Bad Surprise

bad surprise

Hari Senin tengah malam ini, Sungmin dan Jinhye sedang bersantai menikmati waktu kosong di apartemen pribadi mereka. Jinhye sedang mengupas kulit apel dan memotongnya menjadi beberapa bagian lalu menyusun potongan-potongan apel itu dengan rapi di atas piring.

Sungmin berdiri di sebelahnya, menatap wajah gadis itu dengan raut datar, nampak sekali jika pria itu sedang kesal. “Kau yakin tidak mau menemaniku ke Shanghai? Cobalah pertimbangkan lagi,” tanya Sungmin lengkap dengan rengekannya

Tepat hari Selasa besok, Sungmin memang memiliki jadwal ke Shanghai untuk menghadiri sebuah konser akhir tahun bersama Super Junior M. Sejujurnya ia tidak pernah memaksa jika Jinhye menolak, mengingat gadis itu selalu mengabaikan permintaannya untuk menemaninya konser di luar negeri. Hanya saja, besok merupakan salah satu hari penting untuknya dan Sungmin sangat mengharapkan kehadiran Jinhye dalam perayaan ulang tahunnya yang ke 29 itu.

“Aku tetap tidak bisa. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku. Kau ingin aku tidak lulus dan mengulang kelasku lagi tahun depan?” balas gadis itu enteng, mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Sungmin lalu kembali melanjutkan kegiatan memotong buahnya.

Melihat wajah biasa Jinhye, membuat Sungmin sedikit kesal. Gadis itu terlihat santai seolah besok bukanlah hari bersejarah bagi suaminya sehingga ia tidak perlu melakukan suatu hal untuk Sungmin. Tetapi kemudian, Sungmin berpikir sebentar dan sedikit membenarkan perkataan gadis itu.

Jika Jinhye tidak lulus, itu artinya gadis bodoh itu akan mengulang lagi tahun depan dan hal tersebut benar-benar merepotkan. Sungmin tidak berniat untuk kembali menunda program anak yang sudah ia rencanakan secara diam-diam dari beberapa bulan yang lalu.

Ulang tahunnya atau anak? Sungmin mengacak-acak rambutnya frustasi. Memikirkan kedua hal yang bertolak belakang seperti itu membuatnya bingung.

“Kau tega sekali padaku,” ucap Sungmin akhirnya, memilih pergi dari dapur dan duduk di sofa dengan malas-malasan.

Pria itu menghidupkan televisi di sana, berungkali mengganti channel seolah menunjukkan secara terang-terangan bahwa ia sedang dalam mood yang tidak baik. Gadis itu tetap tidak peduli dan lebih mengutamakan aktivitas memotongnya.

Beberapa hari yang lalu, Jinhye baru saja diajari adik iparnya—Lee Sungjin—teknik memotong buah-buahan dengan cepat, baik, serta menghasilkan potongan yang cantik. Dan, gadis itu tidak mau membuang percuma waktunya hanya untuk membujuk Sungmin agar tidak merajuk lagi. Banyak kegiatan penting yang masih bisa ia lakukan di waktu santainya hari ini, kan?

Sungmin mengecilkan volume televisi ketika ia tidak mendengar suara jatuhnya barang-barang dari arah dapur. Ini aneh, mengingat sifat gadis itu yang sangat ceroboh dan memiliki kebiasaan untuk menghancurkan dapur selama ia sedang bereksperimen di tempat itu.

Sungmin memutar kepalanya ke arah belakang dan terkejut bukan main mendapati gadis itu  kini tengah menatap puas potongan buah-buahan berbentuk bunga di hadapannya. Kedua tangannya ia genggam di depan dagu dengan mata yang tidak lepas dari hasil karyanya.

Pria itu beranjak dari duduknya, menghampiri Jinhye dan berdiri di sebelahnya. Sungmin mengikuti arah pandang gadis itu dan mendekatkan wajahnya pada mangkuk yang berisi potongan buah-buahan itu, sehingga wajahnya dengan mangkuk hanya berjarak beberapa belas senti saja, lalu menggeleng pelan mendapati rupa potongan itu tidak sebagus ketika matanya melihat di kejauhan tadi.

