I’m Sorry

I'm Sorry

Poster: hanjeyoo.wordpress.com

Previous: Why?

Seseorang yang membuatku tersenyum

di dunia yang menyusahkan ini

adalah kau…

(Lee Sungmin’s POV)

Musim Semi, 2009

Apa istimewanya melihat bunga-bunga yang bermekaran dan menghiasi taman?  Aku tidak menyukai musim semi. Menurutku musim semi hanya akan membuat alergiku pada serbuk bunga menjadi lebih parah. Dan di musim semi beberapa tahun silam, seorang gadis mencampakkanku begitu saja. Gadis yang membuatku menjadi pria dingin yang selalu menutup hatinya rapat-rapat.

Aku dan sahabatku—Cho Kyuhyun sedang duduk di salah satu bangku taman depan kampus. Kyuhyun sibuk dengan PSP hitam ditangannya, menekan tombol yang ada disana dengan membabibuta diiringi umpatan yang terus-menerus terucap dari bibirnya. Sedangkan aku duduk disebelahnya dengan tenang, membuka halaman demi halaman buku tebal yang kupinjam dari perpustakaan beberapa hari lalu.

Tugas kami sedang banyak-banyaknya, tapi Tuan Pemain Game Sejati itu malah bersantai dan berkencan dengan kekasih keduanya. Padahal ini adalah tugas kelompok, itu artinya dia juga harus ikut andil dalam bersusah payah mengerjakannya bersamaku. Tapi lihat yang ia lakukan sekarang.

Aku mendecak pelan lalu mendorong pundaknya dengan keras, membuatnya nyaris terjungkal jatuh dan mempermalukan dirinya sendiri sebagai seorang pria tertampan di kampus—dia sendiri yang mengatakannya—jika saja dia tidak punya keseimbangan yang cukup baik. Sepertinya kedua kakinya masih bisa melakukan gerak refleks dengan sangat cepat. Dan ekspresi yang ia tunjukkan saat ini, astaga demi apapun yang ada dimuka bumi, kenapa wajahnya bisa nampak sekonyol itu?

Aku terbahak sembari memegangi perutku, membuahkan tendangan manis yang mendarat dengan mulus dikakiku. Kepalaku menoleh, memutar bola mataku dengan malas saat mendapati mukanya memerah menahan kesal.

“Apa-apaan kau, hah? Aku hampir saja memenangkan permainan tadi kalau kau tidak menggangguku,” teriak Kyuhyun dengan keras, membuatku harus menyumpal sepasang indera pendengaranku—agar tidak menjadi tuli—dengan kedua tangan.

“Kau berani berteriak padaku? Aku tahu kau memang sangat jenius tapi bukan berarti kau bisa bersantai dan membiarkanku mengerjakan tugas sendirian!”

Kali ini aku balas berteriak, membiarkannya mengerjapkan mata berulang kali, nampak terkejut. Jangan pikir akan ada wajah menggemaskan ketika ia melakukan itu. Yang terlihat dimataku sekarang justru wajah seorang pria dengan kulit putih susu dan jerawat dimana-mana yang seperti orang bodoh.

“Aish, kau menyebalkan, hyung. Seharusnya kau membiarkanku bermain beberapa menit lagi. Tadi level terakhir, tapi kau menggangguku dan membuatku kalah.”

Dia mendesah pelan dan kembali duduk dibangkunya. Lebih memilih mengalah dan memasukkan PSP miliknya ke dalam tas. Lantas merebut buku yang berada di pangkuanku dan mulai sibuk mencari referensi yang cocok untuk tugas kami.

Selagi dia serius membaca, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling taman kampus. Biasanya taman ini didominasi oleh para mahasiswa maupun mahasiswi yang lebih memilih menghabiskan waktu berdua dengan kekasih mereka daripada mengikuti pembelajaran yang membosankan di dalam kelas. Tapi sepertinya tidak berlaku untuk hari ini karena taman nampak sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang disini.

Aku dapat melihat sepasang manusia di sudut sana dengan beberapa buku berserakan di meja taman—yang berupa batang pohon mahoni—terlihat serius berdiskusi. Mungkin mereka juga sedang mengerjakan tugas kelompok sama sepertiku. Ada pula yang hanya duduk-duduk sembari mendengarkan musik dari headset yang terpasang di telinganya. Ada yang bercengkerama bersama teman-teman mereka, menghabiskan sarapan pagi berdua layaknya sedang piknik, dan bermain game seperti Kyuhyun tadi.

