Why?

Why

Poster: hanjeyoo.wordpress.com

Bisakah kau beritahu salahku?

Agar aku bisa memperbaiki diri

Dan membuatmu kembali mencintaiku

(Han Jinhye’s POV)

Aku mengaduk-aduk bubur yang ada dihadapanku dengan malas. Kondisiku sedang tidak sehat, jadi Sungmin membuatkan bubur khusus untukku. Oh, sebenarnya tidak. Dia sedang membuat makanan encer itu untuk sahabatnya dan aku meminta sedikit porsinya mengingat perutku terasa tidak enak sejak beberapa hari lalu. Dia bahkan tidak pernah tahu kalau aku sedang sakit. Lee Sungmin, suamiku itu sibuk sekali mengurus sahabat kecilnya yang tengah di opname.

Sejak gadis itu didiagnosa menderita penyakit kanker paru, dia jarang pulang dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Soorin—sahabatnya,  dibandingkan aku yang berstatus sebagai istrinya. Atau dia akan pulang larut malam ketika aku sudah tertidur dan kembali malakukan aktivitasnya sebagai seorang direktur di perusahaan besar keluarganya dipagi hari sebelum aku terbangun. Jadi, bisa dibayangkan betapa kecilnya frekuensi kami untuk bertemu setiap harinya.

Kadang perasaan takut itu sering menyelimutiku. Soorin, wanita itu pernah menjadi satu-satunya orang yang dicintai suamiku dengan sepenuh hati sebelum bertemu denganku. Mereka pernah menjalin hubungan selama beberapa tahun. Tetapi gagal karena Soorin harus mengambil beasiswanya di Singapura. Dan Sungmin yang sewaktu itu tidak mengetahui perihal kepindahan Soorin hanya bisa mengurung diri di kamar. Dia terpukul. Dari hal itu saja, aku sudah bisa membayangkan betapa besarnya rasa cinta Sungmin pada Soorin.

Aku mendongakkan kepalaku. Menatapnya yang tengah memakan sepiring jajangmyeon dihadapannya dengan lahap. Dan senyum tipis terukir di bibirku saat melihat betapa lucunya tampang dia sekarang, persis seperti anak kecil. Bibirnya mengerucut sedangkan rahangnya bergerak-gerak, sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya dengan cepat.  Dan segores kecap mengotori sudut bibirnya. Membuatku tak bisa menahan tanganku untuk tak bergerak dan membersihkannya dengan ibu jari kananku.

“Pelan-pelan saja,” kataku akhirnya.

“Aku lapar sekali.”

Aku mengulum senyum. Kembali sibuk dengan bubur dihadapanku yang tak juga kusentuh. Selera makanku mendadak hilang.

“Kau tidak makan?” Sungmin menunjuk semangkuk bubur dihadapanku dengan sumpit yang berada di genggaman tangan kanannya. Aku hanya menggeleng lemah, terlalu malas untuk menjawab pertanyaannya. Yang kubutuhkan hanya tidur. Aku ingin istirahat. Badanku terasa lelah sekali.

“Apa kau sakit?”

Aku mengangguk pelan. Kepalaku terasa berputar-putar sekarang.

“Perutku melilit.”

“Benarkah?”

Sekarang aku bisa melihat wajah khawatirnya, membuatku mengatupkan bibirku dengan rapat. Seharusnya aku tidak bicara sejujur itu tadi, jadi dia tidak perlu merasa panik seperti ini. Aku merutuki kebodohanku dalam hati. Mengabaikan rasa pusing yang bersarang dikepalaku dan rasa sakit diperutku.

“Apa kita perlu ke dokter?”

Kepalaku mendongak dengan cepat. Membuat rasa pening itu menyerangku semakin ganas.

“Tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Kurasa aku hanya kelelahan.”

“Tentu saja. Kau menghabiskan banyak waktu di kafe.”

