I Found You

I Found You

Poster: hanjeyoo.wordpress.com

Previous: Where Are You?

Found you, my love

The person I’ve been searching for

 (Author’s POV)

Hal pertama yang terlihat dari Sungmin ketika turun dari kamarnya adalah mata sembab dan wajah pucatnya. Kaos lengan panjang dan celana hitam berukuran sama yang terpasang longgar ditubuhnya menambah kesan berantakan pada pria itu. Ditilik dari sisi manapun, Sungmin terlihat kacau.

Sungmin mengulurkan tangannya ke belakang kepala, mengacak-acak rambutnya yang berada disekitar daerah itu. Membuat rambut hitamnya yang memang sudah tak rapi nampak jauh lebih mengerikan lagi. Dia turun ke bawah, berniat mengambil minum di dapur saat matanya menangkap sosok bibi Jung yang sedang sibuk menata berbagai macam masakan di ruang makan. Decakan pelan keluar dari bibirnya sebelum ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mulai melangkah mendekati wanita paruh baya itu.

“Oh, selamat pagi, Tuan,” sapa bibi Jung ramah sembari membungkukkan badannya sedikit. Wajahnya yang mulai dipenuhi keriput nampak prihatin melihat Sungmin. Tapi, beliau tetap menunjukkan senyum keibuannya.

Sungmin mengabaikan sapaan bibi Jung dan mengalihkan pandangannya ke arah meja makan. Ada banyak sekali makanan disana. Tentu saja dengan asap menggumpal diatasnya sehingga Sungmin menyadari dengan jelas kalau bibi Jung yang memasaknya sendiri. Dia menjilat bibirnya dan menatap datar wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu sembari menghembuskan napas dengan kasar.

Menyadari ketidaknyamanan majikannya, bibi Jung berdeham pelan. Beliau menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Sungmin secara langsung. Kemarahan Sungmin selalu menjadi hal yang paling ia takuti. “Tuan Cho Kyuhyun meminta saya datang dan membuatkan makanan untuk Tuan. Dia juga berpesan agar saya menjaga Tuan dan membersihkan rumah ini.”

“Cho Kyuhyun?” Sungmin mendengus keras. “Berani sekali dia.”

“Maafkan saya jika Tuan merasa terganggu, saya hanya menuruti perintah saja.”

Sungmin menggigit bibir bawahnya pelan, merasa bersalah. Meskipun moodnya jauh dari kata gembira, tapi tidak seharusnya dia menunjukkan kekesalannya di depan wanita paruh baya itu. Bagaimana pun juga, beliau hanya ingin berniat baik pada Sungmin. “Sudahlah, tidak apa-apa,” ujar Sungmin dengan nada menenangkan sehingga membuat bibi Jung sedikit lebih rileks.

Pria itu lantas memutar tubuhnya, hendak menuju taman belakang. Tapi, baru selangkah ia berjalan, suara bibi Jung menginterupsinya.

“Tidak ingin makan dulu, Tuan?”

Sungmin berbalik lagi dan menggeleng kecil. Dia bisa melihat raut wajah kecewa wanita paruh baya itu, tapi dia berusaha mengacuhkannya. Sungmin melanjutkan langkahnya yang sedikit terganggu tadi. Kepalanya menunduk, menatap jalan setapak yang ia lewati. Begitu sampai disana, Sungmin langsung menuju kursi panjang dan duduk diatasnya.

Pria itu memejamkan matanya dan menghirup udara pagi yang menyegarkan. Merasa bersyukur saat menyadari bahwa subuh tadi gerimis menyempatkan dirinya untuk turun membasahi bumi, sehingga Sungmin bisa menikmati aroma kesukaannya. Bau tanah basah atau tepatnya bau tanah sehabis hujan. Aroma khas ini selalu berhasil menurunkan kadar kegelisahannya dan membuatnya nyaman. Seperti saat ini, Sungmin merasa tubuhnya lebih bersemangat dari sebelumnya.

Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma itu semakin menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya lalu membuangnya secara perlahan. Sungmin melakukan olah pernapasan itu secara berulang-ulang hingga ia merasa lebih baik. Dia membuka matanya dan langsung disambut oleh  pemandangan indah dari bermacam bunga yang tumbuh beberapa meter dihadapannya.

Disekitarnya sengaja ditanami pepohonan rindang; pohon oak yang dibuat menghimpit dua ayunan kecil dan pohon maple yang terasa menyejukkan mata. Perpaduan kontras antara warna-warni bunga dan hijaunya pohon-pohon ini menambah kesegaran bagi siapa saja yang melihatnya. Taman ini terlihat ramai. Dan Sungmin suka sekali memandanginya lama-lama.

“Kau disini.”

Sungmin menoleh saat suara lembut itu hinggap di telinganya. Dan terkejut setelahnya karena mendapati ibunya—Kang Kyung-Sook sudah berdiri disebelahnya. Kang Kyung-Sook mengambil tempat disebelah Sungmin. Meletakkan tas tangannya di pangkuannya lalu memperhatikan wajah anaknya yang nampak pucat. Diam-diam dia meringis dalam hati.  Perasaan bersalah itu muncul karena sejujurnya dia baru mengetahui permasalahan rumah tangga anaknya ini pagi tadi. Itupun karena Kyuhyun berkunjung ke rumahnya dan menjelaskan segalanya.