Aku menolehkan kepalaku ke arah lain, mencari sesuatu yang mungkin saja membangkitkan semangatku. Dan mataku menangkap sosok gadis yang berdiri di dekat pohon maple. Rambut panjang sepunggungnya ia ikat sembarangan, menyisakan helai-helai anak rambut yang ikut bermain mengikuti arah hembusan angin musim semi.

Kedua tangannya bersedekap di depan dada sedangkan kepalanya menunduk, menekan layar sentuh ponselnya dengan cepat, mengetik sesuatu. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet sedangkan sebuah headset terpasang di telinga kanannya. Dan ketika ia mendongak aku bisa melihat bola matanya yang berwarna kecoklatan berbinar-binar menatap seorang pria yang membawa sekotak eskrim ditangannya, membagikan makanan itu secara gratis.

Dia terlihat mempesona dimataku. Terlalu memukau.

“Kyu…” tanpa sadar aku memanggil Kyuhyun yang masih asyik berkencan dengan buku.

“Waeyo, hyung?”

“Gadis itu, gadis dengan kaos dan celana jeans disana, apa kau tahu namanya?”

Aku hanya menyebutkan itu saja dan Kyuhyun sudah mengerti. Gadis itu memang nampak mencolok dengan berdandan seperti itu. Disaat gadis lain sibuk melakukan perawatan di  salon untuk memikat hati para senior di kampusnya, bergaya habis-habisan agar setidaknya dia bisa terkenal di universitas tempatnya menuntut ilmu, gadis itu malah menunjukkan ketidakpeduliannya sedikitpun.

Cukup unik. Dan menarik. Yah, walaupun tanpa polesan apapun gadis itu sudah cukup mengagumkan. Dan aku berani bertaruh kalau sudah banyak pria diluar sana yang luar biasa sibuk mencari cara demi mendapatkan perhatiannya.

“Oh, dia junior kita di fakultas kedokteran. Namanya Han Jinhye. Dia cukup terkenal karena kecantikannya. Banyak mahasiswa yang menyukainya, membuatnya menjadi musuh utama para gadis disini. Tapi dia juga terkenal sinis dan dingin. Dia pernah menyiram seorang wanita yang bahkan lebih senior dari kita karena berani mengganggu temannya. Maka dari itu, meskipun para mahasiswi membencinya mati-matian, mereka tidak berani melakukan tindak kekerasan padanya. Dia menyeramkan.”

Aku mendesis pelan, merasa tidak suka saat Kyuhyun menyebut gadis itu menyeramkan. Tidak seharusnya dia menggunakan kata sekasar itu. Mataku masih terpaku pada gadis itu, memperhatikan gerak-geriknya. Mulutnya kini menggembung karena dia terus-terusan memasukkan permen karet ke dalamnya. Sekarang wajahnya terlihat seperti Patrick di kartun Spongebob yang sedang menahan napas. Lucu sekali.

“Omo, apa kau menyukainya Lee Sungmin?”

“Tidak. Hanya menginginkannya menjadi milikku saja.”

“Apa bedanya, hah? Bodoh.”

“Diam kau setan.”

***

KyungHee Medical Center, Dongdaemun, Seoul

01:31 PM

Sekarang sudah jam makan siang, tapi aku belum makan sesendok nasi pun bahkan sejak pagi. Jinhye sudah menyiapkan sarapan untukku sebenarnya, hanya saja rapat yang harus kuhadiri pada pukul tujuh tepat membuatku segera bergegas. Jika tidak, aku pasti masih berada di kantor dan mendengar omelan ayahku dengan setengah hati. Ayah orang yang disiplin. Dia paling benci dengan seseorang yang tidak benar dalam menjalankan tugas.

Biasanya jika ayah sudah marah padaku, aku akan menghubungi Jinhye. Memintanya datang ke kantor dan membantuku terbebas dari segala macam bentuk kemarahan ayah. Hanya Jinhye yang mampu membuat hati ayahku luluh. Sejak kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dua tahun lalu, entah kenapa ayah menjadi sayang sekali dengan istriku itu. Kadang membuatku berpikir kalau aku sudah tersingkirkan dari daftar anaknya.

Ayah bahkan memberikan dua buah tiket berlibur ke pulau Jeju dan memintaku berbuat yang ‘tidak-tidak’ pada Jinhye agar dia bisa menimang cucu dengan cepat. Ibu juga melakukan hal yang sama, mengurungku dan Jinhye di dalam rumah dengan harapan terjadi ‘sesuatu’ pada kami. Tentu saja aku tidak mengabulkan keinginan orang tuaku. Aku tipe pria dewasa yang akan melakukan apa saja dengan seorang wanita hanya jika dia sudah menyandang status sebagai istriku. Karma itu berlaku dan aku mempercayainya hingga sekarang.

