Let’s Break Up

alone-boy-cry-Favim.com-201933_large

Sungmin merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Ini sudah waktunya makan siang dan dia baru menyelesaikan beberapa berkas saja. Pria itu berjalan ke arah jendela besar dalam ruangannya yang mengarah langsung pada jalanan depan perusahaan. Memperhatikan keadaan lalu lintas kota Seoul yang selalu saja ramai dan tidak pernah sepi. Pria itu menghembuskan napasnya sesekali sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, mencoba merilekskan otak dan tubuhnya.

Biasanya pada waktu seperti ini, pandangannya akan mengarah pada gadis dengan rambut sepunggung yang digerai dan baju kaos beserta celana jeans yang ia kenakan, sedang berjalan menuju perusahaannya. Tidak perlu melihat dua kali karena ia sudah sangat yakin bahwa itu gadisnya. Hanya gadis bodoh seperti Han Jinhye saja yang tidak malu melompat-lompat kecil seperti orang aneh, membuat rambut yang digerainya pasti bergerak-gerak mengikuti gerakan lompatannya. Bahkan anak kecil saja tidak terlalu kekanakkan seperti gadis itu. Otak gadis itu memang sudah rusak.

Sungmin tersenyum tipis menyadari bahwa itu hanya khayalannya semata. Gadis itu sedang pergi selama beberapa hari ini, tanpa telepon, tanpa pesan, tanpa kabar sehingga membuatnya amat sangat merindukan gadis itu. Sungmin sempat berpikir jika gadis itu sedang menghindarinya. Tapi pikiran itu cepat-cepat ditepisnya karena ia tidak mau berpikiran buruk mengenai kekasihnya. Pria itu membalikkan tubuhnya dan mengangkat ponselnya yang berkedip-kedip diatas meja.

Sebuah alarm, dan itu membuat matanya membelalak kaget begitu membaca sebuah tulisan di layar ponselnya. Setelah itu yang nampak hanya keterburu-buruan Sungmin dalam membereskan peralatan kantornya. Ia memasukkan berkas-berkas yang belum terselesaikan olehnya ke dalam tas lalu keluar dari ruangannya dan memberikan senyum kepada pegawai-pegawainya yang memberi hormat padanya disepanjang jalan menuju parkiran. Pria itu masuk ke dalam mobilnya, menghempaskan tas kerjanya di jok belakang dan menyalakan mesin mobilnya yang kini mulai berjalan meninggalkan perusahaan besar milik keluarganya. Ini masih jam setengah empat kurang yang itu berarti dua jam lebih awal dari jadwal pulang kantornya.

Sungmin sudah memiliki janji dan tidak ingin mengingkarinya begitu saja hanya karena sebuah pekerjaan. Cukup sudah ia menyakiti gadis itu dengan mengabaikan kehadirannya selama ini. Kali ini, ketika gadis itu kembali dari Singapura, Sungmin berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi seorang kekasih yang perhatian. Dia akan menjadi kekasih yang baik, seorang kekasih yang mementingkan dan mencintai gadisnya lebih dari apapun, seorang pria yang sesuai dengan harapan gadis itu.

Sungmin menghentikan mobilnya begitu ia memakirkan mobilnya dengan benar di garasi rumahnya. Mengambil tasnya dan mengunci mobil lalu dengan setengah berlari memasuki rumah dan langsung menuju kamarnya. Pria itu melemparkan tas kerjanya ke atas ranjang dan masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya sebelum ia bergerak ke bandara untuk menjemput gadis itu.

Ini sudah seminggu dan itu artinya gadis itu akan kembali ke Korea hari ini. Sungmin baru saja selesai memakai jaket cokelat kesayangannya saat ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan. Pria itu tersenyum membaca nama ‘Han Jinhye’ di layar ponselnya lalu mengangkat telepon itu.

“Yoboseo.”

“Sungmin-ah, kau tidak perlu menjemputku ke bandara hari ini. Aku sudah berada di jalan sekarang dengan Jaeyeong oppa.”

“Kenapa begitu? Aku kan sudah mengatakan padamu kalau aku akan menjemputmu. Kenapa tidak menungguku dan malah pergi bersama lela—“

“Maaf, Jaeyeong oppa memerlukan bantuanku.”

Sambungan telepon terputus begitu saja, membuat Sungmin mencampakkan ponselnya ke atas ranjang dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Gadis itu merubah mood-nya hanya dalam waktu beberapa menit. Han Jinhye memang sangat hebat.

