When I Lost You

tumblr_le1l4u2ffm1qbw2d2o1_500

Kau tahu?

Ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu…

Pria itu menengadahkan kepala dan memejamkan mata, menikmati angin yang menerpa tubuh tegapnya dan membawa aroma favoritnya, bau tanah basah. Ia merentangkan kedua lengannya begitu merasakan angin yang berhembus semakin kencang. Mencoba merelaksasikan seluruh saraf dan otot-otot tubuhnya. Hingga tubuh seseorang yang menabrak punggungnya diikuti dengan lengan kecil yang melingkar erat di pinggangnya menginterupsi kegiatan harian yang selalu ia lakukan begitu hujan reda.

Kelopak matanya sontak terbuka, menunjukkan bola matanya yang berwarna hitam legam. Ia begitu mengenal lengan mungil dan hangat ini. Hanya satu orang saja yang memilikinya di dunia ini.

Gadis itu, Han Jinhye.

Seketika senyuman lebar terukir di bibirnya.

Dia bisa merasakan kalau gadisnya sedang menempelkan pipinya di punggung lebar miliknya dan mengambil napas di sana. Jari-jemari lentik gadis itu yang berada di pinggangnya disatukan, membuat tubuh tegapnya terkurung di antara lengan mungil milik gadisnya. Ia mengelus tangan halus gadis itu dengan lembut. Mencoba membuat gadisnya senyaman dan sehangat mungkin.

Ia berharap gadis itu akan mengucapkan sebuah kata yang ditunggunya selama ini. Seminggu tidak bertemu dengannya, tapi tidak pernah sekalipun gadisnya mengatakan kata tersebut. Mengingat itu membuat jantungnya berdebar keras. Bisa ia pastikan wajahnya akan merona dan senyum tiada henti terukir di bibirnya jika gadis itu mengucapkannya.

Gadis itu menghela napas dengan keras sebelum ia berkata, “Bogoshippo…” dengan suara lirih. Membuat tubuhnya menegang, terpaku di tempat.

Dan, Ya Tuhan, wajahnya memanas.

Sial!

***

Super Junior Lee Sungmin.

Itulah panggilannya yang dikenal oleh orang di seluruh dunia. Pekerjannya sebagai entertainer di sebuah agensi musik dan artis terbesar di Korea Selatan—SM Entertainment—membuatnya jarang berada di rumah dan menemui istrinya. Profesionalitas sebagai seorang penyanyi sekaligus aktor selalu menjadi alasan utama ketika ia tidak bisa bertemu dengan gadis itu. Tapi memang benar adanya.

Tak urung, Sungmin kerap kali berpikir untuk mengulang waktu agar ia bisa mengubah pekerjaannya sekarang. Setidaknya jika ia menjadi direktur utama dan mengurusi perusahaan besar milik ayahnya, ia tidak sesibuk ini dan masih bisa pulang untuk bertemu dengan gadis itu di rumah.

Han Jinhye. Seorang gadis 23 tahun yang telah menjadi istrinya selama hampir setengah tahun ini. Oh, atau harus ia menggantinya menjadi Lee Jinhye? Seharusnya gadis itu memang memakai marganya di depan namanya. Tapi gadisnya yang satu itu selalu menolaknya.

“Aku… malu,” begitu jawaban gadis itu jika ditanya mengapa ia menolak memakai marga Sungmin di depan namanya. Dengan kepala yang menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya, ia mengucapkan kata itu dengan cepat dan pelan. Tapi cukup keras di telinga Sungmin hingga membuatnya harus menahan kekehannya mendengar jawaban dari bibir mungil istrinya.

Bukankah itu jawaban yang tidak masuk akal sekaligus menggelikan?

Sungmin memasukkan kancing terakhir ke lubangnya lalu beranjak ke arah cermin yang lebih tinggi dan lebih besar darinya. Membuat ia bisa melihat keseluruhan penampilannya hari ini dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia benar-benar harus tampil maksimal nanti.

Ia masih sibuk merapikan penampilannya, hingga suara dering ponsel menginterupsi kegiatannya. Sungmin mengambil ponselnya yang terletak di meja rias sebelah cermin dan tersenyum membaca nama yang tertera di layar ponselnya yang berkedip-kedip itu. Sebuah video call dari seseorang yang sangat ia rindukan sekarang ini, gadis itu.

Yoboseo…” kata pertama yang keluar dari bibirnya ketika ia menekan tombol call di ponselnya.