Suaranya menjadi setingkat lebih tinggi, nampak marah. Selalu begitu. Dia akan memarahiku jika aku tidak menuruti perintahnya. Terutama apabila hal itu sudah menyangkut tubuh dan kesehatanku. Dia bersikap terlalu berlebihan dengan kedua hal itu. Sungmin menghela napas dengan pelan. Lalu meletakkan sumpit serta sendok yang ia gunakan dan memundurkan kursinya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiriku. Mengulurkan tangannya—seperti biasa—untuk kugenggam.

“Sini, kuantar kau ke kamar.”

“Lanjutkan saja makanmu, aku bisa sen—“

Dia menarik tanganku begitu saja dan memaksaku berdiri disebelahnya. Membuatku menghentikan ucapanku dan menatapnya dari samping.

Aku mendengus. “Kau kasar sekali.”

“Bukankah kau suka pria kasar sepertiku?”

Kekehan halus meluncur dari bibirku. “Mana mungkin. Kau tidak lihat wajah manismu?”

Dia mendecak pelan. Selalu kesal jika aku sudah menyinggung wajahnya yang imut seperti anak berumur tujuh tahun. Tubuhnya berbalik ke arahku. Lantas memajukan wajahnya dan mengecup bibirku kilat. Membuatku membeku di tempat. Tapi dia menarik tanganku untuk berjalan beriiringan dengannya sehingga kesadaranku kembali secara perlahan-lahan.

“Itu akibat yang kau terima karena mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai wajahku.”

“Kau memang manis.”

Lagi-lagi dia menghentikan langkahnya dan mengecup bibirku. Kali ini dengan sedikit lumatan lembut didalamnya. “Ucapkan sekali lagi dan aku akan melakukan hal yang jauh lebih mengasyikkan daripada ini.”

Dia memang dikarunia wajah yang sangat lucu dan menggemaskan, tapi siapa sangka kalau otaknya tidak berbeda jauh dengan pria mesum diluar sana?

***

Lee Corporation, Seoul

02:22 PM

Aku membuka pintu transparan dihadapanku. Dan senyum tipis terukir begitu saja mendapati dirinya tengah sibuk menggeluti berkas yang berada diatas mejanya. Kacamata baca bertengger dihidung mancungnya. Wajahnya nampak serius dengan kerutan halus dikeningnya. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku.

Aku menutup pintu dan melangkah masuk. Menghempaskan diriku pada sofa empuk disudut ruangan dan mulai mengeluarkan segala sesuatu yang kubawa. Seperti biasa, jika sudah waktunya makan siang aku akan datang dan membawakan bekal untuknya. Meskipun beberapa hari belakangan aku lebih sering menghabiskan makanan ini sendirian karena dia telah pergi ke rumah sakit, menjenguk Soorin.

Tanganku merogoh-rogoh tas samping ukuran sedang yang kuletakkan disampingku. Lalu mulai mengeluarkan tempat-tempat makan yang menjadi wadah dari berbagai macam makanan yang kumasak dan kubawakan untuknya.

“Apa kau sibuk sekali, Direktur Lee?”

Dia mendongak dan nampak terkejut mendapatiku duduk manis di sofa ruangannya dengan masakan yang tertata rapi diatas meja. Dia tersenyum lebar, melepaskan kaca mata yang ia kenakan dan mencampakkannya begitu saja keatas meja kerjanya. Kakinya bergerak cepat, mendatangi tempatku berada sekarang.

Bukannya duduk diseberangku, dia malah menggeser tas yang kubawa dan duduk disana. Memandangiku selama beberapa saat sebelum bibirnya mengecup keningku dengan penuh perasaan. Pandangannya beralih pada makanan yang ada di meja, mengambil sumpit dan mulai mencobanya satu persatu.

“Apa kau yang membuatnya?” Suaranya terdengar tidak jelas karena mulutnya masih sibuk mengunyah. Tapi aku mengerti pertanyaannya dengan sangat baik. Jadi aku menarik sudut-sudut bibirku, membentuk sebuah senyuman.

“Tentu saja. Sejak kapan bibi Jung kubiarkan untuk memasak?”