***

Jinhye mengaduk-aduk jus di hadapannya tanpa sedikit pun berminat untuk meminumnya. Diseberangnya duduk Jaeyeong—seorang lelaki yang sudah dianggapnya sebagai oppa kandungnya—sedang menyesap kopinya dengan nikmat. Mereka ada di sebuah cafe kopi daerah Incheon. Gadis itu sengaja meminta Jaeyeong untuk bertemu dan membicarakan masalah mereka. Cafe ini masih sangat sepi karena memang baru buka beberapa menit yang lalu. Hanya ada Jinhye dan Jaeyeong saja sebagai pelanggan disini sekarang.

Ini sudah hari ke lima semenjak gadis itu memilih menjauh dari kehidupan seorang Lee Sungmin. Kabar yang didapatnya beberapa hari lalu ketika gadis itu masih berada di Singapura membuatnya mau tidak mau harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya seperti ini. Bagaimana pun juga, gadis itu masih mencintai pria itu. Sangat mencintainya. Dan meninggalkannya seperti ini sama saja seperti mencabut nyawa gadis itu dengan paksa. Tapi kebahagiaan pria itu satu-satunya alasan Jinhye melakukan hal menyakitkan seperti ini.

“Kenapa melamun? Kau menyesal?” pertanyaan Jaeyeong sontak membuat gadis itu mendongakkan kepala dan menatapnya. “Kalau kau tidak sanggup, kau bisa menghentikannya dan mengatakan yang sejujurnya pada Sungmin sekarang,” lanjutnya lagi sembari meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.

“Dan membuatnya merasa sakit hati lalu menangis? Tidak, terima kasih. Cukup sekali aku melihatnya menangis histeris ketika ia mengetahui aku kecelakaan.”

Jaeyeong menggenggam salah satu tangan gadis itu yang ada di atas meja dan menatapnya dengan pandangan prihatin. “Tapi aku tahu ini menyakiti dirimu Jinhye-ya. Dan juga dia.”

Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela, mengabaikan Jaeyeong yang menunggu reaksi dari dirinya atas pernyataan tadi. Pembicaran dengan pria itu sebagai topiknya sangat sensitif baginya.

“Han Jinhye, apa yang kau lakukan?!”

Tubuh gadis itu menegang ketika pandangannya terkunci pada sosok lelaki tegap yang kini sedang berdiri disebelahnya, menatapnya marah. Jinhye baru saja akan berbicara ketika pria itu menarik pergelangan tangannya hingga ia berdiri. Pria itu memperhatikan Jinhye dan Jaeyeong bergantian lalu kembali memfokuskan tatapannya pada wajah gadis itu, menyusuri setiap inci wajah gadisnya. Hal yang sudah menjadi kebiasannya jika ia tidak melihat gadis itu seharian saja.

Gadis itu menghentakkan cengkeraman tangan Sungmin pada pergelangan tangannya, membuat pria itu membulatkan matanya dan menatap Jinhye syok. Sebisa mungkin gadis itu berekspresi datar menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran pria itu disini. “Jinhye-ya…” ucapnya kaget.

Jinhye yakin pria itu benar-benar terkejut mengingat ini adalah kali pertama seorang Han Jinhye bersikap kasar terhadap pria itu semenjak status mereka yang sudah berubah menjadi pacaran. “Bisakah kau pergi? Aku sedang ada urusan dengan Jaeyeong oppa,” ujar gadis itu tegas.

“Tidak. Kau harus ikut bersamaku. Aku butuh penjelasan,” katanya lagi sembari menarik lengan atas gadis itu dan mengambil tas-nya dengan cepat.

“Penjelasan apalagi? Yak, Lee Sungmin. Lepaskan aku!”

“Hentikan!” gadis itu bisa mendengar suara teriakan Jaeyeong yang berada beberapa meter dibelakangnya, membuat Sungmin menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, menatap Jaeyeong dengan horor. Sedangkan Jinhye disembunyikan pria itu dibelakang punggungnya, mencoba mengamankan gadis itu dari jangkauan pria brengsek itu.

“Dia kekasihku,” ucapnya penuh penekanan, membuat Jaeyeong berjalan mendekat ke arah gadis itu dan Sungmin, lalu dengan santainya menarik Jinhye dari punggung belakang pria itu.