Gadis itu tersenyum cerah sebelum ia berteriak keras, “Sungmin-ah! Akhirnya kau menjawab panggilanku. Kau tahu? Semalam aku meneleponmu sebanyak… eumm entahlah. Aku lupa. Pokoknya aku sudah meneleponmu lebih dari 100 kali mungkin tapi tidak ada satu pun yang kau hiraukan. Menyebalkan!” katanya panjang lebar diakhiri dengan cibiran yang keluar dari bibirnya.

Sungmin menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Berusaha mencegah suara tawanya terdengar sampai keluar ruangan ganti pakaian ini. Ia masih terkekeh geli melihat ekspresi istrinya.

Selalu seperti ini. Gadis itu bisa dengan riangnya menjawab telepon lalu mengomel tidak jelas dan merajuk. Dia memang gadis langka yang memiliki kepribadian teraneh di dunia. Setidaknya itu menurut Sungmin.

Dan, lebih dari 100 kali meneleponnya? Cih, apanya! Padahal ia tidak ada menelepon Sungmin lebih dari 10 kali. Selalu berlebihan dan menggebu-gebu. Tapi bodohnya, hal inilah yang membuatnya selalu merindukan gadis itu.

Ia menghentikan tawanya begitu melihat wajah merengut gadis yang ada di layar ponselnya. Sungmin tersenyum samar lalu menanyakan alasan gadis itu meneleponnya, yang ia yakini bukan karena gadis bodoh itu merindukan dirinya. Dia adalah gadis dengan gengsi seluas Samudera Pasifik yang pernah Sungmin temui.

Bagaimana bisa gadis itu lebih memilih memakai baju-bajunya yang tersisa di lemari pakaian dan memakai parfum miliknya yang sengaja ia tinggalkan—ketika ia tidak ada di rumah lebih dari 2 hari—daripada menelepon ataupun mengiriminya pesan dan mengatakan bahwa gadis itu merindukannya? Hanya satu kata yang bisa mendeskripsikan istrinya. Aneh!

Setidaknya kata itulah yang hinggap di kepala Sungmin jika gadis itu sudah berada di hadapannya dan bertingkah macam-macam.

“Aku ingin meminta izinmu saja. Aku ingin ke Jepang menemui temanku yang memerlukan bantuanku disana. Ia sedang sakit dan aku dimintanya untuk memeriksa sebentar. Kau tahu kan, ia tinggal sendirian di sana. Aku hanya ingin menolongnya saja. Hanya 3 hari, setelah itu aku akan kembali lagi ke Korea. Kurasa itu tidak masalah bagimu. Hitung-hitung mengisi waktu liburanku selama kau melakukan Super Show di Singapura. Bagaimana?”

Mwoya?! Tidak mau!” Sungmin berteriak keras membuatnya bisa melihat wajah gadis di layar ponselnya itu sedikit memucat.

“Ah, kenapa? Aku hanya sebentar. Lagi pula, aku juga ingin mempraktekkan ilmu yang kudapat selama aku kuliah. Boleh, ya? Kumohon.”

“Aku tahu kau adalah seorang dokter. Tapi apa harus seperti itu? Setidaknya kau beristirahatlah sebentar. Kau baru saja pulang dari Beijing,” terlihat raut khawatir di wajah Sungmin, membuat gadis yang sedang berkomunikasi dengannya tersenyum menenangkan.

Ia tahu apa yang mengganggu pikiran suaminya.

“Tenang saja. Aku janji akan menjaga diriku. Aku akan makan tepat waktu dan tidak melewatkan makan malamku. Aku akan berhati-hati. Kau percaya padaku, kan?”

“Baiklah, aku mengijinkanmu. Tapi kau harus menepati janjimu padaku. Awas saja jika aku menemukan segores luka di tubuhmu, kau akan tahu akibatnya, Jinhye-ya. Kau mengerti?”

Gadis itu mengeluarkan desisan dari bibirnya diikuti dengan gelak tawa bahagia. Sungmin bisa melihat istrinya sedang mengepalkan tangannya dan mengacungkannya ke udara, membuat Sungmin harus menahan rasa kesalnya setengah mati melihat sifat keras kepala dan kekanakan yang berlebihan dari gadisnya itu.

“Terima kasih. Aku semakin mencintaimu, Suamiku Sayang,” kata gadis itu dengan wajah dan suara yang dimanis-maniskan.