Pantas saja Sungmin jarang meneleponnya beberapa hari ini. Padahal biasanya anaknya itu selalu menyempatkan diri untuk sekedar menanyakan kabarnya. Dia juga sudah tak pernah lagi  menjenguk ataupun menemani Soorin. Dan Kang Kyung-Sook merasa tidak heran ketika menyadari kalau beberapa hari belakangan anak sulungnya itu sedang berusaha menghindari keluarganya. Ternyata dia menjadi semenderita ini. Sungmin nampak tidak terurus dan seperti mayat hidup—kalau boleh beliau menyebutnya begitu.

Kang Kyung-Sook meremas punggung tangan Sungmin, memaksa anaknya itu menatap kearahnya. Tangan mulusnya yang mulai dihiasi keriput terulur untuk menangkup salah satu pipi anaknya. Menelusuri wajah tampan anaknya itu dengan perlahan, merasakan dengan sangat baik betapa tirusnya pipi itu sekarang. Lee Sungmin benar-benar berubah dan tidak terlihat seperti anaknya yang selalu bahagia.

“Kau kurus sekali,” ucap Kang Kyung-Sook tanpa bisa menutupi nada khawatirnya.

Ini baru tiga belas hari sejak gadis itu menghilang seolah ditelan bumi dan ibunya sudah menyadari perubahan berat badannya. Bagus sekali. Jika gadis itu tak kunjung ditemukan juga, mungkin sebulan kemudian dia hanya akan bisa tertidur diatas ranjang dengan tubuh kekurangan nutrisi. Menunggu malaikat maut menjemputnya dan membawa pergi semua rasa sakitnya. Sepertinya hal itu tidak terdengar mengerikan sama sekali. Setidaknya bagi seseorang yang sudah kehilangan gairah hidup seperti dirinya.

“Kau sehat?” tanya Kang Kyung-Sook dengan suara bergetar.

Sungmin diam, tak berniat menjawab sedikitpun. Sejujurnya dia juga bingung. Fisiknya memang baik-baik saja. Dia tidak sedang sakit, terluka, apalagi cacat. Dia bisa berjalan, berbicara, melihat, dan mendengar dengan sangat sempurna. Tapi didalam sana, hatinya terasa amat sakit. Seolah-olah organ vitalnya itu sudah tercabik-cabik dan sedang mengeluarkan darah yang menyesakkannya. Membuat lubang menganga tak kasat mata yang ia yakini akan bernanah jika terus dibiarkan begitu saja.

Jadi, bagaimana dia menyimpulkan keadaannya sekarang?

“Aku… Eomma, aku—“

Seolah tahu apa yang akan dikatakan Sungmin, Kang Kyung-Sook langsung menarik anaknya itu ke dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggung anaknya dengan lembut, memberi kekuatan. Sungmin merasa tenang setelahnya. Karena seperti yang telah dipikirkan ibunya, ia sedang berusaha mengutarakan semua perasaannya tanpa harus nampak menyedihkan di depan wanita nomor satu dalam hidupnya ini. Tapi, sepertinya dia tidak bisa. Sekuat apapun dirinya, dia tetaplah manusia yang memiliki kelemahan dan perasaan yang rapuh.  Sialnya, kelemahannya itu terbentuk dalam wujud seorang gadis bernama Han Jinhye.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” ujar Kang Kyung-Sook pelan tepat di telinga Sungmin.

Kang Kyung-Sook melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Sungmin. Kedua bola matanya menatap mata anaknya yang nampak kosong. Ada binar kesedihan yang terpancar dengan sangat jelas disana, membuat Kang Kyung-Sook tanpa sadar meremas salah satu pundak Sungmin, menahan air bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Kau bisa menceritakannya padaku.”

Sungmin menatap ibunya lekat-lekat. Nampak menimbang-nimbang sebentar. Lantas dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menundukkan kepalanya dan mengaitkan jari-jemari tangannya yang lentik. “Aku tidak tahu harus memulainya darimana,” ucapnya pelan, menunjukkan secara gamblang kalau dia masih ragu.

Kang Kyung-Sook yang menyadari keraguan anaknya, membiarkan Sungmin diam pada posisinya dan memikirkan ulang segalanya. Beliau tidak akan memaksa Sungmin untuk menceritakan semua masalahnya. Keputusan ada pada Sungmin. Dan Kang Kyung-Sook tidak berhak mengajukan protes.

Sungmin menarik napas panjang. Setengah berpikir mungkin memang ada baiknya memberitahukan ibunya akar dari keretakan rumah tangganya yang telah sampai pada tahap kehancuran itu. Tapi, setengahnya lagi malah menolak mentah-mentah usul ibunya. Sejujurnya dia juga sangat membutuhkan saran. Dan dia tahu hanya ibunya yang mampu melakukannya.

“Aku… menyakitinya,” mulai Sungmin sembari tersenyum sinis, menertawai ketololannya. Sekaligus menutupi rasa nyeri didadanya yang selalu muncul jika kenangan itu merasuki pikirannya. “Aku mencium Soorin.”