Tentu saja tidak semudah itu karena Sungmin malah menahan pergelangan tangan Jinhye yang satunya dan menatap Jaeyeong dengan mata berkilat marah. “Lepaskan tanganmu dari tubuh kekasihku!”

“Wow, telingaku sakit. Jangan berteriak seperti itu teman. Hmm sepertinya ada yang perlu dikoreksi disini. Jinhye-ya, kau belum memberitahu pria ini mengenai keputusanmu?”

“Apa maksudnya, Han Jinhye?” gadis itu merinding ngeri begitu melihat dengan jelas bagaimana rahang itu mengeras ketika mengatakannya.

“Lee Sungmin, aku sudah berpikir selama berhari-hari mengenai hubungan kita. Aku mengakhiri hubungan ini sampai disini,” gadis itu bisa merasakan tenggorokannya yang tercekat ketika mengatakan kalimat itu. Wajah pria itu terlihat pucat dan menyedihkan. Pandangannya kosong dan bahkan airmata sudah menggenang di sudut-sudut matanya. Membuat gadis itu merasakan sakit luar biasa yang menghantam dada kirinya.

“Kau bercanda. Iya, kan?”

“Kau masih belum mengerti? Akan kuperjelas jadi dengar baik-baik. Han Jinhye bukan lagi kekasih seorang Lee Sungmin.” Jaeyeong bisa mendengar suara gadis itu yang lebih terdengar seperti bisikan daripada sebuah suara penolakan yang lantang dan tegas. Dengan cepat gadis itu mengalihkan wajahnya ke arah lain, menolak menatap mata pria itu yang menunjukkan rasa sakit teramat dalam. Kedua tangan pria itu yang tadinya memegang bahu Jinhye kini terlepas. Tergeletak lemah di sisi-sisi tubuhnya, seolah tenaganya sudah tersedot habis.

“Pergilah. Aku tidak mau melihatmu lagi,” ucap gadis itu sembari memeluk Jaeyeong yang membalas melingkarkan lengannya disekeliling bahunya. Jinhye membenamkan wajahnya di dada bidang Jaeyeong, menyembunyikan wajahnya yang kini sudah basah oleh airmata.

Butuh beberapa menit sebelum pria itu menyadari apa yang sedang tejadi sekarang lalu ia memilih melangkahkan kakinya keluar dari cafe itu. Jinhye melepaskan pelukannya pada Jaeyeong, berjalan beberapa langkah ke depan dan memperhatikan Sungmin yang masuk ke dalam mobilnya dengan tidak konsentrasi. Pria itu bahkan nyaris saja menabrak trotoar jalan dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jinhye menutup mulutnya dengan kedua tangan, merasa kedua kakinya tidak bisa lagi menopang bobot tubuhnya sehingga ia memilih menjatuhkan diri ke lantai. Gadis itu bahkan harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan isakannya sampai-sampai ia bisa merasakan asinnya darah. Ini terlalu buruk dari bayangannya. Terlalu menyakitkan.

 ***

Jinhye’s Parents Home, Incheon, Seoul
09:35 PM KST
Author’s POV

Jinhye membungkuk lalu mengucapkan terimakasih pada Jaeyeong yang dibalas dengan anggukan singkat dan senyuman lembut dari pria itu. Jaeyeong mengacak-acak rambut gadis itu dan memberikannya beberapa nasehat sebelum akhirnya lelaki yang lebih tua empat tahun darinya itu masuk kembali ke dalam mobilnya, melambaikan tangannya pada gadis itu dan melajukan mobilnya menjauhi pekarangan rumah Jinhye.

Gadis itu tersenyum sekilas mengingat bagaimana Jaeyeong berusaha melindunginya dari cercaan pertanyaan yang pasti akan dilontarkan oleh Sungmin. Mendadak rasa sakit itu menyerang tubuhnya, membuatnya harus menggigit bibir dan menarik nafas dalam-dalam, mencoba menghalau airmata yang bisa saja turun dengan seenaknya. Jinhye melangkah ke arah pintu, menekan bel berulang-ulang dan merasa bahwa ia adalah manusia paling bodoh di dunia ini. Orangtuanya sedang ada urusan di Busan yang itu berarti ia sedang sendirian di rumah sebesar ini. Astaga, keluarganya bahkan sudah pergi beberapa hari yang lalu tapi ia bisa melupakannya begitu saja.