Ah, aku jadi merindukannya. Sedang apa dia sekarang?

“Oppa, aku mau apel.”

Aku mendongak dengan jantung yang berdetak keras. Gadis dihadapanku ini membuatku terkejut. Seharusnya dia memberikan tanda kalau dia sudah bangun, jadi aku tidak perlu terkena serangan jantung mendadak seperti tadi. Untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung.

“Tunggu sebentar.”

Segera aku beranjak dari dudukku dan mengupaskan beberapa buah apel yang diletakkan diatas meja samping ranjang. Aku berada di rumah sakit saat ini. Soorin memintaku menemaninya karena pamannya sedang sibuk mengurusi tokonya yang memiliki sedikit masalah. Sebenarnya tanpa ia meminta, aku pasti akan datang dengan senang hati. Mengingat dia adalah sahabatku. Dan gadis masa laluku.

Soorin, Jung Soorin. Gadis yang sebelas bulan lebih muda dariku itu adalah cinta pertamaku. Aku sudah menyukainya sejak berumur sepuluh tahun. Dia tetanggaku ketika keluargaku masih tinggal di Daegu. Pertemuan pertama kami dimulai saat aku berkunjung ke rumahnya untuk memenuhi ajakan sarapan pagi dari keluarganya dan melihatku memakai baju kaos berwarna merah muda. Dia sangat antusias waktu itu, membuatku bingung akan sikapnya. Tetapi, beberapa minggu kemudian aku tahu kalau dia juga menyukai warna merah muda, sama maniaknya denganku.

Sejak saat itu kami mulai bermain bersama, menghabiskan waktu seharian dengan berjalan-jalan menggunakan sepeda, membaca buku dongeng dirumahnya, dan memperkenalkan barang-barang kebanggaanku yang berwarna merah muda. Atau kadang kami akan sibuk bertengkar karena dia memaksa mengambil mainanku yang biasanya diakhiri dengan panggilan makan malam dari ibuku. Kami benar-benar menjadi sangat dekat. Mungkin karena dia satu-satunya orang—selain keluargaku yang tidak menertawakanku ketika mengetahui warna kesukaanku.

Entah sejak kapan, Soorin sudah menempati posisi teratas untuk menjadi calon kekasihku. Dan ketika aku berumur 17 tahun, aku memberanikan diri memintanya menjadi gadisku. Dia mengulur jawaban selama beberapa hari, membuat hubungan kami menjadi sedikit canggung. Kemudian dia menemuiku dan mengatakan kalau dia bersedia. Aku bahagia, tentu saja. Mengingat aku bukan lagi sahabatnya tapi kekasihnya. Seseorang yang aku sukai dan balas menyukaiku.

Saat itu aku merasa bahwa hubungan kami akan berlanjut ke hal-hal yang lebih serius. Meskipun sifat kekanakkannya kadang membuatku kesal, aku berusaha menerima itu semua. Tapi tepat sehari sebelum aku berniat untuk mengikatnya dalam hubungan pertunangan, dia dan keluarganya menghilang. Meninggalkanku dalam kecemasan. Aku berusaha mencarinya, menghubungi nomor ponselnya yang selalu berakhir dengan jawaban operator. Mereka seolah tertelan bumi. Keluargaku bahkan baru mengetahui kepindahan tentangga kami beberapa hari setelahnya.

Dari situlah keterpurukanku dimulai. Aku tidak mau keluar rumah jika bukan karena hal yang penting ataupun hal-hal semacamnya. Aku akan tertidur sesampainya di kamarku. Tidak bermain, tidak melakukan apapun. Hatiku yang terluka membuat tubuhku menjadi lebih cepat lelah lima kali lipat. Semua rutinitas itu aku lakukan hingga teman kuliahku—Cho Kyuhyun membujukku untuk berbesar hati dan membiarkan Soorin bahagia dengan caranya. Aku menolak pada awalnya, tapi luluh melihat kegigihannya membuatku kembali semangat.

Aku mulai masuk kuliah dan Kyuhyun memperkenalkan banyak gadis yang ia kenal dengan sangat baik—Kyuhyun cukup populer di kampus—berusaha membuka hatiku dan membuatku melupakan Soorin. Tapi semua gagal. Tidak ada satupun gadis yang berhasil menarik perhatianku. Hingga gadis itu datang dengan segala kekurangannya dan entah kenapa membuatku tak bisa berpaling darinya hingga sekarang.