Dan dengan suara serak yang begitu lirih, mengalirlah kronologis cerita itu. Tidak ada yang dikurang-kurangkan, tidak pula dilebih-lebihkan. Semua ia keluarkan hingga tak ada satupun yang tersisakan. Mungkin setelahnya, ibunya akan menganggapnya sebagai suami pengkhianat dan anak brengsek, tapi dia tidak peduli. Untuk kali ini saja, Sungmin ingin membuang urat malunya dan membiarkan ibunya melihat betapa rapuhnya ia.

“Eomma, apa yang harus kulakukan?”

Sekarang dia mengerti alasan anaknya mati-matian membujuk ayahnya agar segera dinikahkan dengan gadis itu. Alasan Sungmin selalu berusaha meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukannya demi menjemput gadis itu. Melihat tatapan matanya yang sendu dan sarat akan sakit hati, sudah membuat Kang Kyung-Sook yakin kalau anaknya itu sedang merindukan gadis itu. Lee Sungmin-nya itu membutuhkan sosok Han Jinhye disisinya. Dan siapapun tidak bisa menggantikan sosok menantu—calon mantan menantunya itu dimata dan hati anaknya.

Kang Kyung-Sook menangkupkan kedua tangannya di pipi Sungmin, meminta Sungmin untuk menatapnya. Selanjutnya, dia malah berusaha mengatur ekspresi wajahnya saat matanya melihat dengan jelas bagaimana tetes-tetes air bening itu turun membasahi wajah tampan anaknya. Tanpa sadar, Kang Kyung-Sook menahan napas.

Selama diperjalanan menuju kemari, dia sudah menerka-nerka akan sesedih apa anaknya nanti. Dia berharap menemukan Sungmin yang menyambut kedatangannya dengan segaris senyum dibibir atau setidaknya melihat anaknya itu membukakan pintu rumah untuknya, karena kalau begitu, dia masih bisa merasa sedikit lega. Tapi, yang ia dapati saat ini lima kali lipat jauh lebih memilukan. Dan ini pertama kalinya ia melihat anaknya menangis. Menangisi seorang wanita.

“Lee Sungmin, dengarkan aku,” ucapnya sembari menatap mata Sungmin yang semakin basah. “Aku tahu betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, aku pernah merasakan semuanya. Mungkin tidak sebanding dengan yang kau rasakan sekarang, setidaknya aku cukup mengerti. Tapi, tidak bisakah kau berpikir lebih rasional lagi?”

Sungmin bungkam, membuat Kang Kyung-Sook geram. “Aku masih bisa menolerir jika kau hanya menolak berinteraksi dengan orang-orang disekitarmu dan membolos dari pekerjaanmu. Tapi, tidak jika kau sudah mulai melukai dirimu sendiri. Apa? Tidak mau makan  dan mencoba mencari-cari penyakit? Demi Tuhan, Lee Sungmin, apa yang ada dipikiranmu hanya gadis itu saja? Tidakkah kau memikirkan keluargamu ini?” ujarnya dengan suara yang setingkat lebih tinggi.

“Aku mencintainya, eomma…”

“Aku tahu! Kami semua tahu itu. Tapi, apa kau pikir hanya dia saja yang mencintaimu? Apa hanya dia saja yang kau cintai? Kami juga mencintaimu, Lee Sungmin. Lebih dari apapun. Keluargamu ini begitu menyayangimu. Tidak bisakah kau mengingat kami jika otakmu mulai merencanakan tindakan bunuh diri? Berpikir sedikit akan bagaimana jadinya aku jika harus kehilanganmu? Aku ibumu. Aku yang melahirkan dirimu. Akulah wanita pertama yang merasa paling terpukul.”

Kang-Kyung Sook membiarkan air mata ikut turun sehingga bedak tipis yang ia poleskan menghilang. “Kumohon Lee Sungmin, berhentilah bersikap tolol dan terima kenyataan. Buka matamu lebar-lebar dan lihat betapa banyaknya orang yang mencintaimu tersakiti karena ulahmu. Setidaknya, jika kau tak bisa menjaga dirimu demi gadis itu, lakukanlah demi orang tua dan adikmu.”

***

Sungmin tidak tahu dimana keberadaannya sekarang. Sekelilingnya nampak tak asing, tapi ia tetap tidak bisa mengenalinya. Matanya mendapati sebuah kursi yang dibiarkan begitu saja ditengah ruangan kosong tempat ia berpijak. Dia mendekati benda tersebut, merabai ukiran-ukirannya dengan sangat lembut. Tekstur kayu yang digunakan sangat halus, persis seperti serat kain katun. Lekuk-lekuk ukiran menantang khas tangan piawai seorang pengrajin membuat telapaknya terasa digelitik, menggelikan sekali.

Sungmin terkekeh pelan. Menikmati sapuan kulitnya pada permukaan kursi unik itu. Aneh. Dia belum pernah merasa sesenang ini hanya dikarenakan sebuah benda mati. Cahaya putih cerah mendadak masuk menembus jendela kaca dihadapannya, menyapa retinanya. Dia menyipitkan matanya sebelum membukanya lagi dengan lebar saat sinar yang menyilaukan tadi menghilang, tergantikan dengan pemandangan indah yang menyenangkan.

Daun-daun berguguran.