Jinhye menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa sedikit geli dengan kepikunan dini yang ia alami. Ia mengambil kunci yang berada di dalam tasnya dan baru saja hendak membukanya ketika suara teriakan seseorang yang memanggil namanya menunda kegiatannya. Jinhye berbalik dan tiba-tiba saja merasa udara disekitarnya telah habis. Paru-parunya tidak bisa bekerja memompa oksigen dengan benar dan itu membuatnya sesak napas.

Ia bisa melihat bagaimana pria yang dicoba untuk ia hindari beberapa hari ini sedang berdiri di depan pagar rumahnya masih lengkap dengan pakaian yang digunakan pria itu saat kejadian di cafe sore tadi sembari menatapnya dengan tajam dan intens. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah, seolah-olah ada bongkahan es yang menghambat jalur dari mulut ke tenggorokannya.

Dengan cekatan gadis itu berbalik—lagi—dan membuka kunci pintunya diikuti dengan suara larangan yang terdengar sangat lantang keluar dari bibir pria itu. Ia bisa mendengar suara derap langkah kaki yang berlari mendekatinya, membuatnya semakin panik dan masuk ke dalam rumahnya secepat mungkin. Gadis itu tidak tahu apa yang terjadi karena sepersekian detik setelahnya, pria itu malah mendorong pintu rumahnya—yang baru saja hendak ia tutup—dan merengsek masuk ke dalam sehingga tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang, diikuti dengan bunyi debaman pintu yang sangat keras.

Pria itu menarik Jinhye dan mendorongnya ke sudut dinding lalu memanjangkan salah satu tangannya di sisi kepala Jinhye, menghimpit gadis itu. “Dengar…” napas pria itu masih tersengal-sengal ketika ia berbicara, akibat larinya yang cukup jauh dan juga emosi yang sedang ditahannya sedari tadi. Ia menatap tepat di manik mata gadis itu, melihat raut ketakutan yang sangat kentara disana. “…aku hanya butuh penjelasan darimu.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.”

“KAU MENINGGALKANKU BEGITU SAJA DAN KAU BILANG TIDAK ADA PENJELASAN?!” teriak pria itu frustasi, membuat tubuh gadis yang berdiri dihadapannya menegang ngeri. Pria itu mengacak rambutnya dengan kasar lalu menarik pinggang gadis itu mendekat ke arahnya sehingga ia bisa merasakan hembusan napas gadis itu di wajahnya.

“Aku mohon Jinhye-ya. Ini sama sekali bukan dirimu. Kau sangat mencintaiku dan aku pun begitu. Jadi, kenapa kau memilih memutuskan hubungan kita yang masih baik-baik saja? Tolong jangan seperti ini Jinhye-ya.”

“Maaf Lee Sungmin-ssi, tapi keputusanku sudah bulat. Aku harap kau tidak menganggu kehidupanku lagi,” kata gadis itu sembari menolehkan wajahnya ke arah lain, menolak menatap mata pria itu yang seolah menusuk-nusuk tubuhnya.

Ketakutan pria itu benar-benar terjadi. Gadis itu memintanya untuk melepasnya. Mendadak tubuh Sungmin terasa sangat tidak bertenaga, sehingga ia hanya bisa memegangi pundak gadis itu untuk menahan bobot tubuhnya agar ia tidak terjatuh ke atas lantai. Air bening sudah mengalir di kedua pipinya tanpa bisa ia cegah.

“Tidak. Jangan pernah katakan itu. Jangan memintaku untuk melakukan hal itu. Aku sangat mencintaimu Jinhye-ya. Jangan mencampakkanku seperti ini. Kumohon. Aku akan melakukan apapun untukmu tapi tidak untuk yang satu itu. Bagaimana bisa kita berpisah dan kau memintaku untuk menjauhimu sementara kau adalah satu-satunya hal terpenting dalam hidupku?” ucapan pria itu terdengar sangat lirih sambil sesekali diikuti dengan senggukan akibat tangisnya yang sangat hebat.

Lee Sungmin bukan jenis pria yang mudah menangis bahkan terhadap hal-hal yang sangat sensitif bagi dirinya sekalipun dan gadis itu merasa sangat bersalah karena telah membuat pria kuat itu menangis semengerikan ini.