“Ini buruk sekali,” ucap Sungmin jujur, membuahkan jitakan yang mendarat mulus di kepalanya. “Yak! Kenapa memukulku, hah? Aish, kau benar-benar istri yang sangat sadis!”

“Aku tidak menyuruhmu berkomentar, kau tahu?” Jinhye mendecak. “Kau membuat semangat memasakku menjadi runtuh,” ujar gadis itu lalu melepaskan celemek bermotif Pororo yang masih melekat di tubuhnya. Jinhye memberikan celemek itu pada Sungmin yang dibalas pria itu dengan kening berkerut bingung.

“Kau saja yang memasak makan malam yang sangat telat ini,” kata Jinhye lagi lalu dengan polos meletakkan celemek itu di atas telapak tangan Sungmin. Jinhye pergi ke kamar mereka di lantai dua, meninggalkannya sendirian di dapur yang hanya bisa melongo parah.

***

Sungmin keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian yang dipilihkan Jinhye untuknya. Gadis itu memang memiliki selera fashion yang lumayan baik sehingga Sungmin seringkali meminta gadis tersebut untuk menolongnya memilih pakaian. Meskipun terkadang jika Jinhye sedang kesal pada Sungmin, gadis itu sengaja memilihkan pakaian yang buruk dan membiarkan dirinya dipermalukan. Itulah salah satu kesialan apabila kau tidak memiliki hubungan yang normal dengan istrimu.

Pria itu berjalan ke arah cermin besar di ujung kamar, meneliti setelan pakaiannya sekali lagi, lalu menghela napas ketika teringat bahwa gadis itu tidak akan ikut bersamanya. Kepalanya menoleh, memerhatikan Jinhye yang kini tengah sibuk memasukkan beberapa potong pakaiannya ke dalam sebuah koper berukuran kecil.

Jika sedang seperti ini, gadis itu jadi terlihat seperti seorang istri yang sangat baik. Pemikiran itu membuat Sungmin tersenyum kecil lalu menghampiri gadis itu dan ikut duduk di tepi ranjang, tepat di hadapan gadis tersebut. Jinhye yang menyadari kehadiran Sungmin segera menghentikan kegiatannya memasukkan barang dalam koper lalu menatap pria di hadapannya itu dengan kening berkerut bingung. Pasalnya, pria itu menarik kedua tangannya sembari menatap matanya dengan pandangan sendu.

“Ayolah, temani aku ke Shanghai,” rengek Sungmin lagi.

Ini sudah kesekian kalinya sepanjang hari ini, pria itu terus meminta dan membujuk gadis tersebut untuk pergi, ikut bersamanya ke Shanghai dan jawaban yang diterimanya selalu sama, penolakan.

Jinhye menghela napas lalu menatap pria di hadapannya dengan wajah bersalah, membuat Sungmin melepaskan genggaman tangannya pada Jinhye dan beranjak ke meja rias, mencari kesibukan agar kekecewaannya menghilang dengan cara merapikan rambutnya sedikit menggunakan sisir. Dia tahu, gadis itu pasti akan tetap mengatakan tidak bisa dan jawaban itu jelas memengaruhi suasana hatinya.

“Kau tidak ingat besok tanggal berapa?” tanya pria itu, mendadak menghampiri Jinhye dan memegang kedua bahunya dengan kencang sehingga gadis tersebut mendongak, menatap Sungmin dengan raut wajah berpikir.

Pria itu menunggu dengan perasaan tidak keruan mendapati Jinhye yang masih menyipitkan matanya dengan kening berkerut. Lalu, tiba-tiba saja wajah gadis itu berubah cerah.

Gadis tersebut mengacungkan satu jarinya dengan senyum terkembang lebar di bibirnya, membuat pria itu secara tidak langsung menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman, merasa sangat antusias menunggu jawaban dari gadis itu.

“Tanggal satu Januari, kan? Ah, benar. Besok tahun baru. Astaga, bagaimana bisa aku melupakan hari penting itu,” ujar Jinhye lalu menepuk keningnya, sedangkan Sungmin di hadapannya  kini sudah menurunkan kedua tangannya pada bahu Jinhye dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Mendadak, terasa beban berat dipikul oleh pundaknya. Untuk yang kedua kalinya selama mereka menikah, gadis itu kembali melupakan ulang tahunnya. Apa kelahirannya ke dunia ini tidak membuat gadis tersebut senang sehingga ia dengan mudahnya melupakan hari itu?