Sungmin menunjukkan wajah syoknya selama beberapa saat sebelum ia berdehem pelan, memulihkan pikirannya. Ini kesekian kalinya gadis bodohnya itu bertingkah aneh hari ini.

Aish! Berhenti berprilaku seperti itu. Kau tidak pantas, Lee Jinhye. Dan, nanti setelah pesawatmu mendarat di bandara kau harus segera pulang ke rumah dan menemuiku. Kau mengerti?”

“Saya paham, Tuan.”

“Yak!”

***

Dan ketakutanku itu terjadi

Kau meninggalkanku, sendiri…

Sungmin membolak-balikkan lembar demi lembar yang ada di majalah itu tanpa berniat sedikit pun untuk membacanya. Entah mengapa, perasaan khawatir menyelimutinya semenjak gadis itu pergi ke Jepang 3 hari yang lalu. Memang tidak ada yang aneh. Dia masih menjawab telepon darinya dan mengiriminya pesan singkat, memberitahukan keadaan dirinya. Tapi Sungmin merasa… takut.

Ia takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Ia takut gadis itu tidak menjaga pola makannya dengan baik di sana sehingga maag gadis itu kumat dan semakin parah—mengingat gadis itu selalu menolak jika harus opname di Rumah Sakit.

Atau yang parahnya, gadis itu bisa saja tidak berhati-hati menjaga dirinya lalu sesuatu yang buruk terjadi menyebabkan dirinya terluka parah dan pergi jauh meninggalkan Sungmin sendirian di sini tanpa ia bisa untuk menemui gadisnya lagi. Dengan kata lain, gadis itu…

Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak! Ia tidak boleh berpikiran kotor seperti itu. Bagaimana bisa ia berpikir istrinya pergi meninggalkannya ke tempat yang tidak bisa ia gapai? Aigoo, sepertinya otaknya sudah rusak sekarang.

Segera saja Sungmin mencampakkan majalah yang hanya disentuhnya tadi ke atas sofa dan hendak keluar dari dorm untuk mencari udara segar, sampai sebuah suara teriakan dari Leeteuk menghentikan langkah kakinya.

“Ada apa, Hyung?”

“Masuklah dulu. Ada berita penting di televisi.”

Sungmin mengerutkan keningnya melihat wajah ingin menangis dari hyungnya itu. Apa yang terjadi sebenarnya? Kembali ia melepas sepatu yang sudah ia pakai tadi dan berjalan mengikuti Leeteuk. Sesampainya di ruang televisi, Sungmin bisa melihat seluruh member Super Junior telah berkumpul di sana, entah sejak kapan.

Hyung, kuatkan hatimu. Oke?” Eunhyuk yang pertama kali bersuara. Matanya dan pasangan ikannya itu sudah berkaca-kaca.

“Sungmin-ah, duduklah di sini.” Kangin menepuk bagian sofa yang kosong di sebelahnya. Sungmin yang masih bingung memilih duduk dan melihat ke layar televisi yang ditunjuk Kyuhyun sebelumnya.

Sungmin masih belum mengerti dengan apa yang terjadi hingga ia menangkap sebuah kalimat yang diucapkan sang penyiar berita. Seketika ia merasa dunia seolah berhenti berputar. Ia tidak lagi bisa mendengar suara lain. Bahkan ia tidak merasakan pelukan hangat, teriakan simpati, dan jeritan tangis yang datang secara bertubi-tubi dari para member.

Kata-kata yang diucapkan penyiar berita tadi terus terngiang-ngiang di telinganya, membuat kepalanya semakin pusing—seolah mau pecah—dan pandangannya mengabur hingga seketika ia merasa tidak bisa melihat apapun lagi. Ia terkurung dalam satu keheningan panjang yang mencekam. Kegelapan.

***

Kecelakaan pesawat itu terjadi tepat ketika pesawat akan mendarat di Bandara Incheon, Korea Selatan. Dikarenakan keadaan cuaca yang buruk ditambah dengan keadaan bandara yang sangat licin menyebabkan pesawat tergelincir 19 meter dari tempat seharusnya. Hanya dalam waktu beberapa detik, pesawat sudah meledak dan hancur berkeping-keping. Seluruh penumpang pesawat itu meninggal dunia.

Setidaknya itulah yang ia ketahui dari berita yang ia tonton semalam.

Sungmin menatap pusara di hadapannya dengan tatapan kosong. Sebelum istrinya dimakamkan, ia sempat melihat bagaimana wujud gadis itu yang masih sempurna dan tidak ada luka serius di bagian tubuhnya meskipun pesawat terbakar dan hancur berkeping-keping. Sungmin histeris dan tidak percaya bahwa gadis itu sudah tiada.