Bibi Jung adalah seorang wanita berumur lima puluh tahunan yang sudah bekerja selama beberapa tahun pada keluarga Sungmin. Tapi ibu Sungmin  mengalihkan bibi Jung padaku untuk menyelesaikan berbagai bentuk pekerjaan rumah. Hanya saja aku selalu melarangnya memasak.

Bagiku, meskipun waktu yang kumiliki lebih banyak kuhabiskan untuk bekerja, aku tetap ingin menjadi istri yang sebenarnya. Dan yang bisa kulakukan hanya memasak, jadi itulah yang aku terapkan setiap harinya. Yah, walaupun masakanku masih jauh dari kata enak. Tapi aku selalu senang karena Sungmin tak pernah menyisakannya sedikitpun. Bentuk kasih sayang dan terima kasih, begitu katanya.

“Bagaimana?” tanyaku saat melihatnya mengunyah makananku dengan pelan-pelan.

“Ini,”

Aku menanti dengan was-was. Raut wajahnya berubah aneh dan itu semakin menguatkan persepsi burukku tentang masakanku. Pasti ada yang salah disana. Terlalu asinkah? Terlalu manis? Atau malah tidak ada rasa sama sekali? Aduh, aku takut sekali membuatnya kecewa.

“…enak.”

“Apa?”

Dia menganggukkan kepalanya dengan semangat dan mengambil sushi yang kubuat. “Ini benar-benar enak, sungguh,” ucapnya lalu memasukkan sushi itu ke dalam mulutnya dan kembali sibuk dengan kunyahannya. Mendadak perasaan lega menyelimuti hatiku.

Aku tidak gagal, kan?

Aku masih memperhatikannya yang sibuk melahap habis masakanku sebelum aku teringat akan sesuatu. “Sungmin-ah, hari ini aku berencana—

Ponselnya berbunyi.

“Tunggu sebentar.”

Dia meminum air mineral yang sudah kusediakan dan beranjak dari duduknya. Melangkah menuju meja kerjanya untuk mengambil ponselnya yang masih mengeluarkan nada dering.

Sekilas, aku bisa melihat senyum tipis terukir dibibirnya.

“Yoboseo, Soorin-ah, ada apa?”

Dan detik berikutnya dia sudah tenggelam dengan topik yang dibicarakan bersama Soorin. Dia bahkan membalikkan tubuhnya menghadap jendela besar yang berada dibelakang kursinya. Mengabaikanku. Lagi. Dan bodohnya aku hanya bisa menundukkan kepalaku sembari menahan rasa sakit yang menyerang dadaku. Berusaha sekuat mungkin untuk tak berlari meninggalkan ruangan ini saat mendengar tawa renyahnya diujung sana.

Dia tidak pernah tertawa selepas ini saat bersamaku.

Beberapa belas menit terbuang dengan percuma. Aku masih terduduk diatas sofa empuk berwarna cokelat miliknya. Mendengarkan percakapannya dengan Soorin meskipun tak satupun kumengerti. Mendengarkan kekehan halusny meskipun aku tidak tahu lelucon apa yang dilontarkan Soorin padanya. Mendengarkan nada bicaranya yang sangat khawatir meskipun aku tidak tahu apa yang ia takutkan sampai seperti itu.

Dia menutup sambungan teleponnya dan mengambil jasnya yang tersampir pada lengan kursi kerjanya. Tangannya menyambar kunci mobil yang ia letakkan dilaci meja. Sontak aku berdiri, mengamatinya yang nampak sibuk. Aku mencengkeram lengan atasnya saat ia berjalan melawatiku begitu saja. Benar-benar melupakan kalau aku ada disini.

“Kau mau kemana?”

“Soorin bilang dia kesepian di rumah sakit. Jadi aku harus menemaninya. Aku pergi dulu.”

