jempol. taruh dimana ya? simpan dulu kali ya. terimakasih~

    1. Ya Allah, ini pada ngira mau dicium padahal mah maksudnya nggak gitu 😦 Kalo penasaran, silakan hubungi sang pemeran utamanya langsung. Tuh ada di komen atas hohoho~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s