Terang saja, tubuh gadis itu terlihat baik-baik saja meskipun terdapat luka sobekan sepanjang 13 senti di pelipisnya. Yang ada dipikirannya saat itu adalah, gadis itu hanya terkena luka sobekan yang bisa dibilang tidak terlalu parah tetapi ia bahkan meninggal dunia. Dia tidak bisa menalar ini semua. Tidak sebelum dokter ahli forensik yang memeriksa tubuh istrinya mengatakan bahwa gadis itu mengalami patah tulang rusuk, hancurnya tulang dada dan tengkorak kepala yang retak.

Mengingat itu membuat dadanya sesak dan tubuhnya jatuh perlahan dalam keadaan berlutut. Ia tidak menyangka secepat ini gadis itu meninggalkannya. Bagaimana mungkin ia bisa hidup tanpa gadis itu mengingat dirinya yang tidak bertemu dengannya selama seminggu saja mampu membuat keadaannya menjadi sangat buruk? Gadis itu, tidak seharusnya meninggalkan dirinya sendirian seperti ini.

“Tidakkah kau berpikir bagaimana hidupku nantinya tanpamu?” Setetes air bening yang ditahannya sedari tadi mengalir begitu saja di kedua pipi pria itu.

“Di bawah sana hanya ada kau dan tanah, tidakkah kau merasa dingin Jinhye-ya? Aku tahu kau paling tidak tahan dingin dan selalu mencari pelukanku agar merasa hangat. Jadi, kenapa kau lebih suka berada di sana? Dekapanku… tidakkah kau merindukannya?” Suara pria itu mulai terdengar serak dan bergetar.

“Kembalilah, kumohon…”

Setetes, dua tetes air mata. Membuat aliran sungai kecil yang semakin lama mengalir semakin deras. Ia menahan isak tangis yang ia yakini akan terdengar sangat menyedihkan jika ia tidak menyumpalnya dengan kedua tangan kekar miliknya.

Masih segar teringat di benaknya awal pertemuan dengan gadis itu. Ia ingat ekspresi gadis itu yang terkejut ketika mengetahui bahwa ia melakukan sebuah tindak kekerasan pada seorang publik figur. Ia ingat rona merah yang muncul di wajah gadis itu ketika ia menerima lamaran darinya.

Ia juga ingat cantiknya paras gadis itu ketika melangkah menuju altar sewaktu akan mengucapkan janji sehidup semati di hari pernikahan mereka. Ia ingat malam pertama yang mereka lewati sebagai sepasang suami istri. Ia ingat ekspresi menjijikkan dari wajah gadis itu ketika ia mengucapkan kata-kata manis yang ia pelajari dari si Ikan Romantis, Donghae. Ia ingat bagaimana gadis itu menghibur dirinya yang sedang kelelahan karena bekerja seharian. Ia juga ingat pelukan hangat yang selalu diberikan gadis itu jika ia sedang dalam keadaan yang tidak baik.

Dan, yang paling ia ingat adalah ketika sebuah kata manis yang jarang keluar dari bibir mungil gadisnya. Dengan kepala yang tertunduk dan rona merah muda di kedua pipinya, ia mengucapkannya dengan pelan. Sebuah kata yang sangat jarang diucapkan oleh gadis itu tetapi mampu membuat seluruh kerja saraf dan organ tubuh Sungmin bergerak dengan cepat.

“Saranghae…”

***

Sungmin bangun dengan cepat dari tidurnya. Nafas yang terputus-putus dan mata yang memerah menjadi pemandangan pertama yang ada di wajah tampannya. Titik-titik air terlihat membasahi seluruh kulit tubuhnya sampai-sampai kaos yang ia gunakan basah karenanya. Ia menghapus air bening yang mengalir dari kelenjar matanya dan mencoba mengatur nafasnya.

Mimpi buruk, sangat buruk!

Sungmin menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang. Tidak ada. Gadis itu tidak ada di sebelahnya. Ketakutan kembali menyelimuti dirinya. Segera ia membuka selimut yang membalut tubuhnya lalu meloncat turun dari ranjang dan keluar dari kamar.

Hyung! Kau mau ke mana?”

Teriakan yang ia perkirakan keluar dari bibir seorang Kim Ryeowook itu tak diacuhkannya. Ia membuka pintu dorm dan membantingnya begitu saja. Yang ada dipikirannya sekarang ini hanya satu, gadis itu.