“Kau kenapa?” tanya Jinhye begitu mendapati wajah murung Sungmin.

Sungmin hanya menggeleng lemah lalu mengembuskan napas dengan berat. Gadis itu, jika saja dia bukan istri dan orang yang sangat amat Sungmin cintai, Sungmin pasti sudah meneriaki telinga gadis bodoh itu sampai tuli.

***

Pudong International Airport

10:41 PM

“Nona. Kita sudah sampai. Nona…”

Seorang wanita menggerakkan bahu kanan Jinhye dengan pelan, membuat gadis itu tersadar dari tidur nyenyaknya dan mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela pesawat.

Gadis itu menguap sekali lalu membesarkan kedua bola matanya ketika mendapati seorang wanita dengan pakaian khas berada di depannya. Wanita yang jelas-jelas merupakan salah satu pramugari pada jasa pelayanan transportasi udara itu tersenyum lembut menanggapi keterkejutannya. Wanita itu terlihat sangat anggun dengan pakaian pramugarinya. Wajah oval, tubuh tinggi dan pipinya yang terlihat penuh membuat Jinhye merasa iri seketika. Itu benar-benar wajah dan tubuh paling memukau yang pernah dilihatnya.

Baiklah, sepertinya pramugari ini adalah seorang campuran. Bola mata bulat dihiasi dengan manik berwarna biru sudah pasti bukan milik orang Korea asli seperti dirinya. Meskipun mata gadis itu juga tidak kalah besarnya tetapi tetap saja, mata biru pramugari tersebut menarik minatnya. Apakah ada operasi mengganti warna manik mata di dunia ini?

“Kita sudah mendarat, Nona,” ujar pramugari berparas manis itu sekali lagi, membangunkan Jinhye dari segala lamunannya dan ketertarikannya pada mata wanita tersebut.

Gadis itu menganggukkan kepalanya berungkali sembari mengucapkan permintaan maaf, membuat pramugari itu menunduk sopan dan segera menjauh dari hadapan Jinhye. Dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi lalu menghela napas dalam-dalam.

Pesawat yang membawanya ke Shanghai ini memang baru saja mendarat beberapa menit yang lalu, hanya saja Jinhye sudah dapat melihat bagaimana sepinya tempat ini sekarang. Pantas saja pramugari tadi bersemangat sekali untuk membangunkannya dari alam mimpi.

Jinhye melepaskan safety belt yang melingkari pinggang rampingnya, bangkit berdiri dan mengambil kopernya yang berada pada bagasi kabin diatas kepalanya.

Gadis itu menunduk dan mendengus kesal mendapati sedikit noda cola pada mantel selutut berwarna kuning cerah yang tengah ia kenakan. Bibirnya mengerucut sedangkan kepalanya sudah menunduk dengan tangan yang bergerak-gerak disekitar noda tersebut, mencoba membersihkannya walaupun Jinhye sangat sadar bahwa bekas cola itu tidak akan hilang dengan begitu mudahnya.

Tidak mau terlalu pusing memikirkannya, gadis itu segera menyeret kopernya dan turun dari pesawat. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Jinhye berjalan menjauhi landasan dan memasuki bangunan bandara. Semoga saja, kehadirannya membuat pria itu terkejut dan merasa senang.

***

Suara musik pengiring disertai tepuk tangan membahana dari dalam stadion itu adalah tanda dari berakhirnya konser tujuh orang pria tampan yang masih berdiri di atas panggung dan tengah menunduk sembilan puluh derajat, melakukan penghormatan terakhir sebagai bentuk terima kasih kepada fans yang rela meluangkan waktu untuk menonton konser sederhana mereka. Setelah lampu panggung dipadamkan, para penonton pun segera keluar dari stadion tersebut.

Berbeda dengan seorang gadis yang mengenakan kaos kebesaran dan celana jeans panjang di sudut sana—mantel kuning cerahnya teronggok manis di lengan bangku yang ia duduki, dia masih setia berada di atas tempat duduknya sembari sesekali melihat ponsel dalam genggaman tangannya, mengecek sebuah pesan ataupun pesan masuk. Gadis itu memang disuruh oleh Zhoumi untuk menunggu sementara waktu di sini sehingga pria tersebut tidak curiga.