“Oppa, ponselmu berbunyi.”

Suara Soorin membuatku tersadar dari lamunanku dan segera merogoh saku celana. Aku mengambil ponselku dari sana sebelum mengangkatnya dengan cepat. Tanpa melihatnya pun aku sudah tahu kalau Jinhye lah yang meneleponku. Nada dering untuk Jinhye sengaja aku bedakan dengan yang lainnya. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya dan dia menghubungiku. Jadi, aku bisa meninggalkan pekerjaanku dan menemuinya terlebih dahulu. Bagaimanapun juga aku tidak mau terjadi apa-apa padanya.

“Eo, Jinhye-ya.”

“Sungmin-ah, apa kau ada di kantor? Aku akan segera ke—“

“Ani, aku di rumah sakit sekarang,” potongku dengan cepat sembari beranjak dari tempatku dan duduk disisi ranjang. Mengambil sepotong buah apel dan menyuapkannya ke dalam mulut Soorin. Dia mengunyah dengan senyum tipis dibibirnya, membuatku melakukan hal yang sama pula. Senyumnya mampu menular pada siapa saja yang melihatnya. Soorin menunjuk segelas air putih yang diletakkan diatas meja nakas. Aku mengerti dan segera memberikannya.

Selesai meminum airnya dia nampak kesulitan untuk kembali berbaring. Jadi, aku meletakkan sepiring apel yang sudah ku kupas dan segelas air tadi ke atas meja.

“Oppa, tolong aku.”

“Jinhye-ya, Soorin memanggilku. Aku matikan dulu, ya.”

Aku memutuskan telepon dan segera membantu Soorin. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan kembali duduk disebelahnya. Matanya menatapku dengan lembut dan teduh. Seolah mengerti akan keinginannya, aku memajukan tubuhku dan mengecup keningnya pelan. Hanya beberapa detik karena aku tidak ingin menggangunya yang mulai tenang memejamkan mata.

“Aku pasti tidur nyenyak hari ini.”

Dan aku pun mengekeh pelan.

***

Aku mengelap bibirku dengan serbet yang telah disediakan. Aku sedang berada dikantin rumah sakit, menikmati makan siangku dengan sepiring soondubu jiggae dan sebotol besar banana milk. Perutku terasa penuh sekarang. Sejujurnya aku merindukan masakan Jinhye. Dia buruk sekali dalam memasak, tapi selalu belajar demi terjaganya gizi dan kesehatanku. Padahal tidak apa-apa jika kami memesan makanan setiap harinya. Toh hal itu tak membuatku bangkrut seketika. Lagipula aku khawatir sekali meninggalkannya sendirian di dapur. Jinhye itu sangat ceroboh. Dia bahkan pernah lupa mematikan kompor ketika memanaskan sup. Untung saja aku berada dirumah saat itu jadi tidak terjadi sesuatu yang mengerikan padanya. Kebakaran, misalnya.

Aku meninggalkan uang beberapa lembar won diatas meja. Lalu segera keluar dari kantin dan menuju kamar inap Soorin. Sesampainya disana aku mendapati Soorin sedang tertidur. Mungkin kelelahan karena terlalu larut berbincang denganku semalam. Aku beranjak duduk disisi ranjang, melihat wajah tidurnya yang lucu sekali. Dan mendadak rasa lega menghampiriku. Lega karena aku masih bisa bertemu dengannya, melihat wajah cantiknya, berbicara dengannya, menghabiskan waktu bersama dan hanya berdua.

Aku tidak tahu kenapa, tapi tiap kali bersama Soorin ada rasa nyaman yang menyelimuti hatiku. Bukan berarti aku tidak merasakan hal itu pada Jinhye. Aku merasakannya, tapi yang membuatku bingung, bagaimana bisa aku merasa bahagia dengan dua wanita yang berbeda?

Aku mencintai Jinhye, itu jelas. Dia istriku, seseorang yang akan  menua bersamaku. Tapi kurasa, aku juga menyayangi Soorin. Dia gadis masa laluku yang meninggalkanku begitu saja. Kejadian yang tiba-tiba seperti itu tentu masih menyisakan sedikit rasa di hatiku. Dan semakin seringnya intensitas kami untuk bertemu, membuat rasa itu terpupuk dan menjadi lebih besar dari sebelumnya. Aku tidak ingin kehilangan Soorin, tidak pula Jinhye.