Seingatnya, sekarang ini bukanlah musim gugur. Atau dia terlalu pikun sampai-sampai melupakan keadaan negerinya sendiri? Entahlah. Dia tidak tahu dan tidak mau peduli. Kaki-kaki panjangnya melangkah hingga sampai disebuah jalan lebar yang  dihasi berpuluh-puluh pohon maple disisi kanan maupun kirinya. Tempat ini seperti hutan—kalau dia boleh memperkirakannya begitu. Gelap, lembab, sepi dan sunyi.

Dia tersenyum tipis. Berniat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket ketika menyadari kalau dia hanya mengenakan baju tidur biasa. Kali ini tawa keras meluncur bebas dari bibirnya. Membuat suaranya menggema karena keadaan yang begitu lengang.

Sungmin mengusap sebulir air mata yang menggenang di ujung matanya. Lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Mencoba melangkah seringan dan sepelan mungkin karena rasa-rasanya dia begitu menyukai suara gemerisik yang dihasilkan dari pijakan kakinya pada daun-daun kering dibawah sana. Layaknya sebuah nyanyian tidur sebelum menggapai mimpi indah, semua itu membuatnya terbuai.

Dia tidak merasa kedinginan saat angin musim gugur berhembus, menerjang tubuhnya tanpa ampun. Tidak merasa terganggu saat dedaunan yang terbawa angin jatuh mengotori pakaiannya. Tidak merasa risih saat bau basah itu semakin menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Bisa saja dia berbalik dan menjauhi tempat aneh ini, tapi dia tidak mau. Instingnya menginginkannya untuk terus melangkah ke depan. Maka, itulah yang ia lakukan. Dia masih membiarkan perasaannya memimpin perjalanan ini hingga sebuah terowongan hijau tertangkap matanya.

“Ayo, kesini.”

Suara seorang gadis yang begitu ia kenal membuatnya mengerutkan kening. Rasa penasaran itu membuncah tanpa bisa ia cegah. Sedikit berlari ia menuju terowongan hijau itu—karena lumut serta tanaman pakis sudah tumbuh dan mulai menjalar menutupi bangunan terowongan yang sebenarnya—dan matanya membelalak kaget setelah melihat sosok gadis tengah berdiri membelakanginya.

Darimana datangnya gadis itu?

Gadis itu mengenakan gaun putih selutut berbahan sutra dengan kaki yang tak beralaskan apapun. Rambut panjangnya tergerai sempurna, membuat angin musim gugur memainkannya dengan mudah. Sesekali tawa merdunya terdengar. Dan Sungmin bisa membayangkan betapa cantiknya gadis itu saat ini. Dia memang belum melihat wajah gadis itu, tapi dilihat dari punggung kecilnya yang seolah mengundang seseorang untuk mendekapnya, mampu membuatnya yakin kalau gadis itu adalah gadis yang ia cari selama ini. Gadis yang ia rindukan setiap harinya dan gadis yang selalu ia ingat disepanjang alunan doanya.

“Maaf,” Sungmin memberanikan diri untuk menyapa terlebih dahulu.

Gadis itu menoleh dengan wajah datar, sehingga Sungmin nyaris saja melupakan cara yang benar untuk sekedar menarik napas. Benar. Sesuai dugaannya, gadis itu nampak sangat mempesona bahkan saat ia belum menunjukkan ekspresinya. Dan sekali lagi benar, ini benar-benar gadisnya.

“Han Jinhye,” gumam Sungmin pelan. Perlahan rasa terkejut itu tergantikan dengan kesenangan yang seolah membanjiri hatinya seperti air bah. Dia tersenyum sangat lebar.

“Eomma…”

Sungmin dan gadis yang ia panggil Han Jinhye itu menoleh secara bersamaan pada sesosok gadis mungil yang berada di pelukan gadis itu. Gadis mungil yang tak ia ketahui namanya itu memeluk kaki gadis tersebut dengan erat. Wajahnya menunjukkan raut ketakutan yang kentara seakan-akan Sungmin adalah orang jahat yang berniat menghabisi dan memutilasinya sebelum dibuang ke dasar jurang.

“Tenang saja, sayang. Kau aman bersamaku.”

“Aku takut, eomma,” bisiknya pelan, tapi masih tertangkap oleh telinga Sungmin.

Kening Sungmin berkerut. Dia tidak mengerti yang terjadi disini. Han Jinhye-nya yang dipanggil ibu oleh seorang gadis mungil tak dikenal, membuatnya bingung. Matanya masih terpaku pada gadis berumur empat tahun—munurut perkiraannya—yang kini tengah menyembunyikan wajahnya di gaun putih Jinhye dan bergantian menatap kedua tangan Jinhye yang memeluk dan mengelus rambut anak itu dengan penuh kasih sayang. Sebuah senyum terukir di bibir Han Jinhye yang tipis dan memerah. Membuatnya mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya kuat-kuat karena sialnya ia tergoda untuk mencium bibir lembut dan manis itu. Rasanya pasti akan sangat memabukkan.