Dia menekan-nekan tombol down di lift itu. Tetapi, kemudian ia mengacak rambutnya frustasi ketika lift itu tak kunjung membuka. Padahal ia baru saja menunggu tidak lebih dari semenit. Ia yang sedang kalap memilih menuruni tangga darurat dan melompati beberapa anak tangga agar ia bisa dengan cepat sampai di hadapan gadis itu sekarang juga. Ia ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja dan tadi itu hanyalah mimpi buruknya semata.

Begitu sampai tepat di depan pintu apartemen mereka, dengan cepat Sungmin menekan kode pengaman yang telah mereka atur sebelumnya. Tangannya yang bergetar dan pikirannya yang tidak fokus membuat kode yang ia masukkan berungkali gagal dan mengharuskannya mengulang sebanyak lima kali. Begitu kode yang ia masukkan benar dan diterima, ia membuka dan menutup pintu itu dengan cepat.

Ia masih berdiri tepat di belakang pintu utama dan berusaha mengatur napasnya. Setelah ia rasa cukup dan sedikit tenang, ia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan berharap dapat menemukan gadis itu di salah satu sudut apartemen ini. Tapi nihil. Hal ini membuatnya kembali merasa takut dan khawatir.

Dengan tergesa-gesa ia membuka setiap ruangan yang memiliki pintu sembari meneriakkan nama gadis itu keras-keras. Pandangannya semakin mengabur begitu ia mendapati bahwa ia sudah memeriksa setiap ruangan di apartemen mereka tetapi tetap tidak menemukan gadis itu. Ia seperti orang kesurupan, memeriksa setiap ruangan dengan cepat dan membanting pintunya begitu saja sebagai pelampiasan rasa takutnya ketika ia tidak mendapatkan apa yang ia cari.

Ia masih berteriak memanggil nama gadis itu dengan keras sampai ia mendengar bunyi ‘klik‘ dari pintu utama, menandakan ada seseorang yang masuk ke apartemen mereka.

Sungmin melangkahkan kakinya dengan kecepatan ekstra mendekati pintu itu tetapi baru dua langkah ia sudah berhenti di tempat. Ia bisa melihat gadis itu yang berdiri hanya beberapa meter dari tempatnya dengan kedua tangan yang membawa tas plastik bertuliskan Violet Market. Perasaan lega menjalari sekujur tubuhnya.

“Sungmin-ah! Bagaimana bisa kau—“

Sungmin tahu-tahu sudah memeluk gadis itu. Ia mengeratkan pelukannya di sekeliling pinggang gadis itu, membuat gadis itu terbatuk-batuk selama beberapa detik karena lengan kekar yang memenjarakan tubuh mungilnya terlalu erat.

Gadis itu urung menanyakan apa yang terjadi dengan suaminya. Jadi, ia hanya diam sambil balas memeluk pinggang suaminya itu. Ia bisa merasakan pria itu membenamkan wajahnya di relung lehernya dan bernapas di sana.

“Syukurlah! Syukurlah kau baik-baik saja,” kata-kata terakhir yang keluar dari bibir pria itu sebelum tergantikan dengan setetes air bening yang keluar dari kelenjar matanya.

***

Sungmin masih enggan beranjak dari sisi istrinya. Kemana gadis itu pergi, ia selalu mengikutinya. Membuat gadis itu merasa sedikit risih karena Sungmin terlalu lengket dengannya hari ini.

Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa diikuti dengan Sungmin yang merebahkan kepalanya di paha gadis itu. Ia menghadapkan wajahnya ke perut gadis itu lalu memeluknya erat. Mengambil napas banyak-banyak disana seolah ia kekurangan oksigen selama beberapa hari ini. Akhirnya, ia bisa bertemu dengan gadis ini dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Gadis itu hanya diam dan mengulum senyum. Ia mengelus lembut rambut hitam Sungmin yang ada di pangkuannya. Ia merasa terlalu lelah setelah berbelanja makanan untuk seminggu ini di supermarket yang berjarak beberapa kilometer dari apartemennya dengan menaiki bus yang penuh sesak, lalu harus menyusun belanjaan itu di lemari pendingin. Ditambah lagi dengan perilaku suaminya yang aneh malam ini membuatnya merasa sedikit pusing.

Gadis itu menghela napas pelan.