Kuusap wajahku dengan tangan kananku. Aku tahu Soorin masih mencintaiku. Dan dengan perasaanku yang goyah seperti ini, bisa saja aku memutuskan untuk mengirimkan surat cerai pada Jinhye dan menikahi Soorin. Tapi aku tidak mampu. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan Jinhye. Aku tidak bisa melihatnya bahagia dengan lelaki lain.

Astaga, Lee Sungmin. Kenapa kau bisa jadi seegois ini?

“Oppa, kau sedang apa?”

Suara serak Soorin yang memanggilku membuatku membenarkan posisi dudukku dan menatap Soorin lembut. “Kau sudah bangun?” Tanganku terulur begitu saja mengelus rambut sebahunya. Dan senyum cerah dapat kulihat dibibirnya sebagai balasan dari perlakuanku.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Beberapa hal. Jinhye, kau…”

Soorin terdiam, begitu pula denganku. Kubiarkan tanganku bergerak mengelus rambut hitamnya. Soorin sangat suka jika seseorang menyentuh mahkotanya seperti ini. Dan aku sangat senang melakukannya. Sewaktu kami berhubungan dulu, Soorin selalu menyempatkan diri datang ke rumahku demi mendapatkan sebuah pelukan dariku. Atau dia akan memaksaku datang menemuinya dan memintaku menciumnya. Soorin itu manja dan sangat kekanakkan. Berbeda jauh dengan Jinhye yang dewasa dan berwibawa. Entah kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis yang bertolak belakang oleh cinta pertamaku.

“Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan.”

Aku menatap matanya dengan lembut. “Bilang saja.”

Soorin bangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk. Dan aku menjauhkan tanganku dari rambutnya, membantunya menaruh bantal di kepala ranjang agar dia bisa menyandarkan punggungnya dengan nyaman disana. Setelah itu aku kembali duduk di tempatku. Menatapnya yang kini tengah menunduk. Dia memainkan jari-jarinya yang putih, kebiasaannya jika sedang gugup. Soorin benar-benar memaksa pikiranku untuk menduga-duga hal yang akan dikatakannya.

“Seandainya dulu aku tidak meninggalkanmu, apa kita masih bersama?”

Aku terkejut. “Soorin-ah…”

Dia mendongak menatapku dengan mata berair. “Seandainya oppa menungguku dan tidak menikah dengan Jinhye, kita pasti bahagia, kan?”

Aku terdiam, menatap manik mata hitamnya yang menawan. Wajahnya sudah penuh dengan air mata. Dan aku tidak melakukan apapun untuk menghentikannya. Ini pertama kalinya dia mengulang kembali kisah kelam kami.

“Apa kau tahu alasan aku tidak memberitahukan kepindahanku padamu, oppa?”

Aku menggeleng pelan. Tahu bahwa sia-sia saja jika harus berbohong pada saat ini. Soorin menggigit bibir bawahnya sedangkan aku hanya menatapnya dalam keheningan.

“Karena sebenarnya aku bukan sekolah, melainkan berobat. Penyakit ini sudah bersarang ditubuhku sejak aku berumur 17 tahun, oppa. Kau bahkan tidak tahu, kan? Aku sengaja tidak mengatakannya padamu. Aku tidak ingin melihat wajah sedihmu. Aku tidak mau wajahmu yang terluka menjadi hal terakhir yang kulihat sebelum kepindahanku.”

Itukah alasan yang sebenarnya? Sekarang aku merasa sakit. Disini, di dada sebelah kiriku. Rasanya organ vital itu berdenyut lambat sekali sampai-sampai membuatku sesak.

“Aku selalu memikirkanmu, oppa. Bahkan ketika aku sudah berada jauh darimu, satu-satunya hal yang menjadi penyemangatku untuk melanjutkan hidup adalah dirimu. Tapi apa yang kau lakukan? Membuangku dan berbahagia dengan wanita lain. Kau jahat sekali.”

Soorin sudah terisak keras begitupula denganku. Airmata menetes begitu saja, jatuh membasahi wajahku. Benar, aku jahat sekali. Seharusnya aku tidak menyerah terlalu cepat dan mencarinya lebih gigih lagi. Seharusnya aku merasa heran menerima kabar kepergiannya yang tiba-tiba. Seharusnya aku menunggunya. Seharusnya aku bisa menahan perasaanku pada Jinhye. Seharusnya aku…

“Aku mencintaimu, oppa.”

…mencintainya seperti ia yang mencintaiku dengan sepenuh hati.

“Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?”