Tangan gadis itu terulur hendak mengelus punggung pria yang kini sedang memeluknya dengan sangat erat tapi terbatalkan ketika mengingat tujuan awalnya melakukan hal paling menyakitkan seperti ini. Jinhye membiarkan Sungmin menangis dan membenamkan wajahnya di bahu gadis itu tanpa melakukan penolakan ataupun penghiburan, membuatnya bisa merasakan bajunya yang kini terasa basah oleh airmata pria itu.

Jinhye mengambil keutungan dari pelukan Sungmin yaitu menghirup aroma khas yang menguar dari tubuh pria itu, aroma favoritnya. Mendadak gadis itu merasa takut jika ia benar-benar tidak bisa menghirup aroma favoritnya lagi. Pria itu melepaskan pelukannya lalu menatap mata gadis itu dalam-dalam, memohon dan memelas.

Gadis itu menunduk, menolak menampakkan wajahnya yang akan segera berair, “Maaf.” jawaban singkat gadis itu membuatnya tiba-tiba merasa sesak yang tak tertahankan. Pria itu menggigit bibir bawahnya dengan keras lalu menatap gadis itu dan memberikan senyum terpaksanya.

“Boleh aku menciummu? Hanya sebagai kenangan terakhir untukku sebelum benar-benar menjauh… dari kehidupanmu,” tenggorokan pria itu tercekat ketika ia mengucapkannya. Astaga, hal itu bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun di kepalanya dan sekarang gadis itu sendiri yang meminta untuk menjauhinya. Baiklah, ia akan berusaha sedikit berbaik hati kali ini dan menghargai keputusan gadis itu.

Anggukan pelan dari Jinhye, membuat Sungmin memajukan wajahnya dan melumat bibir gadis itu dalam satu lumatan kasar. Ciuman itu terasa sangat mendesak, sarat akan keputusasaan dan juga frustasi. Sungmin menangkup kedua pipi gadis itu seolah tidak ingin jika ciuman mereka berakhir sesingkat-singkatnya. Pria itu bahkan hanya melepaskan bibir Jinhye dalam beberapa saat untuk sekedar mengambil napas dan kembali menciumnya, semakin dalam.

Bibir Jinhye yang sedikit terbuka menyebabkannya bisa mencecap rasa asin airmata yang mengalir dari ujung batang hidungnya dan masuk ke tenggorokannya. Pria itu menangis, lagi, dan itu sangat berpotensi membuat gadis itu mati-matian menahan airmatanya. Jinhye mengepalkan kedua tangannya di sisi-sisi tubuhnya sehingga ia bisa merasakan bagaimana sakit dan perihnya ketika kuku-kukunya berhasil merobek dan menancap di permukaan kulitnya.

Gadis itu memajukan tubuhnya, menghapus jarak diantara mereka dan membalas ciuman pria itu dengan sama ganasnya, mencoba melupakan bagaimana menyeramkannya permainan takdir itu bagi mereka berdua. Untuk kali ini saja, gadis itu ingin menikmati bagaimana bahagianya memiliki seorang kekasih yang dicintai dan mencintainya tanpa harus merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti sekarang. Lagipula, mungkin saja ini ciuman terakhirnya dengan pria itu sebelum ia benar-benar pergi.

Words, I shouldn’t have heard.
My phone which I should’ve just forgotten to bring.
Words that makes me at a loss of words.
Words, that don’t care about how I feel.

How can I forget you?
Should I put an effort to try and forget you?
Will we ever be able to go back to what we had?
Last words which made us both
At a loss for words.

When I would tell you that I loved you.
You would stop and my heart would feel like
It was exploding. I have stopped and.
I’m simply waiting for your next words.

How can I forget you?
Should I put an effort to try and forget you?
Will we ever be able to go back to what we had?
Words that hurts no matter what.
Words of goodbye.

If only time could stop.
If only we could erase.
If only we could go back in time.
To the day when we first met.

How can I forget you?
Should I put an effort to try and forget you?
Will we ever be able to go back to what we had?
My words are frozen, tears keep flowing.
Words which I don’t want to believe.

How can I forget you?
Should I put an effort to try and forget you?
Will we ever be able to go back to what we had?
Even when I dream, I don’t want
To believe those words.
Because I love you.

(TVXQ – How Can I)

TBC

Lyrics translation: southkoreaaddict.blogspot.com

Advertisements

26 comments

  1. Jangan2 Jinhye sakit tp ia lbh memilih u memutuskan hub nya dgn Sungmin oppa drpd hrs melihat kekasihnya nanti sedih kembali krn ia menderita sakit seperti ini, sadly love story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s