“Aku bermimpi buruk,” kata Sungmin tiba-tiba, membuat gadis itu menundukkan kepalanya dan menatap wajah Sungmin yang hanya nampak setengahnya saja karena ia masih betah menempelkan wajahnya di perut gadis itu.

“Seperti apa?”

“Mengerikan. Sangat mengerikan.”

“Benarkah?”

“Hmm. Aku bermimpi kau menjadi korban kecelakaan pesawat dan kau meninggalkanku sendiri di dunia ini. Maksudku kau… begitulah.”

Bahkan menyebutnya saja pria itu tidak sanggup. Tenggorokannya tercekat.

Berkedip sekali, dua kali… Gadis itu mengerjapkan matanya syok, tidak percaya dengan apa yang dipaparkan oleh pria itu. Jadi, karena itu Sungmin seperti orang kesetanan yang mencarinya ke sana-ke mari? Pria itu mengira bahwa ia telah meninggal dan sedang dilanda ketakutan setengah mati jika itu adalah kenyataan. Jadi, kenapa gadis itu sekarang merasa ini terlalu… romantis?

Aigoo, kau hanya bermimpi. Tidak usah takut. Aku baik-baik saja Sungmin-ah.”

“Baguslah. Baguslah kau baik-baik saja. Aku lega melihatmu baik-baik saja. Kau harus menjaga dirimu dengan benar. Jangan pernah meninggalkan luka sedikitpun di sekitar tubuhmu. Setidaknya aku bisa bernapas dengan benar jika melihatmu baik-baik saja.”

Sungmin mengeratkan pelukannya di sekeliling pinggang gadis itu, membuat wajahnya menempel sempurna di perut datar istrinya. Ia bahkan tidak merasa sesak sedikitpun dan anehnya malah merasa sangat nyaman. Terlalu nyaman. Rasanya seperti kau sedang berada di alam bebas sehingga kau bisa menghirup udara bersih sebanyak yang kau mau.

Gadis itu masih terbelalak kaget mendengar permintaan pria itu. Selama ini ia mengira bahwa dirinya tidak lebih dari satu noda kecil yang bisa membuat karir suaminya itu hancur. Ia selalu berpikir kalau ia tidak pantas disandingkan dengan orang sehebat dan seterkenal pria itu.

Orang-orang juga selalu menanyakan, apa keistimewaan yang dimilikinya sehingga ia bisa mendapatkan pria seperti Lee Sungmin. Tapi pada akhirnya ia mengetahui apa jawabannya. Rasa cinta yang teramat besar dari pria itu kepada dirinya dan rasa cintanya sendiri kepada pria itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuat mereka bersama.

Tidak ada yang perlu di pikirkan dari apa kata orang diluar sana. Karena ini adalah kehidupannya. Kehidupannya berdua dengan seorang pria bernama Lee Sungmin, bukan Super Junior Lee Sungmin. Baginya, kaya ataupun miskin, orang terkenalkah ia ataupun tidak, gadis itu yakin hati dan dirinya akan tetap berlabuh di tempat yang sama. Dekapan hangat nan nyaman dari lengan kekar pria itu.

Gadis itu tersenyum haru dan mengelus salah satu pipi pria itu, “Aku akan menjaga diriku dengan baik. Demi dirimu. Aku janji,” kata gadis itu pelan sembari mengecup lembut pipi kiri pria yang sudah mengeluarkan dengkuran halusnya.

***

Sungmin terbangun begitu ia merasa kurang nyaman dengan posisi tidurnya sekarang. Kaki yang menggantung karena ia tertidur di sofa yang lebih pendek dari tubuhnya ditambah lagi kepalanya yang terasa sedikit sakit karena merasakan tulang paha gadisnya.

Gadis itu?

Sungmin segera bangkit dari tidurnya lalu memilih duduk. Ia menatap gadis yang tertidur dengan posisi duduk dan kepala menunduk disebelahnya. Rambut sepunggungnya yang digerai, mejulur ke depan, membuat sebagian wajah gadis itu tertutup.

Sungmin menatap jam dinding di ruang televisi yang menunjukkan pukul sebelas malam. Dua jam sudah ia tertidur di pangkuan gadis itu, pantas saja gadis sudah ketiduran.

Sungmin kembali memusatkan perhatiannya pada gadis itu. Memangkunya selama dua jam pasti sangat melelahkan. Bagaimana bisa ia dengan tenangnya tidur dan membiarkan gadis itu merasa lelah? Aigoo, suami macam apa kau ini Lee Sungmin!