Kepalanya menoleh, memerhatikan fans—yang sebagian besar terdiri dari para remaja—masih mengantri di pintu keluar stadion. Terdengar suara cekikikan ataupun tawa dari beberapa remaja tersebut, entah membicarakan masalah apa, tapi gadis itu tahu bahwa topiknya pasti tidak jauh-jauh dari konser yang baru saja mereka tonton.

Sebuah panggilan pada ponsel gadis itu membuatnya menunduk dan dengan segera mengangkatnya begitu melihat nama penelepon pada layar ponselnya.

Yob—”

“Jinhye Nuna, cepatlah kesini. Sungmin Hyung sudah mengamuk.”

Suara imut dari pria berdarah China bernama Henry Lau itu membuat gadis tersebut tertawa kecil. Henry memberitahukan berita tadi padanya dengan cara berbisik tetapi jelas sekali suaranya bergetar menandakan bahwa pria yang dijuluki Mochi itu benar-benar merasa khawatir.

“Baiklah, aku ke sana sekarang.”

Ne, kami menunggumu.”

Gadis itu mematikan sembungan telepon dan memasukkan iPhone putihnya ke dalam saku celana. Mengambil kartu tanda pengenal—yang diberikan oleh Donghae kemarin—dari dalam tas dan mengalungkannya di lehernya. Kali ini, gadis itu akan berpura-pura menjadi staf SM sehingga orang lain tidak mencurigai dirinya.

Dia bergegas menyambar mantelnya, menyampirkannya di tangan lalu keluar dari bangku penonton dan masuk ke dalam backstage, merapikan poninya yang sedikit berantakan sembari menghela napas dalam-dalam.

Baiklah, kejutannya akan dimulai.

***

Costume Room, Backstage

11:48 PM

Sungmin menunjukkan senyumnya ketika beberapa staff yang dekat dengannya mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Tentu saja itu semua merupakan senyum palsu karena yang terjadi sebenarnya adalah pria itu tidak merasa bahagia sedikit pun. Ketika konser tadi, suasana hatinya memang sedikit membaik.

Suara teriakan dari ELF—nama fans Super Junior—membuat rasa lelah dan kesalnya sedikit berkurang. Apalagi saat ia melihat beberapa ELF menangis haru sembari menyanyikan lagu ulang tahun untuk dirinya. Mengingat hal itu semua membuat Lee Sungmin mengukirkan sebuah senyuman di bibirnya.

Sungmin mendongak dan mendapati Kyuhyun tengah bersandar di pundak kekasihnya. Begitu mendengar kabar kalau Kyuhyun kelelahan, gadis bermarga Song itu langsung ke mari dan memanjakan Kyuhyun dengan penuh kasih sayang. Ah, seandainya istrinya memiliki inisiatif dan kepekaan yang cukup tinggi seperti Eunhee, dia mungkin akan senang sekali.

Sungmin menunduk, menatap benda mati di genggamannya. Entah untuk ke berapa kalinya dalam satu harian ini, pria itu bolak-balik mengecek ponsel hitamnya, berharap ada telepon atau minimal sebuah pesan dari gadis tersebut. Tetapi, ia kemudian menyadari bahwa harapannya hanya sia-sia saja.

Gadis itu, bagaimana pun juga tidak akan tiba-tiba mengingat ulang tahunnya secara mendadak. Otak gadis itu memang sangat buruk dalam hal seperti ini, tetapi  seharusnya gadis itu bisa mengatasinya dengan menandai kalender atau apapun yang bisa mengingatkannya akan momen penting begini. Hal tersebut benar-benar membuat Sungmin merasa sangat kesal.

Sejujurnya dia ingin sekali menelepon gadis itu, memberitahukan bahwa malam ini adalah ulang tahunnya dan memarahi gadis bodoh itu habis-habisan, tetapi ego dan harga dirinya masih lebih tinggi. Mau ditaruh di mana wajahnya jika ia terang-terangan menginginkan gadis itu di hari ulang tahunnya?

Para member yang melihat hal ini hanya bisa saling lirik lalu mengulum senyum, merasa senang bisa membuat Hyung mereka menderita begitu.