Aku menatap Soorin dengan tajam. Terkejut setelahnya mendapati tatapan matanya yang nampak serius. Dia tidak main-main. Dia ingin kami menjalin hubungan dan merajut mimpi bersama. Sejujurnya aku juga begitu. Aku ingin mencoba mengulang kisah kami. Mencoba menjalin kebahagiaan yang sudah rusak sebelumnya. Mencoba menggapai masa depan berdua. Mencoba untuk mencari kesempatan kedua dari celah yang sangat sempit ini. Tapi jika aku bersama Soorin, bagaimana dengan Jinhye?

“Oppa, bisakah?”

Jinhye, gadis itu yang membangkitkan semangatku lagi setelah dua tahun terpuruk. Gadis itu  yang membuatku bisa tersenyum lagi sampai sekarang. Gadis yang selalu mendukungku di kala aku mengalami kesusahan. Gadis yang selalu bersabar menghadapiku dan tidak pernah mengeluh. Gadis yang selalu memelukku jika aku sedang bersusah hati. Seorang gadis yang tak pernah berhenti berusaha untuk membahagiakanku. Gadis yang memberikan seluruh cinta dan sisa hidupnya hanya padaku. Gadis itu, Han Jinhye.

Aku menunduk, tidak berani menatap Soorin. “Maafkan aku Soorin-ah. Tapi aku hanya mencintai istriku.”

Akhirnya aku memutuskan pilihanku. Bukankah seorang lelaki harus bersikap sebagaimana mestinya? Dan aku memilih Jinhye. Gadis itu mungkin bukan cinta pertamaku, bukan gadis pertama yang kucium, bukan gadis pertama yang kupeluk, dan bukan gadis pertama yang menerima hatiku. Aku hanya bisa membuatnya bersedih, tapi aku berjanji dia akan menjadi satu-satunya wanita yang kusentuh. Wanita yang kuberikan hidupku padanya. Wanita dengan ijin penuh untuk melahirkan dan merawat anak-anakku. Wanita terakhir di sisa hidupku.

Aku juga mengerti kalau perasaanku pada Soorin hanya sebatas rasa antar sahabat. Rasa nyaman dan tidak ingin kehilangan itu ada karena aku sudah menganggapnya sebagai adik yang harus kulindungi. Dan segala hal yang kulakukan pada Soorin hanya demi menunjukkan bahwa masih ada aku yang peduli dengannya. Bahwa aku bersedia menjadi sandarannya jika terjadi sesuatu padanya. Bahwa bagaimana pun keadaannya, aku akan tetap berada disisinya. Bahwa aku hanya ingin ia juga merasakan kebahagiaan yang kudapat. Bahwa aku menyayanginya sebagai saudaraku sendiri.

Aku menarik tubuhnya dan mendekapnya dengan erat. Membagi rasa sakit kami bersama. Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Isakannya semakin keras dan itu membuat airmataku menetes lebih deras lagi. Aku melepaskan pelukanku dan  menatap wajahnya yang basah oleh air mata. Tanganku terulur, menghapus sisa-sisa air mata itu, sedangkan Soorin memejamkan kedua matanya. Membuat setetes air mata kembali jatuh, meluncur bebas di kedua belah pipinya yang tirus.

Penyakit itu membuat Soorin kehilangan banyak berat badan. Mataku mengamati wajahnya yang nampak pucat. Fisiknya sedang lemah, psikisnya sangat terluka, dan itu semua terjadi karena diriku. Aku yang membuat segalanya menjadi lebih sulit. Dan rumit.

Soorin membuka kelopak matanya, membiarkanku menyelami bola mata hitamnya. Kami masih sama-sama terdiam dengan tangan yang saling bergenggaman.

“Bolehkah aku?”

Aku sedikit terperangah. Namun mengangguk kemudian. Batinku berteriak mengatakan tidak. Tapi sepertinya otakku sedang tidak sejalan. Sampai saat Soorin memajukan wajahnya, aku hanya diam. Membiarkan bibir pucatnya menyentuh bibirku.

Dia tidak melakukan apapun. Tidak menggerakkan bibirnya, tidak pula menjauhkan wajahnya. Jadi aku sendiri yang memulainya. Mengecup bibirnya singkat sebelum melumatnya lembut. Aku tahu ini salah, aku tahu hal ini tidak seharusnya kulakukan. Tapi aku sudah menyakitinya sedemikian dalam. Aku ingin menebusnya dengan satu ciuman yang tak terlupakan. Berharap ciuman ini dapat menghilangkan sedikit rasa sesak didadanya. Disela-sela ciuman kami, hatiku terus-terusan mengulang kalimat yang sama.