“Hei…” Sungmin sudah berjongkok disamping gadis mungil itu. Mencoba mengembalikan kewarasaannya dan mencari tahu sesuatu yang tidak ia pahami. Sapaannya membuahkan hasil. Anak itu menoleh dan menatapnya heran. Masih tersisa raut ketakutan dimatanya sehingga Sungmin cepat-cepat menyentuh salah satu pipinya dan tersenyum menenangkan.

Sekarang, dia bisa melihat rupa gadis kecil itu. Matanya bulat dengan bulu mata lentik yang menjaganya. Bibirnya mungil dan berwarna merah muda. Tulang hidungnya tinggi, alis matanya tebal, dan wajahnya oval. Tingginya tidak sampai sepinggang Sungmin sehingga ia harus berjongkok. Kedua pipinya yang sedikit berisi itu memerah, menambah kesan manis pada gadis mungil berambut sebahu ini.

Pikirannya mendadak melayang jauh ke depan. Dia tidak tahu bagaimana rupa anak itu kelak, tapi dia berani bertaruh kalau akan ada berpuluh-puluh pria yang mengantri demi mendapatkannya. Anak itu tampak menyilaukan dengan kecantikannya. Dan siapapun pasti betah berlama-lama menatap mata cokelatnya yang terasa menenangkan.

Dia masih memandangi wajah memukau dihadapannya sampai sebuah kata mengalun indah dari bibir merah muda itu. Sebuah kata yang membuat jantungnya berdetak diluar batas normal sehingga terasa menabrak tulang dadanya dengan keras. “Appa…”

.

.

.

Jam digitalnya tiba-tiba saja berbunyi. Membuat Sungmin yang masih bergelung dibawah selimut mengerutkan keningnya. Sungmin meraba-raba meja nakas yang ada disebelahnya, melirik jam yang menunjukkan angka 07:26 AM sebelum mengambil benda yang masih berbunyi nyaring itu dan mematikan suara yang membuat tidurnya terganggu. Dia meletakkan salah satu tangannya diatas dahinya yang putih. Memejamkan matanya rapat-rapat saat kejadian di alam bawah sadarnya tadi terulang di otaknya.

Dia, Han Jinhye, dan seorang gadis kecil.

Mimpi itu sudah menghantuinya sejak seminggu lalu. Awalnya dia berpikir kalau semua itu dikarenakan kerinduannya yang meletup-letup pada gadis itu. Maka, dia mencoba mengabaikannya dan membiarkannya berlalu. Tapi, besoknya Sungmin kembali mendapatkan mimpi yang sama. Dengan mereka bertiga sebagai pemeran utama dan tempat yang berbeda-beda setiap harinya, mimpi itu mulai muncul tiap kali Sungmin mulai memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya.

Aneh, menyeramkan, tidak masuk akal, mengerikan, dan misterius.

Layaknya seekor kelelawar yang mencari makan disiang hari, bunga tidurnya itu terasa sangat mustahil. Dia mungkin tidak tahu makna dari mimpi yang ia alami setiap malamnya, tapi pasti ada sesuatu yang tersembunyi disana. Dan sebelum ia bisa memecahkannya, nampaknya mimpi itu akan terus berlanjut dan menerornya seperti bayangan menyebalkan yang tak mau diusir pergi. Mungkin dia membutuhkan seorang penafsir mimpi untuk menjelaskan segalanya dan menghapuskan rasa penasarannya.

Bodoh. Sempat-sempatnya ia merasa senang. Secara tak langsung mimpi itu memang sudah mengabulkan permintaannya—melihat wajah gadis yang ia cintai. Dan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan menerima mimpi aneh itu dan tak menceritakannya kepada orang lain karena ada Han Jinhye disana. Walaupun gadis kecil itu menimbulkan rasa bingung yang tinggi padanya, dia mencoba mengambil sisi positifnya saja.

Pria itu bangkit dari tidurnya dan duduk sejenak. Mengerang sebentar sebelum tangannya tergerak untuk memegangi kepalanya yang terasa pusing. Mungkin efek terlalu banyak menghabiskan wine semalam suntuk atau mungkin karena Sungmin hanya tidur dalam waktu tiga jam karena sibuk. Pekerjaan yang menumpuk menuntutnya untuk selalu siap sedia dua puluh empat jam sehari—mengingat ia cuti secara mendadak selama nyaris dua bulan. Salah satu dari dua hal tersebut pasti menjadi faktor yang menyebabkan kepalanya terasa berputar-putar seperti sekarang.

Sungmin menyingkap selimut dan masuk ke dalam kamar mandi. Mencipratkan air keran pada wajahnya beberapa kali, lalu menggosok gigi sebelum memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Sekarang hari Sabtu jadi dia bisa sedikit bersantai. Jadwalnya di akhir minggu ini benar-benar padat. Dia hanya bisa menikmati waktu istirahat sampai pukul satu siang sebelum harus kembali dihadapkan pada sebuah berkas setebal lima senti.

Begitu sampai dibawah, bibi Jung sudah menarik tangannya dan mendudukkannya di salah satu kursi makan. Mungkin bibi Jung mendengar siulannya dari bawah dan langsung bersiap-siap untuk menyeretnya. Sungmin masih terkejut melihat banyaknya makanan yang terhidang dihadapannya saat bibi Jung menyuapkan sepotong bulgogi kepadanya. Kekehan halus meluncur dari bibirnya sehingga bibi Jung harus meletakkan kembali sumpitnya dan tertawa bersama anak majikannya ini.