Pria itu mengerang frustasi—ketika kekesalannya sudah mencapai batas maksimum—lalu dengan cepat menekan layar sentuh pada ponselnya, menempelkan benda tersebut pada salah satu telinganya dan menunggu jawaban dari seberang sana dengan perasaan tidak tenang.

Tepat ketika Sungmin mendapati panggilannya terjawab, pintu ruang ganti terbuka sehingga membuat seluruh perhatian para member—termasuk dirinya—beralih menatap seorang gadis yang kini tengah berdiri di depan pintu dengan ponsel menempel di telinganya. Mata Sungmin membulat saat menyadari bahwa gadis itu adalah gadis yang mengaduk-aduk perasaannya sedari tadi, gadis yang melupakan ulang tahunnya dan gadis yang ia rindukan.

Sontak Sungmin bangkit dari duduknya, menyentuh layar ponselnya—untuk mematikan panggilan yang ia lakukan tadi—dengan mata yang masih terpaku pada gadis beberapa meter dihadapannya. Pria itu melemparkan ponselnya begitu saja ke atas sofa, sedikit berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya erat, seketika merasa sangat nyaman mendapati aroma vanilla yang menguar dari tubuh gadis tersebut.

Melihat momen ini membuat para member dan Eunhee mengerti lalu segera keluar dari ruangan, memberikan waktu berdua bagi sepasang suami istri itu.

Gadis itu yang juga terkejut dengan sikap Sungmin hanya bisa membalas pelukan pria itu, menyandarkan dagunya pada salah satu bahu pria tersebut dan tersenyum senang. Dia sudah dengar dari Eunhyuk kalau pria itu marah-marah saja sedari tadi, melampiaskan kekesalannya pada seluruh member. Gadis itu mengelus-elus punggung Sungmin, menyalurkan sedikit ketenangan pada pria itu.

“Apa senang sekali melihat kedatanganku?” tanya gadis itu geli.

“Kupikir kau melupakan hari ulang tahunku,” ujar Sungmin, tidak berniat menjawab pertanyaan gadis itu sebelumnya.

Sungmin melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu dengan wajah berkerut bingung. “Bagaimana bisa kau berada disini?” tanya Sungmin sembari merapikan poni depan gadis itu yang sedikit menutupi penglihatannya pada mata coklat gadis itu.

“Donghae memaksaku,” jawab gadis itu dengan senyum manis di wajahnya, membuat Sungmin menyipitkan matanya, menatap gadis itu curiga. “Baiklah. Mulanya aku memang melupakan hari ulang tahunmu. Tapi kemudian, Donghae bersama Ryeowook Oppa datang ke kampusku dan memberitahukan hal ini padaku. Lalu si Ikan Amis itu memberikan sebuah tiket pesawat ke Beijing dan memaksaku pergi. Dia bahkan menarik dan menyeret-nyeret tubuhku,” ujar gadis itu panjang lebar sembari menunjukkan wajah penuh akan nafsu membunuh miliknya.

Sungmin mendekap kedua tangannya di depan dada, menatap gadis dihadapannya dengan wajah puas. “Wah, aku harus berterima kasih padanya.”

“Apa-apaan kau? Dia menyiksaku dan kau merasa senang?” sungut gadis itu kesal lalu mendaratkan sebuah pukulan kecil di bahu Sungmin.

Yak! Seharusnya kau menyadari kesalahanmu. Bagaimana bisa kau  melupakan hari ulang tahun suamimu sementara para penggemar dan teman-temanku masih mengingatnya?” Sungmin balas menunjukkan kekesalannya dan menjitak kening gadis itu, lalu dia meletakkan kedua tangannya di pinggang.

Pria itu bisa melihat wajah syok gadis tersebut dan tubuhnya yang menegang, membuat Sungmin merasa senang karena untuk pertama kalinya, ia berhasil membuat gadis itu ketakutan. Lihat, bukan hanya gadis titisan beruang itu saja yang bisa membentaknya, tapi seorang Lee Sungmin juga tidak akan kalah.

Gadis itu terdiam, meresapi ucapan Sungmin. Benar, kesalahannya memang tidak bisa ditolerir. Melupakan hari ulang tahun suami? Astaga, gadis itu bahkan berani bertaruh bahwa hanya dia satu-satunya istri yang melakukan hal bodoh tersebut.