Dia menghempaskan tanganku yang melingkar dilengannya dengan kasar. Dan aku bisa mendengar derap langkah kakinya yang tengah berlari setelah ia menutup pintu ruangannya. Meninggalkanku sendiri, disini. Dengan bekal yang belum habis dimakannya. Masih banyak yang tersisa jadi aku berinisiatif untuk memakan semuanya.

Selalu seperti ini. Dia lebih mengutamakan sahabatnya dibandingkan yang lainnya.

Aku mengambil telur gulung yang kubuat dengan susah payah. Itu makanan kesukaannya, tapi dia bahkan tak mencicipinya sedikitpun. Mulutku mengunyah dengan pelan, dan tanpa sadar air mata itu mulai turun mengaliri kedua belah pipiku.

Kau menyakitiku, Sungmin-ah.

***

Aku menaruh nampan yang kugunakan untuk mengantar pesanan dan segera duduk disalah satu meja. Hanya tersisa 2 orang pelanggan di tiga meja, jadi aku bisa sedikit santai dan mengistirahatkan tubuhku yang terasa pegal. Hari ini aku datang telat setelah menyelesaikan urusanku di rumah sakit. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu sampai kafe tutup. Ibuku sendiri sedang sibuk menghitung penghasilan yang mereka dapat hari ini.

Aku memang selalu kesini tiap kali pulang dari klinik untuk membantu orang tuaku mengurus kafe keluarga. Meskipun banyak pelayan yang sudah dipekerjakan ibuku, tetap saja rasanya tidak enak jika harus membiarkan ibu dikafe sendirian. Lagipula aku malas sekali pulang. Pada jam segini, rumah masih sepi, hanya ada aku sendiri. Dan aku pasti akan mati kebosanan menunggu Sungmin pulang. Jadi, lebih baik aku ke kafe. Bertemu ibuku sekaligus membantunya. Ah, aku rindu sekali pada beliau.

Aku memeluk ibu ketika dia berdiri disebelahku. Membuatku mendengar tawa kecilnya sebelum ia balas melingkarkan lengannya di bahuku. Mengelus-elus punggungku dengan lembut, memberiku rasa nyaman. Kalau begini caranya, aku pasti akan melupakan sakit hatiku dengan cepat. Ibu selalu tahu bagaimana membuatku tenang.

“Ada apa?”

“Tidak ada. Hanya rindu pada eomma saja.”

Ibu melepas pelukanku dan mencubit ujung hidungku dengan gemas.

“Kau pandai sekali merayuku.”

Bibirku mengerucut, membuahkan kekehan halus yang terlontar dari bibir ibuku. Beliau lantas mengambil posisi duduk dihadapanku. Menarik salah satu tanganku dan menggenggamnya. “Dimana menantuku?”

Perlahan, perasaan sakit itu kembali menyusup ke dalam hatiku. “Dia sibuk.”

“Menjenguk Soorin lagi?” ujar ibu dengan nada kesal.

Ibuku dan ibu Sungmin sudah lama mengetahui hal ini. Diawali dengan kecurigaan ibuku saat dia datang berkunjung ke rumah kami beberapa minggu lalu dan tidak mendapati Sungmin disana. Lalu ibu berinisiatif menemaniku, sangat mengerti jika aku sedikit takut berada di rumah sendirian. Lama ibu menunggu tapi Sungmin tak kunjung datang. Ibu sudah berniat pulang waktu itu, tentu saja dengan perasaan marah dan kecewa yang tidak bisa ditutupi sama sekali. Dan Sungmin tiba-tiba datang, sedikit terkejut mendapati ibuku masih berada dirumah kami tengah malam begitu.

Ibu yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi menyuruh Sungmin duduk di ruang keluarga. Aku juga ada disana, dan rasanya benar-benar tidak enak. Seperti berada di kantor polisi dan diinterogasi oleh salah satu dari mereka untuk dimintai keterangan karena terbukti bersalah. Tatapan mata ibuku benar-benar tajam.