Pria itu merapikan rambut gadisnya yang berantakan sehingga ia bisa melihat wajah gadis itu dengan sempurna. Bahkan dengan jarak sedekat ini, ia tidak melihat satu titik hitam pun di wajah gadisnya. Wajah polos tanpa polesan make-up itu entah mengapa selalu berhasil membuatnya tidak tahan untuk tidak mencium gadis itu.

Maka, dengan jantung yang berdebar keras, ia memberanikan diri menempelkan bibirnya ke bibir merah cherry gadis itu dan mengecupnya lembut. Hanya beberapa detik saja karena setelah itu ia segera melepasnya. Ia yakin jika ia tetap membiarkan bibirnya berada di atas bibir gadis itu, ia tidak akan bisa menahan diri lagi dan menyerang gadis itu malam ini. Segala sesuatu yang menyangkut gadis ini selalu membuatnya tidak sabaran dan sedikit egois.

Sungmin mengelus pipi gadis itu perlahan. Ia bersyukur, apa yang dialaminya beberapa jam yang lalu hanyalah mimpi buruk belaka. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika tidak ada gadis itu di dunianya.

Gadis itu sudah menjadi satu-satunya alasan hidupnya di dunia ini. Seandainya pun ia tidak memiliki keluarga dan hidup serba kekurangan, asalkan ada gadis itu di sisinya, ia yakin ia akan hidup dengan bahagia.

Gadis itu, entah bagaimana telah menjadi sesuatu yang paling berharga dihidupnya. Jika ia tidak mendengar suara gadis itu barang sehari saja, ia yakin ia akan segera sakau. Karena gadis itu adalah narkoba hariannya dan ia telah kecanduan oleh itu.

Gadis itu… oksigen pribadi seorang Lee Sungmin.

***

Berjam-jam memandangi wajah tidur istrinya, akhirnya pria itu memutuskan untuk memindahkan gadis itu ke kamar. Sungmin membopong gadis itu ala bridal style lalu mengerutkan keningnya begitu merasakan bobot ringan tubuh gadis yang ada digendongannya.

Kenapa tubuhnya bisa seringan ini? Apa ia sakit? Kelelahan? Apa jangan-jangan ia tidak menuruti perintahnya dan mengabaikan pola makannya? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Sungmin yang membuatnya cemas seketika.

Pria itu melanjutkan langkahnya sembari berjanji di dalam hati bahwa ia harus bisa membuat gadis itu menjaga pola makannya dan hidup teratur. Ia meletakkan tubuh gadis itu ke ranjang dan hendak mengambil selimut tetapi terbatalkan ketika ia mendengar gumaman gadis di sebelahnya itu sehingga ia memilih untuk duduk di pinggir ranjang. Ia bisa melihat bibir gadis itu yang bergerak-gerak seperti berbicara. Penasaran, pria itu mendekatkan telinganya ke bibir gadis itu hingga ia bisa mendengar kalimat yang ucapkan gadisnya.

“Apa kau juga bahagia hidup bersamaku, Sungmin-ah?”

Sebuah senyum lebar terukir dibibir Sungmin sebelum ia menjawab, “Sangat bahagia,” lalu mengecup pipi gadis itu pelan. Memandangi wajah gadis itu sekali lagi lalu ia beranjak ke ranjang kosong sebelah gadis itu dan menyelimuti tubuh mereka berdua.

Pria itu menarik pinggang gadis itu mendekat sehingga ia bisa mencium aroma tubuh gadis itu. Ia mengecup kening gadis itu lembut dan berbisik pelan, “Selamat malam.”

***

FF pertama aku dan aku tahu dengan sangat jelas kalo ini gagal HAHAHA

Advertisements

36 comments

  1. eihh ga nyangka ternyata ghina-ssi juga jago bikin ff hehe.
    dooh isungmin, airmata udh tergantung di pelupuk mata gini(?) eh tau taunya itu cuma mimpi buruknya aja ckck iya juga sih kalo jinhyenya udh mati duluan nanti alurnya kecepetan’-‘
    bahasanya ringan kok ga berbelit belit, penggunaan istilah untuk mengungkapkan cintanya ga terlalu pleonasme juga kok dan yg pasti kbnykan ff romance akhir akhir ini sering buat aku mual tapi ini engga hehe
    yah kbnykan ff romance akhir akhir ini terlalu berlebihan dan mubazir sih pas menyangkutkan(?) ungkapan rasa cinta dgn hal-hal di sekitar. nah kan jadi sesi curhat gue ckck
    feelnya dpt kok cuma sedikit masukan aja itu paragrafnya biar tambah enak dilihat kenapa ga pake yg justify aja biar rata kanan kiri gitu.___.
    ok aku bakalan mampir di next ff yah’-‘