Maafkan aku, Jinhye-ya…

Ciuman itu terlepas saat kami sama-sama kehabisan napas. Soorin segera menjauhkan wajahnya sedangkan aku menatap pipinya yang merona merah. Kebiasaan yang sama setiap kali aku melakukan kontak fisik dengannya.

“Terima kasih, oppa.”

Aku tersenyum. Sangat tahu kalau dia mengucapkannya dengan tulus. “Mmm…” gumamku.

“Setelah ini jangan pernah menemuiku lagi.”

“Wae—waeyo?”

Dia mendongak, menatapku dengan senyum lebar dibibir pucatnya dan wajah yang berseri-seri. “Aku harus memperbaiki hatiku yang kau buat rusak, oppa. Dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi, lebih baik jika kita tidak bertemu lagi. Selamanya,” ucapnya dengan suara lantang, nampak semangat. Tapi aku tahu dia mati-matian menahan air matanya. Gadis kecilku itu sangat cengeng.

Aku baru saja membuka mulutku, berniat membalas ucapannya ketika ponselku berbunyi. Membuatku merogoh saku celana dan segera mengangkatnya. Dari Jinhye.

“Yoboseo.”

Seperti tahu kalau panggilan itu dari istriku, Soorin cepat-cepat mengalihkan pandangannya kearah lain, membuatku menghela napas dengan pelan. Lagi-lagi aku menyakitinya. Aku memilih beranjak dari dudukku dan berdiri membelakanginya. Berusaha memberi keseluruhan fokusku pada Jinhye.

“Kau sedang apa?”

Aku mengerutkan kening, merasa heran. Tidak biasanya Jinhye menelepon hanya untuk menanyakan kegiatanku.

“Membantu Soorin seperti biasa. Ada apa, Jinhye-ya?”

Tidak ada jawaban dari sana, membuatku cemas. Hanya terdengar suara beberapa mobil yang berlalu lalang. Aku berniat menanyakan kebaradaannya saat telepon terputus begitu saja. Membuat kerutan dikeningku menjadi lebih banyak. Ini aneh. Jinhye tidak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan membiarkanku mematikan sambungan telepon walaupun dia yang menghubungiku terlebih dahulu. Tapi yang terjadi tadi benar-benar bertolak belakang dengan kebiasaan Jinhye ku. Apa hal buruk menimpanya?

“Ada apa?”

Aku memasukkan ponselku lambat-lambat dan berbalik menghadap Soorin yang sedang menatapku dengan bingung. Mungkin merasa heran melihatku terdiam dengan tubuh kaku. Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Membiarkannya melihat diriku yang linglung. Dan kacau.

“Pasti terjadi sesuatu,” gumamku lirih.

“Oppa, kau kenapa?”

Segera aku menyambar mantel yang tersampir di lengan sofa. Memakainya dengan terburu-buru. Pikiranku hanya dipenuhi dengan Jinhye sekarang, otomatis membuatku kalut dan takut. Baru beberapa langkah kakiku menuju pintu, sebuah cekalan mendarat di lenganku. Aku membalikkan tubuhku dengan gusar, menemukan Soorin sudah turun dari ranjangnya dan berdiri dibelakangku. Dia tidak pernah melihatku sepanik ini. Dan sejujurnya ini kali pertama aku merasa sangat khawatir pada keadaan seorang wanita. Bahkan sewaktu menerima kabar ibu masuk rumah sakit beberapa waktu lalu, aku masih bisa mengontrol diri dengan sangat baik.

“Lepaskan tanganku, Soorin. Tolong…”

Soorin menggeleng, membuatku geram. “Tidak, sampai kau menceritakannya. Ada apa?”

“Tidakkah kau lihat aku sedang terburu-buru?! Jinhye dalam masalah!” Tanpa sadar aku berteriak di depan Soorin. Wajah gadis itu nampak kaget dan semakin pucat. Dia langsung melepaskan cengkeraman tangannya di lenganku dan berbalik membelakangiku. Perasaan bersalah perlahan merayapi hatiku.

“Mianhae, Soorin-ah.”

“Pergilah, oppa. Tak apa.”

Soorin masih menolak melihatku sehingga aku memilih diam dan membiarkannya sendiri. Jika sedang merajuk, dia memang susah sekali dibujuk. Dan aku tidak ada waktu untuk sekedar melakukan hal itu sekarang. Jinhye, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya. Jadi, aku mengelus puncak kepala Soorin dan berjalan meninggalkannya. Menutup pintu dengan pelan lalu bersandar di depan pintu, menghela napas. Aku benar-benar sudah diluar kendali tadi. Membentak Soorin? Pertama kalinya di sepanjang hidupku aku melakukan hal ini pada seorang gadis.