Awalnya beliau mencoba bersikap santai, tapi begitu mendengar alasan Sungmin pulang malam, ibu menjadi emosi. Beliau memarahi Sungmin karena lebih mementingkan wanita lain dibandingkan aku. Sejak saat itu, Sungmin mulai mengurangi frekuensi pertemuannya dengan Soorin. Lebih banyak menghabiskan waktu denganku di rumah dan di kafe. Aku seperti menemukan Sungmin ku kembali. Lee Sungmin, pria yang mencintaiku dan selalu menomorsatukan diriku.

Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Tepat 2 minggu yang lalu, kami mendapat kabar kalau kesehatan Soorin memburuk. Dan kebiasaan lamanya terulang kembali. Ibuku yang mengetahui hal ini lantas memberitahukannya pada ibu mertuaku. Mereka berdua berniat menasehati Sungmin seperti yang pernah dilakukan oleh ibuku, tapi aku melarangnya. Aku tidak mau hubungan Sungmin dengan orangtua dan mertuanya menjadi canggung. Lagipula dia hanya menunjukkan bentuk kasih sayang sebagai seorang sahabat yang pengertian. Iya, kan? Iya, pasti hanya itu.

“Jinhye-ya…”

Suara lembut ibu membangunkanku dari kenangan-kenangan yang berputar dikepalaku. Aku lantas memberikan senyum terbaikku padanya, mencoba membuatnya tenang. Tanganku balas menggenggam tangannya.

“Soorin sedang sakit, eomma. Sungmin hanya menemaninya saja.”

“Tapi tidak seharusnya dia meninggalkanmu sendiri.”

“Aku senang,” ujarku sembari mengelus punggung tangannya yang nampak keriput, tapi tidak sedikitpun mengurangi kelembutannya. Lalu memajukan kepalaku dan berbisik lirih tepat dihadapannya, “Bukankah waktuku denganmu menjadi lebih banyak?”

Dia mendecak kesal, membuatku terkekeh geli dan segera menjauhkan wajahku.

“Kau bahagia?”

“Ne?”

Kini wajah ibuku berubah sendu. “Apa kau bahagia?

Aku tersenyum kecil. Mengerti bahwa ia merasa khawatir pada kehidupan rumah tanggaku yang berada dalam kategori awas atau tidak baik-baik saja.

“Tentu saja!” Aku sedikit menaikkan volume suaraku, berpura-pura semangat. “Aku sangat bahagia,” ucapku dengan penekanan disetiap katanya sembari memaksakan sebuah senyum lebar di bibirku.

Ibu menghela napas dengan pelan. “Kau bisa memberitahuku jika kau merasa sakit. Eomma akan memberimu ketenangan.”

Entah kenapa aku jadi ingin menangis. Sejak ayah meninggal, ibu menjadi satu-satunya orang yang paling mengerti diriku dengan sangat baik. Aku bahkan berani bertaruh kalau sebenarnya dia tahu aku sedang berbohong. Aku memang bahagia. Menikah dan menua bersama dengan orang yang aku cintai adalah keinginanku sejak dulu. Tapi siapa sangka bahwa kehidupan bahagia yang pernah kubayangkan berubah menjadi rasa sakit yang tak tertahankan?

“Pulanglah. Mungkin Sungmin sudah menunggumu dirumah.”

Aku mengambil napas dengan susah payah, berusaha menahan air bening yang sudah menumpuk dimataku agar tak jatuh membasahi wajahku. Melepaskan celemek yang kugunakan dan meletakkannya diatas meja. Lalu mengambil tasku yang ada dikasir dan sedikit berlari untuk memeluk ibuku. Aku pasti akan sangat merindukannya nanti.

***

SungHye’s Private Home, Gangnam

12:58 PM

Aku mematut diriku dicermin. Gaun santai selutut berwarna kuning cerah yang kugunakan benar-benar cocok di pertengahan musim semi seperti ini. Rambut panjang sepunggungku sengaja kugerai dan kuberi sedikit hiasan disana. Aku sedikit berdandan. Biasanya aku hanya akan menggunakan bedak dan lipgloss tipis saja. Tapi khusus hari ini, aku juga menggunakan berbagai macam peralatan make-up yang tersusun rapi diatas meja riasku. Yah, walaupun aku tidak tahu sama sekali nama-namanya.