    1. masalahnya itu aku terlalu malas… ngedit .___. tapi nanti aku coba di ff selanjutnya ^^ makasih atas sarannya ya dan makasih juga udah mau baca 😀

  2. Annyeong.
    Whehe
    Aku balik lg utk menunggu buka puasa mending main ksni.

    Hm.
    Saeng prnah ngeposting ini d.tempat lain yah?
    Soalnya eon ada bca ff yg mirip kyak gini.
    Hehe,

    Ff-nya keren saeng.
    Umin romantis beud.
    Kkk

  3. hai aku kia, sempet cari-cari ff eh nyasar kesini hehe

    udah serius-serius baca pake deg-degan ga taunya cuma mimpi ffyuh~
    alurnya seru, bahasanya juga bagus, feelnya apalagi berasa banget
    keren lah, aku suka 🙂
    kapan-kapan aku mampir lagi sekalian ngubek-ngubek /? blognya boleh kan ya ^^

  4. Aku suka sama tulisan authornya 😀 feelsnya dapet , kata-katanya juga bagus . Di tunggu karya berikutnya y 😀

  5. So sweet Sungmin oppa my lovely bias very handsome with good attitude, alway take care Jinhye.. Nightmare make his scared and sad.. Fortunately it’s not real.. very sweet love for this couple

  6. ngga gagal ko saeng. keren malah 🙂
    yah walaupun sungmin bukan bias aku, tapi aku suka banget ama karakternya 🙂 aaah jadi kepengen punya nampyeon kaya sungmin^^

  7. Yah ini mah namanya ga gagal,, tp bagus,,
    Tuh udah sampe dicommenin sm yg punya blog mitwins,, dsana kan lee sungmin yg jadi main cast selain donghae,,

    Btw akhirnya nemu blog ini jg,, stelah skian lama mencari”,, trus karna aq jg sering liat postingan ffmu di sujuff..

  8. Apanya yg gagal ghina??
    Fanfictionnya bagus bangett 😀
    untung cuma mimpi, kalo beneran gk kebayang bagaimana menderitanya sungmin..

  9. Woahhhh keren banget sumpah.
    Dan the power of love. Cinta adalah segalanya dan jangan salah kekuatan cinta itu tidak ada tandingannya jiahahahah plak lebay amat yah aku

  10. eonnni…ini keren banget keren banget…feelnya dapet banget aku suka banget apa lagi saat sungmin sadar bahwa itu hanya mimpi dan juga dia jadi gak mau jauh jinhye…pokoknya keren banget deh eon…

  11. Nope… ini gak gagal kok menurut aku, lovely :3 bikin senyum2 sendiri bacanya, sebelumnya jarang baca ff yg cast utamanya sungmin, jadi yaaa seru aja bacanya, kadang baca ff itu kayak kita nemuin karakter asli tokohnya 😀

  12. ghina… bagus banget inih ff nyaaa 🙂
    apalagi main cast’nya Sungmin…. 😀
    aku terharuuu….
    paling suka klo baca ff yang main castnya Ming 😀 😀

  13. haii..salam kenal aq Letha…
    pengujung baru skaligus oembaca baru blog mu…
    pas baca cerita di atas,,kaget..aq kira kenyataan ternyata hanya mimpi…
    mw minta izin untuk baca smua ff mu di blog mu ini,,,
    nah…skalian mw tnya bagaimana klo ada FF mu yg pakai PW???
    Terimkasih..
    ^_^

  14. omo… “Kenapa meninggal?? Kasian sama Sungmin… Sad Ending donk” Ternyata eh ternyata hanya mimpi aku pikir itu2 benar2 kecelakan… huft…syukurlah

  15. bca judul nya ku kra bkal sad end nich eh ternyata cma mimpi tpi bgus lch gk rela juga aq klo jinhye nya meninggal bsa ikut bunuh diri nanti sungmin nya . . . pokoknya gk rela lch hehehe

  16. semoet dibut jatuh sejatuhnya…netesin air mata…
    ooo ahiirrnya cuma mimpi…
    semoetmikir umin gila oe nyusul ke apartemen mereka cuma buat mastii aj…taoi syuukuurrr ga amti cuma mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s