Melihat gadis itu yang hanya diam saja dan tidak merespon ucapan Sungmin, membuat pria itu memperlembut raut wajahnya dan menepuk-nepuk puncak kepala gadis tersebut. Gadis itu mendongak, menatap Sungmin datar. Sepertinya dia benar-benar merasa bersalah.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tidak marah. Maaf sudah meneriaki dan memukulmu. Hanya ingin sedikit memberimu pelajaran saja.” Sungmin terkekeh pelan lalu mengulurkan tangannya, mengambil telapak tangan gadis itu untuk kemudian menggenggamnya erat. “Terima kasih sudah mau datang kesini, Jinhye-ya,” ucap pria itu tulus sehingga gadis di hadapannya mendongak dan menatap Sungmin dengan bibir yang mengukir sebuah senyuman.

Pria itu tahu, sesadis apapun istrinya, dia jugalah seorang wanita yang memiliki perasaan sangat amat lembut dan juga rapuh. Jadi, pria itu tidak ingin menghancurkan perasaan gadisnya hanya karena ego semata. Sungmin membalas senyum gadis itu lalu mengelus-elus kening gadis tersebut yang tadi dijitak olehnya.

“Jadi, mana hadiahku?” tanya Sungmin, kali ini lengkap dengan tangan yang menengadah, meminta sesuatu.

“Ah, itu.” Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan salah satu tangannya yang bebas. “Karena aku tidak merencanakan hal ini sebelumnya, jadi aku tidak sempat membeli kado. Eh, tapi jika kau mau, aku bisa membelikannya sepulang dari sini,” jawab gadis itu dengan wajah memelas dan aegyo gagal miliknya.

“Setelah melupakan ulang tahunku, kau juga tidak menyiapkan sesuatu untukku? Han Jinhye. Kau benar-benar istri yang sangat pengertian,” geram pria itu lalu melipat tangannya di depan dada.

“Maaf,” ujar Jinhye suara yang dibuat semenyesal mungkin. Kedua tangannya ia genggam di depan dagunya, menunjukkan sikap memohon yang tak membuat Sungmin iba sama sekali.

Sungmin berpikir sejenak lalu menunjukkan seringainnya pada gadis itu. Mendadak, gadis itu merasa hawa menyeramkan mengelilingi seluruh tubuhnya.

“Bagaimana kalau kita merayakannya di hotel saja, Han Jinhye Sayang? Sepanjang malam ini, kau harus menjadi tawananku.”

Dan, yah, gadis itu tahu kemana semua ini akan mengarah.

END

Double Happy Birthday, Lee Sungmin ssi. Umur udah 29 tapi muka masih kayak anak TK. Well, tanpa kamu, ff aku ga akan pernah ada. Semoga makin ganteng, makin imut, makin sukses, makin perhatian sama fans, dan makin cinta sama Han Jinhye *eh* Langgeng ya sama Super Junior. Kesehatan harus dijaga!

Oke, ff ini aku buat tahun lalu dan menetap di laptop. Udah aku edit di beberapa bagian, nambahin dan ngurangin disana-sini tapi masih ga ngerubah kerangka ceritanya. Mungkin udah ada yang pernah baca, soalnya ff ini pernah aku publish di blog lama aku. Eumm, yang belum baca silahkan dinikmati, yang udah baca silahkan dinikmati juga untuk yang kedua kalinya. HAHAHA~

Advertisements

38 comments

      1. typos?i didn’t find it when read it thor really ^^ eum but why that title is bas surprise ey that fanfic story you made is awesome thor heheyou should have to provide a title “awesome surpise ever” i mostly just wants but just my advice thor…….keep writing ^^

      2. but i found it. every paragraph -__- because “jinhye” and “failed” can’t be apart. *kicked* hahaha thankyou for your advice ^^ okayyyyy

  1. Kamu pernah post ini bukan di blog kamu yang lama ? Hehee kayanya pernah baca :d hahah setelah baca ff kamu please don’t go terus baca ini menghibur deh wkakakak .. Couple sweet sunghye balik lagi setelah mati bersama 🙂 yeayyy ..