“Aku sudah dewasa, bi.”

“Aigoo, saya benar-benar minta maaf. Wajah Tuan yang awet muda itu membuat saya lupa akan umur Tuan yang sebenarnya.”

Sungmin mengibaskan tangannya di depan wajah dan mereka kembali tertawa bersama. Entah apa yang lucu, tapi momen ini sangat mengasyikkan. Rasanya, sudah lama sekali dia tidak pernah tertawa sekeras ini. Yah, sejak gadis itu pergi dia memang lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan menolak berinteraksi dengan siapapun. Dan sekarang, dia benar-benar menikmati segalanya.

“Wah, sepertinya kalian bahagia sekali.”

Suara Cho Kyuhyun membuat Sungmin menghentikan tawanya. Dia lantas menelan ludah sekedar untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan menoleh menatap Kyuhyun. Hari ini, sahabatnya itu terlihat santai dengan baju kaos dan celana panjangnya.

Dilihat dari pakaian yang ia kenakan, Sungmin bisa langsung menebak kalau Kyuhyun baru saja selesai berolahraga. Terbukti dengan handuk kecil yang melingkar dilehernya dan sebotol air mineral dalam genggamannya. Tetes-tetes air mengalir turun dari pelipisnya, membuahkan wangi maskulin akibat percampuran dari keringat pria itu dengan parfum yang ia semprotkan sebelumnya.

“Saya permisi dulu, Tuan.” Bibi Jung meminta diri dan segera pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Apa itu?” tanya Sungmin, merujuk pada sekantong plastik yang dibawa Kyuhyun.

Kyuhyun menunduk dan teringat setelahnya. “Ah, ini buah-buahan tropis.”

Sungmin mengerutkan keningnya sehingga Kyuhyun berjalan mengambil sebuah wadah berbentuk keranjang dan duduk tepat diseberang Sungmin. Kyuhyun meletakkan plastik itu keatas meja dan mulai mengeluarkan isinya. “Eunhee baru pulang dari Indonesia. Menjenguk neneknya seperti biasa. Dan dia membawakan banyak sekali buah-buahan yang jarang kau temui. Aku sudah mencoba beberapa dan rasanya enak sekali. Kau pasti suka.”

Eunhee atau lebih tepatnya Song Eunhee adalah tunangan Kyuhyun yang masih memiliki sedikit darah Indonesia dari nenek buyutnya. Maka dari itu, dia terkadang berkunjung kesana dan membawakan oleh-oleh yang menurut Sungmin sangat unik. Apalagi semenjak ibu dari pihak ayahnya—neneknya sudah mulai sakit-sakitan. Gadis berambut sebahu itu semakin sering kesana dan itu artinya semakin sering pula Sungmin mencoba berbagai macam makanan yang terasa asing dilidahnya.

“Benarkah?” tanya Sungmin ragu.

“Eo!” jawab Kyuhyun semangat, kembali sibuk menata buah-buahan itu pada tempatnya. “Nah, kau tidak tahu ini, kan? Ini namanya buah sawo,” ucap Kyuhyun dengan nada menggurui sembari menunjukkan salah satu buah yang berbentuk bulat dan berwarna kecokelatan. Pelafannya lebih terdengar seperti ‘sau’ daripada ‘sawo’. Lucu sekali.

“Aneh.” Satu-satunya kata yang terpikir di otak Sungmin ketika melihat buah itu.

“Seharusnya kau lebih banyak mencari tahu segala hal tentang kepulauan tropis. Bukankah kau ingin pergi berbulan madu ke Hawaii dengan Jinhye?”

Mendengar kata bulan madu dan Jinhye disebut-sebut, tubuh Sungmin langsung menegang. Dia masih ingat rencana itu dengan jelas. Bermula dari dirinya dan Jinhye yang terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, akhirnya tidak bisa menikmati masa-masa liburan mereka sebagai pengantin baru. Pada saat itu, Sungmin merasa harus melakukan sesuatu. Dia memanggil Jinhye dan berdiskusi mengenai hal ini.

Setelah mengalami perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Sungmin mengalah dan menuruti permintaan gadis itu untuk berbulan madu ke Hawaii. Tapi, dengan syarat, mereka harus mengunjungi Maldives dan menginap setidaknya lima hari disana. Jinhye tidak keberatan dan menerima semuanya. Rencananya mereka akan pergi akhir tahun ini. Mengisi cuti mereka dengan liburan sekaligus manikmati malam pergantian tahun berdua saja. Tapi, sepertinya semua gagal karena sebuah kesalahpahaman yang Sungmin perbuat. Sekarang, dia harus menelan keinginannya untuk memiliki anak dengan Jinhye.

Menyadari perubahaan raut wajah Sungmin, Kyuhyun langsung terdiam. Dia menghentikan kagiatannya menata buah, termenung sejenak. Dan saat memorinya kembali mengingat ucapannya tadi, dia hanya bisa membuka mulutnya dan menutupnya lagi sebelum mengatakan apa-apa. Han Jinhye sudah menjadi topik yang sangat sensitif bagi Sungmin tapi dia malah menyinggungnya secara terang-terangan.