Aku hanya ingin terlihat cantik di pertemuan terakhir kami—aku dan Sungmin. Ah, mengingat hal itu hanya akan membuatku sedih. Kuputuskan untuk mengambil koper yang sudah kuletakkan di depan pintu. Memeriksanya sedikit sebelum aku memastikan bahwa tak ada satupun barangku yang tertinggal. Kepergianku harus disembunyikan. Aku tidak mau orang-orang disekitarku merecokiku dan membuatku linglung. Apalagi jika sampai ada yang berusaha menggagalkan rencanaku ini.

Semua keputusan sudah kupikirkan dengan sangat matang. Walaupun diiringi rasa sesal karena harus meninggalkan suamiku begitu saja, aku yakin inilah jalan yang harus kuambil. Aku tidak mau ketika sesuatu mengerikan yang akan segera datang dan mengubah hidupku membuatku berpangku-tangan pada Sungmin. Aku tidak ingin merepotkannya. Dia sudah cukup sibuk dengan perusahaan dan Soorin. Jika ditambah harus mengurusku lagi, dia pasti sangat kelelahan.

Aku sudah berpamitan dengan teman-temanku di klinik. Pada ibu dan mertuaku juga. Aku hanya belum mengucapkan salam perpisahan pada Sungmin dan Soorin. Aku takut malah menangis jika bertemu dengan Sungmin untuk terakhir kalinya. Tapi aku sudah menundanya sejak 3 hari lalu. Semakin lama waktu yang kuulur akan membuat semuanya semakin memburuk. Maka dari itu, meskipun tidak ingin, aku akan melakukannya hari ini juga.

Aku mengambil tas tanganku dan segera menyeret koper. Sebuah taksi sudah menunggu dibawah. Untung saja hari ini bukanlah waktu kerjanya bibi Jung, jadi aku tidak perlu melakukan kebohongan lagi untuk membuatnya mengerti. Aku berhenti di anak tangga paling akhir. Mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah.

Diruang makan itu, aku sering menikmati makan malamku sendiri karena Sungmin sibuk dengan Soorin. Di dapur, aku belajar membuat masakan untuknya yang lebih sering berakhir di tempat sampah. Ada pula ruang keluarga, tempatku menunggu Sungmin pulang hingga jatuh tertidur. Perpustakan, ruang bagiku untuk menangis. Menangisi kehidupan rumah tanggaku, menangisi segala hal yang membuatku sakit. Kamar kami, taman depan, taman belakang… aku pasti akan merindukan setiap sudut rumah penuh kenangan ini.

Tanganku bergerak untuk menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Bergegas turun dan memberikan koperku pada supir taksi untuk kemudian diletakkan dibagasi. Aku mengunci pintu rumah, meletakkan kuncinya di tempat biasa agar mudah ditemukan oleh Sungmin ketika dia pulang nanti. Lalu menyelipkan sebuah surat di kotak pos depan pagar. Berharap Sungmin akan menemukan surat itu dan membacanya. Setidaknya, dia mengerti alasanku melakukan semua ini.

Aku masuk kedalam taksi. Tidak mau menoleh ke belakang, karena aku tahu itu hanya akan semakin menyakitiku. Segera mengambil ponsel yang kuletakkan didalam tas tanganku dan menghubungi Sungmin. Aku harus memastikan kalau dia tidak pergi kemana-mana hari ini. Pesawatku berangkat jam 3 sore. Jika aku mencari keberadaannya dulu, maka akan menghabiskan waktu 2 jam yang kumiliki dengan sia-sia. Jadi lebih baik menanyakan langsung padanya.

“Eo, Jinhye-ya.”

Aku menarik sudut-sudut bibirku membentuk sebuah lengkungan tipis.

“Sungmin-ah, apa kau ada di kantor? Aku akan segera ke—“

“Ani, aku di rumah sakit sekarang.”