    1. bener. sori ngepost yang sama, abis malas bikin cerita lagi. butuh istirahat ini otak bentar hehe. bisa gitu ya, abis mati, idup lagi. ngerayain ulang tahun pula. ckckckck

  2. klo Sungmin na semangat kyk gtu, sebelum Jinhye wisudah udah hamil tuh org
    kekeke

    tapi lucu jgak klo neh couple udh punya anak, slama ini kan belum ada tuh ff mereka yg udh punya momongan.
    lucu kali yah lihat jinhye ntar ngrus anak
    kekekeke

    1. BUAHAHAHAHAHA~ sungminnya ga sabaran. soal anak, kapan-kapan aja deh dibuatnya. aku masih belum kepikiran kesitu, masih pengen buat mereka berdua aja dulu hehehe.

  3. Ahhh… SungHye couple selalu bikin aku senyum-senyum sendiri (?) wkwkwk..
    Umur makin bertambah, imutnya pun ikut bertambah. Itulah abang umin >_<

    1. senyum-senyum sendiri boleh, tapi jangan di depan banyak orang ya. nanti dikira sedikit ga waras *PLAKK* sungmin mah mukanya awet muda, ga kayak kyu yang boros *ditendang*

      1. Yahh ghina.. Jangan gitu dong.
        Mukanya Kyuhyun bukan boros, tapi cepet tua.. wkwkwk #mianhae saranghae kyu

      2. gara-gara komen kamu, kyuhyun ngurung diri di kamar loh. mendekam disudut ruangan sambil melipat lutut, duduk bersila, olahraga jari diatas tombol PSP. jujur itu emang menyakitkan ya

  4. EHEM! *merujuk pada ending* *lewat, kalo dibahas berabe (?)* -___- xDDD

    baca FF ini kebawa perasaan pas baca yg Love Story series kemaren jadi ngerasa kurang menderita Sungmin-nya disini :/ *reader bacod, kemaren minta yg sweet -_-*

    aduuuh, Kyuhyun unyu sakit, kasian kemaren beneran kea zombie hidup (?) diaaaaa >< (??) *SUER, INI ABAIKAN*

    makasih FF-nyaaa ^^ buat lagi! stock buat taon depan~ (?) xD *plak*

    1. ini reader paling banyak maunya. aku tendang dulu kamu. iyakan waktu di bandara muka dia pucat banget, kasian si gembul aku 😦 iya samasama. ih nyindir -__-

  5. Yaaa mau ngapain dihotel ??? aigoo setelah tadi dibikin nangis bombay sekarang mesam mesem sendiri . Ahahahha seneng sama couple ini

    1. gatau eon, aku dilarang masuk ke kamar mereka. katanya lagi sibuk banget 😦 couple ini emang sukanya menjungkirbalikkan perasaan orang eon hahaha. makasih eonni ^^

  6. mom, I never left a coment on every story you wrote I read
    The only reason is what or who is the ‘song’ you mean and you wish to be kyuhyun’s woman in this story?
    kamu bikin aku potek mom
    </3 </3 </3

    1. Song Eunhee or Miss Song actually is me HAHA. well baby, i try to understand itㅡyour feelingㅡbut i won’t say sorry because this is my blog and the contents are up to me! i’m your mom and kyuhyun’s your dad, so please stop and find your perfect man. love ya~ :*

      p.s: the reason couldn’t accepted by my heart so try to find another reason and i’ll forgive youㅡnever leave a comment is a fault dear. hey, you are my daughter! grrrrr

  7. Selalu sungmin jadi suami yang baik dan pengertian sama istrinya yg pelupa. Kekekekkk..
    Btw, keren ini tulisannya loh. Jadi pengen ngebca semua ff yg di post disini.

  8. muka dia di sini ma muka dia oas nikah beda bgt sumpah…
    ga tu napa muka dia pas nikah tu malah ga ngeh..masa si di sungmin???beda bgt ya aura pengantin…

  9. suka sm semua ff yg min buat.
    semua ffnya seru untk dibaca n buat aq penasaran banget.
    teruskan menulisnya ya min.
    mau tanya nich min, kok setiap akhir cerita ffnya pake kata kunci???
    apa sich kata kuncinya min???
    penasaran nich sm lanjutannya.
    tolong dong kasih tau min,bs mati penasaran nich klo ga baca end ff ini.
    makasih ya min
    keep writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s