Idiot kau Cho Kyuhyun, maki Kyuhyun dalam hati. Mulutmu itu perlu disekolahkan.

“Hyung, aku—“

“Wae?”

Kyuhyun mendesah pelan, merasa sangat bersalah. “Mianhae.”

“Apa kesalahan yang kau perbuat sampai kau harus meminta maaf padaku, huh?”

“Tidak usah berpura-pura, Lee Sungmin.”

Sungmin mengangkat kedua tangannya, menyerah. Toh sia-sia saja bersikap sok tegar dihadapan Kyuhyun karena pria itu akan langsung tahu dalam sekali tatap. “Oh, baiklah. Aku cukup mengerti. Dan, yah, permintaan maafmu diterima,” ujarnya lalu mulai menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Sungmin tidak sadar kalau ia sudah terlalu banyak memenuhi mulutnya dengan makanan pokok itu sehingga ia harus merasakan perihnya terbatuk-batuk karena tersedak. Kyuhyun cepat-cepat menuangkan air ke dalam sebuah gelas dan memberikannya pada Sungmin yang langsung diterima dan diminum olehnya. Setelah batuknya reda, Sungmin meletakkan gelas kosong itu ke tempatnya.

“Gumawo,” ucapnya pada Kyuhyun sembari memberikan senyum tipisnya. Sungmin kembali melanjutkan makannya tanpa menghiraukan Kyuhyun yang menatapnya dengan wajah menyesal.

Keadaan Sungmin memang mulai membaik semenjak ibunya datang berkunjung sebulan lalu. Entah apa yang dibicarakan ibu dan anak itu, Kyuhyun tidak mau tahu. Dia bersyukur karena setidaknya, Sungmin mau mencoba untuk menerima masalahnya.

Walaupun Kyuhyun masih sering melihat Sungmin yang melamun sendirian di ruang keluarga saat televisi sedang menyala atau saat ia mendapati Sungmin sedang membersihkan giginya dengan sikat gigi Jinhye dan menangis diam-diam di taman belakang rumah, tapi sahabatnya itu sudah bisa bersikap lebih tegar. Dan dia bahagia karenanya.

Sialnya, Kyuhyun malah menghancurkan keteguhan hati yang dibuat Sungmin diam-diam hanya dalam satu ucapan panjang yang terasa menusuk-nusuk jantungnya. Selama masa pemulihan Sungmin, memang tidak ada satu orang pun yang berani menyebutkan nama Han Jinhye dihadapannya. Takut pria itu akan teringat kembali dan menjadi seperti sekarang. Pandangan tidak fokus dan wajah yang nampak frustasi.

“Hyung, aku benar-benar menyesal.”

Sungmin mengangkat bahunya malas dengan pandangan yang masih berkonsentrasi pada setengah mangkuk sup ayam dihadapannya. Dia menolak menatap Kyuhyun, takut pria itu bisa membaca perasaannya. Sudah cukup dia menyakiti hati banyak orang selama beberapa minggu belakangan, dan dia tidak mau mengulanginya lagi. Dan sejujurnya itu cukup sulit baginya. “Tidak masalah.”

Oke, tenggelamkan saja dia sekarang kalau hal itu bisa membuat wajah Sungmin kembali pada saat awal ia bertemu dengan sahabatnya itu beberapa menit lalu. Sungmin yang murung seperti ini jauh lebih buruk. Dia lebih mengharapkan Lee Sungmin yang memakinya habis-habisan daripada Lee Sungmin yang makan dengan wajah putus asa.

Kyuhyun menunggu selama sepuluh menit, berharap Sungmin akan membeberkan semua kesalahan Kyuhyun padanya. Kyuhyun bahkan tidak peduli jika Sungmin memukulinya hingga babak belur asalkan sahabatnya itu tenang kembali. Kyuhyun benar-benar merasa bersalah.

Dia memberikan waktu bagi Sungmin untuk mulai bertindak brutal padanya. Menendang perutnya, membanting tubuhnya, ataupun meninju pipinya. Apa saja yang akan dilakukan pria itu, dia akan mencoba untuk menerimanya. Karena sejujurnya, seorang Cho Kyuhyun tidak pernah merasa semenyesal ini. Tapi, sampai ia menunggu sepuluh menit berikutnya, Sungmin tak kunjung bereaksi. Kyuhyun tidak tahan melihat ini semua. Jadi, dia mendorong kursi ke belakang dan bangkit berdiri.

“Kau mau kemana?”

“Pulang,” jawab Kyuhyun singkat.

“Kenapa terburu-buru? Makanlah dulu.”

“Aku bisa makan ramen di apartemen nanti.”

“Sup buatan bibi Jung ini enak. Kau tidak ingin mencobanya?”

Kyuhyun menatapnya sinis. “Aku bahkan tidak yakin kau benar-benar menikmati makanannya atau tidak. Apa dengan begitu kau pikir aku akan percaya pada ucapanmu? Sudahlah. Aku pulang dulu.”