Senyum itu menghilang tepat ketika ia mengucapkan kata rumah sakit. Ada rasa sesak yang menyelinap ke dalam hatiku. Entah mengapa, rumah sakit menjadi rangkaian kata yang paling aku takuti sekarang. Selain menjadi tempat satu-satunya bagi Sungmin untuk menghabiskan waktu dengan Soorin, rumah sakit juga akan menjadi tempat bernaung bagiku nanti. Aku menghela napas dengan susah payah. Memaksakan segaris senyum tercipta dibibirku dan membuka mulutku, berniat mengucapkan sesuatu ketika Sungmin menyela lebih dahulu.

“Jinhye-ya, Soorin memanggilku. Aku matikan dulu, ya.”

Dan selesai. Hanya seperti itu. Dia bahkan menutup sambungan telepon secara sepihak. Tidakkah dia mengerti kalau aku sangat merindukannya? Kalau aku, sebenarnya aku sangat membutuhkannya disisiku saat ini?

***

KyungHee Medical Center, Dongdaemun, Seoul

01:31 PM

Taksi yang kutumpangi berhenti di parkiran. Meminta sang supir untuk menunggu sebelum aku keluar dari dalam taksi sembari menenteng sekeranjang penuh buah-buahan yang kubeli di perjalanan tadi. Seharusnya aku bisa memperkirakan kalau Sungmin berada di rumah sakit tiap kali jam makan siang tiba. Dia tidak pernah bisa jauh-jauh dari sahabatnya itu. Kadang membuatku berpikir kalau dia tidak mencintaiku dan  hanya menjadikanku  sebagai pelampiasaan dari perasaannya. Lalu saat Soorin sudah kembali, dia meninggalkanku. Bukankah hal itu yang sedang terjadi sekarang?

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, membuang pikiran-pikiran buruk itu merasuki otakku dan berusaha berpikir positif tentang suamiku. Kakiku melangkah dengan ringan memasuki rumah sakit. Sesekali membungkukkan badanku demi menyapa beberapa orang perawat dan dokter yang kukenal. Aku sering kesini setiap minggunya. Menjenguk Soorin bersama Sungmin. Tapi seminggu belakangan aku sibuk dengan kegiatan sosial di klinik tempatku bekerja, jadi aku jarang bertemu dengannya.

Tanganku terangkat, menyampirkan anak rambutku yang mengganggu pandanganku ke belakang telinga. Berhenti sejenak didepan pintu kamar bertuliskan 372, tempat Soorin dirawat. Mempersiapkan hatiku agar dapat menghadapi segalanya dan tidak menangis ketika mengucapkan kata perpisahan pada Sungmin.

Aku menarik napas dan menahannya beberapa detik sebelum membuangnya secara perlahan. Melakukan olah pernapasan seperti ini sedikit banyak membantuku. Hanya tinggal menambahkan sebuah senyum ceria dibibirku, maka aku telah siap melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam sana. Tapi nyatanya aku tidak sekuat itu. Aku tetap berdiri ditempatku, menundukkan kepala, kembali menimbang-nimbang. Dan mengulur-ulur waktu. Hingga kakiku terasa lelah, tak sedikitpun aku bergerak untuk berpindah tempat dari posisiku.

Tanganku terkepal erat, memberi semangat pada diriku sendiri. Sedangkan keringat dingin sudah membanjiri tubuhku seperti sinar matahari di pagi hari. Aku memutuskan membuka pintu dengan hati-hati, menyisakan sedikit celah bagiku untuk mengintip. Dan begitu melihat objek pandang di depan sana, rasa sakit menyerang dadaku secara bertubi-tubi. Mataku membelalak lebar, sedangkan tanganku menutupi mulutku yang terbuka dengan lebar.