Yah, sejujurnya dua kali. Aku pernah membentak seorang gadis dengan gaya berlebihan sebelumnya. Itu pun karena dia mengurung Jinhye di kamar mandi kampus yang tak pernah digunakan, mencoba untuk menghancurkan hubunganku dengan Jinhye. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Jinhye?

Rasa bersalah itu pudar dan bergantikan dengan rasa cemas. Tanganku mencari kunci mobil di saku jas berniat berjalan ke parkiran saat mataku menangkap satu keranjang penuh buah-buahan dibiarkan begitu saja di salah satu kursi ruang tunggu. Aku bisa saja mengabaikannya dan membiarkannya tetap disana, tapi rasa penasaranku jauh lebih kuat. Kudekati keranjang itu dan duduk disebelahnya.

Pandanganku terarah pada sepucuk surat yang diletakkan diatasnya. Ini memang tidak sopan sama sekali, tapi kenyataannya tanganku tetap terulur dan mengambil surat kecil itu. Hanya ada dua baris kalimat saja disana dengan tulisan ‘semoga cepat sembuh’ dan nama pengirim dibawah, tapi sanggup membuat jantungku berdebar dengan sangat kencang.

Berbagai spekulasi bergumul dipikiranku. Kemungkinan-kemungkinan terburuk yang sejujurnya membuat perutku mual. Hingga aku berada pada satu kesimpulan yang menyakitkan. Dia salah paham. Dia melihatnya lalu mengira kalau aku dan Soorin…

Mendadak kepalaku terasa sangat pusing.

Special thanks to my bestfriend hanjeyoo. Makasih buat posternya. I love it! >v<

Sebelumnya aku bilang kalau ff ini hanya akan terdiri dari 2 part alias twoshoot. Tapi bakal panjang banget kalau misalnya aku langsung buat endingnya di part ini. Masalahnya masih ada beberapa hal yang belum selesai, kan? Seandainya disatukan semua, aku takut kalian malah bosan bacanya. Jadi aku pikir lagi dan memutuskan untuk dibagi jadi beberapa part. Hahaha maaf ya. Oya, itu artinya ini adalah ff series aku yang pertama. Yeay! Oke, part ini gagal banget serius. Alur kecepetan, cerita maksa, dan yah feelnya ga dapet. Maaf lagi ya. Habis buatnya juga setengah malas, setengah pengen. Jadi ya gini deh haha. Ah, part selanjutnya gatau di post kapan. Sabar saja menunggu (bagi yang berminat) ^^

Advertisements

98 comments

  1. mkanya klu suka n cinta sma org hrus konsisten, skrng klu udah prgi aj dicari’in smpek sgitunya…peeaaceee just my comment

  2. Penyesalan selalu datang di akhir. Bagus eonni (blh kan panggil eonni?) alurnya gk kecepetan bhsanya jg bgs. Keep writing!

  3. Oh ini dia pov nya sungmin!
    Ga mau kehilangan jinhye maupun soorin heh? Dan soorin dg gamblangnya nyatain cinta ke sungmin yg notabenya suami orang -_-
    yah walaupun akhirnya sungmin tetep pertahanin jinhye tapi terlambat..jinhye udah pergi u,u
    hadeuh jadi gemes sama sungmin ><

  4. aduhhhhhhh kasian sekali sungminnya. aku pikir sungmin beneran selingkuh sama soorin tapi untunglah tidak seperti itu. dia cuma tidak bisa tegas sama perasaanya dan lihat sekarang hasilnya……. menyesallah dirimu lee sungmin.

  5. part ini bikin deg-deg an stengah mati…..ya ampun gk sanggup klau liat sungmin dtinggal ma jinhye….
    semoga gk terjdi ap” sma meka…..

  6. jnhye jyga sakit kah??? telat harusnya q komen di part awal tapi gimana….

    hmmmmm ga kasin si ma sungmin dia bilang salah paham??
    apanya yg salah paham?? apapun itu dia udah beristri ga semoatenya lakuin kontak fisik lebih ma cewe lain sekedar jabat tangan juga…ap lagi pe cium kening nd sekarang bibir…dia juga nikmatin lagi..

  7. Gimana JinHye ga sakit hati ngelihat suaminya sendiri berciuman dgn wanita lain apalagi wanita itu cinta pertamanya. Yg sabar ya JinHye smua akan indah pada waktunya. Rasain lu sungmin skrg JinHye udh pergi. Jhat si sma JinHye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s