Sungmin berniat membujuk Kyuhyun lagi, tapi pria itu sudah menghilang dibalik dinding yang digunakan sebagai sekat pemisah antara ruang makan dan ruang televisi. Sepeninggalnya Kyuhyun, Sungmin langsung meletakkan sumpit dan sendoknya disisi-sisi tangannya. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil sebotol jus jeruk dari dalam kulkas. Menuangkan isinya ke dalam gelas lalu menghabiskannya dalam sekali teguk. Napasnya putus-putus, menunjukkan emosinya yang sedang tidak stabil.

Saat itulah bibi Jung datang dengan tergopoh-gopoh. Berlari dari taman depan hingga sampai ke ruang makan ini bukanlah sesuatu mudah bagi bibi Jung yang tulang-tulangnya sudah mulai digerogoti oleh penyakit. Titik-titik keringat nampak jelas dikeningnya yang  keriput.

“Ada apa, bi?” tanya Sungmin berusaha setenang mungkin.

Bibi Jung tidak langsung menjawab. Beliau mengambil napas sejenak lalu memberikan bertumpuk-tumpuk surat pada Sungmin. Sungmin mengerutkan keningnya walaupun ia tetap menerimanya.

“Saya sedang membersihkan halaman depan tadi. Tapi, begitu melihat kotak surat yang penuh, saya langsung mengambilnya dan memeriksanya. Ada sebuah surat yang sepertinya sengaja diletakkan paling bawah. Saya membaca tulisan pada amplopnya dan langsung membaca isinya. Tuan, saya… saya…” bibi Jung tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Wajahnya pucat, membuat kerutan Sungmin dikeningnya semakin dalam.

Sungmin mulai menundukkan kepalanya sedangkan matanya menyusuri barisan kalimat yang tertulis dengan rapi menggunakan tinta berwarna hitam. Sebagian hurufnya sudah mulai menghilang karena terlalu lama dibiarkan di dalam kotak surat sehingga terkena tetesan air hujan. Terlihat sedikit kabur, tapi dia masih bisa membacanya dengan jelas. Dan seperti gerakan slow motion, mata Sungmin membelalak lebar. Tangannya bergerak cepat untuk membuka surat itu. Semakin matanya membaca setiap deret kalimat diatas sana, semakin ia sadari kalau napasnya terasa sesak.

Tanpa sadar ia menahan napasnya selama membaca surat beramplop biru itu. Tangannya bergetar dan ia sudah merasakan betapa perihnya matanya karena menahan tangis. Rahangnya mengetat dengan wajah yang nampak tegang. Dan yang benar-benar terlintas di otaknya hanya satu kata saja.

Bodoh.

Lee Sungmin memang sangat amat bodoh.

***

Subhanallah, alhamdulillah banget aku bisa nyelesain ff ini. Setelah empat lembar dibiarin gitu aja selama berminggu-minggu akhirnya aku bisa nuntasinnya. Makin lama jadi makin sulit. Karena jujur aja, selalu ada halangan yang ngebuat aku gabisa nyelesain ff ini tepat waktu. Mulai dari les, ujian disekolah, sampai mood aku yang berubah-ubah. Itu mood aku ilang timbul kayak bisul, ngeselin. Tapi, kalo dipikir-pikir lagi, aku ini masih remaja labil, jadi yah sering ga konsisten gitu *padahal tahun depan udah mulai jadi anak kuliahan* (.__.)v

Maaf ya kalian nunggu lama banget cuma buat ff gajelas kayak gini. Dan maaf terpaksa ngebuat kalian harus nunggu sekali lagi karena masih ada satu part sebagai ending. Aku gabisa menjanjikan apa-apa buat kalian, tapi yang pasti aku bakal siapin ff ini. Tenang, aku ga akan ngebiarin kalian terombang-ambing gajelas karena nungguin lanjutannya *kegeeran* Btw, gatau kenapa aku suka banget part ini. Narasinya emang banyak dan aku malah tambah suka HAHAHA~ Ngebosenin ga sih? Kritik dan saran ditunggu deh kalo gitu. Tapi, jangan bashing ya ^^

Udahlah, mata aku udah tinggal lima watt. Sekarang udah tanggal 25 Agustus 2013, jam… setengah dua lewat enam menit ~.~ Bagus, kepala aku pusing. Bye.

Advertisements

92 comments

  1. Aku suka banget dari mulai Why,i’m sorry,i found you,ngilunya nyampe ke hati.
    Aku mau baca yang selanjutnya dong author.. 🙂 boleh minta paswordnya?
    Ditunggu untuk kabar baiknya ya author.
    pengen baca please dont go nya as soon as possible 🙂

    1. kunjungi page password protection dan ikuti langkah-langkah yang ada disana untuk minta password sama aku. tapi pastikan dulu kalo kamu udah menuhin semua persyaratannya ya 🙂

  2. Dari judulnya aku kira sungmin bakal nemuin keberadaan jinhye tp ternyata belum hehe xD
    anak kecil yg didalem mimpinya sungmin itu anaknya? Berarti jangan jangan jinhye lagi hamil? O.O
    Huwaa makin frustasi deh itu sungmin!

  3. Gw kira si sungmin udh nemuin JinHye eh ternyata blm. Yg sbar ya sungmin smoga kmu bisa mendapatkan JinHye lagi.
    Wah apakah itu bertanda JinHye sdg Hamil anaknya Sungmin??
    Berharap yang terbaik buat Jin Hye dan Sungmin
    👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s