Kenyataannya pikiran buruk yang aku pikirkan benar-benar terjadi. Sesuatu yang kulihat tadi sudah membuktikan semuanya. Mereka berciuman dengan mesranya. Tanpa memikirkan bahwa salah satu dari sepasang manusia itu telah mengikat janji sehidup semati dengan orang lain. Aku menutup pintu itu dengan pelan. Meletakkan keranjang buah-buahan yang kubawa disalah satu kursi ruang tunggu. Lantas segera melangkahkan kakiku, menjauh dari tempat yang membuat dadaku sesak. Dan membuat kelenjar air mataku berproduksi lagi.

Begitu sampai di parkiran, aku langsung menyambar ponselku. Menekan layar sentuhnya dengan tangan yang bergetar hebat. Aku menempelkan ponselku di telinga. Terdengar nada sambung selama beberapa detik sebelum seseorang diseberang sana mengangkatnya.

“Yoboseo.”

“Kau sedang apa?”

“Membantu Soorin seperti biasa. Ada apa, Jinhye-ya?”

Aku menutup mulutku dengan salah satu tanganku yang bebas. Mencegah keluarnya suara isakan keras yang bisa saja membuatnya curiga. Jadi, selama ini yang mereka lakukan adalah hal bejat seperti itu? Bermain api dibelakangku dan bahkan… bahkan berciuman? Astaga, aku merasa sulit bernapas sekarang. Mengapa dia tega sekali melakukan hal itu padaku?

Aku mematikan sambungan telepon begitu saja. Mengabaikan pertanyaannya. Tubuhku merosot, jatuh dalam posisi duduk saat kakiku terasa tak sanggup lagi menahannya. Seolah tenagaku tersedot habis, aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir deras di pipiku. Aku lelah menangis, aku lelah menahan rasa sakit ini. Seharusnya aku berteriak, memukulinya, atau apapun agar bisa menghentikan semua. Tapi toh pada kenyataannya akulah yang mengalah.

Aku harus rela dan sedikit berkorban. Mungkin ini memang jalan terbaik yang diberikan Tuhan untukku. Dengan begini, aku tidak perlu khawatir memikirkan hidup Sungmin sepeninggalanku. Dia sudah menemukan kekasih hatinya. Seseorang yang akan menikah dengannya, menggantikan posisiku menyandang gelar Nyonya Lee. Seseorang yang akan menemaninya melewati suka-duka kehidupan. Seseorang yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Seseorang yang menghabiskan masa tua bersamanya. Dan itu bukan aku.

Dan selamat tinggal, Lee Sungmin. Semoga kau berbahagia.

Aduh, suka banget bikin pasangan ini menderita *ditimpuk duit* Udah lama gak nulis, jadi maaf kalo hancur. Idenya juga udah pasaran kayaknya. Maaf lagi, habisnya hanya itu yang terpikirkan XD Sudah bisa ditebak, kan, alasan Jinhye pergi meninggalkan sang suami tercinta? *mau muntah* Nah, perihal hal itu akan dibahas di part selanjutnya. Dan ngomong-ngomong, part selanjutnya belum ada satu kata pun yang aku ketik. Hahahay~ selamat menunggu (kalo mau) *kecup basah*

Advertisements

78 comments

  1. aingo….nyesekkk aq bacanya jinhye kmu bener2 org yg baik…kalau aq jd kmu udah aq benyek2 tuh dua org itu….nyesek hatiku baca ff ini

  2. Kasihan JinHye, baguslah klo Jin Hye memutuskan utk pergi biar si Sungmin tau rasa. Gimana ya reaksi Sungmin ketika tau Jin Hye udh pergi?
    Sakit hati gw bacanya 😢
    Keren thor storynya 👍

  3. jinhyenya sakit juga kah? atau itu tmpat kerjanya aja.. yg pindah?
    omooo bnarkah sungmin berciuman.. kasian jinhye… 😢 knpa sungmin gtu bgt, smpe lupa kalo dy pnya istrinya sndiri yg jg pen pnya waktu m dy..
    keep writing ^^

  4. Klo suami lebih mentingin wanita lain walau itu sahabatnya tinggalin aja. Jin Hye sabar nget nya. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s